
Edward terpana melihat apa yang dilakukan oleh Jesica. Dengan gerak cepat ia mengambil pistol itu, mendorong tubuh Jesica dan segera mengembalikan pistol pada mode aman.
"Kamu sudah gila ya?" teriak Edward dengan kesal.
"Kembalikan pistol itu padaku. Aku mau bunuh diri. Untuk apa aku hidup kalau ternyata aku tak bisa memilikimu!" Seru Jesica kelihatan frustasi.
"Mengertilah Jesica. Ini sesuatu yang tak mungkin. Aku mencintai Lerina" kata Edward berusaha meredam amarahnya. Ada rasa kasihan melihat Jesica yang terlihat tak berdaya dan nampak sangat putus asa.
Jesica berdiri lalu memeluk Edward dengan sangat erat "Aku yakin, Ed. Jika kita bersama, perasaanmu yang dulu akan hadir kembali. Aku sangat menyayangimu, Ed."
"Lepaskan aku, Jes. Kamu tak boleh seperti ini."Edward berusaha melepaskan pelukan Jesica. Lalu ia memegang tangan Jesica, digenggamnya dengan erat.
"Jes, kisah diantara kita sudah berakhir. Aku sendiri tak bisa melawan kata hatiku. Aku tidak bisa mencintaimu lagi walaupun aku memaksanya. Kau sudah melakukan pengorbanan yang besar demi orang tuamu dan adik-adikmu. Aku yakinTuhan akan memberikan seorang pria yang terbaik untukmu."
Tangis Jesica semakin dalam. Hatinya begitu sakit karena kehilangan Edward. Dan memang ia tak melihat lagi ada tatapan cinta yang pernah Edward berikan padanya.
"Usiamu masih muda, Jes. Masa depanmu masih panjang. Kalau kau mati konyol dengan bunuh diri seperti ini, maka semua pengorbanan yang kau lakukan akan sia-sia. Aku tahu kalau kau sangat menyayangi orang tua dan adik-adikmu. Warisan yang papaku berikan padamu cukup banyak untuk kau memulai usaha baru. Aku yakin kau bisa" kata Edward lalu melepaskan pegangan tangannya. Dengan lembut ia menghapus air mata Jesica. Wajah cantik perempuan itu begitu menawan. Tak ada lagi getaran yang Edward rasakan setiap kali melihat wajah Jesica. Edward sadar, Lerina sudah mencuri seluruh rasa cintanya.
"Ed, bolehkah aku memelukmu?" tanya Jesica.
Edward mengangguk. Ia langsung merengku tubuh Jesica membuat tangis perempuan itu semakin dalam. Ia tidak tahu apakah akan sanggup melepas semua rasa cintanya pada Edward. Jesica kini sadar, kerinduannya untuk bisa berada dalam pelukan Edward adalah sesuatu yang tak mungkin lagi.
Nana yang melihat adegan itu dari jauh pun tak dapat menyembunyikan air matanya. Ia mengenal bagaimana pasangan itu dulu sangat bahagia. Namun takdir telah mengubah seluruh jalan hidup mereka. Edward yang patah hati berhasil menemukan jalan kebahagiaan bersama Lerina. Walaupun sekarang ini Lerina sedang pergi, Nana yakin perempuan bermata bulat itu pasti akan kembali pada tuannya.
***********
Para pegawai sudah banyak yang pulang. Namun Lerina masih ada di ruangannya. Ia begitu giat mempelajari kembali bagaimana pengelolaan perusahaan ini sehingga akhirnya bisa memimpin perusahaan ini dengn baik.
Para pegawai yang lain banyak membantunya karena mereka begitu menyayangi papa Lerina. Mereka sangat senang saat tahu kalau perusahaan ini kembali dikelola oleh Lerina.
Paman dan bibinya kemarin datang menemuinya. Sebenarnya Lerina ingin menghukum mereka karena telah menyebabkan Lerina kehilangan orang tuanya. Namun Lerina juga tahu, sekeras apapun ia berusaha menghukum mereka, itu tak akan pernah mengembalikan papa dan mamanya. Namun Lerina sudah memberi penegasan bahwa bahwa Lerina tak ingin berhubungan dengan mereka lagi.
Tok...tok...tok...
Lerina mengangkat wajahnya dan menatap pintu ruangannya " Masuk!"
Pintu terbuka dan sekretarisnya, Ibu Suryani tersenyum ke arahnya "Selamat malam, nona!"
__ADS_1
"Bu Suryani belum pulang? Pulang saja, bu. Tidak usah menungguh aku"
Suryani adalah perempuan berusia 41 tahun. Dia adalah sekretaris papanya Lerina yang kemudian dipecat ketika perusahaan ini berpindah tangan. Lerina mengajak ibu 2 anak itu untuk kembali bekerja dengannya karena ia tahu bahwa Suryani sangat pintar dan sudah mengenal perusahaan ini dengan baik.
"Saya sudah mau pulang, tapi di luar ada tamu,non"
"Tamu? Siapa yang bertamu di saat jam kantor sudah berakhir?" tanya Lerina sedikit bingung.
"Nyonya Arista Leolinsky"
"Mamanya Calvin?"
Suryani mengangguk.
Ada apa mamanya Calvin hendak menemuiku? Apakah dia marah karena aku tinggal di apartemennya Calvin?
"Apakah saya sudah bisa mempersilahkannya untuk masuk?" tanya Suryani melihat Lerina hanya diam saja.
"Ya. Boleh!" jawab Lerina. Saat melihat Arista masuk, ada sesuatu yang menusuk hati Lerina mengingat bagaimana perempuan itu dulu menghina dan memintanya untuk menjauhi Calvin.
