
Kamar 8002 itu nampak tenang dari luar. Namun didalamnya, ada pakaian yang sudah berserakan di atas lantai karena dibuang secara sembarangan dan tergesa-gesa.
Sementara di atas ranjang King Size itu, ada dua insan yang nampak hampir polos karena yang melekat di tubuh mereka hanyalah baju dalam saja.
Lerina memejamkan matanya, tubuhnya merasakan sensasi yang luar biasa saat sentuhan Ed begitu melumpuhkan semua akal sehatnya. Ia bahkan tanpa sadar mengeluarkan desahan manis yang membuat Ed pun semakin lancar menyentuh semua bagian sensitif ditubuh gadis itu.
Saat tangan Ed menyusup kebagian belakang tubuh Lerina, membuka pengait branya, Lerina bahkan tak menolaknya.
Mata Ed yang sudah dipenuhi kabut gairah, begitu terpesona menatap dua gundukan yang nampak sangat menggoda itu. Ia menunduk, siap untuk menikmatinya dan....
ting.....tong......
Edward mengangkat lagi wajahnya. Ada rasa kesal di wajahnya karena bel pintu itu tak mau berhenti. Ia sebenarnya ingin mengabaikannya. Namun Lerina membuka matanya.
"Bukalah, Ed...!"
Edward mengepalkan tangannya dengan kesal. Ia turun dari tempat tidur, mengenakan celana panjangnya masih dengan wajah kesal.
Lerina menarik selimut dan menutup tubuhnya. Kesadarannya perlahan datang. Ia bahkan tak menyangka tubuhnya sudah hampir tak tertutupi oleh kain apapun selain yang menutupi daerah intinya.
Edward mengintip dari balik pintu. Wajah kesalnya semakin bertambah melihat Keyri ada di sana.
"Ada apa?" tanya Edward setelah ia membuka pintunya sedikit. Tak mengijinkan Keyri masuk.
"Bos, mengapa aku tak bisa masuk?" tanya Keyri bingung. Ia menatap bosnya yang hanya bertelanjang dada dan rambut yang sedikit berantakan.
"Lerina sudah tidur. Jangan menganggunya." ketus Ed melihat Keyri menatapnya dengan wajah penuh selidik.
Keyri menatap jam tangannya yang baru menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Agak heran juga kalau tuannya ini sudah tidur.
"Katakan ada apa?" tanya Ed kurang sabar.
"Bos....tuan Besar masuk rumah sakit"
"Kau kan dapat mengirim pesan."
"Masalahnya ponsel bos nggak aktif."
"Ya sudah. Nanti besok aku akan ke sana"
"Tuan besar koma, bos"
Edward terpana. Sebenci apapun ia pada papanya, namun jauh dilubuk hatinya, ia sangat menyayangi papanya itu.
"Tunggulah di bawa, aku akan membangunkan Lerina ." Edward menutup kembali pintu kamar. Ia berbalik dan menemui Lerina yang sudah duduk di atas ranjang dan mengenakan bajunya kembali.
"Kita akan ke rumah sakit. Daddy sakit dan keadaannya koma" kata Edward.
Lerina yang masih dalam keadaan malu karena apa yang baru saja terjadi diantara mereka mengangguk.
__ADS_1
Edward membuka lemari pakaian dan mengenakan mantel sementara Lerina mengambil paper bag, dan menemukan ada celana panjang dan juga sebuah sweter. Ia segera ke kamar mandi untuk ganti baju. Karena ia tak mungkin akan ke rumah sakit dengan gaun itu.
Saat Lerina membuka gaunnya di depan kaca, nampaklah beberapa kissmark bertebaran di lehernya. Lerina menepuk jidatnya dengan kesal.
Lerina....mengapa kamu sampai lupa diri sih? Ingat, pernikahan kalian hanya bertahan selama 1 tahun.
Setelah ganti baju, Lerina segera keluar. Ed pun nampak sudah menungguhnya.
Lerina mengenakan sepatunya.
"Aku sudah minta Nana untuk membawakan kaos kaki dan sepatu boat untukmu. Kau bisa kedinginan mengenakan sepatu bertali itu." kata Edward.
Lerina hanya mengangguk. Ia mengikuti langkah Ed keluar dari kamar.
Saat keduanya sudah berada di dalam lift, Edward tiba-tiba melingkarkan tangannya dipinggang Lerina dan mencium kepalanya dengan lembut.
"Maafkan aku...!" ucapnya pelan.
Lerina diam. Ia tak tahu harus bicara apa. Ia tahu kalau yang Ed maksudkan adalah kejadian beberapa menit yang lalu. Namun Lerina tak mau menyalahkan Ed karena ia juga menerima semua sentuhan Edward tanpa penolakan.
Keyri sudah menungguh di depan lobby. Ia membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Pak Cheng sedang ke apartemen untuk menjemput Nana." kata Keyri saat mobil mulai dijalankannya.
Tak ada yang bicara selama perjalanan ke rumah sakit. Edward hanya bersandar pada bahu Lerina dan memejamkan matanya. Pikirannya berkecamuk. Memikirkan papanya tapi juga kejadian di kamar hotel itu.
Saat mereka tiba di rumah sakit, nampak Nana sudah menungguh di depan pintu masuk.
Edward menggengam tangannya dan segera menuju ke ruangan perawatan intensif di lantai 2.
Rumah sakit ini adalah milik keluarga Kim.
