
Liburan selesai, keluarga Kim pun kembali lagi ke Seoul. Hari kerja pun dimulai.
Yura bangun pagi untuk membantu Bi Yun menyiapkan sarapan. Dia sebenarnya masih mengantuk. Namun dia tahu kalau hari ini adalah hari pertama bekerja.
Semalam, Taeyung tak mengijinkan Yura kembali ke kamarnya. Lelaki itu memeluk Yura sepanjang malam dengan sikap posesif. Hp Yura bahkan disimpan di laci dan kuncinya disimpan oleh Taeyung.
"Selamat pagi tuan..!" sapa bi Yun melihat Taeyung yang memasuki dapur masih dengan calana panjang rumahan dan kaos tangan panjang.
"Selamat pagi..!" Taeyung membalas ucapan bi Yun lalu mendekati Yura yang nampak asyik dengan spatulanya dan tak memperdulikan kedatangannya. Dengan gerakan tangan, Taeyung meminta semua pelayan untuk meninggalkan dapur.
"Mengapa meninggalkan ranjang kita saat aku masih ingin memelukmu?" tanya Taeyung sambil melingkarkan tangannya di pinggang Yura dan meletakan dagunya dibahu istrinya itu.
"Taeyung apa-apaan ini? Malu dilihat para pelayan" Yura sangat terkejut dan langsung berbalik. Ia terkejut melihat tak ada satupun pelayan di dapur itu.
" Ada apa?" tanya Taeyung sambil menatap Yura yang nampak bingung.
"Kemana para pelayan?"
"Aku mengusirnya supaya tidak menganggu kita"
Wajah Yura langsung merona. "Kamu...!"
"Ayo ke kamar dan siapkan keperluanku" kata Taeyung sambil mengambil spatula dari tangan Yura dan meletakannya kembali ke atas wajan.
"Bi Yun, tolong teruskan masakan Yura!" kata Taeyung sambil menarik istrinya untuk ke kamar.
Sesampai di kamar, Taeyung segera ke kamar mandi dan Yura menyiapkan pakaian dan semua keperluan Taeyung termasuk jam tangan yang akan dikenakannya.
Selesai Taeyung mandi, Yura pun gantian masuk ke kamar mandi setelah terlebih dahulu ia mengambil pakaiannya karena ia tak mau ganti pakaian di depan Taeyung.
Selesai Yura mandi, ia terkejut melihat Taeyung masih ada di kamarnya.
Yura pun berdandan sambil sesekali melirik ke arah Taeyung yang memang masih terus memandangnya.
"Tae, kenapa kau tidak sarapan lebih dulu?" tanya Yura.
"Aku masih menungguhmu. Kita sarapan bersama dan ke kantor bersama"
Yura menatap Taeyung "Aku pergi sendiri saja. Nanti Nula marah"
"Sayang...!" Taeyung mendekat.
Yura terkejut. Apakah dia tak salah dengar? Taeyung memanggilnya sayang?
Taeyung berlutut di depan Yura, memegang kedua tangan istrinya."Aku minta maaf untuk semua rasa sakit yang menyebabkan kau menderita selama ini. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan padamu kalau aku bisa menjadi suami yang baik untukmu."
"Tae...!" Yura tak dapat menahan air matanya.
"Pagi ini aku akan bicara dengan Nula. Aku akan mengahiri hubunganku dengannya. Aku juga akan memindahkannya ke devisi lain" kata Taeyung.
Yura memeluk suaminya dengan haru "Tae..aku mencintaimu"
"Aku juga sangat mencintaimu. Maafkan aku yang terlambat menyadarinya"
Yura melepaskan pelukannya. "Ayo kita sarapan"
"Cium dulu...!" kata Taeyung sambil menunjuk bibirnya.
"Taeyung....!"
"Ayo....!" rengek Taeyung manja.
"Tae, aku lebih suka kamu yang cool dan sedikit cuek dari pada kamu yang sok manja seperti ini" kata Yura menahan tawa. Namun ia mencium juga suaminya dengan lembut.
*************
Pagi di apartemen Edward Kim
"Ed...aku bisa terlambat ke kantor jika kamu tak melepaskan aku...!" sungut Lerina karena Edward tak mengijinkan dia bangun dari tempat tidur.
"Aku kan bosmu di kantor jadi kuperintahkan kau untuk tinggal di rumah dan menemaniku saja"
__ADS_1
"Ed, kamu tuh mesum sekali. Semalam kita sudah melakukannya. Pagi ini juga sudah " kata Lerina sambil menatap Edward sedikit kesal.