"Selamat malam, nak!" sapa Arista. Tak ada lagi wajah penuh keangkuhan dan kesombongan di wajah wanita yang sudah berusia hampir 60 tahun itu. Sekalipun ia terlihat cantik dan elegan namun wajahnya tak bisa menyembunyikan kesedihan.
"Selamat malam tante. Ayo silahkan duduk!" ajak Lerina lalu menunjukan sofa yang ada di ruangan itu. Ia sendiri keluar dari meja kerjanya dan melangkah ke arah sofa. Namun, tanpa pernah diduga, Arista tiba-tiba menahan tangan Lerina dan dengan air mata yang berlinang di pipinya ia pun berlutut di depan Lerina.
"Maafkan aku...!" katanya lalu memeluk kaki Lerina.
"Tante...ada apa...tante jangan seperti ini!" Lerina secara spontan langsung memeluk pundak Arista dan menariknya untuk berdiri namun Arista semakin erat memeluk kaki Lerina.
"Tante tahu kalau tante sangat berdosa padamu saat memintamu meninggalkan Calvin waktu itu. Andai saja tante tak egois masalah harta dan kedudukan sosial, kalian berdua pasti sudah berbahagia saat ini."
"Aku sudah memaafkan tante. Ayolah bangun tante. Kita duduk di sofa sambil bercerita."
Arista berdiri, lalu melangkah bersama Lerina, duduk di sofa panjang.
"Ada apa tante datang ke tempat ini?" tanya Lerina. Entah mengapa ia merasa iba dan melupakan semua hal yang pernah dilakukan Arista padanya saat melihat perempuan itu merendahkan diri dan menangis sedih.
"Kau tahu kalau Calvin sakit kan? Umurnya mungkin takan bertahan lama. Karena itu, tante mohon kepadamu, menikalah dengan Calvin. Siapa tahu dengan menikah denganmu, Calvin akan bertahan hidup sambil kita akan mencari pengobatan yang tepat baginya."
__ADS_1
Lerina tertunduk. Ia tahu ini adalah permintaan seorang ibu yang tak tahan melihat anaknya dalam penderitaan.
"Tante, aku belum resmi bercerai!"
"Tante tahu. Namun kau sudah mengajukan perceraian pada suami kan?" Arista memegang tangan Lerina "Lerina, tante sudah putus asa melihat keadaan Calvin. Kata dokter, kemoterapi yang dijalaninya memang sangat membantunya untuk bertahan. Namun itu tak bisa menjamin. Calvin sewaktu-waktu dapat meninggal. Karena itu tante mohon....sangat bermohon padamu, bahagiakanlah dia disisa akhir hidupnya"
Lerina tak dapat menahan air matanya melihat wajah tua yang sangat putus asa itu. Calvin adalah anak tertua di keluarganya. Ia punya 2 orang anak perempuan setelah Calvin. Sudah tentu Calvin adalah kesayangan dan kebaganggan di tengah keluarga karena menjadi satu-satunya anak lelaki.
"Aku janji, tante. Akan membuat Calvin bahagia" kata Lerina akhirnya.
Arista langsung memeluk Lerina dengan sangat erat. "Terima kasih anakku. Tuhan memberkatimu dengan aegala kebaikanNya karena engkau mau mendengarkan suara hati ibu yang menderita ini."
Lerina hanya menepuk pelan pundak Arista dengan hati yang sedih. Ia tak tahu apakah keputusannya ini sudah tepat atau tidak. Namun ia memang ingin membalas semua kebaikan yang Calvin lakukan padanya.
***********
Edward begitu bersemangat pagi ini. Karena jam 10 nanti ia akan pergi ke Jakarta. Edward memutuskan untuk naik pesawat komersial saja supaya kedatangannya ke Jakarta tidak terlalu mencolok dan akhirnya membuat pemburu berita akan mencari tahu mengenai kedatangannya ke sana.
Nana yang melihatnya tersenyum melihat Edward begitu lahap menikmati sarapannya.
"Tuan, aku doakan semuanya berjalan dengan baik. Yakinkan nona Lerina untuk kembali lagi ke sini. Aku yakin kalau nona Lerina mencintai tuan"
"Terima kasih atas doanya. Aku pun sangat yakin kalau dia mencintaiku, Nana. Aku tak mau melepaskan dia demi apapun yang ada di dunia ini." kata Edward dengan senyum di wajahnya. Jelas sekali ia begitu bersemangat untuk kw Jakarta hari ini.
"Kopernya sudah dibawa pak Cheng ke mobil. Dia sudah menungguh tuan"
"Baiklah." Edward membersihkan sisa makanan yang ada dibibirnya dengan lap yang sudah tersedia disamping piringnya.
"Nana...aku pergi ya?" pamit Edward lalu memeluk perempuan yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.
"Tuhan memberkati perjalananmu!"
Edward mengenakan topi dan kacamatanya sebagai bentuk penyamarannya kali ini. Ia lalu menelepon Keyri untuk menanyakan di mana asistennya itu berada. Keyri ternyata sudah berada di bandara.
Ia pun segera keluar dari apartemen. Di dalam lift, hp nya berbunyi. "Hallo Hyung, ada apa? ya...aku baru saja mau ke bandara. Apa...? Baiklah hyung, aku pergi ke mansion sekarang!" Jantung Edward berdetak sangat cepat, ia bahkan merasa kalau lift berjalan agak lambat. Keringat dingin sudah membasahi wajahnya. Tangan Edward bahkan sangat bergetar saat ia membuka pintu lobby apartemen.
MAKASI SUDAH MEMBACA PART INI
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA