LERINA

LERINA
Swiss (part 5).


__ADS_3

Salju turun dengan sangat lebat siang ini.Membuat cuaca makin dingin. Banyak orang memilih untuk berada didalam rumah dengan baju hangat dan berdiam diri di dekat perapian atau menyalahkan pemanas ruangan.


Namun cuaca dingin itu tak membuat suasana di dalam kamar itu menjadi dingin pula. Justru ada rasa panas, bercampur keringat dan napas yang saling memburu antara 2 anak manusia.


Suatu rasa saling mendambah, dalam sentuhan yang memabukan, Lerina pasrah dalam dekapan hangat Edward yang membuatnya melayang.


Ini bukan sekedar penyatuan diri untuk menuntaskan hasrat semata melainkan ada ungkapan perasaan yang disalurkan lewat sentuhan. Lerina yang sama sekali belum perpengalaman mencoba mengikuti alur permainan Edward yang sudah mahir melakukannya.


Namun Edward tidak menempatkan dirinya sebagai lelaki sok berkuasa yang seenaknya saja melakukan keinginannya. Ia bahkan mengontrol dirinya sebaik mungkin ketika sebelum penyatuan itu Lerina mengatakan,"Pelan-pelan, Ed. Ini yang pertama untukku"


Membuat dirinya menjadi orang pertama yang menyentuh Lerina semakin menjadikan Edward mengontrol emosinya agar tak meledak begitu saja sehingga Lerina merasa sakit. Edward menjadi sangat lembut, bahkan lebih lembut dari pada yang pernah dilewatinya bersama Jesica. Sehingga ketika ia berhasil menembus dinding kesucian yang dijaga Lerina selama ini, perempuan itu tak menjerit kesakitan berlebihan melainkan ia menikmatinya juga dalam alunan gerak yang menghentar mereka mencapai puncak rasa nikmat bersama.


Dan ketika semuanya berakhir, Edward menghapus air mata yang membasahi sudut mata Lerina, mencium kedua pipi Lerina dengan gerakan yang sangat lembut.


"Terima kasih menjadikanku yang pertama untukmu!" bisik Edward diantara napasnya yang masih belum stabil. Kemudian ia menggulingkan tubuhnya dari atas Lerina, berbaring terlentang dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Lerina.


Tak sampai satu menit, ia merasa bahwa Lerina sedikit bergerak, menarik selimut tebal yang sudah hampir jatuh ke lantai dan menutupi tubuh keduanya.


Setelah keheningan tercipta beberapa saat dan napas keduanya kembali normal, Edward pun memiringkan tubuhnya dan dengan bertumpuh pada sikunya, ia menatap wajah cantik Lerina, menghapus keringat yang masih ada di dahinya kemudian menjatuhkan wajahnya di leher Lerina, menghirup wangi rambut dan tubuh gadis itu.


Walaupun matanya terpejam, Edward tahu kalau Lerina belum tertidur.


"Sayang, kau meminta padaku untuk menghapus semua bekas sentuhan Calvin ditubuhmu namun ternyata dia sama sekali belum meninggalkan jejak apapun di tubuhmu. Aku bahagia saat menjadi yang pertama bagimu." kata Edward lembut sambil mengesekan hidungnya diceruk leher Lerina.


Perlahan mata Lerina terbuka. "Kau adalah suamiku jadi kau pantas memiliki saat pertamaku. Hanya dengan menjadikanmu yang pertama, aku yakin 4 tahun kebersamaanku dengan Calvin akan terhapus oleh kebersamaan kita"


Edward menyentuh wajah Lerina lalu meminta gadis itu agar menatapnya. "Tapi apa yang kulakukan padamu saat ini bukan sekedar sandiwara saja. Aku sungguh menikmatinya dan aku akan menginginkannya lagi....lagi...dan lagi. Aku bahkan berpikir kalau aku sudah jatuh cin..."


"No...Ed...!" tangan Lerina tiba-tiba membungkam mulut Edward. "Aku tak ingin kau mengatakan sesuatu yang akan kau sesali nantinya" sebutir air mata jatuh disudut mata Lerina.


Tatapan mereka bertemu. Dahi Edward berkerut. Lerina melepaskan tangannya yang menutup mulut Edward.


"Kau pernah mengatakan kalau aku harus bahagia bersamamu. Aku bahagia menyerahkan kesucianku pada suamiku. Karena itu adalah janjiku pada mamaku, lelaki pertama yang menyentuhku haruslah yang sudah sah menjadi suamiku. Sebab hanya dengan cara ini, Calvin akan mengerti dan kembali mencintai Jien yang adalah istrinya. Untuk saat ini, mari kita nikmati rasa saling memberi kebahagiaan ini." kata Lerina dan tanpa diduga ia mengecup pipi Edward.


