LERINA

LERINA
Makan Malam


__ADS_3

Tangan Edward yang melingkar dipinggang Lerina perlahan terlepas.


Lerina menarik napas lega lalu berbalik menatap Edward "Ed, jangan peluk seperti itu lagi"


"Kenapa?"


"Kau bisa membuatku jantungan"


"Kenapa jantungan?" tanya Edward sangat dekat dengan wajah Lerina.


"Aku....terkejut saja...." Lerina bingung harus jawab apa. Ia mundur 2 langkah.


"Aku latihan untuk sebentar malam. Karena kita membutuhkan adegan romantis yang sangat banyak dan harus terlihat seperti sungguhan" kata Edward sambil maju dua langkah dan membelai wajah Lerina.


"Ed...."Lerina menahan tangan Edward.


"Ini juga latihan" ujar Edward lalu mencium pipi Lerina.


"Ini juga latihan...." goda Edward dan langsung berlari keluar kamar sebelum tangan Lerina mencubitnya.


Lerina menatap Edward yang pergi sambil menggelengkan kepalanya.


Dia bilang latihan? Apakah dia tidak tahu kalau jantungku hampir saja meledak? Ah....Lerina....


Mengapa juga kamu harus bergetar menerima sikap manis Edward. Itu kan hanya la...ti...han....


Lerina kembali duduk di depan meja kerjanya. Ia berusaha untuk fokus pada apa yang dicarinya.


Namun wajah Calvin justru terbayang.


Dia ulang tahun yang ke-26 tahun hari ini. Rasanya baru kemarin Calvin merayakan ulang tahunnya yang ke-25 bersama Lerina.


Kenangan itu kembali terbayang......


"Selamat ulang tahun sayang. Maaf hari ini aku tidak bisa memberikan kamu hadiah." kata Lerina sambil memegang kue tart kecil ditangannya.


Calvin tersenyum "Aku tak perlu hadiah, Na. Sebab aku sudah punya hadiah terbesar dalam hidupku, yaitu kamu." kata Calvin lalu meniup lilin ulang tahun itu dan mengecup dahi Lerina dengan lembut.


Lerina meletakan kue tart itu di atas meja yang ada di depan mereka.


Calvin memegang kedua tangannya. "Tahun depan, saat usiaku genap 26 tahun, aku akan merayakannya denganmu lagi. Namun dengan status kita sebagai suami dan istri"


Air mata Lerina jatuh. "Aku mencintaimu, Calvin"


Calvin menghapus air mata Lerina lalu menempelkan dahi mereka berdua "Aku lebih mencintaimu lagi" ucapnya pelan lalu perlahan menyatuhkan bibir mereka dalam ciuman yang panjang.


Lerina tanpa sadar mengepal tangannya lalu memukul meja didepannya dengan kuat. Kenangan bersama Calvin selalu terasa sangat menyakitkan bila diingatnya kembali.


Mengapa Calvin? MengapĂ  kau harus menikah dengan Jien? Aku dapat melihat bagaimana cemburunya kamu melihat aku bersama Ed.


Apakah karena Jien anak orang kaya? Ataukah karena dia seorang fotomodel cantik dan terkenal? Aku tahu kalau kamu bukan orang seperti itu. Siapa yang telah merubah kepribadianmu?


"Lerina.....!"


Lerina menoleh ke arah pintu. Nampak Yura berdiri di sana sambil memegang sebuah paper bag.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Gaun untuk makan malam."


"Memangnya sekarang sudah jam berapa?"


"Jam 7 malam"


"Apa?" Lerina terkejut. Mengenang masa lalu ternyata membuat ia lupa waktu.


Yura melangkah mendekati meja kerja Lerina, meletakan paper bag itu di atas meja. "Suamimu sangat pengertian. Dia memberikan gaun ini untukmu"


Lerina mengeluarkan isinya "Waw....ini cantik sekali" kagum Lerina saat melihat gaun berlengan panjang berwarna coklat mudah itu.


"Kamu ikut juga kan?" Lerina menatap Yura.


"Ya. Jien mengundang aku dan Taeyung juga. Sebenarnya aku malas untuk pergi. Namun karena Ed membelikan aku gaun juga, jadi aku harus pergi."


Lerina tersenyum senang. "Baguslah!"


"Aku mau siap-siap dulu ya."Yura melangkah pergi. Namun ia ingat sesuatu lalu berbalik lagi.


"Tadi, Taeyung meminta aku untuk membuat salinan laporan. Aku menemukan ada beberapa laporan lama yang tidak sesuai dengan file arsip keuangan yang ada di perusahaan ini. Apakah ini hanya kesalahan pengetikan lagi ataukah ada yang sengaja mengalihkan dana ini secara rahasia?"


"Kau sudah mengatakannya pada Taeyung?"


"Belum."


"Baguslah. Kita akan menyelidiki ini secara diam-diam. Kita akan tahu siapa yang telah menggelapkan uang perusahaan tanpa diketahui oleh semua orang."


***********


Tepat jam 8 malam, kedua.pasangan itu sudah memasuki restaurant Perancis yang sangat terkenal di London ini.


Yura sedikit protes ke Lerina karena perempuan itu membiarkan ia satu mobil dengan Taeyung dan tidak mengijinkan dia satu mobil dengan mereka.


Lerina menggandeng tangan Edward dengan erat. Walaupun mereka masuk lewat pintu khusus namun tetap saja ia gugup dengan pandangan mata para pelayan yang memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya sebab ia bersama Edward Kim.


Ruangan yang dipilih Jien adalah juga ruang makan VVIP yang tertutup. Hampir semua keluarga Kim terkenal sebagai orang-orang yang lebih suka privasinya tidak diganggu orang lain.


