LERINA

LERINA
Tersakiti


__ADS_3

Edward terbangun dari tidurnya saat mendengar suara pintu yang ditutup.


Kemana, Le ya? Mengapa dia keluar saat hari masih subuh?


Edward pun bangun dan mengikuti Lerina tanpa diketahuinya. Istrinya itu berhenti di ujung lorong, sepertinya ia sedang menelepon seseorang.


" Hallo...Saya Lerina. Memangnya Calvin sakit apa?"


"Calvin sakit kangker darah?"


Edward melihat kalau pundak Lerina berguncang. Sepertinya ia sedang menangis. Sampai akhirnya ia melihat Jien yang berjalan mendekati Lerina dari belakang.


"Calvin membutuhkanmu!" kata Jien tanpa bisa menahan air matanya.


Pandangan mata Lerina membulat saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jien.


"Kau...tahu kalau Calvin sakit?"tanya Lerina tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Iya. Aku baru tahu kalau Calvin sakit saat ia ditembak dan dokter melakukan pemeriksaan pada darahnya yang agak susah membeku"


"Lalu mengapa kau membiarkan dia pergi?"


"Dia yang memilih pergi karena dia tak tahan ada di sini tanpa memilikimu. Itulah sebabnya, mengapa aku tak marah saat ia meninggalkanku, karena aku tahu dia melakukan itu semua karena rasa cintanya yang besar padamu. Ia takut kematian akan menjemputnya dan kau tak punya pegangan apa-apa untuk hidupmu."


Tangis Lerina semakin dalam. Ia merasakan seluruh tubuhnya menjadi sangat sakit. Ia bahkan tak kuat berdiri. Tubuhnya bersandar pada dinding dan perlahan ia duduk dengan sangat lemas.


"Lerina....!" Jien mendekati Lerina dan memegang tangan gadis itu.


"Maaf, Le. Seharusnya aku tak mengatakan ini padamu. Aku tak mau membuat hubunganmu dengan Ed menjadi tak baik" kata Jien melanjutkan ucapannya melihat Lerina hanya diam saja.


Lerina menggelengkan kepalanya. Pikirannya masih kalut. Ia kini tahu, mengapa Calvin yang tak pernah menyakiti orang dalam hidupnya mau melakukan pernikahan yang justru membuat Jien dalam penderitaan. Ternyata semuanya karena sakit yang Calvin alami. Ia begitu takut meninggalkan Lerina tanpa perusahaan papanya karena Calvin tahu bahwa perusahaan itu akan mengembalikan semua yang telah diambil dari kehidupan keluarga Lerina.


Kini Calvin sakit dan tidak ada yang menemaninya. Hati Lerina menjerit saat tahu itu semua. Calvin sudah begitu baik padanya. Tak mungkin Lerina melupakan semua hal yang telah pria itu lakukan dalam hidupnya.


"Le....!" Jien menyentuh tangan Lerina.


"Aku mau sendiri!" kata Lerina lalu berdiri dan melangkah meninggalkan Jien.


Jien menarik napas panjang. Saat ia berdiri, ia terkejut melihat Edward sedang menatapnya.


"Ed....!"


"Mengapa kau tak mengatakan padaku tentang sakitnya Calvin?"


"Calvin yang memintanya, Ed. Aku bahkan tak mengatakan padanya tentang kehamilanku karena tak ingin menahannya untuk terus bersamaku"


"Kamu hamil?"


"Ya. Aku juga baru tahu sehari sebelum kepergiannya"


Edward menatap sepupunya itu dengan rasa kasihan "Calvin berhak tahu kalau kau sedang hamil"


"Aku tak ingin membuat bebannya semakin bertambah"


Edward bersandar pada dinding sambil memasukan tangannya di saku celananya.


"Ed, apakah kau akan mengijinkan Lerina pergi ke Jakarta untuk menemani Calvin di saat terakhirnya?"


"Lerina adalah istriku. Suami mana yang rela melihat istrinya bersama orang lain?"


"Aku tahu, Ed. Tapi tidakkah kau lihat kalau Lerina begitu sedih saat mendengar kalau Calvin sakit? Itu membuktikan kalau dia masih menyimpan hati untuk Calvin."


