LERINA

LERINA
Tak mau berpisah


__ADS_3

"Calvin menolak untuk dilaksanakan donor sumsum tulang belakang karena ia merasa bahwa kemungkinan untuk sembuh itu sudah tak ada lagi. Memang sejak kedatangan nona Lerina, saya melihat bahwa semangat hidup tuan Calvin kembali lagi. kebersamaan kalian aku rasa akan memperpanjang umurnya"kata dokter Bima.


"Apakah tidak ada cara pengobatan lain?" tanya Lerina sedih.


"Ada. Melalui sel punca darah tali pusat"


"Maksudnya"


"Jika istri Calvin hamil, maka sel punca darah dari anaknya dapat digunakan untuk pengobatannya nanti. Pengobatan ini kemungkinan untuk sembuh sangat besar"


Lerina mengangguk saat mendengarnya. Kini ia tahu bahwa menikah dengan Calvin adalah satu-satunya cara untuk menemukan obat bagi kesembuhan Calvin.


Percakapannya dengan dokter Bima kemarin pagi membuat keputusan Lerina semakin kuat untuk menikahi lelaki yang pernah menjadi tunangannya itu. Lerina ingin hamil anaknya Calvin.


Siang ini, selesai dari kantor, Lerina kembali ke rumah sakit. Ia masuk ke ruang perawatan Calvin. Di lihatnya kalau Calvin sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Tadi pagi ia baru saja melaksanakan kemoterapi


"Hai....!" sapa Lerina sambil menarik kursi untuk didekatkan disamping ranjang Calvin.


"Kamu tidak ke kantor?" tanya Calvin.


"Tadi aku ke kantor, tapi setelah makan siang ke sini lagi." kata Lerina sambil menepuk tangan Calvin yang ada dalam genggamannya.


"Lebih baik kamu pulang dan istirahat. Wajahmu kelihatan sangat lelah dan pucat."


Lerina menggeleng "Aku baik-baik saja. Hari ini aku tak pakai make up makanya aku kelihatan pucat"


"Jangan bohong. Kamu terlihat kurang sehat. Matamu saja terlihat cekung. Kamu agak kurusan, Na." kata Calvin. Tangannya terulur menyentuh wajah Lerina.


"Aku jadi malas makan kalau kalau kamu tidak ada. Jadi tak bisa tidur karena memikirkan kamu di rumah sakit."


"Sore ini aku sudah bisa pulang."


"Oh ya?" Lerina jadi senang.


"Aku akan kembali ke apartemenku dan kamu kembalilah ke rumahmu. Hari ini Edward datang kan? Kalian harus berbicara dan terbuka satu dengan yang lain. Kau harus mendengarkan penjelasannya baik-baik. Jangan emosi ya? Aku sangat berharap agar kalian berdua akan kembali bersama"


Lerina hanya diam saja.


"Na, kamu mendengarkan perkataanku, kan? Jangan sampai kau menyakiti dirimu sendiri dan menyakiti hati Ed."


"Kamu mau makan sesuatu?" tanya Lerina mengalihkan pembicaraan. Calvin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tahu Lerina sengaja tak mau membahas masalah kedatangan Edward.

__ADS_1


"Aku mau minum air putih saja!" kata Calvin dengan perasaan sedih.


********


Edward menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 8 malam. Seharusnya Lerina sudah ada di sini sejam yang lalu. Pengacaranya mengatakan kalau Lerina akan datang pada pukul 7.


"Keyri, coba hubungi pengacaranya lagi!" kata Edward sedikit gelisah. Ia takut kalau Lerina tak jadi datang.


Keyri pun segera menghubungi pengacara Lerina. Setelah berbicara sebentar, ia menatap Edward yang nampak sudah tak sabar.


"Nona Lerina sudah menuju ke tempat ini. Ia agak terlambat karena harus mengurus tuan Calvin yang baru pulang dari rumah sakit." kata Keyri.


Ada desiran rasa sakit yang menusuk ke hati Edward saat mendengar perkataan Keyri. Hati Edward seakan memberontak saat mendengar Lerina sedang bersama Calvin. Rasa cintanya yang besar terhadap Lerina membuat Edward tak rela jika istrinya itu dekat dengan pria manapun juga.


Namun, untuk saat ini, Edward harus belajar membuang semua rasanya itu. Edward hanya ingin menjelaskan apa yang terjadi dan berharap dapat memeluk istrinya lagi.


pukul 8.30, sebuah taxi berhenti di depan rumah. Nampak Lerina turun dari sana. Keyri yang melihatnya segera memberitahukannya pada Edward.


"Bos, nona Lerina sudah datang."


Mendengar kalau Lerina sudah datang, Edward segera berdiri dan bersiap menyambut wanitanya itu. Jantung Edward bahkan berdetak sangat cepat.


Lerina masuk ke ruang tamu. Ia mengenakan sebuah minidress berwarna coklat yang semakin menonjolkan kulit putihnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah.


Hati Edward begitu terguncang melihat wajah Lerina. Ingin rasanya ia memeluk tubuh kurus itu dan menenggelamkan kepalanya diantara rambut Lerina.


Edward sangat merindukan Lerina. Ia bahkan tak dapat menahan perasaannya yang begitu ingin menyentuh wajah cantik itu yang nampak sedikit pucat itu.


"Le, aku sangat merindukanmu!" Edward mendekat, meraih tubuh Lerina dalam pelukannya.


Lerina diam. Ia tak membalas pelukan Edward. Hampir saja tangisnya pecah karena ia juga begitu merindukan Edward. Namun saat ia mengingat Edward dan Jesica yang ada di kamar itu, Lerina dengan keras mendorong dada Edward, meminta pria itu menjauh.


