
Hari kedua kerja dilakoni oleh Yura dan Lerina penuh dengan canda tawa.
Meja kerja Yura ada didepan ruangan wakil direktur 2. Itu berarti berhadapan dengan meja kerja Nula yang ada di depan ruangan wakil direktur 1.
Lerina sesekali keluar untuk menemui Yura. Hari ini keduanya kompak menggunakan baju yang sama warnanya.
"Hallo cantik, makan siang yuk!" ajak Grandy
"Ok. Tapi aku mau tunggu Lerina dulu ya. Dia sedang ada di ruangannya Pak Taeyung." kata Yura sambil membereskan meja kerjanya.
Nula memperhatikan Yura yang sedang asyik bercerita dengan Grandy. Nula mengakui bahwa Yura nampak elegan dengan baju yang dipakainya. Ia juga sangat cocok dengan potongan rambut pendeknya.
Pintu ruangan Taeyung terbuka. Nampak Taeyung keluar bersama Lerina. Mata Taeyung langsung menemukan pemandangan yang membuat dadanya seperti tertusuk duri saat melihat Yura nampak tertawa bersama Grandy.
"Lerina, ayo kita makan siang bersama" ajak Taeyung.
"Baiklah. Aku panggil Yura dulu ya" Lerina segera melangkah menuju ke meja kerja Yura.
"Yura, kita makan siang, yuk!" ajak Lerina
"Maaf ya, aku mau makan siang bersama Grandy. Katanya tak jauh dari sini ada restaurant yang baru buka dan makananya enak. Bolehkan?" tanya Yura memohon.
"Boleh."
Lerina masuk ke ruangannya sebentar untuk mengambil hp nya. Saat ia keluar, nampak Taeyung dan Nula sudah berjalan ke arah lift. Wajah Nula nampak sedikit cemberut karena Taeyung mengajak Lerina dan pasti akan bersama Yura.
Lerina pun mengajak Yura dan Grandy untuk masuk ke lift.
Saat mereka sampai di lantai 1, Grandy dan Yura langsung berpamitan.
"Mau makan dimana?"tanya Taeyung.
"Kami mau makan di luar. Bye..." pamit Grandy.
Taeyung menatap kepergian mereka dengan hati yang sakit.
"Taeyung, kamu kenapa sih?" tanya Nula sambil menarik tangan Taeyung kesal.
Lerina tersenyum " Bagus Yura!" guman Lerina dalam hati.
Akhirnya mereka pun makan bertiga saja. Sementara makan siang, Edward meneleponnya.
"Hallo sayang..." sapa Lerina.
"Kau bersama siapa?" tanya Edward
"Kak Taeyung dan Nula. Yura sedang makan siang di luar bersama Grandy"
"Apakah Taeyung kesal?"
"Sepertinya" Lerina terkekeh
"Jangan terlalu capeh ya..."
"Baik sayang. Oh ya kamu pulangnya kapan?" tanya Lerina
"Sudah kangen?"
"Sangat kangen" kata Lerina sengaja dibuat semanja mungkin sehingga Taeyung dan Nula kelihatan sedikit cemburu dengan kemesraan mereka.
Edward tertawa. "Kau memang pemain sandiwara yang sangat baik. Sampai jumpa besok, istriku"
"Sampai jumpa besok, suamiku. Bye..." pamit Lerina. Ia pun melanjutkan makannya.
__ADS_1
Betapa bahagianya Lerina ini. Edward sangat perhatian padanya. Beda dengan Taeyung yang sedikit cuek, batin Nula.
"Kak Taeyung, rapat untuk membahas kerja sama dengan perusahaan dari Perancis itu dilaksanakan hari inikan? Saya semalam membaca laporan keuangannya dan sepertinya ada perbedaan dengan laporan keuangan yang diberikan Nula padaku" kata Lerina saat mereka sudah selesai makan dan sedang ada di dalam lift.
"Nula, apakah kamu membacanya?" tanya Taeyung sambil menatap Nula.
