
Hai Pembacaku yang tersayang, sebelum lanjut baca kisah LERINA, apakah kalian sudah membaca kisah penyanyi tampan dalam kisah SONG IN MY LIFE?
Kalau belum, mampir ya...
*************
Sudah 3 hari Edward menyiapkan kamar Lerina untuk menjadi kamar bayi mereka juga. Lerina tak ingin anaknya tidur di kamar yang berbeda dengannya karena kamar tidurnya sudah cukup besar.
Edward menaruh box bayinya tak jauh dari ranjang mereka. Dinding di dekat box bayi itu diberi wallpaper warna biru dengan gambar bintang dan boneka-boneka. Karpet tempat box itu sudah diganti dengan yang baru juga.
Kamar ini seperti dibagi 2 bagian. Yang satu untuk Le dan Ed dan bagian yang satu untuk baby mereka nanti.
Semua baju bayi yang dibeli, Edward sendiri yang mencucinya. Namun untuk bagian menyetrika, Edward menyerahkan tugas itu pada bi Suni. Beberapa baju sudah dimasukan ke koper untuk persiapan ke rumah sakit dan baju yang lain sudah tersimpan rapih di lemari baju.
Saat Lerina memasuki kamarnya, ia langsung terpana melihat semuanya sudah rapih dan bersih.
"Ed, Min Jun kan akan lahir 2 bulan lagi. Kau mengerjakan semuanya seolah-olah anak kita akan lahir minggu depan." Kata Lerina lalu meletakan tasnya di dalam lemari tas kemudian ia duduk di pinggir ranjang sambil menatap semua bagian kamar ini.
"Masalahnya 3 hari lagi aku harus ke London untuk konser amal." Kata Edward lalu duduk di samping istrinya.
"Kamu akan pergi lagi?" Tanya Lerina dengan wajah yang cemberut.
Edward memegang tangan istrinya. "Sayang, semua kontrak kerja itu sudah aku tanda tangani sebelum aku tahu kehamilanmu. Aku tidak bisa membantalkannya begitu saja. Selesai konser amal di London, aku akan kembali lagi ke Korea untuk menbuat rekaman kolaborasiku dengan Laura Park."
"Dengan Laura lagi?"
"Iya. Masih ada dua lagu yang harus aku buat bersamanya."
"Aku tak suka padanya." Kata Lerina dengan wajah cemberut.
"Mengapa?"
" Tatapan matanya genit. Dia tak berhenti menatapmu saat menyanyi. Sangat berbeda dengan Veronika."
Edward tersenyum. Di belainya pipi Lerina dengan lembut dengan ibu jarinya. "Kamu cemburu? Aku suka. Itu artinya kamu sayang padaku."
"Siapa yang cemburu?" Sangkal Lerina lalu menepis tangan Edward yang ada di pipinya.
"Benar tak cemburu?" Tanya Edward sambil alisnya terangkat saat menatap istrinya itu.
Lerina menatap ke sembarang tempat. Ia sungguh tak bisa melawan tatapan mata Edward.
"Ya. Aku tak cemburu."
"Baiklah. Kalau begitu saat akan tampil dipanggung nanti, aku akan meminta Laura untuk duduk di sampingku dan mencium aku supaya lebih menjiwai lagunya."
Lerina menatap Edward dengan tajam. "Coba saja kalau berani. Aku akan mencabik-cabik wajah sok cantiknya itu."
__ADS_1
Edward terkejut. Lerina yang biasa berkata manis dan lembut, kali ini justru berucap pedas dan tegas.
"Mana ponselmu?" tanya Lerina sambil mengulurkan tangannya.
"Buat apa?" Tanya Edward bingung. Selama ini Lerina tak pernah menyentuh ponselnya.
"Berikan saja !" Kata Lerina nampak kurang sabar.
Edward mengeluarkan hpnya dari dalam kantong celananya dan memberikan pada istrinya.
Lerina memandang Edward. "Sebentar ya." Ia berdiri, lalu meletakan hp itu diatas tripod. Lalu duduk dengan latar box bayi yang ada.
"Ed, kamu cium perut aku ya?"
