
"Le, ada apa dengan perutmu? Kamu hamil?" Edward mengulangi pertanyaannya. Tangannya masih berada di atas perut Lerina seakan tak mau mengangkatnya.
Lerina yang sudah berbaring di sofa, perlahan mengangkat tubuhnya agar kembali duduk dengan benar. Tangannya membuka jaket yang dikenakannya sehingga bagian perutnya semakin kelihatan.
"Ya. Aku hamil!" ujar Lerina pelan. Jantungnya berdetak dengan cepat saat mengucapkan itu.
Edward terkejut. Ia mundur sedikit, memberi ruangan agar Lerina dapat duduk dengan baik. Pandangannya lurus menghadap perut Lerina. Belum begitu kentara memang. Tapi Edward sangat tahu kalau Lerina memiliki perut yang sangat ramping sehingga perubahan yang terjadi sedikit saja akan diketahuinya.
"Ini anakku kan?" tanya Edward dengan emosi yang mulai tak terkontrol. Ia ingin menangis, marah, kesal, bahagia, semuanya berkecamuk menjadi satu. Calvin memang pernah meneleponnya dan mengatakan bahwa tidak pernah terjadi apapun antara dia dan Lerina sehingga Edward sungguh yakin kalau ini memang anaknya.
"Ya!" jawab Lerina. Ia tak berani memandang wajah Edward.
"Berapa usia kandunganmu?"
"Hampir 5 bulan."
"Le....!..Dem..!" Edward tak dapat mengontrol lagi emosinya. "Usia kandunganmu sudah hampir 5 bulan dan kau tak mau mengatakannya padaku? How could you!" Edward tanpa sadar memukul sandaran sofa.
Lerina tertunduk tanpa bisa menahan air matanya. Sementara Edward masih terus berusaha mengontrol emosinya.
"Maafkan aku, Ed. Aku malu padamu. Aku sudah menyakitimu saat memintamu untuk menceraikanku."
"Kapan kau tahu bahwa kau hamil?"
"Saat Jien dan Calvin sudah berangkat ke Amerika"
"Jadi seandainya Jien tidak datang dan mengajak Calvin ke Amerika, seandainya aku tidak pernah melaksanakan konser di Jakarta, kau akan tetap selamanya menyembunyikan ini dariku? Ini anakku, Le. Aku adalah ayah dari anak ini. Kau tak berhak menyembunyikan ini dariku. Kau jahat, Le!" teriak Edward dengan emosi yang meluap-luap.Ingin rasanya ia menarik tangan Lerina untuk mengungkapkan kemarahannya namun ia tidak bisa. Ia sadar kalau itu akan menyakiti Lerina dan juga anaknya.
Tangis Lerina semakin dalam. Ia tak menyangka kalau Edward akan semarah ini padanya.
"Ed, maafkan aku!" Lerina menyentuh tangan Edward, namun cowok itu menepiskannya dengan marah. Edward berdiri. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali mengacak rambutnya.
Lerina menghapus air matanya. Di lihatnya Edward sudah duduk di atas lantai, bersandar di pinggiran ranjang sambil menatap Lerina dengan tatapan kosong. Ia tak habis pikir Lerina begitu tega telah menutupi kehamilannya itu.
Perlahan Lerina berdiri, melangkah dan berhenti didepan Edward yang sedang duduk. Dengan sangat hati-hati ia pun duduk di depan Edward.
"Ed, sekali lagi maafkan aku. Aku tahu kalau aku sudah jahat padamu dan sudah melakukan banyak kesalahan. Masih ada beberapa bulan sebelum anak ini lahir. Maukah kau menemaniku sampai dia lahir? Maukah kau bersamaku untuk menjaga dan merawat anak ini?" tanya Lerina. Ia sedikit bergetar mengucapkan kalimat ini. Ia takut Edward akan menolaknya.
Edward menatap perempuan yang masih sangat dicintainya itu dengan tajam "Kau pikir akan semudah itu aku mengatakan setuju? Hatiku sakit,Le! Aku tak habis pikir mengapa kau setega ini padaku!" Mata Edward sudah berkaca-kaca. Ada butiran bening yang siap membasahi pipinya.
