LERINA

LERINA
Kecewa


__ADS_3

Hari itu, saat Yura, Ross dan Lerina pergi ke supermarket untuk belanja, Lerina tiba-tiba saja permisi untuk ke apotik. Sebenarnya Lerina membeli obat kontrasepsi. Ia memang sudah membulatkan hatinya untuk menyerahkan dirinya pada Edward agar dapat menghapus semua kenangannya bersama Calvin.


Namun karena status pernikahan mereka yang hanya sebatas kontrak itulah yang membuat Lerina tak mau ambil resiko untuk hamil. Bagi Lerina, jika nanti dia dan Edward harus berpisah, maka tak akan direpotkan masalah anak.


Walaupun akhirnya Edward menyatakan cintanya pada Lerina namun tetap saja ada keraguan dalam hati Lerina. Bukan tentang perasaan Edward padanya tapi tentang perasaannya pada Edward. Apakah waktu beberapa bulan ini dapat menghapus 4 tahun kenangannya dengan Calvin?


Jujur saja, saat mendengar alasan Calvin menikahi Jien, perasaan Lerina sangat tergoncang. Kemarahannya yang selama ini terpendam karena merasa dihianati seakan langsung hilang lenyap tak berbekas. Namun di satu sisi juga Lerina yakin bahwa perasaan cintanya pada Calvin perlahan sudah dikikis dengan kebersamaannya dengan Edward.


Ia memang sengaja tak mengatakan tentang obat kontrasepsi itu pada Edward karena dia dan Edward tak pernah membahas masalah anak.


Dan kini, saat keberadaan obat itu diketahui, Lerina sama sekali tak menyangkah reaksi Edward akan seperti itu. Wajah pria itu terlihat sangat marah sekaligus kecewa.


"Apakah aku pernah memintamu untuk menggunakan ini?" tanya Edward untuk yang kedua kalinya.


Lerina turun dari tempat tidur, mengenakan bajunya lagi, lalu ia duduk ditepi tempat tidur dan mulai menatap Edward.


"Duduklah,Ed...!" ajak Lerina.


Edward menarik kursi yang ada di depan meja rias dan meletakannya sampai didepan Lerina lalu duduk sambil menatap Lerina dengan seksama.


"Jelaskan!" kata Edward dingin.


"Sebelum kita menikah, kamu pernah bilang bahwa kamu nggak mau munafik untuk tidak menyentuhku. Namun semua itu akan kamu lakukan jika aku juga menginginkannya. Makanya, saat Calvin terus mengejarku, aku berpikir untuk menyerahkan diriku padamu karena aku tahu kamu juga menginginkannya."


"Ed, aku bahagia saat menyerahkan diriku padamu. Kau adalah suamiku, namun dengan setumpuk masalah yang belum juga selesai, bahkan keraguan diriku atas perasaanku padamu, membuat aku menggambil keputusan untuk menggunakan pil pencegah kehamilan ini. Aku belum siap memiliki anak"


Edward menatap Lerina masih dengan tatapan yang terluka "Aku ingin memiliki anak darimu karena aku mencintaimu. Dengan hadirnya anak-anak dalam kehidupan rumah tangga kita akan membuat kita semakin dekat dan perasaanmu padaku akan semakin kuat. Namun ternyata, aku hanya berharap sendiri." kata Edward sambil tersenyum sinis.


"Saat kau memintaku untuk menghapus semua jejak yang Calvin tinggalkan, saat itu juga aku berjanji pada diriku untuk membuang konsep awal pernikahan kita. Aku ingin menjalani pernikahan yang sebenarnya." Edward menunduk. Keduanya tangannya bertumpuh memegang lututnya sambil memejamkan matanya. Sangat nyata kalau pria bermanik biru itu terluka.


"Ed...!" Lerina berdiri, mencoba menyentuh tangan, Ed namun pria itu justru menepis tangan Lerina.


"Aku mengantuk. Jangan ganggu aku !" katanya lalu segera naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut sampai ke batas lehernya lalu memejamkan matanya.


"Tadi malam ada pesan dari Calvin untukmu. Maaf aku sudah membacanya" kata Edward lalu membalikan badannya memunggungi Lerina.


Lerina menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia pun bangun lalu meraih hp nya yang ada di atas nakas, membaca pesan dari Calvin, kemudian masuk ke kamar mandi. Lerina memutuskan untuk ke kantor.


