
Tangis Lerina terdengar di lorong rumah sakit yang masih sepi di pagi ini. Sebuah kenangan melintas lagi dikepala Lerina saat Calvin akan pergi ke Korea hampir setahun yang lalu.
"Vin, hidungmu berdarah" ujar Lerina saat keduanya sedang menikmati makan malam di sebuah cafe.
Calvin langsung mengambil tisue yang memang tersedia di atas meja dan menutup hidungnya dengan tisue itu.
Lerina menarik kursinya agar berada dekat dengan Calvin. "Sayang, hidungmu selalu berdarah, apakah kamu sudah pergi ke dokter?"
Calvin mengangguk "Dokter bilang ini hanya mimisan biasa. Aku tidak boleh terlalu lama berada di bawah sinar matahari. Tadi aku berada di lokasi pembangunan hotel cukup lama"
Lerina mengambil beberapa lembar tisue lagi dan ia sendiri yang membersihkan sisa darah yang masih menempel di hidung mancung Calvin.
"Apakah tidak sebaiknya kau pergi ke labolatorium untuk pemeriksaan lengkap. Kata temanku, jika keseringan mimisan tidak baik. Itu salah satu gejala kanker darah"
Calvin tersenyum lalu membelai wajah cantik Lerina dengan ibu jarinya"Aku sehat, sayang. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan"
Lerina memegang tangan Calvin yang masih ada dipipinya. Mata bulatnya menatap Calvin dengan penuh cinta"Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi dan membuat kita terpisah. Aku tak mau kehilanganmu."
"Kita akan bersama dalam waktu yang panjang. Kalau pun kematian akan memisahkan kita, aku ingin disaat rambut kita sudah memutih. Aku ingin mati dalam pelukanmu."
"Kalau kamu mati, aku juga tak mau tinggal sendiri di dunia ini. Aku akan pergi bersamamu"
"Hei...jangan bicara kematian sekarang ini. Kita kan sedang bersenang-senang malam ini." Calvin menghapus air mata Lerina. Lalu mencium kedua tangan secara bergantian.
Lerina tersenyum "Jangan pergi dariku, Vin. Aku tak bisa tanpamu."
Calvin mengangguk. "Ingatlah selalu, kematian mungkin suatu saat akan memisahkan kita. Sandainya aku yang lebih dulu pergi darimu, maka aku akan selalu hidup dalam hatimu. Aku akan selalu menjagamu dari atas."
Tangis Lerina semakin dalam saat mengingat kenangan itu. Hatinya mungkin saat ini sudah menjadi milik Edward namun kenangan selama 4 tahun kebersamaan ternyata belum bisa terhapus begitu saja. Hati Lerina sakit jika harus kehilangan Calvin tanpa membalas semua kebaikan yang telah Calvin berikan padanya.
Suara langkah-langkah yang berlari mendekat membuat Lerina mengangkat kepalanya. Nampak papa dan mama Calvin datang. 15 menit yang lalu, Lerina menelepon mereka untuk memberitahukan kabar tentang Calvin.
"Lerina...!" panggil Arista.
Lerina berdiri "Maafkan aku, tante. Aku tak bisa menjaga Calvin dengan baik"
Arista langsung memeluk Lerina. Tangis perempuan tua itu langsung pecah.
**********
Taeyung dan Yura kembali ke mansion hari ini. Yura sudah dinyatakan sehat hari ini dan dia ingin istirahat di rumah saja.
Jesica sudah dipindahkan ke rumah sakit milik keluarga Kim. Keadaannya masih kritis.
"Ed, kapan kau akan berangkat ke Jakarta?" tanya Taeyung.
Edward yang sementara menikmati sarapannya menatap Taeyung "Aku belum bisa berangkat sebelum memastikan kalau Jesica baik-baik saja. Aky memang tak memiliki perasaan apa-apa padanya. Namun aku takan bisa membiarkannya begitu saja"
"Aku mengerti. Semoga saja Jesica akan segera sadar dan keadaannya menjadi baik."
Edward menghabiskan sarapannya. Taeyung memang memintanya untuk tinggal di mansion sekarang ini.
"Aku ke rumah sakit dulu ya...!" pamit Edward.
Taeyung hanya mengangguk.
__ADS_1
Hp Taeyung berdering saat ia masih menatap kepergian adiknya. Pengacaranya yang menghubungi dia.
"Hallo...!"
"........."
"Apa? Bukankah ini belum waktunya melahirkan? Baiklah aku akan ke sana" Taeyung segera berlari menaiki tangga lalu menuju ke kamarnya. Di lihatnya Yura baru saja selesai mandi.
"Sayang, ada apa?" tanya Yura melihat wajah pucat Taeyung.
"Nula dilarikan ke rumah sakit. Katanya ia akan melahirkan"
"Tapi usia kandungannya baru mau masuk tujuh bulan"
"Katanya ia terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan."
"Kalau begitu aku ingin ikut denganmu!"
"Sayang, kamu kan harus istirahat"
"Jika anak Nula benar akan lahir, kita kan harus menyiapkan pakaiannya. Jadi biar aku saja yang mengurusnya" kata Yura.
"Terima kasih!" Taeyung memeluk istrinya. Ia sangat haru karena Yura mau menerima anak hasil perselingkuhannya dengan Nula.
"Aku ganti baju dulu ya...!" kata Yura lalu melepaskan dirinya dari pelukan suaminya dan masuk ke dalam walk in closet.
