LERINA

LERINA
Marah???


__ADS_3

Pelukan Calvin masih membuat Lerina bergetar, pertautan bibir yang lembut itu membuat Lerina terbuai akan cinta yang pernah mereka miliki bersama.


Tangan Lerina mendorong dada Calvin namun pelukan Calvin semakin erat.


"Le...pas....kan..!" Lerina berucap diantara napasnya yang tersengal karena Calvin baru melepaskan ciumannya.


"Kau milikku...!" Calvin kembali mencium Lerina.


Ting...!


Pintu lift terbuka. Edward terpana melihat pemandangan di depan lift.


"Lerina.....!" teriaknya dengam suara yang melengking tinggi.


Lerina mendorong Calvin dengan kaget.


"Edward??" pekik Lerina sangat kaget.


Edward tak bicara. Ia maju ke depan dan tanpa diduga ia melayangkan tinjunya ke wajah Calvin, kemudian ke perutnya dengan kekuatan penuh.


Calvin yang tak siap menerima pukulan itu langsung terjatuh.


"Ed.....!" Lerina langsung menubruk tubuh Edward yang hendak menghajar Calvin lagi. Di peluknya Edward dengan sangat erat.


"Maafkan aku...Ed....!" katanya sambil menangis.


Edward menatap Calvin "Pergi.....!" usirnya dengan wajah yang merah menahan marah.


Calvin berdiri sambil memegang perutnya yang terasa sakit.


Pintu lift terbuka. Keyri keluar. Berpapasan dengan Calvin yang akan masuk.


"Ada apa ini?" tanya Keyri bingung.


Edward melepaskan tangan Lerina yang memeluknya dengan kasar.


"Keyri, segera ke ruang kontrol. Hapus rekaman CCTV yang terjadi 1 jam dari sekarang. Tutup mulut yang menjaga ruang kontrol dengan uang. Jika ada informasi yang bocor, akan ku pecat kalian semua." kata Edward dengan emosi yang masih jelas terlihat.


"Baik bos!" Keyri kembali masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai satu tempat ruang kontrol berada.


Edward melangkah masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu dengan keras.


Langkah Lerina terhenti di depan pintu. Perasaannya menjadi sangat gelisah. Ia tak tahu harus bagaimana. Dipegangnya gagang pintu dengan ragu.


Air matanya mengalir tanpa bisa dibendungnya.


10 menit berlalu....


Lerina menghapus air matanya. Lalu mengetuk pintu dan membukanya perlahan.


Di lihatnya Edward sedang berdiri membelakangi pintu, menghadap jendela sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Ed......!" panggil Lerina sambil mendekat.


Edward membalikan badannya. Di tatapnya Lerina dengan wajah dingin.


Lerina sampai bergetar karena Edward selama ini tak pernah menatapnya seperti itu.


"Maafkan aku, Ed. Yang kau lihat tadi...."


"Itu bukan urusanku." Edward menyela ucapan Lerina.


"Kau dapat berciuman dengan siapapun yang kau mau. Tapi setidaknya, janganlah di depan umum. Pilihlah hotel mana yang kalian mau, yang penting tidak tersorot oleh kamera CCTV. Kalau kita sudah resmi bercerai, dan Jien pun sudah bercerai dengan Calvin, maka kalian bisa berciuman dimana saja yang kalian mau" kata Edward dengan pelan, tanpa ekspresi namun sangat menyakitkan di telinga Lerina.


"Ed, aku...."


Edward mengangkat tangannya, menghentikan lagi kalimat Lerina.


"Kau tak perlu menjelaskan apa-apa padaku. Aku permisi!" Edward segera keluar dari ruangan itu.


"Ed....!" panggil Lerina. Namun Edward tak mengubrisnya. Ia terus melangkah dan kembali membanting pintu dengan keras saat keluar.


Apakah Edward marah melihat kami berciuman? Tapi kenapa dia harus marah? Apakah karena ia takut ada orang yang tahu dan menjadi skandal? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Mengapa kata-kata Edward sangat menyakitkan bagiku?


Lerina duduk di atas sofa sambil kembali menangis. Ia sedih membuat Edward kesal.

__ADS_1


Sementara itu, Edward yang sudah berada di lantai satu langsung menemui Keyri di ruangan kontrol. Hanya ada Keyri sendiri di sana.


"Mana penjaganya?" tanya Edward.


"Sedang makan siang, bos. Jadi dia memang tak melihat adegan tadi. Saya sudah menghapusnya." kata Keyri.


Edward hanya mengangguk dan segera meninggalkan ruangan itu. Keyri menyusulnya.


"Bos, tuan Calvin yang memaksa nona Lerina. Ciuman itu karena paksaan tuan Calvin" Keyri menjelaskan tanpa diminta.


"Bukan urusanku"


"Tapi bos kelihatannya marah. Makanya aku menjelaskan"


"Tutup mulutmu Keyri!" bentak Edward sambil terus melangkah.


Keyri hanya diam dan terus mengikuti langkah Edward. Ia menelepon pak Cheng untuk membawa mobil ke lobby.


"Saya mau menyetir sendiri!" kata Edward.


Pak Cheng langsung keluar dari mobil.


Edward masuk dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Siapa yang membuat bos marah?" tanya Pak Cheng


"Dia marah namun tak mau mengakuinya. Bos menjadi aneh" kata keyri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pak Cheng bingung karena pertanyaannya sama sekali tidak dijawab oleh Keyri.


***********


Lerina sangat gelisah. Ed sama sekali tak menjawab teleponnya, tak membalas semua pesan yang dikirimnya.


