
Yura berhenti di ujung tangga dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia sebenarnya malu untuk turun ke ruang makan karena tadi pagi ia sama sekali tak turun untuk sarapan. Taeyung terus memeluknya dengan erat. Bahkan dengan tidak tahu malunya Taeyung meminta Yura untuk mandi bersama dan sekali lagi menyatukan diri di sana.
Bercinta di kamar mandi tentu pengalaman pertama bagi Yura. Memang tak senyaman ketika mereka melakukannya di ranjang tapi sensasinya lain.
"Mengapa masih berdiri di sini?" pertanyaan Taeyung mengagetkan Yura. Ia membalikan badannya, menemukan Taeyung yang sudah rapih. Pada hal tadi saat Yura meninggalkannya, Taeyung masih di kamar mandi.
"Aku....." kalimat yang akan diucapkan Yura menjadi hilang saat diujung lorong terlihat Edward dan Lerina yang baru saja keluar.
"Wah, ternyata bukan hanya kita pasangan yang telat untuk makan siang." ledek Edward. Ia dan Lerina saling bergandengan tangan. Mereka melewati pasangan Yura dan Taeyung.
Lerina menatap Yura dengan senyum menggoda. Yura jadi malu dibuatnya.
"Ed, apakah menurutmu mereka sedikit berbeda?" tanya Lerina saat keduanya sudah menuruni tangga.
"Kelihatannya begitu. Tapi aku yakin tak bisa melampaui apa yang sudah kita buat" kata Edward lalu mengeluarkan tawa khasnya.
"Ed...kamu sungguh tidak tahu malu" Lerina memukul pundak Edward dengan sedikit malu.
Edward tak marah dengan pukulan itu, dia semakin melebarkan tawanya.
Sementara itu Yura belum juga menuruni tangga.
"Ayolah, aku sudah lapar!" Taeyung tanpa diduga menarik tangan Yura dan mulai menuruni tangga.
"Tae, lepaskan...!" Yura berusaha melepaskan tangannya namun cengkraman tangan Taeyung begitu kuat. Akhirnya ia membiarkannya saja karena Taeyung sudah menatapnya dengan tajam.
Ryun Ong tak dapat melepaskan senyumnya saat melihat Edward dan Lerina yang masuk ke ruang makan sambil bergandengan tangan sementara dibelakang mereka ada Taeyung yang juga sedang memegang tangan Yura.
"Tuan, aku pikir kau akan segera mendapatkan cucu!" kata Ross dengan senyum manisnya.
"Itu yang kuharapkan, Ross" kata Ryun Ong dengan wajah bahagianya.
Semua heran dengan sikap Taeyung. Dia dikenal sebagai pria cuek dan sangat dingin. Tapi apa yang dilakukannya di meja makan ini, membuat semuanya tercengang.
Ia menarik kursi dan mempersilahkan Yura duduk, ia juga yang mengambil makanan dan meletakannya di atas piring Yura.
"Tae, ini sudah kebanyakan!" bisik Yura.
"Kau harus menghabiskannya. Apakah kau tidak merasakannya kalau badanmu itu sangat kurus?" kata Taeyung dengan suara yang tak terdengar dingin namun penuh dengan perhatian. Ia bahkan mengucapkannya dengan sangat lembut.
Jien menahan senyumnya. Ia sungguh tak mempercayai dengan apa yang baru dilihatnya. Sepupunya itu yang sejak dulu terkenal sebagai lelaki cuek yang sedikit tak punya perasaan, bicara terkadang pedas namun hari ini sungguh sangat jauh berbeda.
"Cuaca hari ini cukup baik. Bagaimana kalau kita main ski?" tanya Edward.
"Wah...boleh juga. Kau mau kan Calvin?"
Calvin hanya mengangguk.
"Boleh juga...sudah lama kita tidak main ski" imbuh Taeyung dan membuat yang lainnya pun terpana karena selama ini Taeyung tak pernah menyambung ucapan Edward.
"Ya. Kalian bersenang-senanglah. Jesica, kau dapat ikut dengan mereka" kata Ryun Ong.
__ADS_1
Jesica tersenyum senang. Ia memang merasa bosan berada di sampung Ryun Ong terus.
Selesai makan, beberapa orang pelayan langsung memasukan peralatan ski ke dalam mobil double cabin. Ada 2 mobil yang dipersiapkan. Mereka pun berangkat menuju ke area bermain ski yang ada di kaki gunung alpen.
Saat sudah tiba, Edward mulai memakaikan baju ski pada Lerina.
"Ed, aku belum pernah main ski" kata Lerina. Sebenarnya ia memilih akan duduk saja namun Edward memaksanya untuk ikut.
"Aku akan mengajarimu, sayang. Kau pakai saja papan yang pendek karena masih pemula."
Lerina tersenyum karena perhatian Edward.
Sementara itu, Yura yang baru keluar dari toilet langsung di hadang oleh Taeyung.
"Kau memakai helmnya salah. Sepatunya juga nggak benar. Kau bisa jatuh nantinya" Taeyung membetulkan letak helm Yura, lalu bajunya dan ia kemudian berjongkok di depan Yura dan memperbaiki sepatunya.
"Ayo...!" Taeyung memegang tangan Yura agar istrinya itu mengikuti dia.
Lerina tersenyum menatap pemandangan indah itu. Ia bahagia melihat Taeyung dan Yura nampak mesra.
Saat sudah berada di area main ski, ternyata hanya Lerina yang sama sekali tak bisa bermain ski. Calvin walaupun sama-sama berasal dari Jakarta seperti dirinya namun Lerina tahu kalau pria itu suka bermain di snow play graund di salah satu mall di Jakarta. Sehingga ia cukup menguasai permainan ini.