"Le mencintaiku !"


"Mungkin dia mencintaimu. Tapi dia juga masih mencintai Calvin"


Edward merasakan hatinya sakit mendengar perkataan Jien. Ia harus jujur untuk mengakui tangisan Lerina saat ini menunjukan betapa istrinya iti masih sangat peduli pada Calvin. Kenyataan yang membuat Edward bagaikan terhempas dari impian terindahnya untuk menjadikan Lerina sebagai wanita terakhir dalam hidupnya.


Haruskah ia merelahkan Lerina demi menemani hari-hari terakhir Calvin?

__ADS_1


Tidak! Edward bukannya egois. Namun rasa cintanya yang besar pada Lerina membuatnya tak ingin melihat Lerina bersama dengan pria lain, apalagi Calvin yang pernah mengisi 4 tahun perjalanan kehidupan Lerina.


***********


Hari masih belum terang saat Lerina duduk di dekat air terjun. Ia bahkan tak peduli dengan tubuhnya yang sedingin es karena ia hanya mengenakan mantel yang tak tebal.


Tak jauh dari sana, Edward pun berdiri. Menatap Lerina tanpa diketahui olehnya. Hati Edward bagaikan tercabik-cabik setiap kali melihat Lerina menghapus air matanya.


Haruskah Edward mengalah? Haruskah Edward melepaskan Lerina agar perempuan itu dapat bersama Calvin?


Perlahan kaki Edward melangkah menuruni tangga untuk mendekati Lerina. Ia berdiri dibelakang Lerina dan istrinya itu sama sekali tak menyadari. Pikiran dan hati perempuan itu sepertinya sudah di Jakarta.


"Sayang......!" panggil Edward lalu memeluk Lerina dari belakang. "Tubuhmu sangat dingin" kata Ed sambil mencium pucuk kepala Lerina.


"Maafkan aku, Ed. Maafkan aku karena menyakitimu dengan air mataku ini"kata Lerina lalu menyentuh tangan Edward yang ada di pundaknya.


"Sudah ku katakan kalau kau tidak akan menyakitiku selama kau tetap ada di sampingku"kata Edward. Ia berputar dan kini ada di depan Lerina. Berlutut di depan gadis itu untuk mengsejajarkan tinggi mereka.


Dengan kedua ibu jarinya, ia membelai wajah Lerina, membersihkan sisa air mata yang masih ada di pipi mulus Lerina.


"Kita akan ke Jakarta, Le. Aku akan menemanimu untuk melihat Calvin dan menemanimu menyelesaikan segala sesuatu di sana. Aku tidak akan melarangmu untuk bersama Calvin. Walaupun itu sangat menyakitkan untukku. Aku tahu kalau Calvin sudah melakukan banyak hal untukmu." kata Edward sambil berusaha tersenyum. Kata-katanya diucapkan dengan intonasi yang pelan agar Lerina dapat mengerti dan Edward tak perlu untuk mengulangnya selama dua kali karena sebenarnya apa yang diucapkannya tak seperti yang hatinya inginkan.


Lerina menatap manik biru didepannya. Air mata kembali membasahi pipinya.


"Ed, apakah aku pantas menerima semua kasih sayangmu ini?"


Edward mengangguk. Ia kembali menghapus air mata Lerina lalu mengecup kedua mata Lerina secara bergantian.


"Kau adalah hidupku, akan kulakukan apa saja untuk membahagiakanmu"


Lerina langsung memeluk Edward "Terima kasih, Ed. Terima kasih karena selalu mengerti aku."


"Setelah perayaan 7 hari kematian papa, esoknya ada rapat pemegang saham. Setelah itu kita bisa pergi ke Jakarta. Aku juga tidak punya jadwal tur untuk 2 bulan ke depan jadi aku akan punya banyak waktu untuk bersamamu"


Lerina mengangguk. Ia memang begitu ingin bertemu dengan Calvin. Kebaikan yang pernah dilakukan Calvin padanya membuat Lerina tak bisa mengabaikannya begitu saja.


