LERINA

LERINA
Usaha Calvin


__ADS_3

Lerina tertidur dalam pelukan Edward. Hatinya yang kembali perih setiap kali bertemu dengan Calvin membuatnya selalu menangis.


Cinta yang tumbuh subur selama 4 tahun kebersamaan memang takan mudah dihilangkan begitu saja. Karena Calvin pernah menjadi orang paling utama dalam hidupnya ketika papa dan mamanya meninggal.


Kehilangan cinta Calvin adalah sesuatu yang tak pernah dipikirkan oleh Lerina dalam hidupnya. Makanya ia bukan hanya hancur tapi juga kehilangan pegangan untuk hidup ketika melihat dengan matanya sendiri Calvin menikah dengan orang lain.


Edward bisa dikatakan sebagai penyelamat dalam hidupnya. Dengan sengaja pria itu masuk dalam kehidupannya, membantunya untuk kembali ke kenyataan pahit kehilangan Calvin, menawarkan bantuan bahkan mengembalikan rumah kenangannya sekalipun ia harus terikat dalam pernikahan kontrak untuk kepentingan Edward.


Lerina sadar semua yang dilakukannya dengan Edward hanya sebatas sandiwara. Namun malam ini ia ingin menikmati sandiwara itu dengan baik. Karena dalam kepura-puraan ini, Lerina mendapatkan ketenangan dalam pelukan Edward. Hati Lerina yang terluka karena penghianatan Calvin seolah mendapat obat mujarab dalam dekapan Edward.


Saat ini Lerina hanya ingin tidur dalam dekapan itu. Toh yang dia lakukan bukan sesuatu yang salah. Yang memeluk dan menenangkan hatinya saat ini adalah suaminya. Yang sah dimata Tuhan dan hukum yang diakui oleh negara.


Edward mengangkat tubuh Lerina untuk masuk ke dalam kamar karena udara yang semakin dingin. Ia meletakan tubuh Lerina secara perlahan di atas tempat tidur dan meraih selimut untuk menutup tubuh Lerina. Saat Edward akan beranjak untuk pergi, tangan Lerina memeluk lengan Ed dengan kuat.


"Jangan pergi...! Biarkan aku menikmati sandiwara ini sampai aku tertidur" pinta Lerina.


Edward tersenyum. Ia membaringkan tubuhnya, membiarkan lengannya menjadi bantal bagi Lerina sementara tangannya yang satu memeluk pinggang gados itu sambil sesekali mengusap punggung Lerina sampai akhirnya keduanya tertidur dalam dekapan hangat itu.


********


Paginya, Lerina bangun tanpa menemukan Edward ada di sampingnya. Ia tahu Edward pasti sedang lari pagi atau berada di ruang gym nya.


Lerina membersihkan diri dan segera turun ke bawa.


"Selamat pagi, Nana. Kemana Ed?" tanya Lerina sambil mengikat rambutnya dan mengenakan celemek.


"Tuan sedang lari pagi"


Lerina hanya mengangguk lalu segera membantu Nana menyiapkan sarapan.


Ketika sarapan hampir selesai, Edward sudah kembali.


Lerina merasa malu membayangkan semalam ia meminta Edward untuk memeluknya.


"Selamat pagi, sayang..." sapa Edward manis sambil memberikan ciuman manis di pipi Lerina.


Nana yang melihat itu langsung tersenyum dan meninggalkan dapur.


"Ed....kau membuatku malu di depan Nana" protes Lerina dengan wajah merahnya.


"Seperti katamu semalam, kita harus menikmati sandiwara ini dengan baik. Aku suka melihatmu tersipu malu seperti itu" kata Edward sambil mengedipkan matanya.


Tanpa sadar Lerina mencubit pinggang Edward.


"Aku juga menikmati cubitanmu ini..." bisik Edward membuat Lerina semakin tersipu.


