LERINA

LERINA
Hanya Sebatas Teman Masa Lalu


__ADS_3

Hari ini, Min Jun genap berusia satu tahun. Sejak seminggu yang lalu, Lerina sudah menyiapkan acara yang akan dilaksanakan di panti asuhan milik yayasan keluarga Kim.


Acaranya memang akan dibuat spektakular oleh Lerina. Dia ingin anak-anak di panti asuhan akan terhibur dengan hadirnya beberapa teman artis Edward. Bahkan seorang pesulap yang terkenal sudah dihubungi untuk acara ulang tahun Min Jun ini.


Nina sang pengasuh pun dibuat repot oleh Min Jun. Anak yang baru berusia 1 tahun itu sudah bisa berjalan dan selalu memegang apa saja yang dilihatnya. Ia tidak terlalu suka digendong lagi.


Tema yang dipilih untuk ulang tahun pertama Min Jun ini adalah HUTAN RIMBA. Min Jun sangat suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan hutan dan segala isinya. Anak itu tak terlalu suka dengan bola atau permainan mobil-mobilan. Ia sangat tertarik dengan mainan yang berbentuk binatang dan suka dengan cerita yang ada gambar pepohonan.


"Nani, dimana anakku?" Tanya Lerina saat ia baru pulang dari panti asuhan untuk melihat persiapan akhir sebelum acaranya jam 3 sore nanti.


Selain anak-anak panti asuhan, ada juga anak lain yang akan hadir. Kedua anak Yura, Anaknya Keyri, anak saudara-saudara Ed yang lain, terutama Calvin dan Jien yang datang dari Jakarta.


"Sedang tidur nyonya." Jawab Nani.


Lerina segera ke atas menuju kamar putranya. Terlihat wajah tampan Min Jun yang tenang saat tidur nyenyak sambil memegang sebuah boneka kelinci ditangannya. Alunan musik piano selalu menemani Min Jun tidur.


Lerina kembali menutup pintu kamar anaknya dan segera segera menuju ke kamarnya. Saat pintu terbuka, terlihat Edward yang baru saja selesai mandi.


"Sayang, kamu sudah pulang?"


Edward tersenyum. "Haruskah aku menjawabnya?"


"Katamu tadi akan pulang sekitar jam 2. Ini baru jam 1."


"Rapatku bersama Hyung sudah selesai."


Lerina mengangguk. Ia duduk di atas sofa sambil membuka sepatu talinya. Tiba-tiba saja ia memegang perutnya.


"Ada pa, Le?"


"Perutku sakit. Rasanya agak kurang enak. Apa mungkin karena dari pagi aku hanya makan sepotong roti ya?" Lerina bertanya pada dirinya sendiri.


"Sayang, sudah tahu kalau kamu punya sakit maag, masih saja tak disiplin dengan jam makanmu. Menyiapkan pesta untuk Min Jun jangan sampai membuat kesehatanmu terganggu." Edward langsung mengambil air mineral yang tesedia di kulkas yang ada di kamar itu. Ia kemudian menyerahkannya pada istrinya. "Minumlah sayang, aku ke bawa dulu untuk mengambil makanan untukmu." Kata Edward. Ia memakai kaos dan celana rumahnya lalu segera turun ke bawa.


Lerina meneguk minuman yang diberikan Edward padanya. Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap pergi ke acara Min Jun.


********


Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat anak-anak yatim piatu yang tertawa gembira karena pertunjukan pada badut dan pesulap yang memainkan atraksinya. Min Jun bahkan melompat-lompat dengan gembiranya karena senang melihat orang-orang yang memakai baju berbentuk binatang.

__ADS_1


Serafina, anak Calvin dan Jien terlihat sangat cantik dengan gaun seperti para princes. Aura bintang sudah terlihat dari dirinya saat ia dengan gaya centil tersenyum tiap ada kamera yang diarahkan padanya.


"Serafina cantik seperti seorang putri."Kata Lerina saat Calvin mendekatinya.


"Ya. Dia sangat suka dengan kamera. Mungkin kelak ketika dewasa, ia akan seperti mommynya menjadi seorang model." Kata Calvin sambil menatap Serafina yang berjalan ke sana kemari diikuti oleh pengasuhnya.


"Anakku justru tak mengikuti kebiasaanku dengan Edward."


Calvin menatap Lerina. "Siapa bilang? Apakah kau lupa kalau kita banyak kali kencan di kebun binatang? Kau begitu bersemangat saat melihat para binatang, memberi mereka makan. Kau bahkan dengan berani memegang ular."


Lerina tertawa. "Ya. Aku ingat. Waktu itu kau bahkan jijik berdekatan denganku. Kau bilang kalau aku bau ular."


Keduanya tertawa bersama.


"Waktu cepat sekali berlalu. Kita sudah memiliki keluarga masing-masing. Ternyata kita tak berjodoh." Calvin tersenyum getir.