************


Nula menatap Taeyung yang duduk di depannya. Sudah 10 hari ia berada di penjara ini. Ia tahu kalau kesempatannya bersama Taeyung sudah tak ada lagi. Taeyung sudah memilih Yura sekalipun Nula sedang hamil.


"Ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Taeyung dengan tatapan mata yang tajam.


"Aku....aku....mau minta maaf padamu" kata Nula sambil tertunduk. Ia tak berani menatap Taeyung.


"Apakah kau pantas kumaafkan setelah aku menyia-nyiakan 5 tahun hidupku bersamamu? Setelah aku menyakiti hati papa dan Yura? Apakah selama ini kau memang hanya ingin mengambil kekayaan keluarga Kim? "

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Tae!"


"Jangan bicara cinta padaku. Itu terdengar sangat menjijikan. Aku bahkan membenci diriku sendiri karena pernah menyentuhmu!" kata Taeyung sinis sambil menayap Nula dengan wajah jijik.


Air mata Nula jatuh " Tapi anak ini....."


"Aku bahkan ragu jika anak itu adalah milikku!"


Nula menggeleng. Air matanya langsung jatuh.


"Jangan Tae. Jangan pernah ragukan kalau ini adalah anakmu. Kau boleh melakukan tes DNA jika anak ini lahir"


"Baik, jika anak ini lahir, aku akan melakukan tes DNA dan jika terbukti bahwa memang itu adalah anakku, aku akan mengambilnya dan kamu tidak akan pernah menemuinya lagi. Karena aku akan pastikan kalau kau dan semua orang yang terlibat dalam dalam pencucian uang di perusahaanku akan dihukum sangat lama!" kata Taeyung penuh dengan nada ancaman lalu segera berdiri.


"Taeyung...aku mohon bantulah aku sekali ini saja. Adik-adikku pasti sudah menungguh uang kiriman dariku. Persediaan makanan mereka pasti sudah hampir habis." mohon Nula. Ia bahkan berlutut di depan Taeyung.


Taeyung tahu, Nula punya 2 orang adik yang masih kecil. Kedua adiknya itu tinggal bersama dengan bibi mereka yang sudah tua. Selama ini Nula lah yang membiayai hidup mereka.


"Mereka bukan urusanku lagi....!" Taeyung melangkah namun Nula dengan cepat memeluk kaki Taeyung.


"Aku mohon, Taeyung..! Aku mohon padamu!" kata Nula dengan suara tangisnya.


"Maaf...!" Taeyung melepaskan kakinya yang dipeluk Nula lalu segera melangkah meninggalkan ruangan kunjungan penjara itu.


Yura menatap suaminya yang masuk ke dalam mobil dengan wajah kesal.


Taeyung masih diam. Namun saat tangan Yura mengusap lengannya dengan lembut, Taeyung perlahan meletakan kepalanya di atas stir mobil. Bahunya terguncang. Sepertinya Taeyung menangis.


Yura menepuk punggung suaminya dengan lembut. Ia tahu Taeyung pasti sangat tertekan dengan semua masalah yang ada, ditambah lagi dengan keadaan Ryun Ong yang belum sadar.


"Aku kecewa dengan diriku sendiri!" kata Taeyung diantara isak tangisnya.


"Jangan kecewa dengan diri kita sendiri. Anggaplah semua ini suatu pembelajaran untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik."


Taeyung mengangkat wajahnya. menghapus air matanya, lalu Ia menatap Yura sambil tangannya memegang pipi istrinya itu.


"Betapa bodohnya aku ini. Tuhan sudah memberikan seorang malaikat terbaikNya untuk aku, namun aku tidak menyadarinya. Maafkan aku, Yura"


Yura menyentuh tangan Taeyung yang masih ada di pipinya. "Tidak ada kata terlambat untuk melakukan apa yang baik. Aku mencintaimu!" kata Yura lalu mengambil tangan Taeyung yang ada di pipinya kemudian menciumnya lembut.


"Aku juga mencintaimu sayang!" kata Taeyung lalu memajukan tubuhnya dan mencium dahi, pipi dan bibir Yura dengan penuh kasih.


"Jadi, apa yang Nula katakan?" tanya Yura saat Taeyung sudah menjalankan mobilnya meninggalkan kompleks penjara wanita itu.


Taeyung menceritakan semua yang Nula katakan padanya. Termasuk juga dengan permohonan Nula bagi adik-adiknya.


