
3 hari dirawat di rumah sakit, Lerina dan bayinya diijinkan pulang. Tentu saja Lerina sangat senang.
Saat mobil memasuki halaman rumahnya, dan ketika mereka turun, di teras depan sudah ada spanduk yang bertuliskan :
WELCOME HOME BABY KIM MIN JUN AND MOMMY LERINA AVIGAIL KIM
Lerina terkejut melihat tulisan itu. Apalagi saat ia memasuki ruang tamu, terlihat para kariawannya berdiri di sana sambil memegang balon dan ruangan tamu sudah dihiasi dengan pernak-pernik yang ada gambar baby Min Jun didalamnya.
"Selamat datang baby Min Jun!" Ucap para kariawan dengan suara yang halus karena tidak ingin mengejutkan bayi yang ada dalam gendongan Lerina.
"Terima kasih...!" Ujar Lerina haru tanpa bisa menahan air matanya.
Mereka membawa berbagai macam hadiah untuk Lerina dan bayinya. Bi Suni sudah menyediakan berbagai macam makanan dan cemilan.
Satu persatu, mereka diijinkan untuk melihat baby Jun walaupun harus memakai masker dan tidak boleh menyentuhnya secara langsung. Edward sudah menginstrusikan pada sekretaris Suryani untuk disampaikan pada semua kariawan yang ada.
Setelah merasa cukup, Lerina segera naik ke lantai dua dan meletakan anaknya ke dalam box bayinya lalu menatap suaminya yang sedang sibuk mengeluarkan baju-baju Min Jun yang dibawa dari rumah sakit.
"Sayang, ini idemu yang membawa para kariawan untuk datang ke sini?" Tanya Lerina.
"Ya. Dari pada mereka datang ke rumah sakit dan tidak diijinkan masuk karena jumlahnya banyak, aku sarankan saja untuk menyambut kepulangan baby Jun di rumah. Kamu suka kan?"
Lerina mengangguk. "Kau selalu punya cara untuk membuatku bahagia. Aku menyesal dulu pernah menyakitimu."
Edward yang sudah selesai membereskan pakaian Min Jun langsung mendekati istrinya yang masih berdiri di dekat box bayi mereka. Ia memegang kedua tangan Lerina dan menatap istrinya itu dengan tatapan penuh cinta.
"Aku tak pernah menyesali semua yang terjadi di belakang kita. Karena aku tahu itu semua adalah proses yang sudah Tuhan buat untuk membuat kita semakin kuat dalan ikatan ini."
Lerina memeluk Edward dengan hati yang sesak oleh luapan cinta yang mendalam. Ia begitu terharu dicintai oleh pria tampan bermata biru ini.
"Aku tak akan bosan untuk selalu mengatakan kalau aku mencintaimu, sayang." bisik Lerina lalu mencium bibir suaminya.
"Jangan menggodaku sayang. Kau tahu kalau si dia di bawah sana sudah 7 hari ini menganggur."
Lerina tertawa. "Aku pikir kau harus kuat dengan godaanku, Ed. Karena si dia itu harus istirahat selama 3 bulan."
Edward melepaskan pelukannya dan menatap istrinya dengan sangat terkejut. "Astaga! Apakah harus selama itu?"
__ADS_1
"Begitulah yang dikatakan orang-orang tua."
"Aku akan konsultasi dengan dokter." Edward nampak tak puas dengan penjelasan istrinya.
Min Jun bergerak. Suara tangis langsung keluar dari bibir mungilnya.
"Tuh kan, Min Jun saja tak setuju jika daddy harus menderita selama 3 bulan."
Lerina menarik hidung suaminya. "Sembarangan saja bicaranya. Dia itu sedang lapar dan haus." Lerina langsung mengangkat anaknya dari box, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka bagian atas bajunya dan langsung menyusui anaknya.
"Bragi Kim, kau sudah menguasai sesuatu yang paling daddy sukai dari tubuh mommymu!" Kata Edward saat melihat betapa lahapnya mulut kecil itu menikmati ASI dari mamanya.
"Ed, mandi sana. Kamu bau!" Lerina menatap suaminya dengan tatapan tajam.
Edward menggaruk kepalanya. "Ya. Aku pikir kalau aku harus menenangkan si dia dengan air dingin."
Lerina tak dapat menahan tawanya melihat tingkah suaminya.
"Bragi sayang, kau punya hot daddy yang sangat luar biasa." Kata Lerina sambil membelai pipi gembul putranya.
********
Lerina bahkan sampai kerepotan mengatasi kemauan putranya yang selalu ingin minum. Akhirnya setelah melalui konsultasi dengan dokter anak, Lerina dan Edward pun sepakat untuk menambahkan susu formula untuk Bragi.
Edward benar-benar menjadi daddy yang sangat luar biasa bagi anaknya. Jika malam tiba dan Bragi cengeng, Edward tidak mau membangunkan Lerina. Ia sendiri yang mengurus putranya itu, memberikan susu dan menimang-nimang sampai putranya itu tertidur lagi.