**********
Edward dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan perawatan Jesica saat dokter penyampaikan kalau perempuan itu sudah sadar.
"Terima kasih dok. Aku masuk dulu!" Edward melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam.
Jesica masih terbaring lemah dengan wajah pucat. Namun selang oksigen sudah dilepaskan dari hidungnya.
"Ed...!" panggil Jesica dengan suaranya yang lemah.
Edward mendekat dan berdiri disamping tempat tidur Jesica.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku merasa baik, Ed."
"Syukurlah!"
"Ed, mengapa belum pergi ke Jakarta untuk menyusul Le?"
Edward menatap Jesica. Tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Jesica.
Jesica dapat melihat keraguan dari pancaran mata Edward. "Aku tahu kau ragu denganku. Namun, saat kematian hampir menjemputku, aku teringat dengan keluargaku, aku meminta pada Tuhan untuk memberikan aku kesempatan untuk hidup. Aku tidak akan mengejar kamu lagi, Ed. Begitu aku sembuh, aku akan berkumpul dengan mereka."
"Aku percaya kau akan mendapatkan pria yang baik yang akan menemani hari-harimu"
Jesica hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia memang sudah memutuskan untuk melupakan Edward. Sekalipun cinta yang dimilikinya untuk pria itu begitu besar bahkan mungkin takan pernah hilang, namun Jesica kini sadar bahwa cinta Edward hanya untuk Lerina. Bahkan saat Edward tertembak, nama Lerina yang dipanggilnya.
"Kau istirahatlah!" kata Edward.
__ADS_1
"Baik. Tolong sampaikan permohonan maafku pada Lerina. Aku sungguh malu padanya"
Edward mengangguk "Le pasti akan memaafkanmu"
Jesica mengangguk "Ed, semoga kalian berdua bahagia selamanya dan akan memiliki anak-anak yang cantik dan tampan"
"Aku juga berharap itu terjadi padamu!" Edward menyentuh tangan Jesica. Lalu ia mencium dahi Jesica dengan lembut "Sekarang, kau sudah menjadi adikku. Bagian dari keluarga kami. Besok, aku akan pergi ke Jakarta. Aku memang sangat merindukan Lerina. Istirahat ya.." ujar Edward lalu segera meninggalkan Jesica.
Hati Jesica sangat sakit saat melihat punggung Edward yang meninggalkan kamar. Ia tahu kalau semua mimpi dan harapannya sudah hilang untuk bisa memeluk cinta pertama dalam hidupnya. Jesica tak ingin menganggu Edward lagi. Jesica melepaskan Edward dengan hati yang hancur namun ia yakin, kepingan hatinya itu tidak akan membuatnya kehilangan harapan. Dia akan menjalani hidup dengan baik karena Tuhan sudah memberinya kesempatan untuk yang kedua kalinya.
Di luar ruangan Jesica, Edward menelepon Keyri "Hallo Key, persiapkan keberangkatannya besok. Kita akan ke Jakarta." lalu ia menutup percakapan dan segera melangkah ke ruangan Nicu. Taeyung meneleponnya dan mengatakan kalau Nula sudah melahirkan.
Di lihatnya kalau Taeyung sedang berdiri di sana.
"Hyung...!" panggilnya.
"Bagaimana Jesica?" tanya Taeyung.
"Kondisinya sudah stabil. Ia bahkan memintaku untuk segera ke Jakarta dan menemui Lerina"
Taeyung mengangguk "Syukurlah."
"Bagaimana Nula?"
"Dia sudah selesai di operasi. Kondisinya masih lemah. Dan anak aku pun sangat lemah. Berat badannya hanya 1 kg. Dia harus dirawat di ruang Nicu ini sampai berat badannya stabil"
"Apa jenis kelaminnya"
"Perempuan!"
Edward memeluk Taeyung secara jantan "Selamat hyung. Aku yakin kalau Yura akan menjadi mama terbaik bagi anakmu!" katanya setelah pelukan itu terlepas.
"Aku tahu. Karena dia seorang malaikat!"
Edward mengangguk setuju. Ia pun tak sabar untuk menemui Lerina.
*********
Mata Lerina sembab karena banyak menangis. Siaranya pun sudah agak parau. Namun ia tak ingin sedetik pun meninggalkan ruangan perawatan intensif tempat Calvin dibaringkan.
Dokter mengatakan kalau kondisi Calvin drop karena ia melewatkan jadwal kemoterapinya dan ia sudah tak meminum obat-obatannya. Untunglah ia dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Kalau tidak, nyawa Calvin sudah tak tertolong lagi.
Calvin selalu menyembunyikan sakitnya dariku. Dia tak mau membuatku sedih.
Lerina mendekat, lalu memegang tangan Calvin dengan deraian air matanya.
"Aku, akan bersamamu, Vin. Aku akan membuatmu bahagia sampai dimana Tuhan akan mengijinkan kau hidup. Ayo berjuang, Vin. Aku menunggumu bangun agar kita bisa menikah. Aku ingin mengandung anakmu dan kau akan mendapatkan obat untuk kesembuhanmu!" kata Lerina lalu mencium tangan Calvin, kemudian ia mencium dahi Calvin dengan sangat lembut. Air matanya yang jatuh dipipi Calvin menghadirkan rasa hangat dikulit wajah Calvin. Perlahan cowok itu menggerakan tangannya.
"Aku tahu kau mendengarkanku, Vin!" kata Lerina saat meraakan tangan Calvin yang bergerak.
Maafkan aku, Ed.
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA
__ADS_1