
Waktu pun berlalu dari siang menjadi sore. Namun tak mengusik kedua insan yang sedang tertidur nyenyak sambil berpelukan erat.
Sampai akhirnya bunyi bel pintu membangunkan Lerina dari tidurnya.
Wajahnya langsung bersemu merah mendapatkan dirinya sedang tertidur didada Edward.
Astaga....kenapa bisa begini? Aku tertidur di dada Ed seolah kami adalah pasangan yang sebenarnya
Sungguh memalukan.
Lerina bangun secara perlahan, dan turun dari tempat tidur kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Selamat sore...!" sapa Keyri.
"Hai Keyri. Ayo masuk!" ajak Lerina.
Keyri agak ragu untuk masuk namun dia melangkah juga.
Nampak Edward baru saja terbangun dan sedang duduk di tepi ranjang sambil menggerakan badannya.
"Ada apa, Key?" tanya Edward lalu melangkah dan ikut bergabung dengan Keyri yang duduk di sofa.
"Aku mengantar baju ganti untuk nona Lerina seperti yang bos perintahkan." kata Keyri sambil menunjuk 2 paper bag yang sudah diletakannya di atas meja.
"Sayang, itu baju gantimu!" kata Edward kepada Lerina setelah ia memeriksa isi paper bag itu.
Mendengar kata 'sayang' yang diucapkan Edward, wajah Lerina agak tersipu. Namun ia berusaha bersikap sewajar mungkin dengan tersenyum dan segera mengambil paper bag itu.
"Pakai gaunnya untuk kita makan malam ya?" kata Edward sebelum Lerina menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Bos, kalian baru bangun tidur ya?" tanya Keyri penasaran.
"Ya. Memangnya kenapa?"
"Apakah kalian sudah..."
"Buang otak mesummu itu, Keyri. Aku dan Lerina hanya tidur siang saja" kata Edward lalu menyalahkan TV dan mencari siaran yang diinginkannya.
"Tapi bos, aku melihat bahwa hubungan kalian tambah dekat. Aku merasa ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh"
"Sudah kukatakan bahwa Lerina bukankah tipe gadis yang kuinginkan. Dia juga tak mungkin akan begitu saja melupakan Calvin yang selama 4 tahun ini sudah mengisi hatinya. Kami hanya saling membantu dalam hal mengobati luka hati masing-masing."
Keyri menarik napas panjang lalu mengeluarkannya lagi dengan pelan.
"Bos, aku pergi dulu ya." pamit Keyri.
Edward mengangguk. Ia nampak fokus dengan berita yang sementara ditontonnya.
"Oh ya bos, makan malamnya sudah saya siapkan. Bos langsung saja ke restaurannya" kata Keyri sebelum menghilang dibalik pintu.
20 menit kemudian, Lerina keluar dari kamar mandi. Ia kelihatan cantik dengan gaun hitam-merah yang membungkus tubuh mungilnya.
Lerina memang hanya memiliki tinggi 160 cm, sedangkan Ed tingginya 179 cm. Perbedaan yang hampir 20 cm itu membuat Lerina terlihat agak pendek jika berjalan bersama Edward.
Berbeda dengan Jesica dan Jien yang memiliki bentuk tubuh seperti seorang model yang tingginya hampir sama dengan Ed.
"Kau mandi di saat cuaca sedang dingin?" tanya Edward.
"Kan mandinya air hangat. Suhu di kamar mandi juga hangat. Ed, ini baju baru ya? Keyri juga membelikan beberapa peralatan make up"
"Ya. Itu baju baru. Kau suka?"
Lerina mengangguk dengan wajah senang.
"Kalau begitu aku mandi dulu"
"Cuaca sedang dingin, Ed..." kata Lerina mencoba menggoda Ed.
"Tidak apa-apa. Kan ada kamu yang siap menghangatkanku" kata Edward sambil melangkah menuju ke kamar mandi.
Deg!
Kamu bercanda kan Ed? Apa maksud perkataanmu itu? Menghangatkan? Apakah kita....ah...tidak mungkin. Pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak. Sungguh bodoh jika aku mengharapkan Ed akan macam-macam denganku. Dia itu seorang artis terkenal. Sadar...Lerina...bangun....jangan jatuh pada pesona Edward. Kamu tak mungkin melupakan Calvin begitu saja kan?
Lerina menepuk jidatnya sendiri. Ia duduk di depan meja rias sambil mulai memoles make up ringan ke wajahnya.
Rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja.
Sambil menungguh Edward selesai mandi, Lerina pun mengambil hp nya dan memeriksa beberapa pesan. Salah satunya pesan dari Yura.
__ADS_1
Hai yang lagi asyik berduaan di hotel
jangan lupa ya besok ada rapat dengan
klien kita dari London.
jam 10 pagi.
Lerina tersenyum membaca pesan itu.
