
Setelah memikirkannya hampir seharian ini, Lerina memutuskan untuk pergi menonton konser Edward Kim dan Veronika. Nasehat bi Suni menguatkan tekadnya untuk menghadapi kenyataan.
"Pergilah, nona. Hadapi apapun yang akan terjadi di sana. Jika memang tuan Edward sudah bersama Veronika, itu akan membuat nona harus segera meninggalkan kenangan kalian berdua. Tapi jika ternyata tuan Edward masih mencintai nona, maka saatnya untuk memberikan dia kesempatan untuk mengenal anaknya yang ada di kandunganmu"
Kata-kata bi Suni itulah yang membuat Lerina akhirnya pergi. Ia mengenakan pakaian yang agak longgar untuk menyamarkan kehamilannya. Ia juga memakai jaket jeansnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Sebagian ditariknya ke depan, untuk menutupi gunung kembarnya yang semakin besar saja semenjak ia hamil.
Lerina memutuskan untuk naik taxi saja. Nanti kalau konsernya sudah selesai, ia akan meminta paman Oldy, suami bi Suni untuk menjemputnya.
Saat taxi itu berhenti di depan gedung pelaksanaan konser, nampak ribuan penggemar sedang antri untuk masuk. Lerina menuju ke gerbang C, sambil menunjukan tiket konsernya. Ia pun segera dituntun untuk masuk.
Pemegang tiket VVIP, mendapat tempat duduk khusus di dekat panggung. Mereka juga tak perlu berdesak-desakan karena untuk menuju ke tempat duduk itu, sudah disiapkan jalur khusus.
Saat melihat nomor tempat duduknya, Lerina terkejut karena itu dideretan paling depan. Dengan posisi paling depan itu, Edward akan mudah melihatnya karena tepat di depan piano.
"Apakah anda sendiri?" tanya Lerina pada seorang perempuan yang usianya mungkin lebih muda darinya. Perempuan itu duduk di deretan kursi paling belakang. Tempat duduk VVIP ini memang hanya terdiri dari 5 baris saja.
"Iya. Kenapa?" tanya perempuan itu.
"Bolehkah kita bertukar tempat duduk? Aku nggak suka berada paling depan karena musiknya terlalu kencang"
"Wah tentu saja. Nomor berapa tempat duduknya?"
"Nomor satu."
"Wah, sangat menyenangkan. Aku bisa mengambil gambar Edward Kim secara jelas." Gadis itu langsung berdiri dan mengambil kesempatan untuk duduk paling depan.
Tak berapa lama konserpun di mulai. Veronika yang keluar lebih dulu. Para penonton langsung bersorak gembira. Gadis berambut kuning keemasan itu nampak cantik dengan gaun cantiknya.
"Hello Jakarta...!" sapanya sambil melambaikan tangannya. "Want to see something different tonight?" (ingin melihat sesuatu yang berbeda malam ini?)
"Yes...!" teriak penonton bersamaan.
"wait for a surprise from me!" ujar Veronika. Ia kemudian menyanyikan 2 buah lagunya yang sangat populer tahun yang lalu.
Puas menyanyikan 2 lagu, Veronika mengundang Edward untuk naik ke atas panggung. Setelah Edward berada di atas panggung, Veronika pun duduk sambil menikmati sebotol air mineral. Ia mencuri pandang ke arah tempat duduk VVIP dan melihat bagaimana Lerina berusaha menunduk, mengenakan kacamatanya agar Edward tak dapat mengenalinya.
Hati Lerina bergetar saat melihat Edward. Cowok itu terlihat lebih kurus sejak terakhir mereka bertemu.
"Selamat malam, Jakarta. Aku ingin memainkan sebuah lagu. Ini adalah lagu terbaruku. Judulnya Miss you so much" kata Edward lalu duduk di depan piano.
Ada sesuatu yang menggetarkan hati Lerina saat mendengar Edward memainkan pianonya. Lerina begitu rindu pada pria bermata biru itu. Kakinya bagaikan ingin berlari dan memeluk mantan suaminya itu.
Ya, mereka sudah resmi bercerai. Lerina tak punya hak lagi untuk memeluk Edward. Mungkin saat ini, Lerina sama seperti fans Edward yang lain. Menikmati saja permainan pianonya dengan perasaan bahagia.
Edward memainkan 2 lagu secara berturut-turut. Setelah itu, Veronika kembali menyanyi, diiringi oleh Edward. Mereka nampak serasi, begitu menyatu suara merdu Veronika dan permainan piano Edward.
"Do you want to see me kiss Edward?" tanya Veronika ketika nyanyian mereka berakhir.
__ADS_1
"Yes....!" teriak penonton bertambah panas.
Lerina memalingkan wajahnya. Ia tak mau melihat adegan ini.
Aku sebaiknya pergi. Seharusnya aku memang tidak datang.
Lerina berdiri. ia siap akan pergi, namun perkataan Veronika menghentikan langkahnya.