*********


"Ed, besok adalah rapat pemegang saham setelah kematian papa. Apakah akan dipilih pengganti presiden direktur yang baru?" tanya Lerina saat mereka sudah selesai makan malam dan Lerina sedang membersihkan wajahnya dengan pembersih make up menggunakan kapas.


"Ya."


"Apa keputusanmu, Ed?"


Edward menggeleng "Aku belum punya jawaban apapun walaupun jumlah saham terbanyak ada ditanganku"


Lerina menyelesaikan aktivitasnya di depan meja rias lalu mendekati Edward yang sedang duduk di sofa sambil membuka perban ditangannya.


"Ed, apapun keputusanmu, usahakan hubunganmu dengan kak Taeyung akan menjadi baik. Semenjak papa meninggal, aku tak pernah melihat kalian saling bicara"


Edward mengangguk. Ia menggerakan tangannya yang terluka. "Sudah tidak sakit lagi. Lukanya juga sudah kering"


Lerina memegang tangan Ed dan melihat bekas luka ditelapak tangannya suaminya itu.


" Apakah kau sudah bisa main piano?" tanya Lerina sambil mengelus tangan Edward yang terluka itu.


"Kau mau aku memainkannya?"


Lerina mengangguk.


"Baiklah!" Edward berdiri lalu melangkah ke arah piano yang ada di sudut ruangan. Ia membuka penutupnya dan duduk di depan pianonya itu.


"Ed, mainkan lagunya Arnold Manola yang berjudul Forever. Suara piano di lagu itu adalah pemainanmu kan?" tanya Lerina lalu menarik sebuah kursi dan duduk di dekat Edward.


"Ya. Arnold yang meminta aku mengaransemen musiknya ditambah dengan sentuhan pemain biola terkenal asal London yang bernama Salomo. Lagu yang sangat fenomenal, namun lagu yang membuat Arnold begitu menderita"


"Tapi lagu itu sangat indah. Baik lirik lagu maupun musiknya membawa perasaan damai. Makanya aku ingin kau memainkannya saat ini"


Edward mengangguk.Tangannya secara lembut langsung memainkan tuts piano. Mengalunkan lagu yang sangat indah. Lerina merasakan hatinya sangat terhibur mendengar permainan piano Edward.

__ADS_1


Di kamar Yura dan Taeyung, pasangan suami istri itu sengaja membuka pintu kamar mereka agar suara piano itu jelas terdengar.


Di saat mereka masih bersedih karena kematian aboji, permainan piano Ed seolah menjadi penghiburan bagi mereka. Taeyung yang selama ini tak pernah akrab dengan Edward pun seakan mengesampingkan rasa itu saat ini. Ia dan Yura duduk di atas tempat tidur sambil mengselojorkan kaki mereka. Yura bersandar di dada suaminya dan tangan Taeyung berada di bahunya sambil sesekali menepuk bahu Yura secara pelan mengikuti ketukan irama piano.


Sementara Jesica, ia duduk di ruang makan. Termenung sambil sesekali mengusap air matanya. Ia merasa sangat tertekan, kematian Ryun Ong membuatnya merasa tak memiliki siapapun untuk mengadu.


***********


3 lagu dimainkan Edward malam ini. Lerina hampir saja tertidur karena begitu terlena mendengarkan permainan piano Edward.


Saat selesai Lerina segera melangkah ke arah pintu kamar, menutup pintu itu lalu segera naik ke atas tempat tidur.


Edward pun melakukan hal yang sama. Ia segera naik ke atas tempat tidur.


"Sayang, aku kan sudah memainkan pianoku seperti permintaanmu, jadi bolehkan malam ini aku mendapatkan hadiah?" tanya Edward sambil menarik tubuh Lerina yang membelakanginya agar menghadap ke arahnya.


"Hadiah? Kamu kan tidak sedang ulang tahun, Ed!" ujar Lerina heran.


"Bukankah kita sudah lama tidak....!" Edward tak melanjutkan kalimatnya melihat wajah Lerina yang merona. Ia langsung memeluk Lerina dan mencium dahi istrinya dengan lembut.