Saat mereka tiba di lantai dua, dikursi depan ruangan papanya dirawat, nampak Taeyung, Yura dan Jesica sedang menungguh di sana.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Edward setelah melihat dari balik kaca.
"Dokter mengatakan kalau serangan jantung kali ini adalah yang paling parah. Dokter sendiri tidak dapat memastikan kapan papa bisa sadar. Operasi juga belum bisa dilakukan. Menungguh tekanan darah papa stabil dulu" Yura yang menjawab. Jesica dan Taeyung nampak diam tak bicara.
Ed memandang wajah pucat papanya. Di relung hatinya yang paling dalam ada rasa sakit melihat keadaan papanya. Kebenciannya yang sangat dalam karena papanya tiba-tiba saja mengumumkan pernikahannya dengan Jesica, tak bisa membunuh rasa ketakutannya akan kehilangan papanya saat ini.
Lerina menatap wajah Ed yang nampak sedih. Ia tahu pria itu sangat terpukul. Di raihnya tangan Ed dan digenggamya dengan kedua tangannya. Ed menatap Lerina saat tangannya digenggam. Wajah cantik dengan mata besar itu tersenyum.
"Terima kasih, sayang" kata Edward merasakan kedamaian dalam tatapan mata hitam itu.
Lerina hanya mengangguk "Berdoalah, Ed. Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu. Bahkan yang mustahil bagi manusia"
Tak ada yang bersuara di sana. Ruang tunggu itu nampak sepi. Lerina dan Edward duduk dengan posisi kepala Lerina ada di bahu Ed. Keduanya tertidur sambil tangan mereka tetap bertautan.
Jesica duduk tak jauh dari mereka. Memegang gelas berisi kopi yang masih panas. Matanya sesekali melirik ke arah Edward dan Lerina sambil menekan rasa cemburu yang memenuhi rongga dadanya.
__ADS_1
Yura dan Taeyung yang duduk di depan mereka nampak juga saling menjauh. Yura memejamkan matanya sambil bersandar dikursi, Taeyung pun melakukan hal yang sama.
Saat pagi menjelang, dokter Lee Ron keluar dari ruangan perawatan dan membangunkan mereka semua dari tidurnya.
"Tuan masih dalam keadaan koma. Namun tekanan darahnya sudah stabil. Kalian bisa pulang dan beristirahat" kata dokter Lee Ron yang memang sudah menjadi dokter langganan keluarga ini selama hampir 20 tahun.
"Kalian pulanglah. Biar aku yang berjaga di sini !" kata Jesica.
"Lerina, Yura, jangan lupa ada rapat hari ini jam 10. Aku juga ada rapat di jam yang sama. Setelah rapat, aku akan kembali ke sini dan bergantian dengan Jesica" kata Taeyung.
"Aku ada konser jam 5 sore. Jadi aku di sini saja. Nanti siang aku akan kembali ke hotel untuk persiapan akhir." kata Edward. Jesica nampak senang melihat Edward akan tinggal.
Lerina mengangguk. Walaupun sebenarnya ada sesuatu yang seakan mencubit hatinya melihat Edward akan tinggal berdua bersama Jesica di sini.
"Sayang, jangan lupa minum vitamin. Jika ada waktu istirahat, maka tidurlah sebentar. Jaga kesehatan" kata Edward lalu memeluk Lerina dengan penuh kasih.
"Aku tidak akan macam-macam dengan Jesica" bisiknya ditelinga Lerina sebelum mencium dahi Lerina dan menghadiahkan sebuah kecupan didahinya.
Lerina tersenyum. Ia mengangguk dan segera berjalan bersama Yura. Di belakang mereka ada Taeyung yang melangkah dengan wajah yang sedih.
Pak Cheng mengantarkan Lerina ke apartemen. Sementara Taeyung dan Yura kembali ke mansion bersama.
Di rumah sakit.....
Kim Ryun Ong sudah dipindahkan ke ruangan lain walaupun alat-alat yang menempel ditubuhnya masih belum dilepas.
Ruang perawatan ini sangat luas. Ada sofa berbentu L yang ada di sudut ruangan, kamar mandi yang luas seperti di sebuah hotel, kulkas, sebuah meja makan dengan 2 kursi yang ada dan juga balkon.
Jesica yang baru kembali dari kantin rumah sakit membawa 2 kotak sarapan untuknya dan juga Edward. Di tangannya ada dua gelas kopi.
"Ed, ayo sarapan. Nanti kamu sakit!" kata Jesica sambik meletakan sarapan dan kopi itu di atas meja.
Edward yang baru saja selesai menelepon memandang Jesica.
"Aku tidak lapar. Aku minum saja kopinya" Edward meraih gelas kopi itu. Saat lidahnya bersentuhan dengan kopi itu ada sesuatu yang menyentak hatinya. Jesica belum lupa dengan takaran kopi yang pas untuknya.
Jesica melirik Edward yang berdiri di balkon sambil memegang gelas kopi ditangannya. Ingin rasanya ia memeluk Ed dari belakang. Bersandar dipungung kokoh itu.
"Ed....!" panggil Jesica.
Edward membalikan badannya "Ada apa?"
"Apakah kau sudah benar-benar melupakan aku?"
Edward menatap manik coklat itu. Dia dapat melihat, tatapan Jesica masih seperti dulu dipenuhi gelora cinta untuknya.
*******
MAKASIH SUDAH BACA PART INI
__ADS_1
LIKE, KOMENTARI DAN VOTE YA JIKA SUKA
😍😍😍😍😍