"Ayo kita bicara!" kata Lerina dingin lalu segera melangkah menuju ke arah sofa dan duduk di sana dengan tatapan yang dingin.


Edward agak terkejut melihat perlakuan Lerina padanya. Namun ia berusaha sabar lalu mengikuti langkah Lerina dan duduk di dekat istrinya itu.


Saat Edward duduk, Lerina bergeser agak jauh membuat Edward menjadi semakin sedih.


"Ada apa, Le? Mengapa kau harus menjauh dariku?" tanya Edward sambil menatap Lerina dengan dada yang terasa sangat sakit.


"Jelaskan saja apa yang ingin kau jelaskan. Aku tak punya banyak waktu. Taxi yang membawaku tadi masih menunggu di depan. Aku tak bisa membiarkan Calvin sendirian. Kamu tahu kalau dia sakit" kata Lerina masih dengan suara datar dan tatapan mata yang dingin.

__ADS_1


"Le, malam itu....!" Edward menceritakan semuanya seperti juga yang ia ceritakan pada Taeyung dan Yura.


"Obat itu begitu kuat menguasai tubuhku sehingga aku lepas kontrol. Namun tak ada apapun yang terjadi setelah itu karena aku seakan tersadar saat kau membanting pintu kamar itu."Kata Edward mengahiri penjelasannya.


"Le, Jesica sudah menyadari kesalahannya. Ia sangat menyesal dan merasa malu bertemu denganmu.Dia akhirnya bisa mengerti kalau aku memang hanya mencintaimu." lanjut Ed melihat Lerina hanya diam saja.


Lerina berusaha menekan perasaannya yang begitu senang mendengar penjelasan Edward. Tujuannya hadir di tempat ini sudah jelas dan ia tak mau terpengaruh dengan semua perkataan Edward.


"Ed, aku sudah tak marah padamu. Apalagi saat mendengar penjelasanmu saat ini. Aku juga tak menaruh dendam dan kebencian pada Jesica. Aku tahu, rasa cintanya yang begitu besar padamu membuat dia sampai nekat melakukan semua itu. Namun, keputusanku untuk berpisah denganmu tetap akan ku lakukan. Karena aku tak mencintaimu. Aku masih sangat mencintai Calvin. Aku ingin menemaninya sampai akhir hidupnya" kata Lerina tegas namun diucapkan dengan intonasi yang pelan agar Edward mendengarnya secara jelas dan Lerina tak perlu mengulanginya lagi. Karena jika harus mengulang kembali kata-katanya, sesungguhnya Lerina tak akan bisa lagi mengucapkannya. Karena setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat Lerina sebenarnya sangat terluka. Ia bahkan harus berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.


"Tidak, Le. Kau mencintaiku. Aku yakin itu!" Kata Edward membantah semua yang baru saja dikatakan oleh Lerina. Ia tahu dengan benar bagaimana perasaan Lerina padanya.


Lerina menatap Edward "Kedekatanku denganmu selama ini hanya sebatas kontak fisik untuk membalaskan semua kesalahan Calvin padaku. Namun saat tahu kebenaran yang Calvin lakukan, aku tak bisa membohongi kata hatiku kalau aku mencintai Calvin"


Tangan Edward memegang pipi Lerina. Menahannya dengan kedua tangannya agar perempuan itu ia bisa dengan jelas melihat mata Lerina.


"Aku tahu kalau kau mencintaiku!" kata Edward tegas.


"Maaf, Ed. Aku sungguh mencintai Calvin" Lerina menepis tangan Edward yang ada di pipinya lalu ia segera berdiri dan membelakangi Edward sebelum suaminya itu melihat ada air matanya yang jatuh.


"Le, aku tak akan marah jika kau memang ingin mengurus Calvin. Tapi aku tak ingin bercerai denganmu. Aku mencintaimu!"


Lerina membalikan tubuhnya kembali sehingga ia bisa menatap Edward yang kini berdiri di hadapannya.


"Namun aku ingin menikah dengan Calvin. Aku ingin menjadi istrinya di saat terakhir dalam hidupnya. Dan itu berarti aku harus bercerai darimu!" kata Lerina dengan tegas dan tatapan mata yang begitu yakin dengan apa yang sudah diucapkannya.


"Le...!" tangan Edward meraih kedua tangan Lerina dan menggengamnya erat.


"Saat tubuh kita bersentuhan, saat kita menyatuh dalam hasrat yang sama dan saling memuaskan, saat kau memelukku dengan erat, apakah semua itu tak ada artinya untukmu?"


"Tubuhku memang sangat terpuaskan dengan sentuhanmu. Namun hatiku tidak. Karena aku masih saja memikirkan Calvin saat kau menciumku!"


Pengakuan Lerina membuat pegangan tangan Edward terlepas. Matanya menatap Lerina dengan sejuta rasa kecewa. Ia tak menyangkah kalau mulut manis Lerina akan mengucapkan kata-kata itu. Edward terluka. Rasa sakit di hatinya membuat ada sebutir air mata yang keluar dari manik birunya itu. Tangan Edward mengepal dengan sangat kuat. Pertahanannya runtuh juga.


"Le, kau sangat menyakiti aku!"


Lerina memalingkan wajahnya. Ia sebenarnya tak sanggup menyakiti hati Edward. Namun semuanya memang harus terjadi.


"Maafkan aku" kata Lerina pelan.


Edward menghapus air matanya dengan kasar. Di tatapnya Lerina dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. "Aku tak mampu melepaskanmu!"

__ADS_1


HAI...BAGAIMANA PART INI?


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA


__ADS_2