LERINA

LERINA
Lamaran


__ADS_3

HAI, SEBELUM BACA GABUNG KE GRUP CHAT, AKU YUK, SELAIN BISA TAHU KAPAN AKU UP, BISA BAHAS MASALAH CERITA DI NOVEL INI DAN JUGA DAPAT HADIAH POINT.


DI TUNGGU YA......


************


Rapat pembahasan keuangan di hari ini baru saja selesai. Lerina merasa senang karena semuanya berjalan dengan baik. Sepertinya juga dengan suasana hatinya yang berseri-seri karena mengingat Edward yang sedang menunggunya di rumah.


"Bu Lerina, boleh saya bertanya sesuatu?" Anita, staf bagian keuangan menahan langkah Lerina yang akan meninggalkan ruangan rapat.


"Ada apa, Anita?"


Anita nampak ragu untuk mengatakannya namun akhirnya ia bicara juga.


"Eh, semalam saat kami menonton konser Veronika dan Edward Kim, Veronika mengatakan kalau Gadis yang dicintai Edward bernama Lerina Avigail. Aku dan teman-teman sempat terkejut karena itu sangat mirip dengan nama bu Lerina. Lagi pula mantan suami bu Lerina kan berasal dari Korea. Apakah ini hanya suatu kebetulan saja atau memang mantan suami ibu adalah Edward Kim?" tanya Anita terlihat sangat penasaran.


Lerina tersenyum "Menurutmu?"


"Aku agak ragu sih, bu. Apa iya mantan suami ibu adalah seorang pemain piano terkenal yang sangat tampan dan mempesona itu? Tapi, kok namanya bisa sama ya.." Anita nampak bingung sendiri.


Lerina baru saja akan menjawabnya namun keduanya sudah dikejutkan dengan suara ribut-ribut yang ada di lantai 1. Ruangan rapat berada di lantai 2.


"Ada apa ya?" tanya Lerina lalu segera meninggalkan rapat dan menengok dari atas tangga yang memang langsung berhadapan dengan lobby.


Terdapat kerumunan orang yang nampak heboh mengangkat hp seperti membidik sesuatu.


"Ada apa, ya? Siapa sih yang datang?" Anita ikutan berdiri di samping Lerina.


Karena penasaran, keduanya sepakat untuk turun ke bawa dan melihat apa yang terjadi.


Langkah Lerina langsung terhenti melihat siapa yang berdiri di sana, dikerumuni oleh para kariawan kantor sambil berdesak-desakan.


"Edward Kim?" teriak Anita histeris dan langsung berlari menuju ke tempat Edward berdiri sambil mengelurkan hp nya.


"Semuanya diam....!" teriak ibu Suryani dengan suaranya yang menggelegar membuat semua kariawan langsung diam dan bergerak mundur.


Edward dan Keyri membungkuk ke arah ibu Suryani sambil tersenyum mengucapkan terima kasih karena terbebas dari kerumunan para gadis dan ibu-ibu muda yang begitu terpesona dengan ketampanan si pemain piano ini.


Edward memendang Lerina dengan mata yang bersinar penuh cinta. Di tangannya ada seikat mawar merah.


"Baby..come here...!" panggil Edward kepada Lerina membuat semua terpana. Baby? Itukan panggilan sayang dari dua orang yang memiliki hubungan khusus?


Lerina turun dari tangga dan berdiri di depan Arnold.


Arnold tiba-tiba berlutut di depan Lerina dengan sebelah kaki yang ditekuk sambil mengulurkan tangannya yang memegang mawar merah.


"Honey, will you marry me again?"tanya Edward.


Lerina terkejut. Ada rasa malu sekaligus juga bahagia menerima kejutan yang diberikan Edward padanya di kantor ini.

__ADS_1


"Ed, you are very crazy!" kata Lerina tanpa bisa menahan air matanya.


"Yes. I'm crazy about you!" sahut Edward dengan senyumnya yang sangat menggoda.


Ibu Suryani langsung mengambil beberapa map yang ada ditangan Lerina. Lalu ia menunjuk bunga yang dipegang oleh Edward agar segera diambil oleh Lerina.


"Yes, Ed. I want to marry you again!" jawab Lerina membuat semua yang ada di lobby langsung bertepuk tangan.


Edward mengeluarkan cincin ibunya dari dalam saku celananya. Cincin yang selalu ia bawa kemana saja.


Ia memasukan cincin itu dijari manis Lerina. Setelah itu Edward berdiri, sedikit membungkuk dan mencium perut


Tepuk tangan haru terdengar di lobby kantor. Banyak mata yang berkaca-kaca karena merasa haru dan juga kebahagiaan yang dialami oleh bos mereka. Mereka juga tak menyangkah kalau pria yang membuat bos mereka hamil adalah Edward Kim. Pria yang banyak membuat wanita terpesona karena ketampanan dan kemampuannya bermain piano dengan lagu-lagu yang membuat hati ikut terhanyut.


"Kalian semua saya undang untuk datang ke restoran XXX malam ini. Kalian akan menjadi saksi penyatuan cinta kami berdua." kata Edward dalam bahasa Indonesia yang walaupun terdengar sedikit kaku diucapkan namun dapat dimengerti oleh siapa saja yang mendengarnya.