Ada senyum kebahagiaan yang terlukis di wajah Edward. Ia pun kembali menunduk. Menyatuhkan ciuman mereka dengan lembut, kembali membakar gelora dalam dirinya yang memang sejak tadi tak pernah hilang. Menikmati kebahagiaan dan memberi kebahagiaan seperti yang Lerina katakan.


Lerina walaupun sangat terkejut dengan ciuman yang kembali memberikan sensasi tak terkira pada seluruh tubuhnya, ia kembali pasrah menikmati belaian Edward yang lembut namun sangat membakar api dalam dirinya.


*************


Jam dinding menunjukan pukul 8 lewat saat mereka berdua selesai mandi bersama dan akhirnya selesai ganti pakaian.


Lerina bersyukur karena musim dingin membuat mereka harus memakai pakaian yang sangat tertutup sehingga bekas-bekas merah yang dengan sengaja ditinggalkan Edward hampir di seluruh tubuhnya tak akan menjadi pemandangan publik.


"Ed...cepatlah. Aku sangat lapar!" kata Lerina melihat Edward masih menyisir rambutnya.


"Ok. Aku siap. Ayo...!" Edward langsung meraih tangan Lerina, menggenggamnya erat dan segera menuju ke lantai bawa.


"Ed, kita berdua sudah ada di kamar sejak jam 11.30 siang. Dan ini sudah jam 8 lewat. Aku sedikit malu"


Edward menghentikan langkahnya. Membuat Lerina berhenti juga dan menatapnya bingung.


"Jika kamu merasa malu, kembalilah ke kamar, biar aku yang akan mengambil makan malam dan kita makan bersama di kamar dengan tenang. Setelah itu jangan suruh aku berhenti untuk menyentuhmu" kata Edward dingin namun dengan tatapan penuh ancaman.

__ADS_1


"Ed....!" Lerina jadi malu. Ia mencubit pinggang Ed dengan wajah yang merona.


"Jangan malu. Kita kan pasangan yang sedang berbahagia...." wajah datar Edward langsung berubah jadi manis. Ia kembali melangkah sambil terus menggenggam tangan Lerina.


Saat keduanya tiba di ruang makan, semua yang disana sementara menikmati makanan penutup.


"Selamat malam semua...!" sapa Edward. Ia menarik kursi dan mempersilahkan Lerina duduk setelah itu ia duduk di samping istrinya.


Ross langsung membawa alat makan dan meletakan di depan Lerina dan Edward.


"Bella gionarta ehm..(hari yang menyenangkan ya?)" ujar Ross sambil mengedipkan matanya.


"Sai sempre, Ross..(kau selalu tahu Ross) " kata Edward sambil terkekeh.


Lerina menatap Edward meminta penjelasan.


"Ross tahu kalau kita sedang bahagia, sayang" kata Edward lalu mengecup pipi Lerina dengan gemas.


"Ed...!" Lerina menginjak kaki Edward karena malu.


Ross hanya tersenyum sambil menyajikan makanan pembuka.


"Ross, minta pelayan untuk mengganti seprei di kamar kami ya". kata Edward saat mereka sudah menikmati makanan pembuka.


Lerina yang mendengarnya langsung tersedak. Tadi ia sudah membersihkan sedikit bercak darah yang ada di sana. Memang tidak terlalu kentara karena sepreinya berwarna biru tua. Namun tetap saja Ross bisa tahu apa yang terjadi kalau dia meneliti dengan benar.


"Sayang...ada apa?" tanya Edward sambil menepuk punggung Lerina secara perlahan. Ross langsung menyodorkan gelas yang berisi air putih.


Lerina melotot ke arah Edward.


Ross menepuk pundak Edward "Makanlah. Nanti aku bereskan kamarnya"


Calvin melepaskan garpu yang ada di tangannya.


"Aku sudah selesai. Permisi!" pamit Calvin. Ia meninggalkan meja makan dan segera berjalan meninggalkan ruang makan.


Jien menarik napas panjang. Berusaha tersenyum sebaik mungkin "Aku susul Calvin dulu ya..."


"Apakah mereka ada masalah?" tanya Ryun Ong dengan wajah yang heran.