"Tae, kita kan punya panti asuhan. Kenapa adik-adiknya tidak kita bawa ke sana saja. Di panti asuhan mereka mendapatkan makanan yang layak, pakaian dan juga pendidikan. Aku yakin kalau itu akan membantu Nula. Bibinya kan sudah tua, kita juga tak dapat meninggalkan dia sendiri. Mungkin dia bisa membantu pekerjaan di panti asuhan sekaligus mengawasi adik-adiknya Nula" kata Yura memberi usulnya.

__ADS_1


Taeyung menatap istrinya sekilas. Senyum diwajahpun mengembang "Aku memang sangat beruntung memilikimu sayang. Aku janji, jika semua ini sudah selesai dan papa sudah sembuh, aku akan mengajakmu bulan madu"


"Bulan madu?" Yura jadi merona.


"Ya. Semenjak kita menikah, kita kan belum pernah bulan madu. Namun sebagai permulaannya, kita dapat memulainya siang ini" kata Taeyung dengan suara menggoda sambil tangannya menyentuh dagu istrinya dengan gerakan menggoda.


"Maksudnya?" alaram di kepala Yura langsung berbunyi untuk memperingatinya bahwa Taeyung saat ini tak ingin ditolak.


"Sayang...." Yura terpaksa menggunakan kata itu walaupun sebenarnya ia sangat malu " Tidak bisahkan kita menundanya sampai sebentar malam? Jam 2 ini, kamu kan ada rapat. Aku juga harus ke kantor karena Lerina menungguhku"


Taeyung menatap jam tangannya "Kita masih punya 3 jam sebelum jam 2. Aku sudah hampir 2 minggu tak menyentuhmu, sayang. Sebentar malam adalah giliran kita menjaga papa di rumah sakit jadi aku putuskan saat ini saja ya.."


"Tapi....jika harus ke mansion jaraknya kan jauh. Kau bisa terlambat untuk rapat jam 2 nanti." kata Yura berusaha mengubah pikiran suaminya.


"Siapa bilang kita akan ke mansion?" Taeyung tersenyum nakal lalu secara tiba-tiba ia sudah membelokan mobilnya ke arah hotel keluarga Kim.


"Tae...kenapa kita ke sini?" tanya Yura saat Taeyung sudah menarik tangannya memasuki hotel.


"Kita hanya akan tidur saja sebentar..!" kata Taeyung sambil menahan tawa. Yura pun langsung merona saat mengerti apa maksud suaminya.


**********


Sudah dua hari Edward mengacuhkan Lerina. Pria itu akan bangun jika Lerina sudah pergi bekerja dan akan pulang ke apartemen saat Lerina sudah tidur. Edward bahkan tidur di kamar yang lain.


Lerina tahu Edward sangat kecewa dengannya. Itulah sebabnya semalam ia sudah mengambil keputusan untuk hubungan mereka berdua.


Pagi ini, Lerina yang sudah siap ke kantor memutuskan untuk menungguh Edward bangun. Ia duduk di ruang tamu sambil membaca dokumen tentang peralihan perusahaannya yang dikirim pengacara Calvin di emailnya.


Nana sedang ke pasar sedangkan 2 orang pelayan yang biasa membantu Nana hari ini tidak masuk sehingga Lerina merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk bicara dengan Edward.


Jam setengah sepuluh, Edward keluar dari kamar tamu yang ada dilantai satu. Pria itu hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan.


Ia terkejut melihat Lerina yang masih ada di ruang tamu walaupun jelas terlihat perempuan itu sudah siap dengan baju kantornya.


"Ed....kita harus bicara!" kata Lerina sambil berdiri mendekati Edward yang sedang membuka kulkas. Pria itu mengeluarkan sekotak susu non fat dari sana.


"Bicaralah!" kata Edward lalu mengambil gelas untuk menuangkan susu.Ia sama sekali tak menatap Lerina.


"Aku....mau...pulang ke..Jakarta!" kata Lerina sedikit tersendat-sendat karena ia sebenarnya begitu takut mengucapkan kalimat itu.


Edward memejamkan matanya sekejab lalu membukanya lagi dengan kilatan kemarahan. Rahangnya menjadi keras. Napasnya mulai tak teratur.


"Terserah padamu!" kata Edward dengan suara yang serak lalu meremas gelas yang ada ditangannya. Gelas itu pecah dan darah segar pun mengalir.


APAKAH LERINA BENAR AKAN KEMBALI KE JAKARTA??


Jangan Lupa ya....Like, koment and Vote

__ADS_1


__ADS_2