LERINA

LERINA
Apakah ini Cinta?


__ADS_3

Pemandangan yang tidak diharapkan didapatkan Jesica saat ia dan Bi Yun membuka pintu ruang perawatan Ryun Ong.


Edward dan Lerina sedang tidur sambil berpelukan di atas sofa. Mereka terlihat begitu damai dan tenang.


Jesica tanpa sadar menjatuhkan kunci mobilnya di atas meja kaca dan membangunkan Lerina. Saat ia melihat Jesica, ia langsung bergerak dan itu juga membangunkan Edward.


"Maaf..!" kata Jesica. Ia langsung mendekati ranjang tempat Ryun Ong dibaringkan. Berpura-pura memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Ryung Ong padahal ia sedang berusaha menyembunyikan tangisnya.


Wajah Bi Yun langsung tersenyum "Selamat pagi tuan, selamat pagi nona!"


"Selamat pagi bi Yun" jawab Edward. Ia lalu memandang Lerina yang sudah duduk.


"Selamat pagi sayang!" sapa Edward lalu mendekat dan menghadiahkan satu ciuman di pipi gadis itu.


Lerina tersipu malu. Bukan karena sandiwara yang mereka jalani namun karena ia mengingat bagaimana mereka melalui malam dengan sebuah ciuman yang cukup panas.


Waktu Lerina membaringkan tubuhnya disamping Ed semalam, ia merasakan kalau Ed mencium kepalanya. Lerina awalnya sudah memejamkan matanya. Ia bahkan sudah hampir berada di alam mimpi saat ciuman Ed dirasakannya menyusuri lehernya. Secara spontan, Lerina memutar kepalanya menatap Edward. Pada saat itulah, Ed seperti sudah menungguhnya dan langsung menyambut bibir Lerina dalam ciuman yang sungguh memabukan. Ciuman yang panjang dan membuat Lerina hampir lupa diri lagi.


"Ed....ini di rumah sakit" kata Lerina ketika ciuman itu berakhir.


Edward tersenyum. Walaupun sangat terlihat dengan jelas bagaimana ia berusaha meredam hasratnya.


"Tidurlah" katanya sambil membelai kepala Lerina.


"Nona, mau minum kopi?" pertanyaan bi Yun membuyarkan lamunan Lerina akan kejadian semalam.


"Ya." angguk Lerina lalu ia segera melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Jika aku dan Ed terus seperti ini, suatu saat pasti aku akan menyerah kalah dalam pelukannya. Dan aku pasti akan menyerahkan kesucianku yang selama ini kujaga. Calvin yang sangat kucintai selama 4 tahun ini tak pernah kuijinkan untuk menyentuh diriku seintens ini. Kami hanya pernah sekali hampir melewati batas namun aku berhasil menahan diriku dari hasrat yang memabukan itu. Namun mengapa bersama Edward, aku seringkali hilang kendali? Mengapa sentuhan Ed sangat membuatku ingin mendambah lebih? Apakah karena hubungan kami diikat dengan yang namanya pernikahan? Ed adalah suamiku yang sah. Dia memang punya hak untuk menyentuh tubuhku.


Lerina menatap cermin yang ada di depannya. Ia dapat melihat bahwa wajahnya tak sekurus dulu lagi seperti ketika ia tinggal di tempat kost. Ia memang terluka karena Calvin, namun ia tak menyangkah bisa setegar ini menghadapi rasa kehilangan atas penghianatan Calvin.


Apakah tinggal bersama Ed membuat berat badanku naik? Bahagiakah aku bersama Ed? Apakah aku telah jatuh cinta padanya? Tidak ! Ini bukan cinta. Kehadiran Ed dalam hidupku memang terjadi disaat aku patah hati. Perhatian Ed dan semua bentuk kasih sayangnya padaku seperti obat bagi luka hatiku. Namun ini bukan cinta. Dan ini tak harus cinta. Karena aku tahu untuk apa hubungan ini terjalin.


"Sayang....!" terdengar panggilan Calvin sambil mengetuk pintu.


"Ya, sebentar..." Lerina membasuh mukanya, lalu mengeringkan dengan tisue, kemudian merapihkan rambutnya dengan tangannya, lalu ia keluar dari toilet.


Edward yang sudah berdiri di depan pintu menatapnya dengan cemas.


"Ada apa? Kamu menghabiskan waktu 30 menit didalam toilet. Ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya sambil menyentuh tangan Lerina dan menggenggamnya erat.


"Tidak, Ed. Aku baik-baik saja" kata Lerina sambil tersenyum.


"Minumlah kopimu, setelah itu kita akan pulang" kata Edward lalu melangkah masuk ke dalam toilet.


Bi Yun segera memberikan kopi Lerina. Gadis itu meneguknya sambil memperhatikan Jesica yang masih duduk di samping tempat tidur Ryun Ong.


Setelah Edward selesai dengan segala urusannya di toilet, ia pun segera keluar.


"Sudah selesai dengan kopinya?" tanya Edward sambil mendekati Lerina yang sedang duduk di sofa.


Lerina mengangguk sambil menunjukan gelasnya yang sudah kosong.

__ADS_1


"Kami pergi dulu ya?" pamit Edward dan langsung meraih tangan Lerina. "Ayo sayang...."


Lerina mengangguk. Ia pun melangkah bersama Edward.


Bergandengan tangan seperti ini sepertinya sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka berdua.


Beberapa perawat yang berjaga di lobby rumah sakit menunduk hormat sekaligus saling berbisik melihat Edward muncul dengan seorang gadis yang cantik.


Pak Cheng langsung membukakan pintu sebelum Edward dan Lerina sampai di dekat mobil.


Edward membiarkan Lerina masuk lebih dulu baru disusul olehnya.


