
Ketegangan terjadi dalam ruang rapat itu. Taeyung, Yura, Jesica, Ryun Ong, Jien, Nula, Calvin dan Edward tak mampu bergerak karena anak buah Ryun Wong lebih banyak dibandingkan dengan jumlah mereka.
Lerina tak dapat berbicara karena lehernya sudah dicekik oleh Ryun Wong. Sementara tangan laki-laki itu sedang melepaskan satu persatu kancing baju Lerina.
Air mata Lerina mengalir. Kepalanya menggeleng kuat menunjukan penolakannya atas apa yang dilakukan Ryun Wong padanya.
"Lepaskan dia...!" teriak Edward dengan rasa frustasi karena salah satu anak buah Ryun Wong sudah meletakan ujung senjata laras panjang itu pelipis Edward.
Air mata Lerina semakin deras mengalir karena semua kancing bajunya sudah terlepas. Kedua tangan Lerina sudah ditahan oleh salah satu anak buah Ryun Wong.
Saat kemeja putih itu dirobek dan dilepas secara paksa dari tubuhnya Lerina, tampaklah dada mulus Lerina yang hanya ditutupi oleh kaos dalamnya. Leher gadis itu terekspos secara luas, menampilkan beberapa tanda kissmark yang ditinggalkan Edward saat mereka bercinta semalam.
Bola mata Ryun Wong langsung membesar penuh gairah. Ia melepaskan tangannya yang mencekik leher Lerina membuat perempuan itu terbatuk-batuk karena hampir kehabisan oksigen. Jarinya yang kasar menyapu bekas Kissmark itu dengan lembut.
"Ed....!" matanya menatap Edward dengan sedikit mengejek "Aku akui kalau kau memang tampan dan selalu mendapatkan perempuan-perempuan hebat dalam dalam hidupmu. Aku ingin tahu apakah tanda merah ini ada juga dibagian tubuhnya yang lain?" tanya Ryun Wong.
"Jangan usik menantuku!" teriak Ryun Ong dengan keras.
"Hyung....kamu memang lelaki rakus yang tidak tahu malu. Jesica adalah mantan kekasih anakmu dan kau akhirnya tidur juga dengannya. Aku akui kalau Jesica memang menarik. Aku saja hampir tertarik untuk menikmati tubuhnya. Namun dia akhirnya kupakai untuk menjebak Edward, sayangnya Jesica justru jatuh cinta pada Ed dan berkali-kali gagal membunuhnya" tawa Ryun Wong pecah saat dilihatnya Edward menatap Jesica dengan kaget.
"Jangan tertipu dengan kecantikan Ed. Karena kecantikan perempuan itu adalah racun. Seperti juga dengan Cicilia mamamu yang manis itu. Aku yang lebih dulu jatuh cinta padanya namun dia lebih memilih Hyung ku yang adalah duda beranak satu. Berulang kali aku membujuknya untuk selingkuh denganku tapi entah kenapa ia begitu setia dengan papamu itu. Karena penolakannya itu, aku mengatur kecelakaan mobil untuknya. Dan Ciciliaku harus tewas" kata Ryun Wong dengan tanpa berdosa menceritakan tentang kecelakaan Cicilia Aslon yang selama ini dianggap sebagai kecelakaan biasa namun ternyata semua karena rencana jahatnya.
"Kau bukan manusia..! Kau adalah binatang buas yang terkutuk! Pantas saja dulu papa mengusirmu" teriak Ryun Ong dengan kemarahan yang besar. Ia sangat terpukul saat istrinya itu meninggal. Sampai hari ini, ia bahkan belum pernah bisa melepaskan wajah cantik Cicilia dari pelupuk matanya. Wanita yang telah membuatnya bangkit dari keterpurukan saat perusahaannya hampir bangkrut.
Tawa Ryun Wong semakin besar. Ia begitu puas melihat wajah kakaknya begitu merah padam.
"Ah.....!" Ryun Ong memegang dadanya yang sakit.
"Jantungmu!" Jesica membuka tasnya dan mengeluarkan botol obat dari sana. ia mengambil satu butir dan memberikannya pada Ryun Ong.