"Duduklah Ed dan nikmati sarapanmu!" Lerina pura-pura marah tapi justru membuat Edward senang.


Selesai sarapan Edward segera ke kamar untuk mandi. Lerina juga setelah membersihkan meja makan segera ke kamar untuk bersiap ke kantor.


"Ed, kamu mau ke kantor hari ini?" tanya Lerina selesai ganti bajubdan berdandan ringan.


"Mungkin nanti siang. Aku mau ke studio hari ini." jawab Edward.


Lerina meraih tasnya "Kalau begitu ayo kita berangkat. Aku boleh ikut kan?"


"Tentu saja. Yuk!" Edward langsung meraih tangan Lerina, menggenggamnya erat dan melangkah.


Lerina tersenyum dan langsung mengikuti langkah Edward.

__ADS_1


Kali ini pak Cheng yang membawa mobil. Edwars duduk dibelakang dengan Lerina sambil terus menggenggam tangan Lerina.


Begitu tiba di depan lobby kantor, Pak cheng langsung turun dan membukakan pintu bagi Lerina.


"Ed, kalau urusannya sudah selesai, cepat datang ya? Aku takut Calvin akan datang" kata Lerina.


"Ok." ujar Edward dan secara tiba-tiba ia mencium dahi Lerina membuat wajah gadis itu kembali bersemu merah.


Ia segera turun, melambaikan tangannya pada Edward lalu segera masuk ke dalam kantor.


Ia masuk ke dalam lift lalu segera menuju ke lantai 8 tempat ruangannya berada.


"Selamat pagi!" sapanya pada Yura yang sudah sampai lebih dulu.


"Selamat pagi. Kau cantik sekali pagi ini"


"Oh ya?" Lerina pura-pura terkejut.


Keduanya tertawa bersama membuat Nula yang ada tak jauh dari mereka nampak mendengus kesal.


"Aku masuk dulu ya...." Lerina membuka pintu ruangannya. Ia segera meletakan tasnya di atas meja dan menyalahkan laptopnya.


Tak lama kemudian Yura masuk dan membawa sebuah file.


"Ini laporan keuangan yang ku maksud. Cobalah kamu periksa dan bandingkan dengan yang ada di laporan resmi perusahaan" ucap Yura sambil meletakan file itu ditangan Lerina.


"Aku akan membacanya sekarang juga" Lerina menerima laporan itu dengan senang hati.


Selama satu jam lebih Lerina larut dalam mempelajari laporan keuangan itu.


Telepon yang ada di mejanya berbunyi "Hallo"


Deg! jantung Lerina seolah berhenti berdetak.


Dia ingin menolaknya. Namun akhirnya ia memutuskan untuk menerima panggilan itu.


"Baiklah. Aku akan menerimanya"


Setelah bunyi Bip....terdengarlah suara Calvin.


"Sayang....terima kasih sudah menerima teleponku"


"Jangan panggil aku sayang. Kita masing-masing sudah menikah. Suamiku dan istrimu adalah saudara sepupu. Tidak baik jika dekat sebagai sesama mantan" ketus Lerina. Ia memang sengaja


"Sayang, aku bukan mantanmu. Aku adalah lelaki yang masih mencintaimu. Aku menikah karena terpaksa. Aku...."


"Aku tak mau mendengar alasan apapun, Calvin. Aku bahagia dengan suamiku dan aku tak ingin kau menganggu kehidupanku lagi. Hubungan kita sudah berakhir. Hubungan kita sudah tamat. Aku tak mau berhubungan denganmu lagi. Bye...." Lerina membanting gagang telepon dengan kesal.


Apapun alasanmu menikah dengan Jien, kau sudah menghianatiku. Bagaimana jika pernikahan ini taknpernah ku ketahui? Pasti sekarang aku seperti gadis bodoh yang dengan setia menungguhmu kembali dari Korea. Aku benci kamu Calvin.


