LERINA

LERINA
Rencana Liburan


__ADS_3

Lerina menatap Edward dengan sangat terkejut. Tatapan mata tajam itu pernah dia dapatkan beberapa waktu lalu ketika Edward marah saat mendapatkan Lerina berciuman dengan Calvin.


Apakah sekarang Edward marah padanya? Apakah Edward tahu bahwa dia memang sengaja menjauhkan diri darinya?


"Mengapa kamu diam saja? Mengapa tak menjawab pertanyaanku?" suara Edward begitu jelas tergambar kalau dia sedang marah.


"Ed, aku....banyak pekerjaan di sini. Coba lihat di luar, Yura juga belum pulang kan? Keyri tadi juga membantu kami di sini namun dia pulang karena kamu meneleponnya" Lerina berusaha berkata tenang walaupun jantungnya terasa mau lepas dari tempatnya karena tatapan mata Edward yang begitu menakutkan.


"Ah...itu alasan kamu saja. Pasti kamu sengaja kan? Sengaja ingin jauh dariku!" Suara Ed semakin tinggi.


"Ed..." Lerina tak dapat menahan rasa takutnya. Ia tak ingin Edward marah seperti waktu itu. Ia segera keluar dari meja kerjanya dan mendekati Edward yang berdiri di depan meja sambil memasukan kedua tangannya di saku celananya. Wajah tampannya terlihat geram menahan marah.


"Ed...maaf. Aku tak bermaksud menghindar darimu. Aku hanya malu saja karena tadi pagi sudah menciummu" aku Lerina jujur. Ia berdiri di dekat Edward sambil memegang lengan kokoh itu.


"Jangan marah ya..." kata Lerina dengan suara membujuk.


Edward tak dapat menahan dirinya. Ia langsung tertawa.


Lerina terkejut "Apa maksudmu, Ed?" ia melepaskan tangannya dari lengan Edward. Namun sedetik kemudian Edward langsung menarik Lerina dalam pelukannya.


"Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Aku tak marah padamu. Aku hanya bosan saja sendiri di rumah"


Lerina mencubit pinggang Edward lalu mendorong pria itu sekuat tenaga untuk melepaskan pelukannya.


"Aow....sakit sayang..!" Edward meringis.


"Rasakan...!" Lerina sedikit mengejek. Sebelum ia bicara lagi, pintu ruangan terbuka. Nampak Yura dan Taeyung ada di sana.


"Papa sudah sadar. Kita di minta untuk datang ke rumah sakit" kata Taeyung dengan nada dingin tanpa ekspresi.


"Wah....ini kabar yang menyenangkan" pekik Lerina dengan wajah senang.


Edward mengangguk. "Ayo kita ke rumah sakit"


Mereka pun berangkat ke rumah sakit dengan mobil yang berbeda. Saat mereka masuk ke ruang perawatan nampak Ryun Ong sudah duduk di atas tempat tidurnya. Sekalipun dengan wajah yang pucat, ia tersenyum menatap kedatangan anak-anaknya. Di sana juga ada Jien dan Calvin.


Keyri yang ikut bersama memilih berdiri didekat pintu masuk bersama dengan Bi Yun. Sementara Jesica sedang berdiri dekat di samping ranjang.


"Aku langsung datang ke sini mendengar paman sudah sadar. Papa dan mamaku sedang ada di Jepang." kata Jien menjelaskan tanpa diminta.


"Abonim....senang melihatmu sudah bisa duduk" kata Taeyung sambil mendekat.


"Aku akan lebih senang jika kalian sudah memberikan aku cucu. Ah...namun sepertinya aku akan mati tanpa bisa memiliki seorang cucu" kata Ryun Ong dengan nada sedikit kesal.


Edward yang berdiri disamping Lerina sambil tangan mereka saling bertautan hanya diam tanpa memberikan tanggapan.


Yura pun nampak membuang muka.


"Paman...aku tahu supaya mereka bisa memberikan cucu secara cepat kepada paman" Jien tiba-tiba bicara dengan wajah ceriahnya.

__ADS_1


Ryun Ong menatap Jien meminta penjelasan dengan bahunya yang terangkat.


"Liburan paman...supaya mereka bisa berbulan madu"


Ryun Ong mengangguk "Itu yang aku pikirkan. Kita akan ke Swiss saat aku keluar dari rumah sakit"


"Tapi papa, dokter mengatakan kalau papa harus di operasi" kali ini Yura yang bicara.


"Papa akan lebih sehat jika kita bisa liburan ke Swiss. Dokter tadi sudah mengijinkan asalkan papa mentaati semua aturan."


"Paman....aku dan Calvin ikut ya?" rengek Jien dengan suara manjanya.