"Mungkin kau akan mati berdiri saat tahu apa yang kulakukan pada Anastasya putrimu itu? Dia sangat mirip dengan cicilia makanya aku terobsesi padanya. Tapi cerita tentang Anastasya ini nanti saja. Sekarang kita fokus pada rubah cantik dari Indonesia ini" Ryun Wong kembali memegang leher Lerina dan mengusapnya perlahan.
"Mari kita lihat cantik, bagaimana aku akan membuatmu mendesah saat kita bercinta!" Ryun Wong memegang dagu Lerina agar perempuan itu menatapnya dan saat wajah lelaki bertato itu mendekat untuk mencicipi bibir manis Lerina, tanpa diduga Lerina justru meludahinya.
"Kurangajar!" Ryun Wong menampar Lerina dengan keras membuat sudut bibir Lerina langsung mengeluarkan darah.
"Jangan menyakitinya....!" teriak Calvin dan tanpa diduga ia mendorong anak buah Ryun Wong yang ada didekatnya dan berlari ke arah Lerina yang nampak agak pusing dengan tamparan keras itu.
__ADS_1
Dor.....!
Satu tembakan terdengar, menghentikan langkah Calvin. Lelaki itu jatuh dengan luka tembak dipundaknya.
"Tidak....!"Jien akan berdiri untuk melihat keadaan Calvin tubuhnya tak dapat melewati dua penjahat yang menghunus senjatanya ke arah Jien.
Calvin perlahan bergerak dengan lengan yang berdarah. Ia masih merayap dan mendekati Lerina.
"Calvin...aku mohon! Jangan mendekat...!" tangis Lerina. Ia tak tahan melihat keadaan Calvin.
"Jangan menyakiti Lerinaku...!" seru Calvin.
Salah satu penjahat mendekati Calvin. Ia menginjak pundak Calvin yang tertembak membuat Calvin berteriak kesakitan.
"Jangan....! Jangan sakiti suamiku paman. Aku mohon padamu!" pinta Jien sambil menangis.
"Jien sayang....kau tahu kalau suamimu itu tidak mencintaimu. Dia sangat mencintai rubah manis ini. Dan dia akan meninggalkanmu begitu tujuannya tercapai. Tapi...tungguh dulu. Bukan hanya rubah ini yang telah menghancurkan mimpiku untuk mengeruk habis uang keluarga Kim. Ada satu lagi. Bawa kemarin perempuan kampungan itu!" menunjuk Yura.
"Jangan ganggu istriku!" teriak Taeyung emosi. Dia berusaha untuk menggapai tangan Yura yang diseret oleh dua orang penjahat itu. Namun justru Taeyung yang mereka hajar sampai jatuh ke lantai.
"Jangan.....!" Yura tak tahan melihat mulut Taeyung mengeluarkan darah.
"Paman...aku mohon, bebaskan suamiku. Dia bisa kehabisan darah." pinta Jien sambil berlutut.
"Biarkan saja dia mati karena jika dia hidup, dia pasti akan meninggalkanmu juga. Sekarang, jangan ganggu aku."Ryun Wong menatap Lerina dan Yura secara bergantian.
"Menantu keluarga Kim yang sangat pintar. Aku sudah tak sabar untuk mencicipi kalian" kata Ryan Wong sambil tertawa dengan sangat keras.
"Lepaskan Calvin. Biarkan dia pergi agar mendapatkan pengobatan dan aku akan melayanimu dengan segenap hati" kata Lerina dan membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut.
"Lihatlah...! Ternyata dia masih memiliki perasaan pada mantan tunangannya itu" Ryun Wong semakin keras tertawa.
Edward menatap Lerina dengan pandangan mata yang sangat cemburu. "Jangan Lerina!"
Calvin yang sudah semakin lemah pun menggeleng .
"Jangan Ina....jangan lakukan itu" kata Calvin dalam bahasa Indonesia sambil menyebut panggilan kesayangan Lerina di rumah.
__ADS_1
"Aku melakukan semua ini karena kebaikan yang pernah kau buat padaku. Sekalipun kau telah menyakitiku namun aku tak mungkin melupakan kebaikanmu begitu saja" kata Lerina juga dalam bahasa Indonesia.