"Kalau kamu lelah, kita bisa menundahnya" kata Edward sangat lembut walaupun sesungguhnya hasratnya untuk menyentuh istrinya itu begitu besar.


"Aku mau, Ed" ujar Lerina sangat pelan sambil menyembunyikan wajahnya didada suaminya karena malu.


"Sungguh?" tanya Edward sambil menjauhkan wajah Lerina dari dadanya agar bisa ditatapnya.


Lerina mengangguk sambil tersenyum.


"Sayang...kau tahu, aku sudah begitu rindu ingin menyentuhmu." kata Edward lalu langsung menunduk dan menyatukan bibir mereka dengan ciuman yang hangat dan penuh hasrat yang begitu ingin dituntaskan. Lerina pun membalas ciuman Edward dengan hasrat yang sama. Malam ini, keduanya ingin larut dalam dekapan dan sentuhan yang memberi kehangatan dan kenikmatan.


***********


"Le, Nana tadi menelepon bahwa koper bajumu dan bajuku sudah ada di dalam mobil. Pak Cheng akan mengantar kita ke bandara jam 3 sore besok. Ijin penerbangan dengan pesawat pribadi keluarga Kim jam 4 sore baru boleh tinggal landas." kata Edward sambil memasukan pasport dan surat-surat penting lainnya di tas miliknya.


Rapat pemegang saham tadi siang sudah selesai.


Lerina yang baru saja selesai mandi hanya menyahut pendek.


"Ok!"


Edward menatap istrinya "Pasportmu jangan lupa ya?"


"Sudah dimasukan ke dalam tas tanganku juga!" kata Lerina sambil menunjuk tas nya yang diletakan di atas meja.


Edward menepuk jidatnya saat melihat sebuh map merah yang ada di samping tas Lerina.


"Mengapa aku bisa lupa ya? Itu adalah dokumen Jesica menyangkut warisan yang aboji berikan padanya. Dia harus menandatangani malam ini karena besok pagi akan segera di masukan ke pengadilan untuk pengesahannya. Aku serahkan ke Jesica dulu ya..." kata Edward lalu mengambil map merah itu.


Lerina mengangguk.


"Le, tak apa-apakan aku bawa ini ke Jesica? Soalnya Taeyung dan Yura sedang pergi ke desanya Yura. Mereka akan pulang besok" tanya Edward seakan ragu untuk pergi.


Lerina tersenyum. Ia mendekati Edward lalu mencium pipi suaminya "Aku tak cemburu, Ed. pergilah...!"


Edward segera keluar kamar setelah membalas ciuman istrinya itu.


1 jam berlalu....


Mengapa Ed lama sekali ya? Apakah ia berbincang dengan Jesica? Mengapa perasaanku jadi tak enak ya?


Lerina memutuskan untuk keluar kamar. Ia turun ke bawa sambil memperhatikan ruang tamu yang nampak sepi karena memang jam 11 malam tak ada lagi pelayan yang ada di mansion. Semuanya sudah di rumah belakang. Lampu ruang tamu bahkan sudah dimatikan.


Mata Lerina tertuju ke arah pintu kamar Ryun Ong yang kini menjadi kamarJesica. Pintu itu terbuka sedikit.


Jantung Lerina berdetak sangat cepat saat kakinya semakin mendekati kamar itu. Ada suara desahan yang membuat telinga Lerina menjadi sangat mendengarnya.


Akhirnya Lerina tiba di depan pintu kamar. Ia mendorong perlahan pintu itu yang memang terbuka sedikit. Sebuah pemandangan yang tak pernah Lerina pikirkan akan terjadi, kini nampak jelas. Edward dan Jesica sedang berciuman di atas ranjang dalam kondisi Jesica yang tinggal memakai baju dalam dan Edward yang tinggal mengenakan boxernya.


TERIMA KASIH SUDAH BACA PART INI

__ADS_1


CUKUP PANJANGKAN? SOALNYA BESOK LERINA NGGAK BISA UP KARENA HARUS MEMERIKSAKAN KESEHATANKU.


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA...


__ADS_2