"Sayang, menemani kan bukan berarti harus melakukan itu. Dalam hal ini, kamu yang berpikiran mesum"
Lerina menarik hidung Edward dengan gemas "Aku harus ke kantor, Ed. Semalam Keyri mengirim pesan kalau data yang dia dapat dari laptop Nula sudah lengkap"
"Ish...dasar Keyri..!" umpat Edward dan melepaskan pelukannya dipinggang Lerina.
Lerina pun bangun, meraih kaos Edward dilantai, mengenakannya dan langsung ke kamar mandi.
Edward tersenyum menatap Lerina. Perasaannya menjadi sangat senang.
Aku memang jatuh cinta padanya. Sangat....sangat...cinta padanya.
Sambil tersenyum, Edward pun turun dari tempat tidur, mengenakan bajunya dan segera turun ke bawa.
"Hallo Nana...!" sapa Edward.
Nana tersenyum "Tuan...sejak di Swiss saya perhatikan kalau tuan sangat berbahagia."
"Lerina yang membuat aku bahagia Nana. Dan aku sangat berharap agar kami segera diberi momongan."
Nana terperangah "Astaga...berarti pernikahan ini sudah berjalan dengan baik?"
"Ya Nana. Dia sudah menjadi wanitaku seutuhnya"
Mata Nana berkaca-kaca. "Tuhan kiranya memberkati pernikahan kalian"
"Amin...!"
Edward melangkah menuju ke ruang piano. Ia duduk di sana sambil memainkan pianonya. Hari ini, Edward ingin membuat lagu baru.
"Dia memang sedang jatuh cinta!" guman Nana sambil melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama kemudian, Lerina turun sudah berpakaian rapih untuk ke kantor.
Karena sekarang masih musim dingin, Lerina pun mengenakan kemeja berlengan panjang dan setelan celana panjang.
"Kamu nggak sarapan?" tanya Edward.
"Nana, sarapannya tolong dimasukan di kotak makanan ya...aku sarapan di kantor saja karena ini sudah hampir jam 9" kata Lerina sambil membetulkan ikatan rambutnya. Ia masih sempat berdiri di depan kaca besar yang ada didekat pintu masuk untuk melihat lagi dandanannya.
"Nana, besok kaca itu dibuang saja. Aku nggak mau istriku sangat memperhatikan dandananya saat ke kantor. Aku jadi cemburu kalau dia tampil cantik di depan semua pegawai laki-laki yang ada di sana"
Lerina menoleh dengan kaget mendengar perkataan Edward. Matanya menatap tajam ke arah pria itu yang sekarang sedang berdiri di belakangnya.
"Ada yang salah dengan perkataanku, nyonya Lerina Kim?" tanya Edward dengan tatapan menggoda.
"Ed...tidur lagi kalau masih mengantuk!" kata Lerina pura-pura marah. Pada hal ia sangat malu karena Edward mengucapkan kata-katanya dengan sangat kuat dan semua pelayan sedang berada di lantai satu.
Nana mendekat dan menyerahkan kotak sarapan Lerina.
"Aku pergi dulu Ed, Nana!" pamit Lerina.
"Tunggu!" seru Edward menghentikan langkah Lerina.
"Ada apa lagi?" Lerina jadi kesal.
"Kiss me..!" kata Edward sambil jari telunjuknya menunjuk bibirnya.
Wajah Lerina menjadi merah merona karena Nana masih berdiri di dekat Edward. Namun Lerina tahu kalau Edward tidak akan membiarkannya pergi tanpa mendapatkan ciuman itu.
Dengan sedikit malu, Lerina mendekat, menghadiahkan satu kecupan di bibir Edward lalu buru-buru pergi sebelum Edward macam-macam lagi.
***********
Saat Lerina turun dari mobil yang mengantarnya, ia melihat Taeyung dan Yura baru saja datang.
"Aku pikir, hanya aku yang terlambat hari ini. Rupanya pasangan kasmaran ini datang terlambat juga" sapa Lerina menggoda melihat tangan Yura yang melingkar indah dilengan Taeyung.
"Tidak apa-apa kita terlambat karena sesuatu yang membahagiakan." kata Taeyung datar, tanpa ekspresi namun membuat pipi Yura semakin merah.
__ADS_1
"Yura, pemerah pipimu ganti warna ya?" goda Lerina.
"Nggak. Masih sama seperti yang kita beli waktu itu." kata Yura heran.
"Soalnya pipimu lebih merah pagi ini"
Yura melotot ke arah Lerina. Namun perempuan itu semakin keras tawanya.