Edward tersenyum. Ia mendekati Lerina, berjongkok diantara kaki istrinya itu kemudian mencium perut Lerina. "Begini?" Tanyanya.
"Ya. Kita ambil fotonya seperti itu." Kata Lerina lalu mengangkat tangannya untuk mengaktifkan kamera hp dari jarak jauh sehingga bisa memotret mereka secara otomatis.
Setelah selesai, Lerina mengetik sesuatu dan meletakan hp itu di atas nakas.
"Aku mau mandi!" Kata Lerina.
"Aku juga. Badanku rasanya kepanasan karena menyiapkan kamar ini sendiri." Edward ikut melangkah ke kamar mandi.
"Ed, aku mau mandi sendiri. Kamu mandi setelah aku ya?"
Edward menggeleng. "Aku mau mandi sekarang."
"Aku kan ingin memandikan Min Jun."
"Berarti gosok sabunnya di perut saja ya? Awas kalau berkelana ke tempat lain."
"Aku tidak bisa janji. Sabun kan licin, jadi bisa saja tanganku ini terpeleset ke tempat lain."
Langkah Lerina terhenti di depan pintu kamar mandi. Ia berbalik dan menatap suaminya tajam. "Awas kalau tanganmu itu sampai terpeleset, aku akan mematahkannya!"
Edward hanya tertawa. Ia sungguh merasa gemas tiap kali mendengar kata-kata ancaman istrinya setiap kali Edward hendak menjahilinya. Ia sungguh mencintai wanita Indonesianya ini.
************
Selesai makan malam bersama, Lerina langsung tertidur dengan nyenyak. Edward akan menemaninya sambil mengelus perut dan pinggang istrinya itu.
Ada rasa sayang dan rasa kasihan melihat wajah istrinya yang nampak lelap itu. Lerina harus terus bekerja pada hal perutnya semakin besar. Kadang Edward tak tega melihatnya. Namun ia tahu bahwa Lerina sangat mencintai perusahaan almarhum papanya itu. Makanya setiap kali Lerina pulang kerja, Edward berusaha memanjakan dan memberikan perhatian bagi istrinya itu.
Saat melihat napas istrinya yang teratur karena tidurnya yang nyenyak, Edward perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Lerina.
Edward mencium pipi Lerina, lalu duduk sambil berselojor kaki di atas tempat tidur. Tangannya mengambil hp nya. Edward penasaran apa yang dilakukan oleh Lerina saat memegang hp nya tadi.
__ADS_1
Senyum Edward langsung mengembang saat ia melihat ternyata foto mereka tadi diungah oleh Lerina diinstagram milik Edward.
Foto itu memang terlihat sangat cantik dengan latar box bayi mereka. Edward yang berlutut sambil mencium perut istrinya, sementara tangan Lerina ada di atas kepala Edwars seolah sedang membelai kepalanya. Foto yang menampakan kemesraan juga keharmonisan pasangan yang sedang menanti kelahiran buah hati mereka. Dan apa yang ditulis oleh Lerina mengenai foto itu membuat Edward hanya bisa mengelengkan kepalanya.
my happiness is with you and our child who is temporarily growing in your womb. I love you.
(bahagiaku bersamamu dan anak kita yang sementara tumbuh di rahimmu. Aku mencintaimu)
Foto itu disukai oleh puluhan ribu orang dan berbagai komentar yang memberikan selamat berbahagia dalam penantian kelahiran anak mereka. Ada juga yang mengatakan kalau Edward adalah suami dan calon papa andalan. Dari semua komentar yang masuk, ada juga komentar dari Keyri.
"*Selamat menanti buah hatinya, bos. Menjadi calon papa itu menyenangkan. Aku sekarang sudah mengalaminya." Tulis Keyri membuat Edward tahu kalau Susan sekarang sedang hamil.
"Hebat benar si Keyri. Baru dua bulan menikah, hasilnya sudah ada." guman Esward ikut senang dengan apa yang Keyri alami*.
Edward kembali menatap istrinya. Sejak hamil, Lerina memang sedikit posesif padanya. Apalagi menyangkut cewek-cewek cantik yang dekat dengan Edward. Rasa cemburu Lerina yang sangat berlebihan justru membuat Edward senang karena ia merasa sangat dicintai oleh istrinya itu.