"Ed.....maafkan aku!" Lerina meraih kedua tangan Edward dan meletakannya diperutnya. "Kalau memang kau tak bisa memaafkan aku, setidaknya terimlah anak ini."
Air mata Edward akhirnya jatuh. Ia kembali menarik tangannya dari perut Lerina. Kepalanya tertunduk dilengan kanannya, membenamkan tangisnya di sana. Pundaknya juga ikut berguncang.
Edward terlihat hancur. Lerina yang melihatnya merasakan dadanya sesak. Tiba-tiba rasa mual itu muncul. Lerina segera berlari ke kamar mandi. Ia tak percaya kalau akhirnya ia memuntahkan semua makanan yang masuk ke perutnya tadi. Pada hal diawal-awal kehamilannya, ia tak pernah mengalami mual dan muntah yang berlebihan. Namun kali ini ia tak dapat menahan lagi semuanya.
Apakah bayi didalam kandunganku ikut merasakan apa yang dialami oleh papanya? Marahkah anak ini sehingga aku merasakan muntah ini?
Kepala Lerina bersandar di tepi kloset. Perempuan itu duduk berlutut. Tangannya menekan pinggiran kloset untuk menyiram semua yang sudah dikeluarkannya dari perutnya.
Edward berdiri di depan pintu kamar mandi. Menatap Lerina yang sedang duduk sambil memejamkan matanya. Wajah cantik itu terlihat pucat dan ada keringat yang membasahi wajahnya.
__ADS_1
Kaki Edward perlahan melangkah mendekati Lerina.
"Sudah muntahnya?" tanya Edward. Perasaan sayangnya langsung muncul melihat Lerina yang nampak lemah.
"Ya. Aku hanya sedikit pusing!" kata Larina tanpa membuka matanya.
Edward membungkuk lalu mengangkat tubuh Lerina dalam gendongannya dan membawa Lerina keluar dari kamar mandi.
Perlahan, ia meletakan tubuh Lerina di atas temoat tidur.
"Tolong ambilkan minyak kayu putihku yang ada di dalam tas" ujar Lerina masih tetap menutup matanya.
Edward melakukan apa yang Lerina perintahkan. Ia mengambil tas Lerina, lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Ia membuka tas yang dibawa Lerina, saat ia menemukan sebuah botol kecil seukuran panjang jari telunjuknya, ia juga menemukan beberapa lembar foto USG disana.
"Ini foto anak kita?" tanya Edward.
Lerina membuka matanya "Iya. Itu fotonya. Aku sudah 3 kali melakukan pemeriksaan kehamilan. Dokter mengatakan ia tumbuh dengan baik."
Edward memberikan botol minyak kayu putih kepada Lerina sementara tangannya yang satu masih memegang foto hasil USG itu. Matanya kembali berkaca-kaca.
Lerina memijat kepalanya sambil hidungnya mencium bau minyak kayu putih langsung dari botolnya.
"Kau masih pusing?" tanya Edward setelah menyimpan foto usg itu ke dalam tas Lerina.
"Aku mau istirahat sedikit. Setelah itu aku akan pulang" kata Lerina lalu memejamkan matanya kembali.
"Istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu"
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Edward sambil ikutan duduk di samping Keyri.
"Menunggumu, bos. Aku tahu kalau kamu akan marah setelah tahu kehamilan Lerina"
Edward menatap Lerina dengan bingung "Kamu tahu dia hamil? Sejak kapan?"
"Tadi. Saat aku mengantar nona Lerina ke kamar ini."
Edward memeluk kakinya sambil meletakan kepalanya diantara kedua lututnya. "Aku akan menjadi seorang ayah. Sungguh ini sangat membahagiakanku. Tapi aku kesal karena Lerina menyembunyikan ini padaku"
"Maafkanlah dia, bos. Dia sebatangnkara di dunia ini. Pasti sangat bingung saat mengetahui kalau dirinya hamil sementara status kalian berdua sudah cerai. Aku pikir kalau ini cara Tuhan untuk semakin mendewasakan kalian berdua. Jangan egois, bos. Ikutilah kata hatimu yang mencintainya."
