
Yura membaringkan tubuhnya dengan nyaman mendengar permainan piano itu. Ia memang sudah sering mendengarnya namun kali ini terdengar lain. Seolah Edward sedang memancarkan kebahagiaan bagi semua yang mendengarkan permainannya kali ini. Ia merasa suasana hatinya ikut bahagia. Ia bahkan senyum-senyum sendiri membayangkan Lerina yang dikurung Edward selama 8 jam di kamar.
Mereka memang pasangan paling unik yang aku kenal. Edward bahkan sangat berbeda saat bersama Lerina.
Yura yang sudah memejamkan matanya merasa bahwa Taeyung pun ikut berbaring di sampingnya. Ia tak memperdulikannya walaupun ia merasa akhir-akhir ini, cara Taeyung menatapnya, berbicara dan bersikap padanya lebih manusiawi dibandingkan yang lalu.
"Kamu sudah tidur?" tanya Taeyung sambil mencium kepala Yura dan melingkarkan tangannya dipinggang Yura.
Dada Yura berdetak kuat. Apalagi saat Taeyung seolah mengenduskan hidungnya diceruk lehernya Yura dan tangannya mulai menyibakan rambut yang ada dileher Yura.
"Tae...!" Yura berbalik dengan maksud ingin menghentikan perbuatan Taeyung yang membuat bulu kuduknya berdiri. Namun saat itu pula Taeyung dengan sigap langsung memungut bibir Yura, mendorongnya dalam ciuman yang dalam membuat Yura berusaha memberontak untuk melepaskan diri namun Taeyung sudah berpindah posisi berada di atasnya dan membuat perlawanan Yura menjadi sia-sia.
Ciuman itu terlepas sesaat, memberi ruang bagi keduanya untuk menarik oksigen sebanyak- banyaknya.
"Aku menginginkanmu!" bisik Taeyung lembut, selembut dentingan piano yang didengar mereka dari kamar itu.
Yura tahu ia tak bisa memberontak lagi. Seperti waktu-waktu yang lalu, jika Taeyung hendak menyentuhnya, maka Yura harus siap merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Taeyung melakukannya dengan sangat cepat dan kasar.
Tapi malam ini, tubuh gemetar Yura perlahan berhenti saat ia merasakan kalau tangan Taeyung begitu lembut menyentuhnya. Memberikan dia sensasi yang tak pernah dirasakan bahkan selama 4 tahun pernikahan mereka.
Tak ada kata makian, tak ada bau alkohol yang terkadang ingin membuat Yura muntah. Tak ada penyatuan yang diiringi rintihan air mata dan kesakitan Yura.
Taeyung benar-benar berubah malam ini.
Yura terlena, ia melayang pada penyatuan Taeyung yang luar biasa. Dia yang biasa hanya memegang seprei dengan ketakutan, kini memeluk Taeyung dengan rasa bahagia. Yura lupa, sudah memasukan berkas perceraiannya minggu yang lalu.
************
Di kamar lantai satu, ada Jesica yang duduk di atas sofa sambil memeluk kedua lututnya.
Ryun Ong sudah terlelap dibalik selimut setelah meminum obatnya. Sepertinya dia juga begitu terbuai dengan permainan piano Edward.
Air mata Jesica sudah sejak tadi membasahi pipinya. Rasa sakit karena cintanya yang begitu besar terhadap Edward, semakin membuat luka hatinya makin dalam. Edward adalah cinta pertamanya, pria pertama juga yang mencium dan bercinta dengannya.
Jesica mengingat masa itu, ketika kemiskinan melanda hidupnya, ia harus susah payah bekerja dan membiayai kuliahnya. Namun sayangnya, orang tuanya harus punya hutang pada mafia yang ternyata punya dendam besar pada Kim Ryun Ong.