Lerina yang datang dengan gaun coklat berlengan panjang, rambutnya yang disanggul membuatnya semakin kelihat dewasa dan cantik.


"Selamat ulang tahun, Calvin. Ini hadiah dari kami" kata Edward sambil menyerahkan sebuah bungkusan. Taeyung pun melakukan hal yang sama walau ia tak tahu apa isi hadiah itu karena semuanya disiapkan oleh Keyri.


Saat Lerina menjabatb tangan Calvin, ia merasak ada sesuatu yang diselipkan Calvin di sana. Jantung Lerina hampir saja copot karena ia tahu itu sebuah kertas. Dengan cepat ia membuka tasnya, memasukan kertas itu didalam dan duduk di samping Edward dengan manis.


Selama makan malam pun, Lerina, Yura dan Calvin lebih banyak diam karena ketiga keluarga Kim itu asyik dengan percakapan bisnis keluarga mereka. Calvin memang sesekali terlibat dalam percakapan itu namun itu ia lakukan dengan hati yang sangat gundah. Ia berharap Lerina mau membaca pesan yang dia tuliskan.


"Sayang, kau sudah merasa capeh?" tanya Edward sambil menggenggam tangan Lerina.


"Tidak, Ed. Aku baik-baik saja." kata Lerina lembut sambil mengusap tangan Edward yang menggengam tangannya yang satu.


"Lerina, percayalah bahwa aku masih menyayangimu" Calvin tiba-tiba bicara dalam bahasa Indonesia. Kecuali Lerina yang lain terlihat saling berpandangan meminta penjelasan atas ucapan Calvin.


"Sayang, kamu bicara apa?" tanya jien penasaran.

__ADS_1


"Calvin mengatakan kalau suamiku sangat romantis dan perhatian " kata Lerina berusaha terlihat tenang walaupun ia berusaha menenangkan hatinya. Tangannya yang masih ada digenggaman Edward terasa dingin.


"Tentu saja aku harus romantis dan perhatian. Sangat susah menaklukan hati Lerina. Butuh waktu yang lama untuk meyakinkan dia bahwa aku sangat mencintainya." Edward mencium tangan Lerina lalu membelai wajah cantik itu.


"Aku ingin membahagiakannya seumur hidupku" lanjutnya.


"Kau sengaja ingin membuat aku cemburukan?" tanya Calvin lagi dalam bahasa Indonesia.


Lerina tersenyum "Calvin bertanya tentang tunanganku yang dulu. Tenang saja, Calvin. Aku sudah melupakannya. Edward memberikan semua yang kuinginkan dalam hidup ini." Lerina menjawab pertanyaan Calvin dalam bahasa korea.


Edward mengangguk. "Calvin, kau jangam bertanya tentang perasaan kami masing-masing. Aku tak sabar justru ingin cepat pulang"


Jien dan yura tertawa mendengar perkataan Edward. Wajah Lerina langsung jadi merah. Ia mencubit pinggang Edward.


"Sayang....kenapa harus malu. Jujurlah kita bicara. Lagi pula kita semuakan sudah menikah. Istriku ini masih saja malu jika bicara mengenai hal itu. Pada hal kan kita sudah sering melakukannya"


"Ed...." Wajah Lerina bertambah merah. Ia sedikit mengkerucutkan bibirnya dengan mimik merajuk.


Ya Tuhan, Na. Wajahmu yang merajuk seperti membuat aku selalu tertawa, dan kau akan kembali tersenyum saat aku sudah mencium dan memelukmu.


Batin Calvin semakin tersiksa dengan semua sikap mesra Edward dan Lerina.


"Ed, aku sangat senang karena kamu akhirnya menemukan Lerina. Semoga kalian berdua cepat dianugerahkan momongan" kata Jien tulus.


"Kami pun berdoa yang sama untukmu, Jien...Calvin" ujar Edward.


Yura membuang muka mendengar percakapan mereka. Hatinya yang terluka karena ulah Taeyung memang tak akan semudah itu akan sembuh. Namun ia yakin kalau bercerai dari Taeyung dan pergi jauh darinya akan membuat luka itu sembuh dengan cepat.


Sementara Taeyung hanya memasang muka datar seperti biasanya. Percakapan itu sebenarnya membuat perasaannya sedikit terguncang. Namun ia buru-buru menepisnya karena baginya Nula adalah perempuan yang cocok untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak.


**********


Edward terbangun ditengah malam dan tak menemukan Lerina ada di sampingnya. Ia menyalahkan lampu dan melihat pintu balkon terbuka sedikit.


Ia segera turun dari tempat tidur dan menemukan Lerina sedang duduk di sana sambil memegang secarik kertas.


"Le, apa yang kau lakukan di sini? Udaranya dingin sekali" Edward langsung duduk disamping Lerina dan tanpa permisih langsung melingkarkan tangannya dibahu Lerina dan menarik gadis itu untuk bersandar di dadanya.


Tangis Lerina langsung pecah saat kepalanya bersandar didada Edward.


"Apa isi surat yang diselipkan Calvin ditanganmu tadi?" tanya Edward.


"Kau melihatnya?"


"Ya"


"Dia ingin mengajakku bertemu. Dia bilang harus menjelaskan apa yang terjadi termasuk alasannya menikahi Jien. Kalau aku tak mau bertemu dengannya maka dia akan mencariku" kata Lerina diantara isak tangisnya.


"Kalau begitu pergilah!"


"Tidak Ed"


"Mengapa?"


"Aku ingin melupakan Calvin dan aku tak mau melukai Jien"

__ADS_1


Edward semakin menggeratkan pelukannya. Ia mencium kepala Lerina dengan lembut "Tetaplah bersamaku jika kau ingin melupakan Calvin" katanya penuh kasih dan menghadirkan kehangatan di hati Lerina.


__ADS_2