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam lift bersama.
Nula yang sedang duduk di kursinya langsung terpana melihat ketiga orang yang keluar dari sana sambil tertawa. Dan yang paling membuat Nula meradang adalah tangan Taeyung yang melingkar dibahu Yura.
"Sampai ketemu saat makan siang ya?" ujar Taeyung lalu segera melangkah ke ruangannya.
Yura dan Lerina pun melangkah ke ruangan mereka. Yura sengaja mengikuti Lerina untuk masuk ke ruangan karena ia malas untuk berhadapan dengan Nula yang wajahnya bagaikan harimau lapar saat melihat mereka tadi.
"Ada apa?" tanya Lerina melihat wajah Yura tak secerah tadi.
"Aku takut saat Taeyung dekat lagi dengan Nula apa yang sudah dijanjikannya padaku akan berubah" kata Nula sambil duduk di depan meja kerja Lerina.
"Aku merasa kalau Taeyung sudah berubah. Berikankah dia kesempatan Yura."
Yura menarik napas panjang. Ia seakan menenangkan dirinya sendiri. "Aku sudah membuka hatiku untuknya. Jika ternyata dia kembali lagi pada Nula, aku yakin kalau aku akan hancur lagi."
"Percayalah pada Taeyung!"
Yura berdiri "Aku lupa mengatakan pada Taeyung kalau hari ini papa ingin ada rapat pemegang saham. Sebentar ya aku akan mengatakan padanya."
Saat Yura keluar dari ruangan. Di lihatnya Nula tak ada di mejanya. Namun Yura tetap melangkah menuju ke ruangan Taeyung yang pintunya memang tak tertutup semua.
Langkah Yura berhenti di depan pintu saat mendengar suara Nula dan Taeyung yang nampaknya sedang bertengkar.
"Mengapa selama liburan ke Swiss kamu tidak pernah mengaktifkan ponselmu? Apakah kamu sengaja ingin menghindar dariku?" tanya Nula dengan emosi yang mulai naik.
"Ya." jawab Taeyung datar.
"Kenapa? Apa salahku Taeyung? Bukankah kau dan Yura akan bercerai? Mengapa kau tadi justru memeluk bahunya dengan mesra?" tanya Nula. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Nula....aku..." perkataan Taeyung terhenti karena Nula tiba-tiba saja memeluknya.
"Taeyung, aku hamil!"
Taeyung terkejut. Ia melepaskan Nula dan memegang kedua sisi bahunya. "Nula, bukankah kita sudah lama tidak bercinta?"
"Ya. Sudah satu bulan lebih kita tak bercinta. Tapi rupanya hubungan kita yang terakhir membuahkan hasil. Aku baru merasakannya saat kau pergi ke Swiss. Lalu aku ke dokter dan memeriksakan diri. Kata dokter usia kandunganku sudah memasuki minggu ke-9. Ini foto hasil Usg nya." Nula menyerahkan sebuah foto usg yang sejak tadi adavdi kantong roknya.
Taeyung menatap hasil foto usg itu. Di atas foto itu ada nama Nula dan keterangan umur janin.
"Lihatlah Taeyung, dia masih kecil dan sudah mulai berbentuk. Detak jantungnya juga terdengar sangat sehat."
Taeyung kehilangan kata-kata. Pada hal dia akan memutuskan hubungannya dengan Nula hari ini. Taeyung menyadari bahwa ia mencintai Yura.
Yura yang mendengar dari balik pintu segera membalikan tubuhnya. Ia melangkah menuju ke mejanya. Kepalanya tiba-tiba saja merasa pusing.
Nula hamil anak Taeyung? Lalu bagaimana hubungan kami ini akan diteruskan lagi?
Hp Yura berbunyi "Hallo....!"
"Saya pengacara Cheong yang mengurus perceraian anda, nyonya. Berkas-berkasnya sudah disiapkan. Hakim sudah menjadwalkan sidang pertamanya minggu depan. Apakah anda siap?"
Yura menghapus air matanya "Aku siap. Teruskan saja" kata Yura lalu memutuskan sambungan telepon. Ia membuka pintu ruangan Lerina.
"Lerina aku pulang dulu ya, ada sesuatu yang aku lupakan"
Lerina menatap Yura "Ok. "
Yura segera keluar. Ia meraih tasnya. Tekadnya sudah bulat saat ini. Ia akan meninggalkan mansion keluarga Kim.
Makasi sudah baca part ini
kalau suka dilike, komentari dan vote ya...
__ADS_1