LERINA

LERINA
Hati yang bicara


__ADS_3

"Jangan pergi!" Edward menahan tangan Lerina yang akan pergi meninggalkannya.


Langkah Lerina terhenti. Sentuhan Edward di tangannya membuat seluruh tubuhnya gemetar.


"Aku harus pulang cepat karena besok ada rapat penting" Lerina berusaha menarik tangannya dari genggaman Edward namun pria itu sangat kuat menahan tangannya.


"Untuk hari ini saja. Aku mohon dengarkan aku. Biarkan kita berbicara sebentar. Dapatkah kita menjadi teman setelah bercerai?" tanya Edward sambil menatap mata Lerina tajam membuat mantan istrinya itu memalingkan wajahnya ke tempat lain. Ia tak kuat menahan tatapan mata Edward yang sangat menusuk hatinya itu.


"Aku.....!" Lerina kehilangan kata-kata. Ia tak bisa membohongi dirinya kalau pesona Edward masih sanggup membuat hatinya luruh.


"Aku senang kalau kau ada di sini. Aku akan balik lagi ke panggung. Please, tunggu aku 30 menit saja. Bolehkan?" tanya Edward memohon. Tangannya masih memegang pergelangan tangan Lerina.


Lerina mengangguk. Wajah Edward langsung berseri. "Aku hanya akan ganti baju karena sudah basah dengan keringat." Edward melepaskan tangan Lerina. Lalu ia membuka kemeja yang dikenakannya.


Lerina membalikan badannya. Melihat tubuh bagian atas Edward yang telanjang membuatnya merinding. Sepotong kenangan melintas dipikirannya saat ini. Ia pernah begitu nyaman bersandar di dada bidang Edward. Pernah merasakan hangat saat pipinya menempel disana.


"Le...!" panggil Edward membuyarkan lamanunan Lerina. Pipinya terasa hangat karena sempat memikirkan hubungan yang pernah terjalin diantara dia dan Edward.


Lerina membalikan lagi posisi tubuhnya menghadap Edward yang kini sudah berganti kemeja.


"Aku kembali ke panggung ya? Please, jangan pergi!" mohon Edward.


"Baiklah. Aku akan menunggu di sini!"


Edward segera melangkah. Ia membuka pintu ruang tunggu. Namun sebelum menutup pintu itu kembali, ia menatap Lerina.


"Please...., jangan pergi!" katanya kembali lalu menutup pintu itu.


Edward menatap Keyri yang masih setia menunggu di depan pintu "Jangan biarkan dia pergi, ya?"


"Baik bos!"


Edward kembali melangkah menuju ke panggung. Senyum dibibirnya tak dapat ditahannya lagi karena hatinya yang bahagia.


Lerina mau menunggunya merupakan sesuatu yang tidak pernah diduganya. Ia pikir gadis itu akan kembali pergi karena sifatnya yang keras kepala. Kesediaan Lerina untuk mau menunggu membuat Edward tak sabar untuk mengahiri konser itu dan kembali ke ruang tunggu.


Veronika yang melihat Edward kembali dengan wajah yang berseri, langsung bisa menebak apa yang terjadi.


"Apakah dia bertemu denganmu?" tanya Veronika sedikit berbisik saat ia selesai menyanyi.


"Ya. Dia ada di ruang tunggu"


Veronika mengangkat kedua tangannya. Ia bahagia karena usahanya berhasil. Sekalipun ada luka di hatinya, namun Veronika berusaha tetap tegar. Ia yakin akan bisa menemukan pria lain. Cinta memang tak selamanya memiliki.


*********


Konser yang diprediksi Edward selesai 30 menit saja, ternyata molor sampai 1 jam 10 menit. Makanya, Edward setengah berlari meninggalkan panggung dan menuju ke ruang tunggu.


Saat ia membuka pintu, ruangan itu nampak kosong. Edward langsung merasa frustasi. Ia mencari Keyri namun, asistennya itu pun tak ada. Sementara hp Edward dipegang oleh Keyri.


Keyri kemana? Apakah Lerina sudah pergi?


Edward keluar lagi. Ia bahkan kurang memperhatikan para panitia pelaksana yang mengajaknya untuk makan malam bersama.

