
Apakah orang mati bisa bangkit lagi? Bukankah Kim Ryun Wong sudah mati saat helikopter yang ditumpanginya hancur berkeping-keping? Lalu mengapa sekarang ada di hadapannya? Apakah dia tidak mati? Ataukah dia hidup lagi?
Keringat dingin membasahi wajah Lerina. Kakinya bahkan terasa beku. Tak bisa bergeser dari tempatnya berdiri. Terbayang kembali bagaimana lelaki itu hampir memperkosanya dulu.
Tapi, tunggu dulu.....
Bukankah Kim Ryun Wong umurnya sudah sekitar 50-an. Dia juga adalah pria bertato. Bahkan seluruh tangannya bertato. Tapi pria di depannya ini adalah pria tanpa tato. Wajahnya juga terlihat ramah.
"Kau, siapa?" Tanya Lerina saat kesadarannya kembali ke raganya.
Pria di depannya tersenyum. "Kau pasti mengira kalau aku adalah Kim Ryun Wong kan? Namaku Kim Hye. Aku adalah anak dari Kim Ryun Wong."
"Oh...ada apa kau ke sini?"
"Aku mau bertemu dengan Edward Kim. Kamu adalah istrinya kan? Apakah Edward ada di sini?" Tanya Hye.
"Edward sedang keluar. Eh, masuklah...!" Lerina melebarkan daun pintu dan mempersilahkan pria itu untuk masuk. Setelah keduanya duduk, Lerina memanggil seorang pelayan dan memintanya untuk menyiapkan kopi.
"Sebentar. Aku akan menelepon Edward." Kata Lerina. Ia berdiri dan mendekati meja kerjanya lalu menelepon suaminya.
"Sayang, di sini ada saudara sepupumu."
"Saudara sepupu? Aku tak punya saudara sepupu. Hati-hati Le."
"Dia adalah Kim Hye. Anak dari Kim Ryun Wong."
" Tunggulah. Aku sudah dalam perjalanan pulang." Kata Edward.
Lerina meletakan lagi ponselnya dan kembali ke ruang tamu.
"Minumlah dulu kopinya. Ed tak lama lagi akan sampai."
Kin Hye mengangguk. Ia meraih gelas kopinya dan menikmati minuman itu. Pandangan matanya tertuju pada sebuah foto di dinding. Foto Edward, Lerina dan Bragi yang ada di pelukan Lerina.
"Wajah putramu sangat mirip dengan Ed. Tapi warna matanya mirip denganmu." Kata Hye.
"Ya. Semua orang mengatakan itu."
Tak lama kemudian, Edward datang bersama Keyri. Ia juga sangat terkejut melihat kalau wajah pria itu sangat mirip dengan Kim Ryun Wong, pamannya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kalau pamanku punya anak." Kata Edward lalu mengambil tempat duduk di samping istrinya.
Hye tersenyum. "Dia bahkan tak pernah menyukai kelahiranku. Makanya, dulu namaku adalah Park Hye mengikuti marga ibuku. Namun, setelah kematian ayahku, seorang Pengacara mencari aku dan ibuku. Aku akan mewarisi semua kekayaan papaku, asalkan aku menggunakan marga Kim. Oengacara itu mengatakan kalau ayahku mewariskan semua kekayaan, rumah, mobil dan beberapa sahamnya yang selama ini dia miliki dibeberapa perusahaan..."
Kalimat Hye terhenti karena Taeyung tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu. Di belakangnya ada Yura yang sedang menggendong anaknya. Nana langsung mrngambil anak yura dari gendongannya dan membiarkan mereka berempat menghadapi Hye. Edward tadi meneleponnya dan memintanya untuk datang ke rumahnya. Kebetulan Taeyung memang sedang menuju ke rumah Edward bersama Yura yang ingin mengunjungi Lerina.
Taeyung menatap pria di depannya. Ia juga nampak sangat terkejut.
"Apa maksud tujuanmu ke sini?" Tanya Taeyung dengan nada tak suka.
"Aku, ingin bicara dengan kalian."
"Dari mana kau tahu kalau adikku tinggal di sini?" Tanya Taeyung lagi.
"Rumah warisan papaku ada di dekat sini."
Edward dan Taeyung terkejut. Keduanya saling berpandangan. Selama ini mereka tak tahu kalau Ryun Wong punya rumah di kompleks hunian elite ini.
"Mungkin papaku membeli rumah di dekat sini karena ingin melihat Cicilia, mamanya Edward." Kata Hye membuat rasa penasaran kedua kakak beradik itu sedikit berkurang.
"Bisa jadi. Ryun Wong sangat menyukai mamaku." Ujar Edward sedikit sedih membayangkan wajah mamanya yang begitu cantik dan anggun.
Edward mengangguk.
