LERINA

LERINA
Kunjungan Yang Tak Terduga


__ADS_3

Selesai kegiatan peribadahan di hari minggu ini, Lerina memutuskan untuk mengunjungi makam ayah dan ibunya. Ia membawa bunga melati kesayangan ibunya. Lerina tak dapat menahan rasa harunya saat tangannya membersihkan batu nisan kedua orang tuanya. Selesai memanjatkan doa, Lerina pun meninggalkan makam itu.


Paman Moldi yang mengendarai mobil langsung membukakan pintu melihat Lerina mendekat.


"Setelah ini kita akan kemana, non?" Tanya Moldi saat mobil sudah meninggalkan kawasan pemakaman umum itu.


"Kita pulang saja, pak. Aku ingin istirahat saja di rumah." Kata Lerina. Ia memang merasa agak lelah. Usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Lerina bahkan sudah tak bisa berdiri lama dengan perutnya yang semakin membuncit. Ia pun memilih untuk memejamkan matanya.


"Baik, non." Jawab Moldi.


Perjalanan dari makam ke rumahnya yang memakan waktu hampir satu jam membuat Lerina benar-benar terlelap dalam tidurnya. Saat mobil sudah memasuki halaman rumahnya pun Lerina nampak masih tertidur.


Paman Moldy ingin membangunkan Lerina namun ia merasa tak enak. Makanya, ia memanggil istrinya untuk membangunkan Lerina.


"Non, sudah sampai. Apakah tidak sebaiknya nona tidur di kamar saja?" Tanya bi Suni sambil menepuk pundak Lerina.


Perlahan mata Lerina terbuka. "Sudah sampai, ya? Aku sungguh ketiduran." Kata Lerina sambil tersenyum. Ia pun turun dari mobil sambil merapihkan bajunya kembali.


Pandangan matanya beralih ke sebuah mobil yang baru saja memasuki halaman rumahnya. Saat mobil berhenti dan penumpangnya turun, Lerina hampir saja menjerit karena rasa terkejut sekaligus juga rasa senang.


"Calvin? Jien?" Pekiknya lalu mendekati mereka.


"Lerina pelan-pelan, kamu kan sedang hamil." Kata Jien sambil menggelengkan kepalanya melihat Lerina yang berlari ke arah mereka.


"Ah, gadis cantik ini pasti Serafina kan?" Kata Lerina saat melihat bayi perempuan bertubuh montok dalam gendongan Jien.


"Iya." Kata Jien sambil menatap putrinya yang terlelap dalam gendongannya.


"Ayo masuk!" Ajak Lerina dengan perasaan gembira. Ia memang sudah tahu kalau Calvin dan Jien sudah pulang dari Amerika 2 minggu yang lalu. Namun Calvin belum dapat mengunjunginya karena sibuk dengan rumah baru mereka. Dan Lerina sungguh tak menyangka kalau hari minggu ini mereka akan menemuinya.


Saat mereka sudah duduk di ruang tamu sambil menikmati minuman yang disajikan oleh bibi Suni, Serafina pun bangun. Anak itu memang tidak menangis. Ia justru tertawa saat Lerina menyapanya.


"Boleh aku menggendongnya?" Tanya Lerina saking gemasnya melihat baby Serafina.


"Boleh. Tapi hati-hati dengan perutmu, ya. Serafina kadang suka melompat-lompat. Maklumlah usianya sudah memasuki bulan keenam." Kata Jien lalu memindahkan Serafina dari gendongannya ke tangan Lerina.


"Hallo cantik? Kau sangat mirip dengan papamu. Matamu, hidungmu bahkan bibirmu. Benar ya kata orang kalau anak perempuan itu sering sangat mirip dengan papanya." Kata Lerina sambil terus mengajak Serafina berinteraksi.


Calvin dan Jien saling berpandangan. Walaupun baru pertama bertemu, Serafina nampak suka dengan Lerina.


"Kapan kamu akan menyusul Edward ke Korea?" Tanya Calvin.


"Aku tak bisa meninggalkan perusahaanku begitu saja. Harus ada orang yang menangani semua ini. Aku tak mau kalau perusahaan ayahku sampai hancur." Kata Lerina. "Lagi pula, aku ingin anakku ini lahir di Indonesia." Lanjutnya.


"Edward pasti akan menyelesaikan albumnya dengan cepat dan datang ke sini. Aku sangat yakin itu." Kata Jien.


