LERINA

LERINA
Jika Itu memang maumu


__ADS_3

"Aku tak mampu melepaskanmu!"kata Edward dengan suara yang serak, menahan perih di hatinya. Ia menyentuh wajah Lerina. Merasakan lembutnya kulit wajah istrinya itu. "Aku akan hancur jika kita berpisah."


"Ed, kau harus ingat dengan komitmen awal kita menikah. Kita bukan pasangan yang sebenarnya. Kini, biarkan aku bersama Calvin. Dia juga akan hancur tanpa aku " Kata Lerina dengan suara tegas. Ia tak mau menunjukan hatinya yang terluka saat melihat Edward yang juga terluka.


Edward diam. Ia hanya memandang Lerina yang kini kembali membalikan tubuhnya membelakanginya.


Keduanya diam. Sampai akhirnya Lerina mengambil tasnya yang diletakan di atas sofa.


"Aku pergi!" pamitnya.


"Ini rumahmu, Le"


"Aku akan tinggal di sini jika sudah mengembalikan biaya penebusan dan renovasi rumah ini"


Edward menahan lengan Lerina "Kau tak perlu mengganti semua itu. Jika kau memang ini bercerai denganku, maka kau harus tinggal di sini"


Lerina menatap Edward tak percaya "Maksudmu kita akan bercerai?"


Edward mengangguk walaupun dengan mata yang berkaca-kaca "Kalau kau memang ingin bersama Calvin, aku akan melepaskanmu sekarang ini.


Aku akan menandatangani berkas perceraian itu sebelum kembali ke Seoul."


"Terima kasih!"


Edward melepaskan tangannya yang memegang lengan Lerina.


"Aku pergi!" pamit Lerina. Ia berlari meninggalkan ruang tamu. Hatinya hancur remuk. Namun ia sudah bertekad untuk membahagiakan Calvin.


Edward naik ke lantai dua, ia masuk ke dalam kamar Lerina dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang itu. Hatinya bagaikan tercabik-cabik. Ia begitu ingin memaksakan kehendaknya pada Lerina namun ia tak mau menyakiti Lerina. Ia begitu menyayangi gadis itu dan ingin menuruti semua keinginannya.


Mata Edward memandang foto-foto Lerina yang masih ada di dinding kamar ini. Foto wisudanya, foto bersama kedua orang tuanya dan foto masa kecilnya.


Berulang kali Edward menarik napas panjang. Berusaha membuang semua kepedihan dalam hatinya.


Hp nya tiba-tiba saja berbunyi. Edward berusaha untuk mengabaikan panggilan itu. Namun karena panggilan itu tak mau berhenti, Edward pun mengambil hp nya dari dalam saku celananya. Ia terkejut melihat Ben menghubunginya.


"Hallo, Ben!" sapanya.


"Ed, aku akan menikah. Kamu mau kan datang ke London dan menjadi pendamping pengantinku?"


"Kau akan menikah? Dengan siapa?"


"Gadis asal Indonesia. Namanya Maura. Ceritanya panjang, Ed. Aku mau kau datang bersama istrimu yang orang Indonesia itu."


"Kami sudah bercerai, Ben"


"Wah, sayang sekali ya. Aku pikir hubunganmu dengan istrimu itu sudah agak membaik"


Edward tersenyum kecut walaupun ia tahu kalau Ben tak akan melihatnya "Mungkin aku tak beruntung dalam hàl percintaan. Kapan pernikahanmu"


"3 hari lagi"


"Aku akan datang, Ben. Bye...!" Edward mengahiri percakapannya dengan Ben. Ia turun dari tempat tidur dan menemui Keyri yang dengan menunggunya di ruang tamu.


"Hubungi pengacara Lerina. Katakan kalau aku akan menandatangani semua berkasnya besok pagi. Dan katakan pada pilot bahwa aku akan ke London besok setelah semua urusanku di sini selesai"

__ADS_1


Keyri mengangguk "Baik, bos"


"Kita ke hotel sekarang!" ujar Edward lalu melangkah mendahului Keyri meninggalkan rumah Lerina.