"Aku sudah menjual beberapa gudang, mobil dan rumah ayahku yang lain. Aku tahu kalau selama ini ayahku sudah terlibat pencucian uang dari perusahaanmu. Aku tak mau menggunakan uang haramnya itu. Dari salinan putusan pengadilan, pengacara ayahku mengatakan berapa jumlah nominal kerugian perusahaan kalian. Aku ke sini ingin mengembalikannya." Kata Hye. Wajah polosnya terlihat begitu tulus mengatakan itu.
Edward dan Taeyung kembali saling berpandangan. Walaupun tanpa suara, kedua kakak beradik itu sudah mengerti apa yang harus mereka katakan.
"Kau tak perlu mengembalikannya. Kami sudah merelakannya. Urusan kami dengan Ryun Wong sudah berakhir sejak kematiannya." Kata Taeyung.
"Tapi, ibuku juga menginginkan hal ini." Kata Hye sedikit memaksa.
"Keluarga Kim punya yayasan yang mengurus anak-anak yatim piatu dan anak-anak jalanan. Kau boleh menyumbangkan ke sana jika mau." Ujar Edward.
Hye tersenyum. "Benarkah? Baiklah. Aku akan menyumbang ke sana. Terima kasih atas segalanya. Aku tahu kalau ayahku sudah sangat jahat pada kalian. Aku sebenarnya juga agak malu harus ke sini. Namun karena ibuku memaksa, jadi aku memberanikan diri untuk datang ke sini."
"Tak masalah. Kau boleh datang ke tempat ini kapan saja kau mau. Ajak juga ibumu supaya kami bisa mengenalnya. Bagaimana pun kau adalah sepupuku kami." Ujar Edward membuat Hye nampak haru.
"Terima kasih." Hye berdiri lalu membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat dan tanda terima kasih.
__ADS_1
"Aku permisi pulang dulu." Imbuh Hye. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah undangan berwarna biru tua.
"Minggu depan saya akan menikah. Jika berkenan, kalian kiranya boleh datang." Katanya lagi lalu meletakan undangan itu ke atas meja dan segera pamit pulang.
"Aku sudah pernah mendengar kalau Ryun Wong punya anak. Kalau tidak salah, ibunya Hye adalah seorang pelayan yang bekerja di rumahnya dulu lalu kemudian ia memperkosanya. Saat wanita itu hamil, ia justru diasingkan di salah satu desa terpencil namun Ryun Wong masih mengirimkan uang untuk biaya hidup mereka." Kata Taeyung saat Hye sudah pergi.
"Beruntunglah Hye tidak tumbuh didekat ayahnya. Karena pasti yang akan diajarkan oleh Hye adalah segala macam kejahatan. Aku tahu sempat terkejut saat melihatnya. Namun waktu aku menatap wajahnya, aku jadi tahu kalau dia bukan paman Wong." Kata Lerina.
Edward melingkarkan tangannya di bahu istrinya. "Aku tahu kau pasti tadi sangat ketakutan."
"Ya. Aku seperti melihat mayat hidup. Soalnya wajah mereka sangat mirip." Imbuh Lerina membuat Taeyung dan Yura mengangguk tanda setuju mengenai kemiripan wajah mereka.
"Masa lalu memang terkadang membawa hal-hal yang tidak terduga. Kita berempat pernah punya pengalaman yang tidak menyenangkan bersama Ryun Wong. Kita pikir semuanya selesai ketika dia mati. Sekarang datang anaknya. Namun syukurlah kalau dia mewarisi sikap baik dari ibunya." Kata Yura sambil menarik napas lega.
"Apakah kita akan pergi ke pernikahannya?" Tanya Lerina sambil meraih undangan itu dan membukanya. Matanya langsung terbelalak saat membaca undangan itu.
"Kita harus pergi sebagai tanda bahwa kita tak dendam dengan mereka." Kata Edward.
"Ya. Aku setuju." Sambung Taeyung
"Dia akan menikah dengan Jesica?" Pekik Lerina.
"Jesica siapa maksudmu?" Tanya Taeyung penasaran.
"Jesica Chung." Ujar Lerina sambil menatap Edward.
"Mungkin Jesica Chung yang lain." Edward menggelengkan kepalanya.
"Fotonya adalah Jesica Chung mantan pacarmu, Ed." Kata Lerina lalu menyodorkan undangan itu di depan Edward.
Yura dan Taeyung saling berpandangan. Sementara Edward setelah memastikan kalau foto yang tertera diundangan itu adalah Jesica mantan pacarnya segera meletakan undangan itu di atas meja.
"Mungkin kalian saja yang pergi." Imbuh Edward lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Lerina menatap suaminya dengan tajam. "Kenapa kau tak mau pergi? Sedih melihat mantan pacarmu menikah? Atau kamu belum bisa melupakan mantan terindahmu itu?" Tanya Lerina sedikit ketus sambil menatap suaminya dengan tajam.
Nah....ayo...mengapa Edward tiba-tiba tak mau pergi?
Jangan lupa like, komen dan vote ya...
__ADS_1
2 episode lagi Lerina akan tamat guys...