"Sayangnya, Ed tidak mau menciumku malam ini. Karena Edward tidak mencintaiku. Edward sudah punya seseorang yang sangat dicintainya. Kalian mau tahu siapa orang itu?" tanya Veronika lagi.
Edward yang masih duduk di depan pianonya menatap Lerina dengan penuh tanda tanya. Ia merasa tak mengatur skenario panggung ini bersama Veronika.
"Mainkan lagumu yang berjudul Lerina!" bisik Veronika.
Edward terkejut. Bagaimana Veronika tahu kalau ia menciptakan lagu yang berjudul Lerina.
"Lagu itu belum pernah kumainkan di depan orang banyak." kata Edward sedikit berbisik.
"Lerina ada di sini!" bisik Veronika.
"Di mana?"
"Mainkan saja lagunya. Dia pasti akan menemuimu"
Edward berdiri, berusaha mencari Lerina diantara para penonton. Namun ia tak menemukannya.
Lerina yang sudah turun dari tempat duduk VVIP menghentikan langkahnya diujung tangga.
"Lerina, kau bagaikan tuts piano yang ingin selalu kusentuh. Suaramu semerdu denting pianoku. Aku tak bisa hidup tanpa menyentuhmu" ucap Edward lalu memainkan pianonya.
Lagu yang sangat indah dan begitu menyentuh perasaan. Semua penonton bagaikan tersihir mendengar alunan piano Edward dengan nada yang sangat mengusik sukma siapa saja yang mendengarnya.
Air mata Lerina berlinang mendengar lagu itu. Bayi yang ada dalam perutnya pun ikut bergerak, seakan mengerti kalau lagu itu ditujukan untuk dirinya.
Bukan hanya Lerina yang menangis. Hampir semua penonton yang hadirpun menangis. Veronika sendiri berusaha untuk menahan air matanya. Ia tahu lagu ini mewakili rasa cinta Edward pada Lerina yang sangat dalam.
Keyri yang berdiri di belakang panggung pun ikut terharu. Dialah yang memberitahu Veronika tentang lagu terbaru Edward yang berjudul Lerina.
Suara denting piano itu sudah selesai. Edward berdiri dan memberi hormat pada penonton.
Veronika segera mengambil micropone.
"Hai Lerina Avigail? Jika kau memang masih mencintai Edward, temuilah dia."
Edward turun dari panggung dan segera menuju le ruang tunggunya. Masih ada 2 lagu lagi dan dia akan selesai.
Ia terkejut melihat Keyri sudah berdiri di depan ruangan itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Edward penasaran melihat senyum dibibir Keyri.
"Kejutan bos!"
10 menit sebelum Edward turun panggung.
Keyri menatap sosok perempuan yang sangat disayangi oleh bosnya berdiri disamping panggung.
"Nona Lerina?"
Lerina buru-buru mengahapus air matanya.
"Tuan menciptakan lagu itu untuk nona. Ayolah nona. Bukalah hatimu untuk tuan Ed."
"Tapi Keyri!"
Keyri menarik tangan Lerina "Ayo kita ke ruangannya!"
Saat pintu terbuka, Lerina diminta duduk di salah satu kursi. "Tuan pasti senang melihatmu!" kata Keyri lalu ia membungkuk hormat ke arah Lerina dan keluar dari ruangan itu. Menunggu dengan jantung yang berdebar.
Di dalam ruangan, Lerina pun nampak sangat gelisah.
Apa yang harus aku katakan pada Ed? Bagaimana tanggapannya tentang kehamilanku? Apakah aku harus mengakuinya malam ini?
Dengan tangan yang mulai berkeringat karena jantungnya yang berdetak sangat cepat, Lerina berjalan mondar mandir di ruangan itu. Tangannya memegang perutnya.
Sayang, kau akan bertemu dengan papamu. Jadi bantulah mamamu ini agar bisa bicara dengan tenang.
Langkah Lerina terhenti, saat ia mendengar suara Edward dari luar ruangan.
"Kejutan apa, Keyri? Aku tak mengerti" Edward terlihat mulai tak sabar.
Keyri membuka pintu ruang tunggu itu. Edward langsung melangkah masuk dengan rasa penasaran.
Langkah Edward terhenti saat melihat tubuh seorang perempuan yang sedang membelangkanginya. Rambut hitam yang sangat dirindukannya itu.
"Le?" panggilnya agak ragu.
Lerina membalikan badannya. Ia menatap Edward dengan hati yang berdebar. Lerina ingin sekali memeluk Edward namun dia akhirnya berubah pikiran.
"Maaf, seharusnya aku tidak di sini!" kata Lerina lalu melangkah meninggalkan Edward yang masih terpana tak percaya melihat perempuan yang sangat dirindukannya berdiri di hadapannya.
APAKAH LERINA AKAN MENGATAKAN TENTANG KEHAMILANNYA? APAKAH MEREKA BISA BERSATU LAGI?
Komentarnya ya...
Like, vote dan kasih bintang 5 ya...😁😁😁
__ADS_1