__ADS_1


"Bos!" panggil Keyri.


"Kamu dari mana saja? Mana Lerina?" tanya Edward saat Keyri mendekat.


"Aku dari hotel" jawab Keyri. Hotel tempat Edward menginap memang satu kompleks dengan gedung tempat pelaksanaan konser. Edward dan Veronika tadi hanya berjalan kaki dari hotel menuju ke tempat ini melalui lorong khusus.


"Apakah Lerina sudah pergi?" tanya Edward dwngan wajah lesuh.


"Le tadi mengeluh kalau ia lapar. Jadi aku memesan makanan dulu baru kembali ke sini"


"Maksudmu Le masih ada? Di mana dia?" Edward sudah tak sabar.


"Di kamarmu, bos!"


"Thank you, Keyri. Aku akan memberikan kau banyak bonus" Edward tanpa diduga memeluk Keyri. Lalu ia segera berlari menuju ke lorong penghubung antara hotel dan gedung tenpat pelaksanaan konser.


**********


Di kamar presidential suite, lantai paling atas hotel berbintang 5 ini, Lerina baru saja menyelesaikan makan malamnya. Saat menunggu Edward tadi, Lerina merasa sangat kelaparan. Pada hal sebelum datang ke konser tadi, ia baru saja menikmati semangkuk bubur ayam buatan bi Suni.


Keyri memesan makan malam dari restoran hotel dengan menu lengkap. Keyri sendiri yang menunggu pesanan itu datang karena tak ingin pelayan yang mengantar makanan itu melihat Lerina dan akan memulai gosip tentang perempuan yang ada di kamar Edward Kim.


Saat pelayan mengantarkan makanan, Lerina ada di ruang tidur. Setelah pelayan itu pergi, Lerina segera menuju ke ruang sebelah untuk menikmati makan malam.


"Nona, makanlah. Saya akan melihat tuan Ed dulu. Soalnya hp tuan ada padaku. Nanti tuan pikir nona sudah pulang."


"Baiklah. " Lerina menjawab singkat karena perutnya memang sudah sangat lapar. Ia tak ingin memikirkan apa yang akan dibicarakannya dengan Edward karena untuk saat ini dia hanya ingin makan. Memang sejak kandungnya memasuki usia 4 bulan, rasa mual dan pusing itu sudah mulai hilang sehingga selera makannya pun makin bertambah.


Makanan yang sangat enak diindra perasanya membuat Lerina makan dengan lahap dan porsi yang cukup banyak.


Selesai makan, Lerina masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Saat ia baru saja masuk ke kamar mandi, pintu kamar terbuka. Edward masuk dengan napas sedikit ngos-ngosan karena ia berlari dari lift menuju ke kamar ini.


"Le...!" panggilnya saat melihat bahwa baik di ruang tamu maupun di ruang tidur Lerina tak ada. Ada rasa panik yang menyerangnya namun tak berlangsung lama saat melihat bahwa tas Lerina ada di salah satu kursi makan.


Ia melangkah mendekati kamar mandi dan mengetuknya perlahan.


"Le, apakah kamu ada di dalam?"


"Ya. Sebentar lagi aku keluar!" sahut Lerina dari dalam.


Edward tersenyum senang. Ia duduk disofa yang berhadapan dengan tempat tidur sambil menunggu Lerina.


Tak lama kemudian, gadis itu keluar. Ia tersenyum ke arah Edward lalu ikut duduk di samping pria itu. Lerina memperbaiki letak jaket jeansnya agar menutupi bagian perutnya.


"Kau sudah selesai makan?" tanya Edward.


"Sudah." jawab Lerina, ia terlihat agak canggung berbicara dengan Edward.


"Apa kabarmu, Le?" tanya Edward setelah selama beberapa saat keduanya saling diam.


"Aku baik"

__ADS_1


"Perusahaannya?"


"Berjalan juga dengan sangat baik. Keuntungan perusahaan bahkan meningkat 40% selama beberapa bulan ini"


"Kau memang pemimpin yang hebat!" puji Edward tulus karena ia sudah mengetahui kemampuan Lerina saat membongkar pencucian uang yang terjadi di Kim Corporation.