Setelah puas bercakap-cakap, Jien, Calvin dan putri cantik mereka berpamitan untuk pulang. Lerina merasa kesepian lagi. Ia mencoba menghubungi ponsel Edward namun baru kali ini ponsel Edward tak aktif. Lerina pun akhirnya memilih tidur sore.


**********


Dalam tidurnya, Lerina bermimpi memeluk Edward, merasakan lagi belaian tangan Edward di perutnya. Lerina bahkan mencium bau minyak wangi Edward yang selalu membuatnya hanyut dalam nuansa romantis. Rindu ini memang terlalu berat. Dalam tidurpun Lerina merasakan bibirnya dicium oleh Edward dalam ciuman yang panjang dan membangkitkan hasrat untuk saling menyatu. Lerina berusaha bangun dari mimpinya agar ia tak akan semakin terjebak masuk ke dalam mimpi itu.


Saat matanya terbuka, Lerina merasa bahwa Edward sungguh ada di depannya dan sedang menatapnya dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Hallo sayang....!"


"Ed, jangan siksa aku dengan mimpi seperti ini. Kau tahu kalau aku sangat rindu padamu." Rengek Lerina.


"Sayang, kamu belum bangun juga dari tidurmu?" Tanya Edward lalu menarik hidung Lerina.


"Aow..., sakit Ed."


"Jadi kalau sakit, apa artinya?" Tanya Edward dengan gemasnya.


"Kalau sakit? Maksudnya?" Lerina terlihat bingung.


"Apakah orang mimpi akan merasakan sakit?"


Lerina diam sesaat. Tiba-tiba bola matanya membesar dan ia langsung bangun dan menatap Edward.


"Ed, apakah kau sungguh datang? Kamu adalah suamiku Edward Kim?" Tanya Lerina masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Edward ada di sini?


"Akan ku buktikan kalau aku ini nyata." Edward pun bangun. Ia mendekati Lerina. Meletakkan tangan kanannya di belakang kepala Lerina dan menariknya mendekat ke hadapannya. Edward langsung mencium bibir Lerina tanpa permisi. Ia membuai Lerina dengan keahliannya mencium. Lerina sedikit terkejut tapi tak menolak apa yang ditawarkan oleh suaminya itu. Ia juga rindu. 2 bulan tak bertemu membuat akal sehatnya yang belum sepenuhnya kembali dari alam mimpinya seakan tak mau diajak kompromi, apakah ini mimpi ataukah kenyataan, Lerina hanya ingin menikmatinya.


*********


"Masih berpikir ini mimpi?" Tanya Edward dengan napas yang sedikit terengah-engah sambil menyeka keringat didahi Lerina dengan punggung tangannya.


Lerina tersenyum. "Kalaupun ini mimpi, aku tak mau bangun."


"Sayang......!" Edward nampak gemas karena kejahilan istrinya. Mereka baru saja melewati keintiman sangat dalam, tak mungkin istrinya ini masih terbuai dalam alam mimpinya.


"Kejutan.....!" Kata Edward dengan senyum lebarnya.


Wajah Lerina berubah menjadi cemberut. Ia melepaskan tangannya dari pipi Edward dan langsung berbaring memunggungi suaminya.


"Sayang, mengapa jadi merajuk seperti ini?" Tanya Edward lalu memeluk Lerina dari belakang. Ia mencium bahu istrinya itu sementara tangannya asyik membelai perut besar Lerina.


"Hallo Min Jun, bantu daddy, ya. Mommy merajuk karena daddy datang tanpa pemberitahuan. Bilang sama mommy maafkan daddy. Daddy hanya ingin membuat kejutan dan......astaga, dia bergerak." Pekik Edward lalu menarik bahu istrinya agar kembali berhadapan dengannya.


"Dia bergerak, sayang. Lihat, masih juga bergerak." Edward nampak sangat senang. Ia menunduk lalu mencium perut istrinya dengan sangat lembut.


"Min Jun sayang, kamu senang daddy datang dan langsung menjenguk kamu di dalam kan?"


Perkataan Edward langsung membuat pipi Lerina menjadi merah. Tangannya langsung memukul dada polos Edward dengan perut yang berotot itu. Edward hanya tertawa karena pukulan istrinya tentu tak berarti apa-apa. Ia pun kembali memberikan ciuman singkat di bibir istrinya, lalu menarik tubuh Lerina agar semakin dekat padanya.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Rindu ku ini membuat aku begitu ingin menyelesaikan pekerjaanku dan kembali ke sini." Kata Edward sambil terus mendekap istrinya.