"Apa yang kalian bicarakan? Le, jangan korbankan dirimu untuk pria yang sudah menghianatimu!" teriak Edward dengan rasa cemburu yang sangat besar.
"Baiklah sayang, karena kau mau melayaniku tanpa perlawanan, aku akan membebaskan Calvin. Lagi pula bukan dia yang aku butuhkan. Bebaskan dia dan Jien, kau juga boleh pergi karena aku tidak punya dendam pada orang tuamu."
2 orang anak buah Ryun Wong mengangkat tubuh Calvin dengan cara memegang tangannya dari kedua sisi.
"Jangan Ina....jangan lakukan itu!" ujar Calvin sebelum menghilang dari balik pintu. Jien pun langsung menyusul Calvin. Pintu kembali tertutup.
Ryun Wong mendekati Yura dan Lerina kembali. Ia membelai wajah kedua perempuan itu dengan mata yang bersinar penuh gairah.
"Baiklah Lerina sayang, aku sudah membebaskan mantan tunanganmu itu jadi sekarang layanikah aku didepan mereka semua!" kata Ryun Wong sambil mulai membuka kancing kemejanya.
"Katakan apa yang kau inginkan. Aku akan memenuhinya asalkan kau membebaskan kedua menantuku!" kata Ryun Ong lemah sambil memegang dadanya.
"Aku tidak butuh apapun darimu, kakakku. Karena aku sudah mengambil cinta terbesar dalam hidup, aku sudah mencuri uang yang sangat banyak darimu selama bertahun-tahun dan aku juga sudah menikmati tubuh muda Anastasya yang menggairahkan itu."
"Apa maksudmu, brengsek?" tanya Edward geram karena nama adiknya disebut.
"Malam sebelum Anastasya bunuh diri, aku baru saja memperkosanya di salju Swiss yang dingin. Ah...dia sangat manis karena aku menjadi pria pertama baginya. Aku merekam adegan erotis itu dan mengancamnya jika dia melaporkan aku maka video itu akan tersebar di internet. Sayang ya...Anastasya yang muda itu lebih memilih mengahiri hidupnya" tawa Ryun Wong kembali terdengar membuat Edward, Taeyung dan Ryun Ong dilanda emosi yang besar karena mereka kini tahu apa yang menyebabkan Anastasya bisa nekad mengahiri hidupnya 3 tahun lalu.
"Terkutuk Kau...!" teriak Ryun Ong dengan emosi yang tidak bisa dikendalikan lagi. Napasnya menjadi sesak . jesica segera menolongnya untuk duduk kembali.
Edward dan Taeyung sama-sama tak dapat menahan air matanya. Emosi keduanya menyeruak didalam dada, memori tentang mayat Anastasya yang ditemukan didapur kembali menghadirkan rasa sakit yang mendalam. Bahkan kali ini lebih sakit daripada 3 tahun yang lalu. Karena mereka sekarang tahu betapa tertekan dan menderitanya Anastasya sebelum ia mati.
"Well, semuanya sudah kuceritakan. Sekarang..." Ryun Wong menatap Lerina. Kancing kemeja laki-laki bertato itu sudah terbuka semuanya. Ia melepaskan kemeja itu dan dibiarkan terjatu begitu saja di atas lantai. "Layani aku dengan sangat baik." Lalu ia menatap Yura dengan seringai licik "Kau juga tak akan luput setelah itu" Ryun Ong menarik lengan Lerina dan mendorong tubuhnya sehingga terlempar didekat meja rapat. Tali yang mengikat tangan Lerina perlahan dilepaskannya.
"Tidur di atas meja ini!" kata Ryun Wong sambil mendorong tubuh Lerina perlahan.
Tubuh Lerina bergetar saat punggungnya sudah menyentuh meja rapat. Air matanya kembali berlinang. Napasnya pun terasa sesak.
*Papa...mama....tolong aku....!
TERIMA KASIH SUDAH BACA
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENTARI DAN VOTE
__ADS_1
KASIH BINTANG 5 YA GUYS*...