Yura dan Jesica pun terlihat begitu mahir bermain.
Edward dengan sabar mengajari Lerina. Beberapa kali jatuh dan hampir menyerah, akhirnya Lerina bisa.
Ia pun menggerakan tongkatnya untuk mendorongnya bergerak.
"Ed....!" teriak Lerina ketakutan. Ia tak dapat menahan laju papan ski nya.
Edward yang agak jauh dari Lerina segera memutar papannya dan berusaha mengejar.
Calvin yang jaraknya lebih dekat pada Lerina segera mengejar perempuan itu
Yang lain pun melakukan hal yang sama.
"Na....ulurkan tanganmu!" kata Calvin.
Lerina mengulurkan tangannya, Calvin langsung menariknya, mendekap Lerina dengan kuat, sementara tangannya yang satu berusaha untuk menghentikan laju papan ski nya.
Akhirnya, Calvin dan Lerina jatuh bersama. Sedikit berguling-guling di atas salju sampai akhirnya berhenti dengan posisi Lerina berada di atas Calvin.
"Na....kamu baik-baik saja kan?" tanya Calvin melihat Lerina diam tanpa bicara apa-apa.
"Calvin...aku takut!" Lerina justru membenamkan kepalanya didada Calvin. Ia benar-benar sangat ketakutan. Tubuhnya sampai bergetar.
"Semuanya baik-baik saja. Jangan takut!"
Kata-kata Calvin mengingatkan Lerina bagaimana dulu laki-laki itu melindunginya, menenangkannya dan menghiburnya saat kesedihan demi kesedihan melanda hidupnya.
Dan pelukan itu kini masih sama, begitu menenangkannya.
__ADS_1
Calvin menggeratkan pelukannya dipundak Lerina. Tangannya membelai kepala Lerina.
"Apa yang kalian lakukan?" Teriak Edward.
Lerina secara spontan langsung berdiri. Ketakutannya belum hilang karena hampir jatuh, kini sudah bertambah dengan tatapan tajam Edward.
Yura, Taeyung dan Jien yang menatap adegan itu pun terkejut. Hanya Jesica saja yang nampaknya tersenyum puas. Ia yakin, Calvin pasti bisa membantunya untuk memisahkan Edward dari Lerina.
Calvin pun berdiri.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Calvin pada Lerina dalam bahasa Indonesia.
"Ya. Terima kasih Calvin..!" kata Lerina. Sekalipun tangannya sedikit sakit namun ia bersyukur karena Calvin menopang tubuhnya dengan sempurna sehingga saat keduanya jatuh di atas salju, tubuh Lerina justru berada di atas Calvin.
Wajah Edward yang merah menahan marah membuat Yura dan Taeyung saling berpandangan penuh tanda tanya. Bukankah Edward seharusnya berterima kasih karena Calvin sudah menolong Lerina? Mengapa justru Edward terlihat sangat marah?
Jien langsung mendekat. Ia memeluk suaminya "sayang, kamu nggak apa-apakan?"
Calvin mengangguk.
"Ayo, kita istirahat saja dulu !" ajak Yura lalu langsung melangkah supaya suasana jadi baik lagi.
Lerina menatap Edward. Semua sudah pergi. Hanya mereka berdua saja yang ada di sana.
"Ed.....!" panggil Lerina sambil mendekati pria itu.
Edward masih belum bergeming. Tatapan masih tersirat rasa marah dan cemburu.
"Ed....!" Lerina menyentuh tangan Edward.
Perlahan kepala Edward menoleh ke arah Lerina. Tatapan matanya yang tadi menyalah karena marah kini perlahan meredup. Tangannya langsung menarik tubuh Lerina dan mendekapnya erat.
"Maafkan aku, sayang. Seharusnya aku bisa mengontrol emosiku"
"Ed, Calvin hanya menolongku. Sebab hanya dia yang paling dekat denganku. Aku juga tak ada maksud apa-apa dengan memeluknya. Saat itu, aku hanya ketakutan saja"
Edward melepaskan pelukannya. Ia menatap mata bulat milik Lerina. Tangannya terulur, membelai wajah Lerina dengan lembut.
"Le, aku sungguh jatuh cinta padamu" katanya dengan suara yang bergetar. Kepalanya menunduk untuk meraup bibir Lerina dalam ciuman hangat, menyalurkan perasaan dalam rasa kepemilikan yang dalam. Sungguh, Edward kini takan rela Lerina dimiliki oleh orang lain. Edward hanya ingin Lerina menjadi miliknya sendiri.
Lerina walaupun terkejut dengan pernyataan cinta itu, berusaha menyambut ciuman Edward dengan rasa yang sama.
Benarkah rasa cinta itu ada? Dapatkah dia membalas cinta itu? Haruskah dalam hubungan mereka ini cinta berperan? Sungguhkah ia sudah melupakan Calvin?
Sementara, pelukan Calvin tadi masih sangat menghangatkan hati Lerina, masih membuat Lerina tenang. Kata-kata yang Calvin ucapkan tadi seperti air yang menyejukan hati Lerina.
Edward masih terus menciumi Lerina. Kali ini ia tak mau menahan-nahan perasaannya lagi. Rasa cemburu ini sudah cukup menyadarinya, Lerina telah ada dalam hatinya.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA PART INI
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENTARI, DAN VOTE
__ADS_1
KASIH BINTANG 5 JUGA DONG...SOALNYA CERITA LERINA INI BELUM MENCAPAI BINTANG 5