Tangan Edward kembali membelai perut Lerina. Ada perasaan senang dan damai setiap kali ia meletakan tanganya di atas perut Lerina.
"Hallo Kim Min Jun. Daddy senang karena kau hadir dan tumbuh di perut mommy. Kehadiranmu membuat hubungan daddy dan mommy menjadi baik kembali. Daddy tak bisa membayangkan kalau kamu tak ada, pasti mommy mu yang keras kepala ini tak akan membiarkan daddy kembali padanya. Daddy tak habis pikir mengapa di dunia ini ada perempuan yang sangat keras kepala seperti mommymu. Terima kasih pada Tuhan karena kau ada di sini, daddy tak sabar menunggumu lahir." Kata Edward lalu mencium perut Lerina dengan secara berulang-ulang.
"Kim Min Jun, walaupun ibumu ini keras kepala, namun daddymu sangat mencintai ibu. Daddy nggak bisa melupakan mommy walaupun ada seribu wanita cantik yang mengelilinginya."
Edward terkejut. Ia pikir Lerina masih terlelap dalam tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam, Lerina mengucapkan kalimat itu. Wajahnya tersenyum puas.
"Ya. Mommy mu benar, Jun. Daddy tak bisa pergi jauh dari mommy mu. Selalu kangen. Seperti juga daddy yang kangen padamu saat ini. Daddy ingin menengok kamu di dalam. Kamu mau kan, Jun?" Kata Edward sambil terus membelai perut Lerina.
Mata Lerina langsung terbuka. Ia menatap suaminya tajam. Rasa kantuknya pun hilang. Ia tahu apa maksud suaminya itu.
"Ed, jangan bicara mesum tengah malam seperti ini!" Kata Lerina tajam sambil menyingkirkan tangan suaminya yang masih berada di perutnya.
"Sayang, coba buka di kamus Bahasa Indonesia yang baik dan benar, apakah kata 'menengok' itu sesuatu yang dianggap mesum? Aku saja yang baru beberapa bulan ini belajar bahasa Indonesia tahu, kalau kata menengok itu adalah sebuah kata kerja. Bukan sejenis kata mesum." Ujar Edward pura-pura tak menanggapi tatapan tajam istrinya.
"Jangan ajari Kim Min Jun bahasa yang salah." Imbuh Edward sambil kembali memegang perut Lerina. "Kata dokter, bayi yang diperut pun sudah bisa mendengar percakapan yang terjadi di luar perutnya. Apalagi yang diucapkan oleh ibunya."
"Kamu benar-benar ya....." Lerina kehilangan kata-kata. Bayi di dalam kandungannya tiba-tiba saja bergerak.
"Coba lihat, Min Jun saja sudah protes karena mommy melarang daddy untuk menegoknya. Makanya dia bergerak. Pasti di dalam Min Jun berteriak, cepat daddy...!"
Wajah Lerina memerah. Ia mencubit pinggang Edward saking gemasnya melihat tingkah suaminya yang kadang sangat kekanak-kanakan ini.
Edward menunduk, memangkas jarak diantara mereka. Wajahnya sangat dekat dengan istrinya. Hidung mereka bahkan saling bersentuhan. "Sayang, boleh ya? Kangen nih..." Suara Edward merengek dengan wajah penuh permohonan. "Tadikan aku hanya memandikan Min Jun. Soalnya aku takut tanganku dipatahkan olehmu."
Lerina tersenyum. Ia mengecup bibir suaminya dengan gemas. "Baiklah tuan pemaksa. Kau boleh melakukan apa yang menurutmu kata kerja itu." Kata Lerina membuat Edward langsung bersorak kegirangan.
"Yes! Aku matikan lampu dulu ya?" Kata Edward lalu bergegas turun dari tempat tidur untuk mematikan lampu kamar. Lelaki Korea bermata biru itu bahkan bersenandung bahagia.
Ah, senangnya saat hamil dan dimanja oleh suami.
__ADS_1
Jadi kepingin hamil lagi, deh 😍😍😍
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA