
Acara pemakaman Ryun Ong sudah selesai. Seperti permintaannya, ia dikuburkan di samping Cicilia dan Anastasya.
Keluarga Kim akan berada di villa ini sampai perayaan 7 hari kematian Kim Ryun Ong.
Pengacara keluarga Kim segera mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi tentang pernikahan Ryun Ong dan Jesica yang selama ini dianggap sebagai pernikahan paling kontroversi karena ia menikahi mantan pacar anaknya. Namun sekalipun Jesica tidak pernah dinikahi secara resmi namun Jesica diberikan warisan dari Ryun Ong.
Taeyung juga sudah mengatakan selama Ryun Wong belum tertangkap, maka Jesica boleh tetap tinggal di mansion.
Hari ini, langit nampak mendung. Edward masih terus duduk di depan makam papa,mama dan Anastasya adiknya.
"Ed.....kau tak masuk? Sebentar lagi hujan"
Edward menoleh. Jesica berdiri di belakangnya. Mata perempuan itu nampak sembab karena kebanyakan menangis.
"Aku masih ingin di sini. Kau masuklah dan istirahat. Kau sendiri terlihat lemah" kata Edward lalu kembali memandang makam 3 orang yang sangat dikasihinya.
"Aku mengasihi papamu seperti papaku sendiri. Dia sangat baik padaku. Terutama melindungi keluargaku. Kalau papamu tak menyelamatkan keluargaku mungkin diantara adik-adikku ada yang sudah dijual oleh pria jahat itu." Jesica ikut duduk di samping Edward. Air matanya kembali mengalir. Ia memang merasa kehilangan sosok seorang ayah seperti juga yang dialami oleh keluarga Kim yang lain.
Sementara itu didalam Villa, Yura baru saja membuatkan teh hangat untuk Jien yang terlihat pucat.
"Jien, lebih baik kau tidur di sini saja. Hujan sebentar lagi akan turun. Sepertinya akan ada badai. Terlalu berbahaya jika kau harus menyetir sendiri."kata Yura sambil meletakan teh itu di atas meja makan.
"Ya. Mungkin aku akan tidur di sini. Nanti kita lihat sampai sebentar"
"Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar untukmu" Yura meninggalkan Jien yang masih duduk di depan meja makan.
Tak lama kemudian, Lerina muncul dari pintu samping. Ia terkejut melihat Jien. Antara rasa bersalah dan juga sedih melihat Jien kini sendiri.
"Jien.....!" panggil Lerina berusaha menepis semua perasaan diantara mereka.
Jien tersenyum melihat Lerina. "Hai...!"
Lerina mendekat lalu ikut duduk di samping Jien. "Apa kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja!" kata Jien sambil mengangkat kedua tangannya.
"Jien....aku minta maaf padamu...!" kata Lerina sambil menundukan kepalanya. Sebenarnya sudah lama dia ingin berbicara dengan Jien tentang hal ini. Semenjak Calvin pergi, sudah hampir 2 minggu, Lerina selalu mencari cara untuk berbicara dengannya. Dan Lerina berpikir ini adalah saat yang tepat.
"Minta maaf untuk apa?"
"Calvin"
Jien tersenyum "Calvin memang salah, tapi dia melakukan semua itu karena rasa cintanya kepadamu. Aku tidak menyalahkan keadaannya saat aku tahu kalau Calvin sakit"
"Sakit?" tanya Lerina sangat terkejut. Terdengar suara guntur yang sangat besar diikuti oleh suara hujan yang turun dengan sangat keras.
Wajah Jien yang sudah pucat tiba-tiba saja semakin pucat.
Ya Tuhan, kenapa aku sangat bodoh dengan mengatakan sakitnya Calvin? Sekarang aku harus bagaimana?
"Jien, Calvin sakit apa?" tanya Lerina penasaran sambil menggoyangkan tangan Jien yang ada di atas meja.
"Calvin sakit......"
Ceklek...
Bunyi suara pintu depan yang dibuka secara cepat membuat Lerina dan Jien mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Edward dan Jesica masuk secara bersamaan sambil membersihkan air yang menempel di tubuh mereka.
Ada tatapan mata kurang suka yang terlanjur Lerina berikan pada mereka. Namun hanya beberapa detik, Lerina langsung memalingkan wajahnya dan kembali menatap Jien.
__ADS_1
Jien juga sedikit terkejut melihat Edward yang masuk bersama Jesica dengan tubuh yang sedikit basah karena air hujan.
Suasana kaku dan salah tingkah itu mencair saat Yura datang ke ruang tamu "Jien, kamarmu sudah siap. Kau tidurlah dulu. Aku akan menyiapkan makan malam" kata Yura lalu segera mengenakan celemek.
"Aku bantu ya" Lerina langsung berdiri. Ia pun mengenakan celemek juga.
"Baiklah. Aku akan istirahat!" Jien memang merasa tubuhnya lemah dan dia harus istirahat demi bayi yang ada di kandungannya.
"Nana, tolong antar Jien ke kamarnya!" kata Yura kepada Nana dan Bi Yun yang juga baru masuk ke dapur. Yura memang tadi menyuruh kedua pelayan itu untuk istirahat katena mereka berdua kelihatan sedih dan juga sangat lelah karena prosesi pemakaman selama 2 hari ini.
Edward mendekati Lerina "Sayang, aku mau mandi dulu ya.."
"Jangan mandi, Ed. Udaranya dingin!" kata Lerina.
"Kepalaku agak basah karena air hujan. kalau tidak mandi dan keramas nanti aku sakit kepala."
"Baiklah. Jangan lupa pakai air hangat!" kata Lerina lalu pura-pura sibuk membersihkan sayur padahal ia tak mau bertatap mata dengan Edward.
Jesica sudah lebih dahulu ke kamarnya. Perempuan itu pun tak bicara apa-apa.
Selesai membuat makan malam, mereka pun makan malam bersama. Tak ada seorang pun yang kelihatan menikmati makanannya karena kesedihan atas kepergian Kim Ryun Ong masih terasa.
Lerina masih tetap di dapur membantu Bi Yun dan Nana membereskan peralatan makan walaupun sebenarnya mereka sudah melarangnya.
Yura dan Taeyung sudah masuk kamar, begitu juga dengan Jien dan Jesica. Edward nampak masih duduk di ruang tamu, berbincang dengan Keyri yang baru saja datang.
"Nyonya, istirahatlah." kata bi Yun.
"Ini juga sudah selesai!" kata Lerina sambil mengeringkan tangannya.
"Dokter Charles tadi datang dan memberikan obat serta perban luka untuk tuan Ed. Sebenarnya tadi dia akan menungguh sampai prosesi pemakamannya selesai namun ia harus cepat pulang karena ada pasien yang sudah menungguh."
"Baiklah. Saya ke kamar dulu. Jangan lupa buatkan kopi untuk Ed dan Keyri" pesan Lerina sebelum melangkah ke kamarnya.
*********
"Tae....ayo, istirahatlah!" ajak Yura sambil menyentuh tangan suaminya.
Taeyung tak bergeming "Villa ini sangat berbeda tanpa ada aboji. Sepi dan kurang menyenangkan."kata nya dengan hati yang sedih.
"Iya. Aku juga merasakan hal yang sama. Tempat ini sepi tanpa adanya papa"
Taeyung melingkarkan tangannya di bahu Yura yang berdiri di sampingnya. Yura pun membalas pelukan dibahunya dengan melingkarkan tangannnya di pinggang suaminya.
"Jangan tinggalkan aku, Yura. Apapun yang terjadi jangan pernah pergi dariku. Kalau dulu aku begitu sombong mengakui akan keberadaan dirimu karena aboji selalu ada untukku. Namun sekarang aboji sudah pergi, aku baru tahu kalau cintamu itu adalah kekuatan untukku!" Taeyung melepaskan tangannya dari bahu Yura lalu menghadapkan tubuhnya pada Yura. Mereka berdiri begitu dekat. Dan tanpa diduga, Taeyung tiba-tiba berlutut di depan Yura. Memegang kedua tangan istrinya, menciumnnya secara bergantian dengan mata yang basah.
"Tae, apa yang kamu lakukan. Ayo berdiri!" ajak Yura.
"Maafkan aku, Yura...! Maafkan aku untuk semuanya...maafkan aku yang telah menghianatimu bersama Nula"
"Tae....!" Yura tak.dapat menahan dirinya. Ia ikut berlutut di hadapan suaminya. Memeluk Taeyung dengan seluruh cinta yang dia miliki untuk lelaki pertama dalam hidupnya itu.
"Aku mencintaimu, sayang. Jangan pernah kau ragukan itu. Aku sangat mencintaimu sejak pertama aku melihatmu di hari pertama kau datang ke desaku bersama papamu." kata Yura lalu menangkup wajah Taeyung dengan kedua tangannya.
Taeyung menatap istrinya dengan penuh rasa bahagia "Aku bersyukur pada Tuhan, karena aboji memaksaku menikah denganmu. Aku bersyukur karena aku tak bisa melawan aboji saat itu. Kau wanita terbaik untukku, sayang" Taeyung merangkul tubuh istrinya, memeluknya sangat erat lalu mencium pucuk kepala Yura berulang kali.