"Asyik....pesta lagi...!" teriak Vita dan beberapa gadis lainnya. Lobby kembali menjadi heboh. Keyri yang melihatnya pun jadi ikut terharu.


"Kita ke ruanganku, yuk!" ajak Lerina sambil menarik tangan Edward menuju ke lift. Keyri memilih untuk menunggu di lobby sementara para gadis kini beralih kepadanya. Keyri pun memiliki ketampanan khas cowok Korea. Siapapun gadis yang menatapnya pasti akan tertarik padanya.


"Oppa, bolehkah aku foto bareng kamu?" tanya Vita diikuti anggukan kepala Anita.


Keyri hanya tersenyum "Foto aja. Bolehlah!" kata Keyri akhirnya. Maaf ya Susan sayang, aku janji hanya foto bareng. Hatiku hanya untukmu.


*********


"Aku sudah merindukanmu walaupun baru 2 jam berpisah" kata Edward sambil terus memeluk Lerina.


"Karena itu kau datang dengan segala keheboan tadi? Dasar tukang pamer" kata Lerina sambil memukul dada Edward perlahan.


Edward hanya terkekeh. Ia melonggarkan pelukannya sehingga bisa saling bertatapan dengan Lerina.


"Dulu, kita menikah tanpa ada acara lamaran. Sekarang, saat kita akan memulai kembali, aku ingin membuat moment lamaran yang akan selalu kita kenang seumur hidup kita" kata Edward. Tangan kanannya masih melingkar pinggang Lerina sementara tangan kirinya sementara membelai wajah mulus Lerina.


"Aku suka lamaranmu." kata Lerina dengan wajah yang merona bahagia.


"Kau suka?"


Lerina mengangguk. Edward langsung menunduk dan menciumi wanitanya dengan segala rasa cinta yang ia miliki.


Keduanya saling berbagi kasih melalui penyatuan bibir mereka. Sampai akhirnya ciuman itu berakhir karena keduanya butuh pasokan oksigen.


"Aku bisa jadi gila bila terus menciummu." kata Edward lalu melepaskan pelukannya. Ia harus meredam kembali hasratnya yang tiba-tiba saja kembali bangkit karena ciuman mereka.


Lerina membuka kulkas yang memang tersedia di ruangannya, lalu memberikan sebotol air mineral kepada Edward.


Pria bermata biru itu langsung meneguknya sampai habis.


"Masih banyak pekerjaan?" tanya Edward.

__ADS_1


"Nggak. Kenapa memangnya?"


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ayo kita duduk dulu!" ajak Edward sambil menggandeng tangan Lerina dan menuju ke sofa yang ada.


"Ada apa, Ed?" tanya Lerina


"Sebentar, aku mau minta Keyri memesan makan siang untuk kita." Edward menelepon Keyri dan memintanya untuk memesan makan siang.


Setelah selesai memesan makanan, Edward kembali fokus menatap Lerina. Ia memegang tangan perempuan itu lalu menciumnya secara lembut. "Kata pengacaraku, kita tak perlu mengajukan permohonan untuk menikah kembali. Karena perceraian kita baru sekitar 3 bulan maka yang akan kita ajukan adalah permohonan pembatalan perceraian. Dia akan mengurusnya hari ini juga."


"Benarkah?" Lerina nampak senang.


"Ya. Tapi aku ingin kita membuat janji pernikahan secara benar. Karena itu aku ingin kita menikah kembali dihadapan Tuhan. Aku akan berjanji dengan sepenuh hati lagi tanpa ada kepalsuan diantara kita."


"Aku pun demikian, Ed." kata Lerina dengan penuh keyakinan.


"Sayang...!" Edward menarik tubuh Lerina untuk bersandar di dadanya sementara tangannya asyik membelai perut Lerina.


"Aku tak sabar melihatnya lahir. Kau sudah tahu jenis kelaminnya?"


Lerina menggeleng "Belum. Tapi kita bisa mengetahuinya 2 hari lagi. Dokter mengatakan saat usg berikutnya kita akan mengetahui jenis kelaminnya"


"Aku tak sabar ingin tahu jenis kelaminnya"


Lerina menatap Edward "Kau ingin anak apa, Ed?"


"Aku ingin anak pertama kita laki-laki. Berikutnya barulah perempuan."


"Bagaimana jika dia perempuan?"


"Aku tetap akan menyayanginya. Yang penting dia lahir di Seoul."


"Tapi aku ingin dia lahir di Jakarta, Ed!" tegas Lerina sambil menarik tangannya dari genggaman Edward.


Keduanya saling berpandangan. Edward menatap Lerina dengan dahi yang berkerut "Memangnya setelah kita menikah lagi, kau tak ingin kembali ke Seoul?"


"Aku ingin tinggal di Jakarta, Ed. Aku punya tanggung jawab pada perusahaan ini."


Edward tiba-tiba menjadi lemas. "Aku juga tak mau tinggal di sini, Le" katanya dengan nada lesuh.


Nah, lho....bagaimana ini?


Jangan lupa like, komen, dan vote ya?


Cara gabung di chat


klik ditulisan ayo chat dgn Author


__ADS_1


__ADS_2