*******


Sekuat apapun Lerina berusaha menutupi suasana hatinya namun tak bisa. Matanya yang terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.


Calvin memperhatikan Lerina yang sudah siap dengan baju kerjanya. Ia sementara mengatur sarapan di meja.


"Na, bagaimana hasil pertemuanmu dengan Edward semalam?" tanya Calvin.


Lerina menatap Calvin "Kami sudah sepakat untuk bercerai."


"Kau membuat dirimu terluka, Na. Apakah kau tidak akan pernah memaafkan Edward? Semua itu kesalahan Jesica."


"Aku tahu. Namun keputusanku sudah bulat. Ed juga menyetujuinya. Aku ingin menikah dengan kamu, Vin"


"Ina, kamu mencintai Edward"


Lerina menatap Calvin dengan hati yang bergetar. Ia berusaha untuk meyakinkan Calvin "Aku mencintai kamu, Vin. Apakah kau tidak mencintai aku, lagi?"


"Hanya Tuhan yang tahu betapa besar rasa cintaku padamu. Tapi aku tak mau egois. Aku tak mau kau bersamaku hanya karena ingin menyenangkanku di sisa akhir hidupku dan pada akhirnya kau kehilangan Edward."kata Calvin sambil mendekati Lerina. Di sentuhnya wajah gadis itu. Perlahan ia menghapus air mata Lerina.


"Na, aku tak mau kau menderita saat bersamaku"


"Aku akan lebih menderita jika kau tak bersamaku. Aku mencintaimu dan ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku ingin menikah denganmu dan memiliki anak darimu. Mengapa kau tak mau mengerti dengan semua keinginanku ini? Kalau kau memang tak mau bersamaku maka lebih baik aku mati saja!" ancam Lerina tanpa bermaksud main-main.


Calvin memeluk Lerina dengan erat "Aku akan bersamamu, Na. Aku akan menutup mataku dalam pelukanmu!"


Ya Tuhan, buatlah aku hamil. Aku ingin Calvin mendapatkan obat bagi kesembuhannya.


************


London....


Pesta bujang dimalam sebelum pernikahan Ben membuat beberapa pria berkualitas di London berjumpa.


Ben, Ezekiel, Joe, Arnold dan Edward berkumpul di ruang VVIP club malam milik Ben.


"Kau akhirnya menikah, Ben. Ini adalah berita yang luar biasa. Aku pikir kau takan pernah menikah seumur hidupmu." ujar Arnold sambil mengangkat jempolnya.


"Jangan mempermainkan pernikahan. Cintailah istrimu, Ben. Walaupun kalian menikah karena dijodohkan oleh bibi Alicia. Aku yakin kalau Maura gadis yang tepat untukmu" kata Ezekiel. Ia yang hampir saja gagal dalam pernikahannya sudah merasakan bahwa pernikahan itu adalah sebuah komitmen seumur hidup.


"Aku memang belum mengerti bagaimana perasaanku pada Maura. Tapi aku ingin bersamanya. Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamanya" ujar Ben dengan penuh keyakinan.


"Baguslah. Apapun yang terjadi, jangan sampai berpisah. Jangan berbuat kesalahan yang nantinya akan kau sesali. Aku sudah mengalaminya. Dan aku merasa sangat hancur tak bisa bersama dengan wanita yang kuinginkan" Edward yang sejak tadi diam akhirnya bicara. Ia menuangkan lagi minuman ke dalam gelasnya dan langsung meneguknya sampai habis.


"Ed, nanti kamu mabuk!" Ben mengingatkan karena Edward akan menjadi pendamping pengantinnya besok hari.


Arnold menepuk pundak Edward. Ia pernah mengalami apa yang dialami Edward saat ini. "Biarkan dia minum sedikit, Ben. Patah hati itu sangat sulit untuk dilalui. Aku sendiri sudah mengalaminya."