Keyri sendiri tak tahu kemana Edward pergi. Ia sendiri tak bisa menjawab saat lerina bertanya.


"Ada apa dengan Lerina?" tanya Yura bingung melihat Lerina yang sedang menangis di ruangannya.


"Aku nggak tahu. Kayaknya bertengkar dengan Edward " kata Keyri pura-pura tak tahu.


Saat jam sudah menunjukan pukul 3 sore, Lerina pamit pulang cepat. Ia ingin sampai di apartemen dan bicara dengan Edward. Namun cowok itu tak ada di sana. Nana mengatakan bahwa Ed hanya pulang ganti baju dan langsung keluar lagi.


Lerina menungguh....


Ia bukan hanya melewatkan makan siangnya tapi juga tak mau menyentuh makan malamnya.


Berulang kali Nana membujuknya namun Lerina selalu mengatakan kalau ia menungguh Ed pulang.


00.30


Nana sudah sejak tadi masuk ke kamarnya. Namun Lerina masih enggan beranjak. Ia menungguh Ed di ruang tamu sambil menonton TV.


03.45


Edward membuka pintu apartemen. Ia terkejut melihat Lerina yang sedang tertidur di sofa ruang tamu.


Edward mengangkat tubuh Lerina menuju ke kamar tamu yang ada di lantai satu, lalu ia menidurkan Lerina di sana. Kemudian ia sendiri menuju ke kamarnya yang ada di lantai 2.


********


sebuah ketukan di pintu membangun Lerina dari tidurnya.


"Nona....!"


Lerina bangun dan kaget menemukan dirinya ada di kamar tamu. ia segera bangun dan membuka pintu.


"Selamat pagi, nona" sapa Nana.


"Selamat pagi, Nana. Ini sudah jam berapa?"


"Hampir jam sepuluh pagi"


"Apa? ya ampun. Aku ketiduran. Untungnya sekarang hari sabtu jadi tak masuk kantor"


Nana tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


"Mengapa saya ada di kamar tamu?" tanya Lerina bingung.


"Mungkin tuan Edward yang memindahkan nona."


"Edward ada di sini?" Lerina jadi senang"


"Tadi jam 8 tuan sudah pergi ke Thailand. katanya ada konser di sana. Ayo nona....sarapan dulu..!" ajak Nana.


"Aku.....!" Lerina memegang perutnya. Tak lama kemudian dia langsung pingsan.


***********


Lerina membuka matanya. kepalanya masih terasa pusing.


"Nona....!" panggil Nana


"Aku dimana?"


"Di rumah sakit, nona. Nona tadi pagi pingsan. Jadi saya dan pak Cheng membawa nona ke sini. Kata dokter penyakit maag nona kambuh. Nona kemarin tidak makan kan?"


Lerina menarik napas panjang. Ia mencoba tersenyum "Makasih, Nana."


Lerina berusaha tersenyum. Walaupun ia sangat sedih karena Ed tak ada.


2 hari dirawat di rumah sakit, Lerina diijinkan pulang. Selama itu pula Edward tak pernah meneleponnya.


Lerina cukup tahu diri. Tak ingin menuntut lebih. Karena ia sadar apa dasar hubungan mereka.


Sore ini, sepulang kantor, Yura datang bersama Hung Ben ke apartemen.


"Besok aku sudah boleh masuk kantor." kata Lerina saat melihat wajah khawatir Yura.


"Ed kemana?" tanya Yura.


"Ada konser di Thailand. Besok dia pulang" jawab Lerina bohong. Pada hal ia tak tahu kapan Ed pulang.


"Apartemennya bagus sekali. Foto pernikahannya juga cantik. sayang ya, aku nggak diundang saat menikah" ujar Hung Ben.


"Ed tidak mau pesta besar. Dia ingin hanya keluarga dekat saja" kata Lerina.


Setelah bicara tentang pekerjaan sedikit, Hung Ben dan Yura pun permisi pulang.


Lerina kembali merasa sepi. Ia kini tidur di kamar tamu.


Ed memindahkan aku ke kamar ini saat dia pulang malam itu. Mungkin ini cara Ed untuk mengatakan padaku kalau kami tak bisa tidur satu ranjang lagi.


Lerina berusaha berpikir positif. Sudah 2 bulan lebih ia menjalankan perannya sebagai istri Ed. Ia harus menungguh 10 bulan lagi dan akan kembali ke Indonesia. Lerina berusaha mengusik perasaan sepi yang memenuhi rongga hatinya.


************


Esok paginya, Lerina berangkat ke kantor, diantar pak Cheng dengan mobil yang lain.


"Mobil yang biasa ke mana, pak?" tanya Lerina.


"Di bawa tuan Edward ke hotel tadi malam, nona"


"Memangnya Edward sudah datang?" tanya Lerina dengan mimik terkejut.


"Semalam sekitar jam 11. Saya menjemputnya ke bandara, lalu saat tiba di apartemen, tuan hanya mengambil beberapa pakaian, dan ke hotel dengan tuan Keyri dengan mobil yang satu."


Apa ini? Edward sudah kembali dan tinggal di hotel? Apakah dia sengaja? Marahkah Edward padaku karena aku dicium Calvin?


Lerina menarik napas panjang. Berusaha membuang rasa sedih dihatinya. Tanpa sadar air matanya mengalir.


MAKASI SUDAH BACA PART INI


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA...


SUDAH BACA NOVELKU YANG BERJUDUL :


I HATE YOU, BULE


MY BEST PHOTO?


kalau sudah di komentari ya...

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2