"Kau sangat cantik, ingin rasanya aku mencicipi tubuhmu yang masih suci ini. Namun aku punya rencana lain. Kau harus menggoda anak Ryun Ong yang lain. Namanya Edward Kim. Aku yakin kalau dia akan suka denganmu karena gadis sepertimulah yang dia inginkan. "
Jesica memandang pria bertato di depannya. Dia adalah Kim Ryun Won, adik tiri Kim Ryun Ong. Yang merasa tersisi karena dibuang dari keluarga setelah diketahui oleh ayah mereka bahwa ia suka mencuri.
"Bagaimana kalau aku menolaknya?" tanya Jesica dengan berani.
"Aku akan membunuh kedua orang tuamu, menjual kedua adikmu agar organ tubuh mereka bisa dijual, dan paling akhir, aku akan menjadikan kamu kupu-kupu malam di bar ku"
Jesica tak berani menolaknya. Demi keluarganya, ia pun mendekatkan diri pada Edward Kim. Ternyata pria itu memang jatuh cinta padanya. Tentu saja Jesica senang. Ia tinggal menjebak dan membunuh Edward seperti yang sudah direncanakan. Namun ternyata, Jesica pun jatuh cinta pada kelembutan Edward. Jesica jatuh cinta pada ketulusan Edward. Jesica gagal menjalankan tugasnya. Sampai akhirnya Kim Ryun Ong membongkar identitas Jesica.
Air matanya Jesica semakin deras. Nasibnya sangat malang karena terlahir dari keluarga miskin. Kemiskinan membuatnya harus kehilangan Edward. Walaupun kini ia bisa memiliki segalanya dengan menjadi istri Kim Ryun Ong, tetap saja ia merasa hampa. Yang dia inginkan adalah Edward. Makanya Jesica ingin memisahkan Edward dengan Lerina. Karena ia yakin kalau Edward masih mencintainya.
__ADS_1
Di dalam kamar Jien, nampak Calvin sudah tertidur dengan lelap. Jien memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Calvin. Tangannya terulur membelai wajah tampan itu.
Perkenalan singkatnya dengan Calvin menumbuhkan cinta yang besar dalam hidupnya. Jien ingat, malam itu setelah ia selesai menjalankan tugasnya saat pemotretan, Calvin tiba-tiba saja datang, membawa setangkai mawar dan kotak putih yang berisi cincin.Tak peduli ditengah banyak orang, Calvin melamarnya dengan sangat romantis.
"Kemana cintamu itu, Calvin? Apakah pernikahan kita karena kau punya tujuan tertentu? Aku tak ingin kehilangan kamu. Tapi aku juga sakit melihatmu selalu memandang Lerina dengan mata yang bersinar penuh cinta. Apakah Lerina adalah gadis dimasa lalumu?" Jien bicara sambil terus membelai wajah suaminya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya disamping Calvin. Mencoba mencari kehangatan dalam dekapan suaminya.
***********
Edward tersenyum melihat Lerina yang sudah tertidur lelap di sofa. Ia tahu kalau Lerina pasti sangat lelah. Entah apa yang Edward rasakan dari siang sampai malam dia mengurung istrinya itu dalam hasrat yang tak pernah padam. Seolah ia takan pernah puas mendekap, mencium dan menyatuhkan dirinya pada perempuan ini.
Edward secara perlahan mengangkat tubuh Lerina. Ia melangkah menyeberangi ruang tamu dan mulai menaiki tangga. Ia sangat hati-hati karena takut Lerina akan terbangun.
Saat ia melepaskan tubuh Lerina di atas tempat tidur, tubuh perempuan itu langsung terkulai tanpa daya. Sangat jelas terlihat kalau ia begitu lelap.Edward tersenyum melihat wajah cantik itu seperti berguman tak jelas dalam tidurnya.
"Bobo yang nyenyak sayang.." bisik Edward lalu mematikan lampu kamar dan ikut bergabung dengan Lerina di atas tempat tidur.
*************
Pagi ini ruang makan terasa sepi. Hanya ada Ryun Ong dan Jesica.
"Ross, kemana anak-anak itu?" tanya Ryun Ong.