Ezekiel memandang sepupunya dengan hati yang sedih. 3 tahun telah berlalu namun Arnold belum mampu melupakan rasa kehilangannya.


"Inikan pesta yang seharusnya menyenangkan untuk, Ben. Jadi mari kita bersenang-senang." Joe mengangkat gelasnya diikuti yang lain "Semoga Ben berbahagia dengan Maura!" teriak Joe.

__ADS_1


"Semoga Ben berbahagia dengan Maura!" teriak yang lain mengikuti ucapan Joe lalu mereka sama-sama menikmati minumannya sambil tertawa bahagia.


Edward menarik napas panjang. Kepedihan hatinya tak mampu ia hilangkan walaupun ditengah tawa dan canda teman-temannya. Hatinya seolah tertinggal di Jakarta. Pada seorang perempuan bermata bulat. Edward mengingat senyum manisnya, tertawanya yang khas dan pipinya yang memerah setiap kali Edward menciumnya.


Le...., aku tak bisa tanpamu...! jerit hatinya.


********


Jakarta, 3 minggu kemudian....


Hari ini Lerina pulang kerja dengan tubuh yang sangat lelah. Ia bahkan sudah tak mampu menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Ia memilih untuk tidur sebentar di sofa ruang tamu.


Bi Suni yang melihat Lerina tertidur di sofa segera mendekatinya.


"Non, apakah tidak sebaiknya tidur di kamar?"


"Aku sudah tak punya tenaga untuk naik ke atas. Aku mau tidur sebentar di sini. Badanku sakit semua, bi" ujar Lerina tanpa membuka katanya.


Tanpa diminta, bi Suni langsung memikat kaki majikannya itu.


"Non terlalu capek berkerja. Nggak pernah istirahat. Jika pulang kantor masih saja membawa pekerjaan ke rumah. Makannya juga nggak teratur. Nanti sakit, lho. Kan seminggu lagi non dan tuan Calvin akan menikah"


"Iya, bi. Aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaanku. Karena setelah menikah, aku dan Calvin akan ke Amerika. Di samping bulan madu, kami akan berobat di sana"kata Lerina sambil menikmati pijatan Bi Suni.


"Walaupun begitu namun kesehatan itu harus dijaga. Oh ya tadi nyonya Arista datang. Ia membawa beberapa barang yang akan digunakan di hari pernikahan nanti"


"Kami memang tak mengundang orang lain. Hanya keluarga inti saja. Pestanya juga akan dilaksanakan di halaman belakang rumah ini"


Bi Suni menghentikan pijatannya saat melihat Lerina nampak pucat dan berkeringat.


"Ada apa, non. Apakah pijatan bibi terasa sakit?"


"Nggak, bi. Aku hanya merasa mual dan ingin muntah"


"Ya ampun, non. Pasti non masuk angin. Bibi ambil minyak untuk dikerok saja ya?" wanita tua itu segera berdiri dan menuju ke dapur. Lerina terus memejamkan matanya karena sekarang ia justru merasa pusing.


**********


Calvin memandang Lerina yang sudah tidur. Bi Suni mengatakan kalau Lerina masuk angin dan merasa pusing.


"Nona baru selesai kerokan. Badannya merah semua. Ia masuk angin, tuan."lapor Bi Suni saat Calvin menanyakan ada apa dengan wajah Lerina yang nampak pucat.


"Makasi, bi. Biar aku yang menjaganya!"


Calvin menatap wajah Lerina lalu menyeka keringat dingin yang ada di dahi gadis itu.


Na, seminggu lagi kita akan menikah. Tapi aku merasa kalau hatimu bukan untukku. Aku masih sering melihat matamu sembab karena menangis sepanjang malam. Na, aku rela jika harus melepaskanmu.


Hp Calvin berdering. Ia melangkah menuju balkon. Saat ia mengeluarkan hp nya, ia terkejut melihat ada nama Jien di sana.


*Ada apa Jien menghubungiku???


APA YANG AKAN JIEN KATAKAN PADA CALVIN?


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA*???

__ADS_1


__ADS_2