"Ed, kenapa tak bangunkan aku jika Bragi rewel?" Tanya Lerina saat melihat pagi harinya suaminya itu sedikit lemah dan matanya menjadi seperti mata panda.
"Aku kasihan padamu. Kau kan baru saja selesai melahirkan. Tenagamu belum pulih benar. Biar aku saja yang menemani Bragi tiap malam."
Lerina hanya bisa geleng-geleng kepala. Bahkan pengasuh bayi yang mereka sewa pun mengeluh karena ia jarang mengurus Bragi. Sebab siang pun, ketika Edward bangun, ia tak mengijinkan siapapun mengurus anaknya itu selain dirinya sendiri.
"Nyonya, aku malu digaji tapi jarang bekerja. Semua tugas diambil alih oleh tuan. Mulai dari memandikan Min Jun, membuatkan susu, menggantikan popok bahkan sampai menidurkannya." Kata Nani, perempuan yang berusia 33 tahun, yang disewa olwh Lerina untuk menjadi pengasuh Min Jun.
"Sudahlah. Itu memang maunya suamiku. Aku saja jarang memeluk anakku." Kata Lerina sambil menikmati sarapannya. Sementara Edward sedang berada di taman belakang. Ia dan Min Jun sesang berjemur.
"Saya sudah 4 kali ditugaskan menjaga bayi. Baru kali ini dalam sehari saya cuma menjaga bayi 2 jam saja."
__ADS_1
Edward yang sudah masuk bersama putranya tertawa mendengar keluhan Nina.
"Kalau begitu, sekarang kamu tidurkan anakku dulu karena aku mau menemani istriku sarapan." Kata Edward membuat Nina langsung bersorak gembira. Ia mengambil Bragi dari tangan Edward dan langsung menuju ke kamar bayi yang juga ada di lantai satu.
Lerina menatap suaminya yang sudah duduk di hadapannya. "Sayang, kamu agak kurusan. Pasti capek kan menjaga Min Jun."
"Aku memang capek, sayang. Kadang kalau malam aku harus menahan mataku untuk tidur karena anak kita ingin minta susu. Mau membangunkan kamu rasanya tak tega. Kamu sudah hamil selama 9 bulan, saatnya bagi kamu sekarang untuk istirahat."
"Aku sudah kuat. Usia Min Jun sudah hampir 2 bulan. Aku bahkan rencananya minggu depan sudah mau masuk kantor walaupun tidak setiap hari." Kata Lerina.
"Kalau aku sudah kembali ke Seoul, anak kita akan kesepian dong kalau mamanya kerja lagi."
Dahi Lerina berkerut. "Kamu akan kembali ke Seoul?"
"Iya. Aku ada jadwal manggung di Jeju dan Jepang bulan depan. Aku juga ada rapat penting di kantor. Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan kau dan Min Jun sendiri. Tapi mau bagaimana lagi?"
Lerina pura-pura tersenyum. Pada hal hatinya galau memikirkan Edward akan pergi. Ia sudah terbiasa bersama dengan Ed dan Min Jun. Haruskah keluarga kecil mereka berpisah lagi?
*********
2 hari lagi Edward akan kembali ke Korea. Ia sudah membuat daftar panjang apa yang harus diperhatikan oleh Lerina dan juga Pengasuh Min Jun.
Lerina semakin resah dan gelisah. Ia sudah terbiasa dengan perhatian dan kasih sayang Edward pada dirinya dan Min Jun.
Di dua bulan usia Min Jun, Edwarlah yang paling tahu bagaimana membujuknya jika anaknya itu rewel. Edward yang paling cekatan mengganti popoknya. Edward pula yang paling tahu, kapan Min Jun minum ASI atau kalan dia diberi susu formula.
"Jagoannya daddy, kalau daddy sudah pergi jangan buat mommy sibuk ya? Kasihan kalau mommy harus bergadang tiap malam karena Min Jun rewel." Kata Edward sambil memeluk putranya. Mata Min Jun berwarna hitam seperti milik Lerina. Namun bentuk mata, hidung, bibir bahkan rambutnya yang agak coklat itu semuanya mirip Edward.
Beberapa waktu yang lalu, Taeyung bahkan mengirim foto Edward saat ia bayi. Memang sangat mirip dengan anaknya. Bahkan Taeyung menyebutnya seperti kembaran Edward. Semua orang yang melihat Min Jun pun akan setuju kalau anak itu sangat mirip dengan papanya kecuali warna matanya.
Hati Lerina tersentuh. Ia tak sanggup membayangkan kalau Edward harus menahan rindu pada anakknya ini.
"Ed....!" Panggil Lerina. Edward yang masih berbicara dengan anaknya di tempat tidur, menoleh ke arah istrinya. "Ada apa, sayang?"
"Aku pikir sudah saatnya aku dan Min Jun ikut denganmu ke Seoul."
"Apa?" Edward terkejut mendengar perkataan istrinya. Ikut ke Seoul????
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA..
LIKE, KOMEN DAN VOTE