LERINA

LERINA
My Baby Boy


__ADS_3

Sudah 2 hari ini Lerina tidak ke kantor lagi. Semuanya sudah diserahkan pada Calvin, wakil direktur dan Suryani, sekretarisnya yang pintar itu.


Jika ada sesuatu yang harus meminta persetujuan Lerina, Suryani akan datang langsung ke rumah.


Sore ini Lerina baru saja bangun. Ia tidur hampir 3 jam. Mungkin karena semalam ia tidurnya hanya beberapa jam saja karena ia merasa pinggang dan perut bagian bawahnya sedikit sakit. Edward sebenarnya ingin membawa Lerina ke rumah sakit. Namun kata Bi Suni kalau itu adalah kontraksi palsu. Dan memang benar. Setelah Edward dengan setianya mengelus perut dan pinggang Lerina selama beberapa jam, barulah Lerina akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Lerina sungguh beruntung karena suaminya itu sama sekali tak mengeluh walaupun sangat jelas terlihat bahwa ia susah payah menahan rasa kantuknya.


"Sayang, kau sudah bangun? Bagaimana perutmu?" Tanya Edward yang baru masuk ke kamar.


"Perutku masih nyeri. Tapi sakitnya kadang hilang, kadang juga datang. Kau dari mana saja?"


"Aku buatkan sup khusus untuk wanita yang hamil. Sup ini sangat baik untuk daya tahan tubuh menjelang melahirkan. Aku masak sambil dituntun oleh Yura melalui videocall."


Lerina turun dari ranjang dan melangkah ke sofa. Bau harum dari sup itu membuat air liurnya hampir saja keluar.


Edward langsung mengambil mangkuk dan menuangkan sup ke dalamnya lalu menyerahkannya pada Lerina.


"Ini enak sekali...!" Kata Lerina setelah suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.


"Makanlah!" Kata Edward sambil tersenyum senang karena istrinya menyukai sup buatannya.


Lerina menikmati sup nya tanpa bersuara. Ia bahkan menghabiskan semua sup yang dibawa oleh Edward.


"Masih mau lagi? Di dapur masih ada."


Lerina menggeleng. "Aku sudah kenyang. Mau mandi dulu." Ujar Lerina. Ia menggulung rambutnya. Saat mandi tadi pagi, ia memang sudah keramas. Makanya sore ini ia hanya akan mandi badan saja.


"Aku mandikan?" Tanya Edward.


"Aku bisa sendiri, Ed." Tolak Lerina. Ia tahu, jika dia membiarkan Edward memandikannya maka akan sangat menyita waktu.


"Aku janji nggak akan macam-macam."


Lerina terkekeh. "Sayangnya kau selalu ingkar janji, sayang." Kata Lerina lalu segera masuk ke dalam kamar mandi, meninggakan suaminya yang sedikit cemberut karena tak diijinkan masuk bersamanya.


Namun belum 5 menit Lerina masuk ke dalam, ia sudah berteriak panik.


"Ed.....!"


Edward segera membuka pintu kamar mandi. "Ada apa, sayang?"


Lerina menunjukan celana dalamnya yang berdarah.


"Sayang, apa artinya?" Tanya Edward ikutan panik.


"Aku tak tahu, Ed. Perutku juga agak kram rasanya."


"Ya, sudah. Aku mandikan kamu, ya?" Edward segera masuk dan membantu Lerina mandi. Kali ini tak ada tangan jahilnya yang menggoda Lerina. Bahkan Edward nampak buru-buru menyabuni tubuh istrinya dan menyiramnya di bawah shower.


Saat Lerina sementara memakai bajunya, ia tiba-tiba meringis. "Ed, sakit lagi." Kata Lerina sambil memegang perutnya.


Edward kembali membantu istrinya memakai bajunya lalu ia menelepon dokter Dewi dan menceritakan keadaan istrinya.

__ADS_1


"Sayang, dokter Dewi mengatakan kalau bercak darah itu adalah tanda awal kau akan melahirkan. Jadi sebaiknya kita ke rumah sakit saja." Kata Edward.


"Tapi menurut tanggal yang dokter berikan masih satu minggu lagi, Ed."


"Sudahlah. Jangan banyak membantah. Kita ke rumah sakit saja." Kata Edward nampak tak sabar. Ia segera memanggil bi Suni dan suaminya untuk membantunya menurunkan koper dan barang-barang yang akan dibawa ke rumah sakit.


"Bi, ikut kita ke rumah sakit, ya? Kasihan Edward sendiri." Kata Lerina.


"Baik, non." Bi Suni berlari ke kamarnya untuk ganti pakaian. Setelah itu ia segera menyusul Lerina setelah memastikan semua pintu dan jendela rumah tertutup rapat.


Mereka tiba di rumah sakit dan langsung ditangani oleh dokter Dewi yang memang sudah menunggu mereka.


Lerina langsung dipakaikan pakaian khusus pasien yang berwarna hijau, kemudian di dorong ke ruangan bersalin.


"Ini sudah pembukaan ke-5. Sangat cepat. Mungkin karena nyonya Lerina rajin ikut senam untuk inu hamil." Kata dokter Dewi saat selesai memeriksa Lerina.


"Dok, aku boleh di sini kan saat istriku melahirkan?" Tanya Edward.


"Tentu bisa, tuan Ed."


Edward merasa senang. Ia memang ingin mendampingi Lerina saat melahirkan nanti.


4 jam berlalu....


Sakit diperut Lerina semakin bertambah. Ia bahkan sesekali menarik tangan Edward untuk menahan rasa saki yang mendera pinggang dan perutnya.