Pintu kamar mandi terbuka. Ed keluar hanya mengenakan handuk yang membungkus tubuh bawahnya.
Lerina langsung memalingkan wajahnya. Pura-pura melihat ke siaran TV padahal wajahnya terasa panas menatap tubuh atletis milik Edward yang sangat seksi.
Ed tersenyum melihat wajah merah Lerina. Ia segera membuka lemari pakaian dan mengenakan bajunya.
"Aku sudah selesai. Ayo kita pergi makan malam" ajak Edward sambil mengulurkan tangannya.
Lerina menerima uluran tangan Edward setelah itu mereka meninggalkan kamar.
Saat keduanya keluar dari lift, beberapa pasang mata melihat pasangan itu dengan kagum.
Mereka saling berbisik menanyakan siapa gadis yang digandeng oleh pemain piano yang fenomenal itu.
Lerina sedikit salah tingkah. Namun Edward semakin erat menggengam tangannya.
Pak Cheng yang sudah menungguh di depan pintu masuk segera membuka pintu mobil bagi mereka.
"Ke resturant biasa, pak Cheng" kata Edward.
"Baik tuan"
Di dalam mobil, Edward sama sekali tak melepaskan tangan Lerina dari genggamanya. Ia bahkan sesekali tersenyum melihat cincin almarhuma ibunya yang ada di jari Lerina.
Lerina tak bicara. Ia menikmati hangatnya genggaman tangan Edward. Itu membuatnya bisa melupakan wajah Calvin.
Tempat makan ini letaknya ada di sebuah daerah perbukitan. Begitu mewah dan sangat menjaga privasi orang yang makan di dalamnya karena selain ruangan terbuka, ada juga ruangan-ruangan khusus yang tersedia.
Pelayan langsung mengantar Edward dan Lerina ke salah satu ruangan VVIP.
"Ed, apakah ini tidak berlebihan? Kau memesan makan sebanyak ini dan hanya kita berdua yang akan memakannya?" tanya Lerina sedikit terkejut saat pesanan makanan mereka tiba.
"Tapi ini namanya pemborosan Ed. Aku tak mungkin menghabiskan semuanya"
"Tak ada pemborosan untuk gadis secantikmu"
Deg!
Untuk yang kesekian kalinya kata-kata Edward menggetarkan hati Lerina. Namun ia tahu, Ed sedang menjalankan sandiwara terbaik mereka. Karena Ed pernah bilang ada orang lain ataupun tidak, dia ingin mereka saling berkata mesra.
Lerina pun mencoba makanan itu. Ed benar. Semuanya terasa enak.
Makan malam terasa sangat menyenangkan karena Ed selalu mempunyai topik cerita yang sangat menyenangkan untuk dibahas.
"Astaga Ed....lihatlah...aku bahkan hampir menghabiskan makanan ini" Lerina terkejut saat menyadari semua yang tersedia di meja itu semua sudah dicicipinya.
"Perutku rasanya mau meledak. Aku bisa gemuk, Ed" Lerina memegang perutnya yang terasa agak kencang.
Edward tersenyum "Aku senang kalau kamu menikmatinya. Tak masalah kalau berat badanmu naik karena kamu terlalu kurus untuk ukuran seorang cewek"
"Masa aku kurus? Berat badanku masih ideal. Memang jika dibandingkan dengan berat badanku waktu masih kuliah dulu, aku agak gemuk. Calvin suka sekali mencubit pipiku" kata Lerina sambil tersenyum. Tiba-tiba ia sadar telah menyebut nama Calvin.
"Maafkan aku, Ed. Aku seharusnya tak menyebutkan namanya"
"Its ok, baby!" Ed meraih tangan Lerina.
"Ayo kita pergi!"
Sambil bergandengan tangan, keduanya keluar dari ruangan VVIP itu.
"Ed....itu salju...!" Lerina melepaskan tangannya dari genggaman Edward, lalu mencoba menangkap salju yang turun seperti seorang anak kecil.
Ia berlari ke sana kemari sambil tertawa.
"Ah...ini menyenangkan. Baru pertama kali aku melihat salju turun...!" Kata Lerina sambil terus mengangkat tangannya merasakan dinginnya salju.
Edward mendekat dan memeluk gadis itu dari belakang, menghentikan gerakan Lerina.
"Bahagialah terus, Le. Aku ingin kau bahagia saat bersamaku. Jangan bersedih lagi. Sehingga saat kita berpisah, kau akan selalu mengenang saat kita bersama sebagai kenangan yang membuatmu selalu tersenyum"
__ADS_1
Lerina merasakan hatinya bergetar mendengar kata-kata Edward.