"Mereka pasti akan menyelesaikannya, papa." Taeyung pun meneguk anggurnya sampai selesai. Ia menatap Yura yang duduk di sampingnya "Tolong bawakan kopi ke kamarku ya?" katanya sebelum meninggalkan kamar.


Ryun Ong dan Jesica pun meninggalkan ruang makan. Meninggalkan Yura yang akhirnya juga menyelesaikan makanan penutupnya.


"Aku akan membuat kopi dulu!" pamit Yura dan segera menuju ke dapur.


Lerina dan Edward pun menikmati makan malamnya dengan tenang.


"Ed....kamu makannya banyak sekali!" pekik Lerina melihat Edward masih menambahkan makanan di piringnya.


"Wajarlah, akukan sudah bekerja keras tadi."


"Ed....Ross bisa mendengar kita" Lerina setengah berbisik kembali mencubit tangan Edward.

__ADS_1


Ross yang sementara menyiapkan makanan penutup untuk Ed dan Lerina hanya tersenyum melihat tingkah malu-malu dari Lerina.


Selesai makan, keduanya menuju ke bagian ruang tamu sebelah barat. Di sana ada piano berwarna putih.


"Ed...aku main ya?" ujar Lerina.


"Kamu bisa?" tanya Edward tanpa bermaksud merendahkan.


"Sedikit. Mamaku juga bisa main piano dengan baik..Dia yang mengajari aku main piano"


Edward membuka penutup piano dan mempersilahkan Lerina untuk duduk sementara dia sendiri duduk di samping Lerina.


"Lagu apa yang akan kau mainkan?" tanya Edward.


"canon"


"Silahkan...!"


Lerina meletakan tangannya di atas tuts piano. Awalnya ia agak kaku karena setelah mamanya meninggal, Lerina sudah tak pernah menyentuh piano lagi.


"Ed, aku nggak main, deh." Lerina berhenti.


Edward tanpa diduga mencium bibir Lerina dengan sangat lembut. "Buat dirimu bahagia...maka jarimu akan bergerak mengikuti hatimu" bisik Edward diujung bibir Lerina.


Lerina mengangguk. Ia pun kembali memainkan tuts piano itu. Kali ini lagu canon mengalun indah.


Di kamar mereka, Calvin yang sedang bermain game dari hp nya merasakan hatinya semakin sakit saat mendengar bunyi piano itu. Dia tahu kalau lagu itu dimainkan oleh Lerina karena memang Lerina sering memainkannya ketika ia berkunjung ke rumah Lerina.


Potongan kenangan indah itu membuat Calvin menjadi semakin gundah.


Calvin turun dari tempat tidur, lalu meraih minuman beralkohol yang tadi diambilnya dari bartender. Membuka penutup botolnya, dan tanpa menuangkannya di atas gelas, Calvin meneguk minuman itu langsung dari botolnya.


Jien yang baru keluar dari kamar mandi sedikit terkejut melihat Calvin yang menatapnya dengan tatapan yang sangat aneh.


"Ada apa, sayang?" tanya Jien dengan bingung.


Calvin mendekat, tangannya membelai wajah cantik Jien dengan hati yang semakin galau.


"Calvin?" Jien semakin bingung.


Tangan Calvin menangkup dagu Jien kemudian ia langsung meraup bibir manis Jien, menyesapnya dengan rakus dan tak memberikan kesempatan pada istrinya itu untuk menolak. Calvin ingin melupakan Lerina dengan menuntaskan hasratnya pada Jien yang selalu siap menerimanya tanpa pernah menolak.


Lagu Canon itu kini berganti dengan lagu yang lain. Edward yang memainkannya. Sementara Lerina, sudah berpindah ke sebuah sofa yang ada di samping Edward. Ia duduk sambil mengangkat kedua kakinya ke atas sofa, kemudian menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya yang dilipat ditangan sofa. Tatapannya lurus pada Edward yang sedang memainkan piano. Sesekali Edward menatap Lerina dengan senyum manisnya.


Ross dan beberapa orang pelayan sedang menikmati permainan piano itu sambil menikmati kopi panas di dapur.


"Lei è molto felice. Quindi suona il piano (dia sangat bahagia, makanya dia bermain piano)" kata Ross sambil tersenyum manis.


Sementara di kamarnya, apa yang Jesica lakukan setelah mendengar suara piano itu?


Apa juga yang Taeyung lakukan pada Yura karena suara piano Edward yang sangat menyentuh hati itu?


LIKE, KOMENTARI DAN VOTE YA...

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH BACA


MAAF KALAU ADA YANG SALAH2 KATA


__ADS_2