"Saya sudah membacanya namun tidak menemukan perbedaannya" kata Nula dengan wajah bingung.
"Akan saya tunjukan jika sudah berada di dalam ruangan"
Saat mereka berada di ruangan Taeyung, Lerina meminta Yura yang memang sudah selesai makan siang untuk mengambil laptop dan menuju ke ruangan Taeyung.
Lerina pun menjelaskan apa yang ia temukan membuat Taeyung nampak keheranan sebab selama ini ia tak pernah mendapat laporan mengenai kesalahan laporan keuangan.
"Aku akan melihat apakah ini ada kesalahan pengetikan" kata Nula.
"Ya. Lihatlah sebelum kita membahasnya di rapat nanti" ujar Taeyung sedikit kurang suka karena dia merasa Nula sudah sedikit lalai dalam melaksanakan tugasnya.
Selesai itu Lerina dan Yura kembali ke ruangan mereka. Taeyung menatap kepergian mereka sampai menghilang dibalik pintu dan mengambil hp nya.
"Hallo miss Veronika, bolehkah rapatnya kita tunda nanti jam 5 sore? Soalnya ada beberapa hal penting yang harus kami lakukan. Ya, terima kasih atas kerja samanya"
Taeyung meletakan hp nya sambil tersenyum. Dengan ditundanya rapat ini, maka Yura takan bisa nonton dengan Grandy, batinnya senang.
**************
Lerina tak menduga kalau kerja sama dengan perusahaan Perancis itu melibatkan juga perusahaan Kim yang lain yang dipegang oleh ayahnya Kim Jien. Dan Calvin hadir mewakili perusahaan itu.
Selama rapat yang berlangsung selama lima jam itu, Lerina berusaha untuk tidak kontak mata dengan Calvin. Bahkan saat mereka sedang istirahat untuk makan malam pun.
Nula memberikan laporan keuangan yang baru karena ternyata ada kesalahan pengetikan.
Saat rapat sudah selesai, Lerina buru-buru menarik tangan Yura untuk meninggalkan ruangan itu karena ia melihat kalau Calvin berusaha untuk mendekatinya.
Ketika mereka sudah berada di luar ruangan, Lerina terkejut melihat Edward yang berdiri seolah sedang menungguhnya dengan senyum manisnya.
Lerina merasa sangat senang melihat Edward disaat Calvin sedang berada di belakangnya. Sedikit berlari ia memdekati Edward dan langsung memeluk pria itu dengan sangat erat.
"Ed....tolong aku!" bisiknya lalu mencium pipi Edward.
Edward melepaskan pelukan Lerina. Membelai wajah gadis itu dengan lembut dan menunduk sambil memberikan ciuman singkat dibibir Lerina..
"Miss u so much my love" katanya sedikit agak keras karena Calvin yang semakin mendekat.
Wajah Calvin nampak merah menahan amarah. Apalagi saat melihat wajah senang Lerina ketika dicium Edward.
Edward melingkarkan tangannya secara posesif dipinggang Lerina, lalu menatap beberapa pegawai, rekan bisnis yang melewati mereka sambil tersenyum.
"Hallo, Ed!" sapa Yura.
"Hai...." balas Edward dengan penuh ramah. Ia menatap Calvin yang berjalan di belakang Yura.
"Calvin, kau datang juga?" tanya Edward
"Ya. Ayahnya Jien sedang ada rapat khusus jadi aku yang diutus kemari. Sudah selesai konsernya, Ed?" tanya Calvin basa-basi pada hal hatinya sedikit kesal karena niatnya untuk mendekati Lerina batal dengan kedatangan Edward.
"Jadwal konsernya sebenarnya masih berlanjut besok dengan beberapa wawancara. Namun karena istriku ini merengek bilang kangen makanya aku harus pulang untuk mengobati rasa kangennya. Iya kan sayang?" tanya Edward sambil menatap Lerina dengan mesra.
"Ed....kau membuatku malu" manja Lerina.