Yura sangat bahagia. Mereka memang sedang bersedih kehilangan aboji. Tapi disaat yang sama hubungannya dengan Taeyung menjadi lebih dekat. Yura percaya, aboji telah pergi dengan tenang karena kedua putranya berada bersama wanita yang mereka cintai.
********
Lerina menungguh Edward namun pria itu belum juga masuk ke kamar. Apakah dia dan Keyri belum juga selesai berbicara?
__ADS_1
Bosan menungguh, Lerina memutuskan untuk keluar kamar. Ruang tamu sudah sepi bahkan lampu sudah dimatikan. Lerina membuka pintu depan dan melihat dari kejauhan kalau Edward sedang duduk di dekat makam. Lerina pun melangkahkan kakinya ke sana.
"Ed...!"panggil Lerina.
Edward menoleh " Le...apa yang kamu lakukan di sini? udaranya dingin"
Lerina mendekat " Kamu sendirian di sini, hanya memakai jaket tanpa topi. Apakah kamu juga tak merasa dingin?"
Edward menarik napas panjang "Aku rindu, aboji. Aku menyesal dulu pernah bertengkar sangat lama dengannya. Pernah membencinya tanpa tahu bahwa semua yang dia lakukan adalah untuk melindungi aku"
"Ed, papa sudah tenang. Aku yakin dia menghembuskan napas terakhirnya dengan hati yang lega karena sudah menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan. Papa memang sudah pergi, namun dia akan selalu hidup dalam hati kita semua"
Edward mengangguk."Ayo kita masuk!"
Lerina menggandeng tangan Edward sampai mereka tiba di dalam kamar.
"Perban di tanganmu harus diganti, Ed. Tadi dokter Charles mengantar obat-obatnya ke sini. " kata Lerina lalu mulai membuka perban yang ada di tangan Edward.
"Lukanya sudah agak kering, Ed." kata Lerina.
"Iya. Sudah tidak terlalu sakit jika digerakan."
Lerina menyelesaikan tugasnya mengganti perban ditangan Edward. Saat ia akan melangkah, Edward menarik tangannya sehingga Lerina akhirnya ada dipangkuan Edward.
"Ed...aku mau mencuci tanganku!"
Tangan Edward menyentuh wajah Lerina "Le, yang kau lihat tadi sebelum makan malam, saat aku dan Jesica masuk bersama.."
"Aku tidak cemburu, Ed. Aku tahu kalian baru saja dari makam" kata Lerina menyela ucapan Edward. Ia lalu menunduk, menghadiahkan satu kecupan di bibir suaminya itu.
"Aku mau cuci tangan dulu, ya. Jangan lupa minum obatnya"
Edward mengangguk dan melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang istrinya.
Saat Lerina sudah keluar dari kamar mandi, keduanya pun tidur bersama sambil berpelukan.
**********
Jam 3 subuh, Lerina terbangun. Ia bermimpi tentang Calvin. Mimpi cowok itu melambaikan tangan padanya lalu melayang dan hilang.
Tangan Lerina meraih hp nya. Ia diam-diam menulis pesan untuk Calvin.
Hai Calvin, apakah kamu baik-baik saja di sana?
Mengapa Jien mengatakan kalau kamu sedang sakit?
1 jam kemudian masuk pesan balasan dari Calvin.
Maaf ini dengan dokter yang merawat Calvin. Saat ini pasien tidak sadarkan diri. Jadi saya yang menjawab hp nya. Anda benarkah kekasihnya Calvin? Soalnya nama anda di sini tertulis My Love.
Lerina terpana menatap pesan itu. Ia diam-diam turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar sambil membawa hp nya.
"Hallo...Saya Lerina. Memangnya Calvin sakit apa?"
"Saya dokter Bima. Kekasih anda sedang menderita kangker darah stadium 4. Ia baru saja menjalani kemoterapi namun karena kondisinya lemah sampai ia harus pingsan. Bolehkah anda datang ke sini atau setidaknya adakah keluarganya yang bisa saya hubungi?"
Lerina terpana. Kakinya terasa sangat gemetar mendengarnya. "Calvin sakit kangker darah?" Lerina terkejut. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahannya. Saat ia membalikan tubuhnya hendak ke kamar lagi, Jien sudah berdiri di belakangnya dengan wajah sedih.
"Jien??" Lerina terpana.
Jien menatap Lerina dengan wajah sedih "Calvin membutuhkanmu!" kata Jien dengan deraian air matanya.
__ADS_1
MAKASI SUDAH MEMBACA PART INI YA..
LIKE, KOMENT, VOTE DAN KASIH BINTANG 5 YA