Lerina hanya tersenyum. Ia menunduk sambil memainkan ujung gaunnya.


"Aku merindukanmu, Le" Kata Edward.


Aku juga merindukanmu, Ed. Namun itu hanya Kata Lerina dalam hatinya saja. Ia tak berani mengungkapkannya karena ia malu pernah menyakiti Edward.


"Jien dan Calvin sudah bersama sekarang walaupun mereka masih tidur di kamar yang berbeda. Lalu bagaimana dengan kita? Tak inginkah kau bersama denganku lagi?" tanya Edward. Ia memandang Lerina yang masih tertunduk.


"Aku sudah jahat padamu, Ed!" ujar Lerina lalu mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap Edward yang duduk di sampingnya.


"Aku tahu. Namun aku juga masih yakin kalau kau memiliki perasaan padaku walaupun mungkin tak sebesar cintamu pada Calvin." Edward meraih kedua tangan Lerina dan menautkan jari mereka. Ada rasa hangat yang mengalir di hati Lerina.


"Neol neomunado salanghae (aku sangat mencintaimu)" Kata Edward dengan suara yang bergetar.


Air mata Lerina jatuh. Hatinya begitu bahagia mendengar pengakuan cinta Edward. Ia melihat ketulusan dari tatapan mata Edward.


Aku harus membuang semua ego ini. Ya Tuhan, aku juga sangat mencintai lelaki bermata biru ini. Hati Lerina menjerit. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Edward, lalu menyentuh wajah Edward dengan tangannya yang bergetar. Diantara isak tangisnya Lerina pun bicara,


"Nado neo manh-i salanghae." (Aku juga sangat mencintaimu).


Mata Edward membulat tak percaya. Selama ini, Lerina tak pernah mengungkapkan perasaannya. Namun kali ini, Lerina mengakuinya dengan deraian air matanya. Edward yakin ini adalah pengakuan yang tulus dari Lerina.


"Nae salang." (cintaku) Edward langsung menarik tubuh Lerina dan memeluknya dengan sangat erat. Ia tak menyangkah kalau hari ini akan menemukan cintanya lagi.


Lerina menangis dalam pelukan Edward. Ia tak mau berbohong lagi. Edward adalah lelaki yang diinginkannya dalam hidup ini.


"Biarkan aku mencintaimu selamanya, Le" Edward melepaskan pelukannya. Lalu ia menghapus air mata Lerina dengan jari-jarinya.


"Sayang, mari kita bangun dari awal hubungan kita ini. Kita melangkah bersama atas nama cinta. Tidak ada lagi Jesica, tidak ada lagi Calvin. Yang ada hanya Aku dan kamu."


Lerina mengangguk. "Aku mau,Ed!"


Edward menangkup pipi Lerina dengan kedua tangannya. Ia menyatukan dahinya dengan dahi Lerina. Lalu hidung mereka bersentuhan. Saling membagikan rasa hangat lewat hembusan napas masing-masing. Lalu entah siapa yang memulai, bibir mereka menyatu dalam ciuman yang sarat dengan kerinduan.


Keduanya terlena. Lerina pun membiarkan saat Edward mendorong tubuhnya perlahan agar terlentang diatas sofa.


Bibir mereka masih tak mau terlepas. Tangan Edward perlahan turun. Menyentuh leher Lerina, kemudian menyentuh gunung kembar Lerina, agak terkejut karena Edward merasa bagian itu sudah lebih besar. Lalu saat tangan Edward turun ke perut Lerina, ia semakin terkejut. Merasa ada yang berbeda, Edward mengangkat tubuhnya yang sudah berada di atas Lerina. Tangannya memegang Perut Lerina dan menatap perempuan itu dengan sedikit bingung.


"Le, apakah perutmu makin besar? Kau hamil?" tanya Edward dengan detak jantung yang sangat cepat.


**************


TERIMA KASIH YA SUDAH MEMBACANYA...


LIKE, KOMEN, VOTE DAN KASIH BINTANG 5 YA


Makasi juga buat yang sudah vote banyak2...

__ADS_1


Sudah komen2 dan memberikan aku semangat utk meneruskan cerita ini


__ADS_2