"Terima kasih, Ed. Aku pasti akan mengenang saat ini sebagai saat yang paling membahagiakan dalam hidupku"
Edward membalikan tubuh Lerina sehingga keduanya saling berhadapan. Tangan Edward menyingkirkan anak rambut Lerina yang menutupi wajahnya. Disentuhnya pipi Lerina dengan jari jempolnya.
Lalu perlahan wajah mereka saling berdekatan dan bibir mereka menyatuh dalam ciuman hangat yang saling memberi rasa.
Ketika ciuman itu berakhir....
"Ed...dingin...!" bisik Lerina.
Ed segera melingkarkan tangannya dibahu Lerina lalu mengambil hp nya dan meminta pak Cheng menjemput mereka.
Sepanjang perjalanan dari restaurant ke hotel, Lerina membiarkan Edward memeluknya. Karena sesungguhnya ia merasa hangat dalam dekapan Ed.
Saat tiba di hotel, handphone Edward berbunyi. Lerina membiarkan Ed menerima telpon lalu ia duduk di sofa sambil membuka tali sepatu hak tingginya.
"Le....!"
Lerina menatap Ed yang sudah duduk di sampingnya.
"Ada apa Ed?"
"Kamu ingat tentang temanku yang bekerja di interpol kan? Dia baru saja menelepon tentang saudara sepupumu Putri"
"Ya ampun, Ed. Aku bahkan hampir melupakan Putri. Apakah sudah ada petunjuk?" tanya Lerina antusias.
"Ya. Dari data yang ia terima dari pihak kedutaan, sepupumu itu sudah meninggalkan Seoul sehari setelah pernikahan Calvin dan Jien."
"Benarkah, Ed? Jadi saat aku menelepon bibi sesungguhnya Putri sudah ada di sana? Lalu kenapa bibi harus bohong padaku?" Lerina nampak bingung.
"Ed, apakah mungkin temanmu itu salah?"
Edward menunjukan foto yang dikirim oleh temannya. "Ini sepupumu kan? Dan ini foto yang didapatkan kemarin. Sepertinya sepupumu itu sedang jalan-jalan di mall dengan bibimu"
Tangan Lerina bergetar memegang hp Edward dan memandang foto itu.
Lerina merasakan hatinya sakit. Air mata mengalir tanpa bisa ditahannya "Mereka semua jahat, Ed. Mengapa mereka sengaja ingin menyakitiku? seharusnya aku tak percaya mereka begitu saja. Pada hal mereka adalah saudaraku"
Edward berpindah tempat. Ia berlutut di depan Lerina yang sedang duduk. Tinggi badan mereka menjadi sejajar.
"Jangan menangis, Le. Kau tidak pantas menangis untuk orang-orang yang sudah dengan sengaja menyakitimu" Edward menghapus air mata Lerina. Ia memegang pipi Lerina dengan kedua tangannya.
"Lihat aku, Le"
Lerina menatap mata biru Ed yang juga sedang menatapnya dengan penuh kelembutan.
"Jangan bersedih saat bersamaku, Le. Jangan buat dirimu terluka karena mereka." kata Ed sambil menghapus air mata Lerina yang kembali mengalir.
"Ed...bagaimana caranya? Rasanya terlalu sakit membayangkan mereka tak berhenti menyakitiku"
Edward mengambil selembar tisue yang ada di meja lalu membersihkan wajah Lerina.
"Ayo tersenyum...!" kata Edward sambil menarik hidung mancung Lerina.
Lerina langsung memeluk Edward dengan erat. Ia selalu merasakan ketenangan saat ada dalam pelukan Ed.
Ketika pelukan itu perlahan terlepas, Ed mencium pipi Lerina dengan lembut.
Lalu tatapan mata mereka bertemu. Wajah mereka begitu dekat. Bahkan hembusan napas keduanya terasa di kulit wajah masing-masing.
Ed meletakan tangannya dipangkal leher Lerina, menariknya pelan dan menyatukam bibir mereka.
Lerina merasakan bibir lembut Edward menyesap bibirnya dengan lembut, sementara tangan Ed semakin menekan tengkuk Lerina sehingga ciuman itu semakin dalam terasa.
Ciuman lembut yang lama itu sesekali berhenti untuk menarik ogsigen mengisi rongga dada yang mulai sesak. Setelah itu bibir mereka kembali saling mencari dan memberikan kehangatannya lagi.
Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi gairah yang dalam. Edward bahkan sudah mengangkat tubuh Lerina dan membawanya ke tempat tidur tanpa melepaskan ciuman itu.
Lerina mendesah. Kesadarannya hampir hilang karena gairah yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
Haruskah ia menghentikan tangan Edward yang sudah menyusup masuk ke dalam gaunnya ataukah ia membiarkan rasa itu menuntunnya untuk membalas hasrat Ed yang sudah tak terkendali lagi?
MAKASIH SUDAH BACA PART INI
MAAF KALAU LAMA UP NYA
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTARI DAN VOTE YA???
__ADS_1