Ya Tuhan, kuatkan hatiku. semua sikap manja itu dulunya hanya milikku.
Calvin berusaha tersenyum. Ia lalu permisi pulang.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?" tanya Edward tanpa melepaskan pelukannya di pinggang Lerina.
"Iya." jawab Lerina. Ia menatap Yura. "Yura, ayo ikut biar diantar sekalian"
Yura menggeleng "Kalian pulanglah. Pasti kalian mau melepaskan rasa rindu. Jangan perdulikan aku. Aku bisa naik taxi"
Edward dan Lerina mengangguk dan segera melangkah meninggalkan Yura.
Pandangan mata Yura fokus menatap pasangan itu sampai hilang dari balik pintu lift.
Ia lalu menuju ke lantai atas untuk membereskan mejanya. memasukan beberapa file penting ke lemari didalam ruangan kerja Lerina lalu mematikan lampu dan meninggalkan ruangan itu.
Jam seperti ini kantor sudah sunyi karena biasanya aktifitas kerja berakhir jam 5 sore. Hanya beberapa pegawai yang mengikuti rapat tadi yang lembur. Sekarang pun mereka sudah pulang.
Saat Yura sampai di lobby kantor, beberapa lampu bahkan sudah dimatikan. Ia tak menemukan penjaga pintu. Yura keluar sambil merapatkan jaketnya karena udara yang dingin. Ia melangkah perlahan menuju ke arah jalan raya untuk bisa menemukan taxi.
Ketika ia melangkah, sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti didekatnya. Yura menoleh dengan kaget.
"Ayo naik!" kata Taeyung dingin setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Aku bisa pulang naik taxi"
Taeyung turun dan menarik tangan Yura secara paksa dan mendorong perempuan itu untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia kembali duduk dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Di jam seperti ini, kamu takan bisa menemukan taxi di daerah ini." kata Taeyung tanpa menoleh ke arah Yura.
Mengapa juga kamu masih peduli denganku? Jangan katakan kalau kau dan Nula bertengkar
***********
Di apartemen Edward, nampak suasana penuh canda tawa saat Edward menceritakan tentang bagaimana seorang penggemar yang usianya sudah hampir 80 tahun memaksa untuk menemui Edward.
"Apa yang wanita tua itu inginkan, Ed?" tanya Lerina penasaran.
"Dia hanya ingin menciumku karena wajahku mengingatkan pada mantan suaminya yang sudah hampir 50 tahun meninggal. Wanita tua itu menjadi janda saat ia masih berusia 30 tahun dan setelah itu ia tak menikah lagi. Ia hanya mengurus anak semata wayang mereka."
Lerina menyesap kopinya sampai habis. "Kisah cinta yang sangat menarik"
"Iya. Ia bahkan memberikan aku sebuah gelang. Katanya gelang ini adalah jimat keberuntungan." Edward mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah gelang emas dengan sebuah batu permata berwarna biru ditengahnya.
"Ini sangat cantik, Ed"
"Ini untukmu"
"Tapi wanita itu memberikannya untukmu"
"Tapi ini gelang untuk perempuan. Pakailah" Edward memakaikan gelang itu ditangan Lerina.
"Makasi, Ed"
"Sama-sama" kata Edward lalu ia segera berdiri "Aku mau tidur"
Lerina pun berdiri lalu mengikuti langkah Edward menaiki tangga.
Nana menatap keduanya yang menaiki tangga dengan mata berair. Ya Tuhan, ijinkan mereka saling jatuh cinta batin Nana dengan penuh harap.
Setelah selesai membersihkan diri, Lerina dan Edwardpun naik ke atas tempat tidur.
"Ed, kenapa kamu pulang cepat?" tanya Lerina
"Aku takut kamu masih menangis dan membutuhkan bahuku" jawab Edward pelan, namun membuat jantung Lerina seakan berhenti berdetak.
MAKASI SUDAH BACA PART INI
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTARNYA YA...
😍😍😍😍😍