"Tapi kau bahagia dengan Jien, kan?" Tanya Lerina sambil menatap Calvin tanpa berkedip.


"Tentu saja, Na. Jien dan Serafina adalah hidupku sekarang ini." Kata Calvin sambil tersenyum. Namun dirimu pun tak bisa ku hapus begitu saja dalam hatiku, Na. Kau selalu punya tempat istimewa dalam hatiku. Batin Calvin.


"Senang aku mendengarnya. Kita memang pernah bersama, pernah punya kisah pahit manis berdua. Walaupun sekarang kita sudah tidak saling mencintai lagi, namun aku senang, kita justru menjadi lebih akrab seperti saudara."


Edward yang melihatnya dari seberang menjadi sedikit cemburu melihat bagaimana Calvin dan Lerina saling tertawa.


"Jangan cemburu, Ed. Aku tahu kalau Lerina sangat mencintaimu. Dia bahkan rela meninggalkan perusahaan ayahnya untuk bisa hidup bersamamu. Aku juga percaya pada Calvin. Perhatian dan kasih sayangnya untuk aku dan Serafina memang sangat tulus." Jien yang sudah berdiri di samping Edward berusaha merendam rasa cemburu yang terlihat jelas di wajah sepupunya itu.


"Aku tahu Lerina mencintaiku. Hanya saja, membayangkan mereka pernah punya kisah manis selama 4 tahun tetap saja membuat hatiku sedikit cemburu."


Jien tersenyum. "Mereka hanya bernostalgia saja. Bukan sebagai mantan pasangan. Tetapi sebagai teman."


Edward kembali menatap ke arah Calvin dan Lerina yang masih terlihat asyik bercerita. Ia kemudian tersenyum. Ia tahu kalau Lerina mencintainya dan Min Jun lebih dari apapun. Lerina yang sekarang berubah menjadi pencemburu, sangat posesif padanya. Apalagi saat menghadiri pernikahan Hye dan Jesica beberapa waktu yang lalu. Sepanjang acara, Lerina tak pernah sedikitpun melepaskan tangannya dari genggaman Edward dan membuat Yura serta Taeyung hanya bisa tertawa melihat sikap kekanakan Lerina.


********


"Min Jun sudah tidur?" Tanya Lerina melihat suaminya yang baru saja masuk ke kamar.


"Iya. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Dia mendapatkan kegembiraan di hari ulang tahunnya ini." Kata Edward dengan wajah yang gembira pula.


"Bagaimana perutnya? Sudah agak baikan?" Tanya Edward sambil mengelus perut Lerina.

__ADS_1


"Sudah hilang nyerinya. Tapi masih agak kembung."


"Wajahmu juga masih pucat, sayang. Ayo tiduran saja. Malam ini aku tak akan menganggumu." Kata Edward lalu menuntun ostrinya untuk tidur di atas ranjang.


"Maaf ya, sayang." Kata Lerina dengan wajah menyesal. Karena kesibukannya menyiapkan hari ulang tahun Min Jun, ia sudah mengabaikan suaminya beberapa malam ini. Sebab ia pulang dengan tubuh yang selalu sangat kelelahan. Bahkan pernah Lerina tak ganti baju dan langsung tertidur karena rasa lelahnya.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Walaupun sebenarnya agak tersiksa."


Lerina yang sudah memejamkan matanya, terpaksa membukanya lagi. Ia menatap Edward yang juga sedang menatapnya. Keduanya tidur saling berhadapan.


"Sangat tersiksa ya...?" Lerina membelai wajah suaminya.


"Aku masih bisa menahannya." Edward tersenyum.


"Aku tidur ya?"


Edward mengangguk.


"Sayang...."


Lerina membuka lagi matanya. "Ada apa?"


"Tadi bicara apa saja dengan Calvin? Aku lihat kalian berdua tertawa bersama."


"Hanya mengenang masa lalu."


"Ha...?"


Lerina menyentil dahi Edward saat tahu kalau suaminya itu cemburu. "Masa lalunya bukan mengenai kisah cinta kami. Calvin hanya mengingatkan kalau Min Jun yang sangat suka dengan binatang-binatang menurun dari kebiasaanku waktu dulu yang sangat suka bermain di kebun binatang.."


"Oh...." Edward membulatkan bibirnya.


"Jangan cemburu, Ed. Aku akan selalu berhubungan dengan Calvin karena perusahaanku. Namun diantara kami sudah tidak ada hubungan apa-apa. Calvin juga sudah bahagia dengan Jien dan putri mereka. Aku hanya mencintai kamu, Ed."


Edward menarik tubuh Lerina agar berbaring di dadanya.


"Aku tahu, sayang. Aku juga hanya mencintaimu." Bisik Edward lalu mencium dahi istrinya. "Tidurlah. Supaya besok kau punya tenaga untuk membuat Meloddy bersamaku."


Lerina hanya tertawa. Ia memejamkan matanya. Sungguh bahagia berbaring dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA


__ADS_2