"Sepertinya salju telah membuat mereka tidur nyenyak. Mungkin juga karena semalam tuan Edward memainkan piano dengan sangat indah. Aku saja bangun sedikit terlambat pagi ini." kata Ross sambil tersenyum.
Nampak Jien dan Calvin yang memasuki ruang makan.
"Wah, pasangan pertama sudah datang" Sambut Ross dengan senyum menggoda.
Sementara itu Yura perlahan membuka matanya dengan tubuh yang agak pegal.
Tangannya meraih hp nya dari nakas. Ia langsung tersentak bangun saat melihat jam sudah menunjukan pukul 9 pagi.
"Ada apa ?" tanya Taeyung dengan suara khas orang yang baru bangun tidur. Tangannya masih erat memeluk Yura.
"Ini sudah jam 9 pagi, Taeyung"
"Memangnya kenapa? Ayo tidur lagi? Aku masih mengantuk dan sedikit lelah. Memangnya kamu tidak lelah?" tanya Taeyung dengan suara sedikit menggoda.
Yura sedikit merona mendengar kata-kata Taeyung.
Bagaimana mungkin dia tidak lelah? Taeyung nanti melepaskan dirinya saat sudah jam 3 subuh.
"Ayolah....tidur lagi...!" Taeyung menarik tubuh Yura sehingga menabrak dada bidangnya yang polos. Lelaki itu kembali menenggelamkan kepalanya di punggung Yura.
*********
Ciuman hangat di pipinya membuat Lerina membuka matanya.
__ADS_1
"Good morning...." sapa Edward manis.
Lerina tersenyum "Morning, Ed"
Lerina mencoba bangun namun sedetik kemudian ia kembali tertidur lagi dengan nyeri di bagian inti tubuhnya. Semalam ia memang merasa sakit juga. Namun pagi ini sakitnya semakin bertambah. Ia bahkan merasa tulang-tulangnya seperti dilucuti dari tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Edward melihat Lerina seperti meringis menahan sakit.
"Sakit, Ed..!" aku Lerina dengan sedikit malu.
Edward tersenyum. Tangannya terulur menyentuh wajah Lerina dan menyapunya dengan lembut.
"Maafkan aku...!" kata Edward sangat lembut.
"Aku hanya ingin ke toilet, Ed.." Lerina mencoba bangun lagi. Kali ini Edward membantunya.
"Aku gendong ya?" tanya Edward.
Lerina menepis tangan Edward masih dengan wajah yang berona merah.
"Aku bisa sendiri, Ed.." kata Lerina, sambil berpegang pada pinggiran ranjang, Lerina menurunkan kakinya ke lantai. Lalu ia berdiri dan melangkah sedikit tertatih ke kamar mandi.
Edward pun bangun. Ia merapihkan rambutnya sebentar dan segera keluar kamar.
Sesampainya di ruang makan, ia menyapa Papanya, Jesica , Jien dan Calvin dengan senyuman manis.
"Mana menantuku, Ed?" tanya Ryun Ong.
"Lerina harus istirahat di kamar hari ini." kata Edward tanpa berniat menutupinya.
Ross membantu Edward menyiapkan sarapan di atas baki.
"Berikan dia obat ini. Supaya dia bisa berjalan dengan baik saat keluar dari kamar." bisik Ross.
"tu sei il migliore, Ross (kau yang terbaik, Ross)" kata Edward sambil mencium pipi wanita bertubuh gembul itu.
"ti amo, Ed"
Edward meninggalkan Ross sambil membawa nampan berisi sarapannya bersama Lerina. Sedangkan Ryun Ong memandang putranya dengan perasaan bahagia.
Kau mendapatkan kebahagiaanmu, anakku...
MAKASI YA SUDAH BACA...
MAAF KALAU ADA TYPO
JANGAN LUPA KASIH BINTANG 5 YA...
__ADS_1
LIKE, KOMEN AND VOTE
LOVE YOU ALL