Mobil itupun meninggalkan halaman rumah sakit.


Keduanya saling diam selama berada di dalam mobil. Pandangan Lerina mengarah ke luar mobil. Menatap hamparan salju yang mulai banyak menutupi apa saja yang ada di luar rumah.


Saat keduanya tiba di apartemen, Nana langsung menyambut mereka dengan sarapan yang sudah siap di atas meja.


"Kau akan pergi ke kantor hari ini?" tanya Edward saat mereka sarapan bersama.


Lerina hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanannya.


"Aku di rumah saja ya? Badanku rasanya sakit semua"


Lerina kembali mengangguk. Ia tahu badan Ed pasti sakit karena cara mereka tidur semalam. Walaupun sofa itu sangat empuk namun kurang nyaman untuk bisa ditiduri oleh 2 orang. Lerina sendiri merasakan kalau tubuhnya agak kaku.


Selesai sarapan dan ganti pakaian, Lerina turun kembali di lantai 1.


"Ed...!" panggil Lerina


"Ada apa sayang?" tanya Ed lalu menghentikan permainan pianonya..


Lerina tersenyum. Panggilan 'sayang' sepertinya sudah biasa diucapkan Edward padanya.


"Aku berangkat ke kantor dulu ya?"


Edward tersenyum lalu tangan kanannya terulur meminta Lerina untuk mendekatinya.


"Ada apa, Ed?" tanya Lerina sambil mendekat lalu menerima uluran tangan Edward.


Tanpa diduga, Edward menariknya sehingga Lerina langsung jatuh dipangkuan Edward.


"Ed...!" merasa tak nyaman Lerina ingin berdiri namun tangan Ed begitu cepat melingkar dipinggangnya dan membuat Lerina tak bisa berkutik.


Wajah Lerina langsung terasa panas karena dua orang pelayan yang ada di dekat mereka nampak tersenyum agak malu melihat adegan mesra itu.


"Jika pekerjaan tidak terlalu banyak, pulanglah cepat dan istirahat. Supaya kamu tidak sakit" kata Ed lalu mencium pipi Lerina.


"Ed, mereka melihat kita" kata Lerina sambil menunjuk ke arah 2 pelayan itu.


"Itu lebih baik" bisik Ed dengan suara sensualnya. "Ayo cium aku!" lanjut Ed masih dengan suara berbisik.


Lerina terpana "Ed...aku..."

__ADS_1


"Kalau kau tidak mencium aku maka aku tak akan membiarkanmu pergi bekerja." Kata edward sambil memandang Lerina dengan tatapan menggoda.


Lerina mencium pipi Edward dengan rasa malu. Namun Edward menggeleng.


"Di sini!" kata Edward sambil meletakan jari telunjuknya di bibirnya.


"Ed....!" Lerina berusaha menolak namun Ed sudah memejamkan matanya. Menungguh dengan sabar ciuman Lerina.


Perlahan Lerina mendekatkan wajahnya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Tangannya yang melingkar dipundak Edward pun sudah berkeringat dingin.


Lerina menunduk, mendekatkan bibirnya dengan bibir Edward.


Cup...


Satu kecupan diberikan. Lalu ia cepat-cepat turun dari pangkuan Edward "Aku pergi ya Ed" pamitnya dan langsung melangkah tanpa menoleh lagi.


Edward tersenyum menatap punggung gadis itu yang perlahan menghilang dibalik pintu.


Perlahan tangannya kembali memainkan pianonya. Wajahnya tersenyum. Lagu yang dimainkannya terdengar sangat indah.


Nana yang sedang membersihkan dapur pun nampak tersenyum.


"Tuan sedang bahagia" gumannya dengan mata yang berkaca-kaca.


*********


Para pegawai sudah pulang sejak 1 jam yang lalu. Namun Lerina enggan beranjak dari tempat duduknya. Ia merasa belum ingin pulang karena tidak tahu harus bersikap bagaimana dihadapan Edward yang memintanya untuk menciumnya. Lerina berpikir untuk pulang di atas jam 9 supaya sesampai di apartemen ia punya alasan untuk segera tidur.


Yura pun masih enggan pulang ke rumah. Dia memilih lembur menyelesaikan pekerjaannya dari pada harus pulang ke rumah dan bertemu dengan Taeyung. Apa yang terjadi semalam bukanlah sekedar tidur diranjang yang sama. Tangan Taeyung yang melingkar dipinggangnya membuat Yura susah tidur. Dan ketika pagi tadi ia bangun, ia justru yang sedang memeluk Taeyung dengan wajahnya menempel manis didada Taeyung.


Malam ini, yang berjaga di rumah sakit adalah Jesica dan bi Yun. Tadi siang Taeyung sudah ke rumah sakit dan kembali saat jam kantor sudah usai. Taeyung kembali ketika Nula sudah pulang.


Dan pria itu belum juga keluar dari ruangannya sejak ia masuk satu jam yang lalu.


"Selamat malam!"


Yura mengangkat wajahnya mendengar sapaan itu.


"Ed?" ia terkejut melihat Edward sudah berdiri di hadapannya.


"Mana istriku?" tanya Edward


"Lerina masih didalam"


Edward membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu. Lerina yang sedang membaca dokumen juga mengangkat wajahnya dengan kaget. Ia terkejut melihat Edward yang berdiri di depan pintu. Cowok itu melangkah perlahan mendekati meja Lerina.


"Kau sengaja belum pulang karena tidak ingin bertemu denganku, kan?" tuding Edward dengan tatapan tajam membuat Lerina merasa terpaku ditempat duduknya.


MAKASIH SUDAH BACA PART INI


JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE


KASIH BINTANG 5 YA JIKA SUKA

__ADS_1


__ADS_2