Edward menepuk pundak Keyri. "Kau selalu menjadi sahabat terbaik bagiku. Terima kasih, Key. Mungkin karena terlalu sering mengurusku, kau tidak memperhatikan dirimu sendiri. Aku bahkan tak pernah melihatmu pacaran"
Keyri tertawa sinis "Memangnya aku punya waktu untuk itu?"
"Maafkan aku"
"Makanya, jangan tundah lagi kebahagiaanmu. Supaya aku pun punya waktu untuk mendapatkan jodohku. Usiaku sudah 32 tahun"
Edward tertawa. "Kau sudah punya calon?"
"Aku sudah menyukainya sejak lama namun aku takut membicarakan cinta dengannya karena ia sedikit galak dan cuek"
__ADS_1
"Siapa dia?"
"Susan"
"Asistennya Arnold Manola?"
"Iya. Sejak pertama melihatnya, aku sudah suka padanya. Aku bahkan pernah mengutarakan perasaanku padanya. Namun dia bilang, sebelum Arnold menemukan kebahagiaannya, ia takan pernah menikah"
Edward hanya tertawa. Keduanya pun duduk terdiam sambil asyik dengan pikirannya masing-masing.
"Aku masuk dulu!" kata Edward saat berdiri.
"Ini hp mu bos!"
"Terima kasih!" Edward memasukan hp nya ke dalam kantong celananya lalu ia masuk kembali ke dalam kamar. Di lihatnya Lerina sudah bangun dan sedang merapihkan rambutnya.
"Kau sudah bangun?"
"Ya. Ini sudah jam 11 malam. Bi Suni pasti cemas menungguku. Aku akan memesan taxi" kata Lerina sambil tersenyum. Ia kemudian memakai mantelnya dan meraih tasnya.
"Aku akan mengantarmu!"
"Jangan Ed. Di bawa pasti banyak wartawan dan aku tahu kamu pasti lelah."
"Jangan keras kepala. Aku tak mau anakku dan ibu dari anakku pulang tanpa ada pengawalan"
Perkataan Edward sungguh menyejukan hati Lerina walaupun lelaki itu mengucapkannya dengan nada dingin.
"Aku dan Keyri akan turun lebih dulu. Kau turun belakangan. Turun dari lift khusus yang kau naik saat datang ke sini tadi. Aku dan Keyri akan menunggumu di pintu samping" kata Edward. Ia memudian membuka lemari dan mengambil sebuah jaket yang menggunakan penutup kepala lalu segera pergi ke luar kamar.
10 menit kemudian, Lerina ikut turun. Ia mengikuti jalur yang telah diinstruksikan Edward padanya. Saat ia tiba dipintu samping, seorang bodyguart yang sudah menunggunya langsung membukakan pintu mobil. Edward sudah duduk didalam.
"Nona, tolong arahkan jalan menuju ke rumahmu karena aku belum terlalu menguasai jalan di Jakarta" kata Keyri yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Baiklah!"
Keyri pun menjankan mobil sambil mengikuti arahan Lerina.
30 menit kemudian, mereka pun tiba di kediaman Lerina.
Edward turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Lerina.
Bi Suni yang membukakan pintu, menunduk hormat dengan wajah gembira melihat Edward datang bersama Keyri.
"Aku dan Keyri pulang dulu. Nanti kita bicara besok lagi!" kata Edward lalu segera berbalik dan hendak pergi.
Lerina tiba-tiba menahan tangan Edward "Ed, apakah kau mau menginap di sini?" tanya Lerina.
Nah, kira-kira Edward mau atau menolak untuk menginap di rumah Lerina???
Jangan lupa komen, like dan Vote.
__ADS_1
Please dukung aku sehingga kisah Lerina ini bisa lolos ke tahap akhir dan bisa masuk kontrak. 😉😉