Edward dengan penuh kasih menyeka keringat di wajah istrinya, sesekali memeluknya dan memberikan kecupan manis di kepala Lerina. Para suster yang bertugas di sana pun nampak baper melihat si pianis tampan itu begitu sayang dan perhatian kepada istrinya.


Edward menunduk, lalu membelai perut istrinya. "Min Jun, sayang. Cepat keluar ya..., kasihan ibu sudah kesakitan. Nanti kalau sudah di luar, daddy akan belikan mainan yang sangat banyak."


"Ed, Min Jun belum bisa bermain. Setidaknya dia harus berusia 1 tahun dulu.." Kata Lerina diantara keluhan rasa sakitnya.


"Aku kan membujuknya supaya cepat keluar, sayang."


Dokter Dewi tak dapat menyembunyikan senyumnya. Ia kembali memeriksa keadaan Lerina.


"Sepertinya ini sudah masuk ke pembukaan 10. Suster, siapkan semuanya." Perintah dokter Dewi.


Edward yang juga sudah mengenakan pakaian khusus segera berdiri di samping Lerina. Sebuah kamera khusus sudah Edward letakkan tak jauh dari sana untuk merekam kelahiran bayinya. Tentu saja setelah dokter memberikannya ijin.


Posisi Lerina sudah sedikit duduk. Kakinya sudah di buka lebar-lebar. Rasa sakit dipinggang dan perutnya sudah tak tertahankan lagi. Ia sudah basah dengan keringat.


"Nyonya ingat cara mengejan seperti yang saya ajarkan di kelas senam ibu hamilkan?" Ujar dokter Dewi. Lerina mengangguk walaupun dengan wajah berpeluh karena sakit yang dirasakannya.


Edward menahan punggung Lerina yang agak terangkat. Dagu Lerina sudah dimasukan diantara dadanya. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Tiba-tiba saja wajah lembut ayah dan ibunya terbayang. Air mata Lerina jatuh.


Ayah...ibu...aku tahu dari atas sana kalian memperhatikan aku. Tolong aku, batin Lerina.


"Sekarang ya, nyonya, ikut aba-aba saya. satu, dua, tiga...dorong...! Sekali lagi nyonya, satu, dua tiga, dorong...!"


Lerina mencengkeram tangan Edward dengan sangat kuat. la mengejan dengan sangat kuat. Ada rasa sakit yang sangat luar biasa yang belum pernah dialaminya.

__ADS_1


Tiba-tiba.....


Suara tangisan bayi terdengar. Rasa sakit itu entah hilang kemana. Tangis Lerina langsung pecah.


"Bayi laki-laki yang sangat tampan dan montok. Selamat tuan dan nyonya Kim." Kata dokter Dewi lalu meletakan bayi itu ke atas dada Lerina.


"Ed....!" panggil Lerina. Pria tampan itu sedang berdiri mematung dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Matanya menatap bayi mungil yang ada di dada istrinya.


"Ed...!" Lerina kembali memanggilnya.


Edward akhirnya kembali dari rasa terkejutnya. Ia menunduk, mencium kepala Lerina dengan tangis yang terdengar.


"Le, terima kasih untuk kebahagiaan ini. Aku mencintaimu, sayang." Kata Edward. Ia tak peduli dengan tatapan mata dokter dan suster yang masih ada di sana. Edward terus menciumi kepala, pipi, bibir Lerina secara bergantian.


"Benar kata orang, pemain piano itu adalah orang yang romantis dan penyayang." ujar salah satu suster dan membuat dokter Dewi tersenyum sambil mengangguk.


**********


Sebuah foto tangan Edward yang memegang tangan putranya menjadi viral di dunia maya. Sekalipun foto itu hanya menunjukan tangan dari sang ayah dan sang anak, namun sudah membuat para fansnya menjadi bahagia.


Edward mengungah foto itu sambil menuliskan :


Selamat datang ke dunia ini our KIM MIN JUN (BRAGI KIM).


Aku sungguh tak menyangka kalau menjadi seorang


ayah akan sangat membahagiakan seperti ini.


Aku terharu, karena kau terlahir dari wanita luar


biasa. Wanita yang membuat aku mengerti bahwa


cinta itu harus diperjuangkan. Terima kasih Lerinaku


Kau dan Kim Min Jun membuat hidupku sempurna.


Foto itu diunggah 1 jam setelah kelahiran Min Jun. Yura dan Taeyung yang pertama kali memberikan komentar. Di susul oleh Calvin dan Jien. Lalu banyak dari penggemar Edward. Ratusan ribu komentar yang berisi ucapan selamat dan doa untuk Edward, Lerina dan Min Jun.


*********


Di pinggiran kota London, disebuah taman yang bernama Fairy Garden, nampak Arnold sedang tersenyum membaca unggahan sahabatnya Edward Kim. Akhirnya, Edward mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya. Lalu bagaimana dengan aku?


Arnold menatap sosok perempuan yang sedang tidur memunggunginya. Perempuan berambut karamel, bergelombang dengan panjang sebahu. Arnold menarik napas panjang. Selintas bayangan wajah polos, gadis bermata coklat dengan rambut lurusnya yang panjang hadir dipelupuk matanya.


Fairy, andai saja waktu itu aku tak memintamu...., dan andai saja kau tak menuruti permintaanku, mungkinkah kesempurnaan hidup itu akan kita miliki sekarang ini?


SAMPAI JUMPA DI EPISODE BERIKUTNYA


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK...


LIKE KOMEN DAN VOTE YA...

__ADS_1


__ADS_2