Air mata Lerina kembali berlinang. Tiba-tiba ia ingat Edward. Ia ingin menangis di dada Ed.


Pintu terbuka. Yura masuk sambil menatap Lerina dengan bingung.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak? Mengapa kau menangis?"


Lerina mengambil tissue, menghapus air matanya. Ia menarik napas panjang. Ia tak mungkin menceritakan kisahnya bersama Calvin. Itu sama saja membuka rahasia pernikahannya dengan Edward.


"Aku hanya rindu pada orang tuaku. Mereka sudah meninggal setahun yang lalu. Rasa rindu terkadang membuat kita menangis, kan?"

__ADS_1


Yura tersenyum "Aku juga sudah kehilangan orang tuaku. Mamaku bahkan meninggal disaat kami masih sangat kecil. Aku mengerti dengan perasaanmu. Kadang aku juga menangis saat merindukan mereka"


Lerina mengangguk "Sekarang kita fokus saja untuk memecahkan misteri keuangan ini"


"Ya. Aku mencurigai, di departemennya Taeyung ada penghianat yang terselubung. Namun kita harus mencari tahu siapa orang itu supaya dapat menyeretnya dengan bukti yang kuat" kata Yura.


"Ya. Namun kita harus bisa masuk ke pusat pengolahan data. Untuk bisa mendapat akses di sana, kita harus memakai komputer yang ada di meja kerja Nula atau Taeyung"


Yura diam sesaat. "Sangat sulit. Kita hanya bisa melakukannya saat mereka sudah pulang. Namun CCTV nya harus kita matikan juga."


"Aku akan tanya Ed"


Yura pun segera meninggalkan ruangan Lerina dan kembali ke mejanya. Saat ia dan Nula saling melempar pandang, Yura dapat merasakan kalau perempuan itu menatapnya dengan tajam. Seolah ingin melempar Yura pergi dari sana.


"Hai....!" Hung Ben muncul dengan wajah gantengnya.


"Ada apa tuan Hung Ben?"


"Apakah malam ini kau ada waktu untuk keluar bersamaku?"


"Maaf. Aku ada lembur. Mungkin lain waktu saja"


Wajah Hung Ben langsung menjadi sedih "Cantik, aku begitu ingin keluar bersamamu. Namun kau selalu tak ada waktu untukku"


"Pekerjaanku masih banyak"


"Bagaimana kalau makan siang bersama?"


"Baiklah." Yura akhirnya mengangguk. Ia tak tega melihat wajah Hung Ben sedih.


"Yes!" Hung Ben nampak sangat senang..


Taeyung yang sejak tadi melihat semua itu merasa jengkel.


Mengapa Hung Ben dan Grandy selalu mengejar Yura?


Tanpa sadar Taeyung mengepal tangannya. Nula yang memperhatikan itu menjadi curiga.


Apakah Taeyung cemburu dengan Yura? Ini tidak boleh terjadi.


Jam makan siang pun datang. Yura segera pamit pada Lerina untuk makan siang bersama Hung Ben.


Lerina menghubungi hp Edward namun cowok itu tak menjawab panggilannya. Ia pun segera memutuskan makan siang sendiri.


Saat ia membuka pintu, nampak Nula tak ada di sana. Ia pasti sedang makan siang bersama Taeyung. Lerina pun segera menuju ke lift.


Saat pintu lift terbuka, langkah Lerina terhenti saat melihat siapa yang ada di dalam lift.


"Calvin?" guman Lerina dengan wajah pucat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Kakinya terasa berat untuk melangkah.


Calvin keluar dari lift, dan langsung memeluk Lerina dengan erat.


"Aku akan mendapatkanmu kembali" bisiknya lalu ia menunduk dan langsung menyatuhkan bibirnya dengan bibir Lerina.


TERIMA KASIH SUDAH BACA


SEMOGA SUKA YA...


JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE YA...

__ADS_1


__ADS_2