"Aku di sini kesepian tapi kamu di sana bertemu dengan gadis-gadis cantik. Kenapa juga harus kolaborasi dengan penyanyi perempuan. Apalagi sama si Laura itu, ingin rasanya aku mencabik-cabik wajahnya karena dia mengatakan kalau kamu adalah pemain piano tertampan yang pernah ia temui dan dia sangat bahagia bisa membuat album bersamamu. Ih...aku kesal saat menonton pernyataannya itu."


Edward hanya terkekeh. Tangannya membelai punggung polos istrinya. "Jadi kamu cemburu?"


"Bukan hanya cemburu tapi aku sangat....sangat....sangat cemburu." Tegas Lerina membuat Edward tertawa.


"Aku senang." Kata Edward..


"Senang kenapa?"

__ADS_1


"Dengan kamu sangat, sangat, sangat cemburu membuktikan bahwa kamu sangat mencintaiku. Dan itu membuat aku sangat mencintaimu juga. Makanya jangan lama-lama berjauhan dariku. Nanti aku di kira jomblo."


Lerina mencubit pinggang suaminya. "Pasti kamu sengaja kan bergaya sok jomblo."


"Sayang, aku mengakui pada mereka kalau aku ini sudah menikah. Mereka saja tak percaya karena kamu tak ada."


"Ed, kamu kan tahu alasannya mengapa aku belum bisa pergi."


"Iya. Aku mengalah dan mengikuti semua keinginanmu. Sekarang, ayo kita mandi."


"Mandi? Jangan ada yang aneh-aneh ya. Ingat perutku semakin membesar. Tak bisa lagi sembarangan masuk ke bak mandi berdua." Lerina memperingatkan.


Edward kembali tak bisa menahan tawanya. Dia turun lebih dulu dari tempat tidur, lalu mengulurkan tangannya pada istrinya. "Ayo sayang...!"


"Kenapa kamu nggak pakai baju, Ed?"


"Memangnya orang mandi harus memakai baju?" Tanya Edward sambil menatap istrinya dengan tatapan yang sangat menggoda. "Lagi pula, aku suka melihatmu polos dengan perut buncitmu itu."


"Ih...dasar kamu mesum!" Lerina turun dari ranjang, menyambut tangan suaminya lalu keduanya melangkah bersama menuju ke kamar mandi.


Selesai mandi, Lerina hendak mengambil baju dalam lemari namun Edward mencegahnya.


"Le, tunggu! Aku punya sesuatu." Edward membuka kopernya, dan mengeluarkan sebuah baju hamil berwarna putih dengan gambar piano di depannya. Edward juga mengambil sebuah koas warna putih dengan corak yang sama dengan baju hamil Lerina.


"Ayo kita pakai ini dan foto bersama."


"Foto bersama?" Tanya Lerina tak mengerti.


"Sudah, dipakai saja."


Lerina pun menuruti kemauan suaminya itu. Ia senang karena baju hamil ini sangat cantik dan cocok dengan badannya.


Setelah selesai, Edward meminta Lerina memoles sedikit bedak dan lipstick pada bibir Lerina agar tak terlihat pucat. Kemudian Edward memberikan cincin pernikahan mereka agar dipakai lagi.


"Ed, aku suka cincin ini." Kata Lerina dengan mata berkaca-kaca.


"Sekarang, ayo kita berfoto bersama." Edward menaruh hp nya di salah satu sudut kamar dengan menggunakan tiang penyangga hp.


Ia lalu memeluk istrinya dari belakang sambil tangannya ada di perut Lerina dan dagunya ada di bahu Lerina. Dengan mode pengenalan suara, kamera hp langsung mengambil gambar mereka. Pose yang kedua adalah Edward dan Lerina duduk berdampingan dan posisi Edward yang mencium pipi Lerina.


Setelah itu, Edward mengunggah kedua foto itu di instagramnya dengan tulisan :


my wife, everything for me and our child who is growing up here. Can not wait for his birth.


Tak sampai 10 menit, postingan Edward itu langsung mendapat tanggapan dari ribuan penggemarnya.


"Ed, kau mempublikasikan foto ini?" Tanya Lerina kaget saat Edward menunjukan berbagai komentar yang muncul di halaman instragramnya.


"Iya. Supaya dunia tahu bahwa Edward Kim alias Kim Taehung, sudah menikah." Kata Edward lalu memeluk Lerina dengan penuh rasa cinta yang dimilikinya.


MAU AKU TAMATKAN SEKARANG ATAU???


MAKASI SUDAH BACA, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA...

__ADS_1


__ADS_2