"Ya. Kau harus ikut. Juga suamimu" Ryun Ong menatap Edward dan Lerina.


"Taehung, ikutlah bersama Lerina ya....Jangan terima pekerjaan apapun diakhir tahun ini"


Edward terkejut. Sudah lama papanya tak memanggil dia dengan nama itu.


"Iya papa. Kami akan pergi!" kata Lerina sambil tersenyum. Ia tak peduli dengan wajah protes Edward.


**********


Lerina keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piayamanya. Di lihatnya Edward sedang berdiri di depan jendela sambil menatap keluar jendela yang tirainya masih terbuka.


"Ed.....!" panggil Lerina.


Edward membalikan badannya dan menatap Lerina. Ia tersenyum lalu melangkah ke arah sofa dan duduk di sana.


"Ya. Aku tidak suka pergi ke Swiss. Dan kau sudah menyatakan persetujuanmu tanpa meminta pendapatku"


"Maafkan aku, Ed." wajah Lerina nampak menyesal. Ia bahkan menyentuh tangan Edward.


Melihat tangannya yang disentuh oleh Lerina, Edward langsung menautkan jemari mereka lalu membawa tangan Lerina dalam kecupan manis dibibir Edward.


"Aku tak menyalahkanmu." Edward menarik napas panjang. Wajahnya masih terlihat sedih.


"Aku punya kenangan buruk mengenai vila di Swiss. Adikku Anastasya bunuh diri di sana" kata Edward dengan nada getir.


Lerina menatap Edward dengan wajah sedih "Maafkan aku, Ed."


"Waktu itu, kami sedang liburan musim panas di sana. Anastasya mengajak beberapa temannya untuk ikut juga. Usia Anastasya waktu itu baru 18 tahun. Mereka sudah pergi satu minggu lebih dulu sebelum aku, Taeyung, Yura dan Papa tiba. Semuanya nampak baik-baik saja. Sampai di malam itu, aku melihat Anastasya menangis di dapur. Ia nampak kacau dan sedikit ketakutan. Namun saat melihatku, dia hanya mengatakan kalau dia sedih karena putus cinta. Aku hanya menghiburnya seadanya saja tanpa melihat kalau adikku itu sedang ada dalam masalah yang berat." kalimat Edward terhenti.


"Ternyata malam itu adalah malam terakhirnya hidup. Andai saja aku mendengar permohonannya untuk menemaninya minum kopi. Pasti dia tidak akan mengiris nadinya sampai putus. Aku justru terus menyuruhnya tidur. Ternyata saat aku ke kamar, Anastasya mengambil pisau dan mengahiri hidupnya di dapur itu." tangis Edward terdengar tanpa bisa ditahannya. Bahunya terguncang. Kenangan pahit atas kehilangan adiknya kembali menusuk hatinya.


Lerina menepuk bahu Edward pelan. Namun hatinya sungguh tak tahan melihat Edward yang menangis. Dipeluknya Edward dengan penuh kasih membuat tangis Edward semakin dalam.


"Sampai hari ini, aku merasa berdosa membiarkan Anastasya sendiri malam itu"


"Tak ada yang perlu disesali, Ed. Semuanya sudah terjadi. Penyesalanmu tak akan membuat Anastasya hidup lagi. Yang harus kau lakukan sekarang adalah merelahkan kepergiannya sehingga kau bisa lepas dari rasa bersalah ini"

__ADS_1


Edward untuk sementara terus ada dalam pelukan Lerina. Sampai akhirnya ia mulai tenang dan melepaskan pelukan itu.


"Tersenyumlah, Ed. Seperti katamu, aku harus bahagia saat bersamamu maka kau pun harus bahagia saat bersamaku." Lerina mengatup pipi Edward dengan kedua tangannya.


"Kita takan pergi ke swiss jika kau tak mau pergi" Lalu Lerina menghapus air mata Edward kemudian menarik hidung mancung pria bernata biru itu. Seperti yang biasa Edward lakukan padanya.


Wajah Edward perlahan tersenyum "Kau ingin ke Swiss?"


"Siapa yang tidak mau pergi ke Swiss di musim dingin? Bisa main salju di lereng pengunungan Alpen, makan keju dan menikmati keindahan alam di sana. Aku tak pernah ke luar negeri di musim dingin karena papaku tak pernah mau merayakan natal dan tahun baru di luar Jakarta. Makanya aku agak sedikit norak saat melihat salju" Lerina tertawa. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Kita akan ke Swiss jika kamu memang ingin ke sana"


Lerina menoleh dengan wajah tak percaya "Tapi Ed..., bagaimana aku akan bahagia di sana kalau tempat itu justru akan membuat kau merasa sedih"


Ed tersenyum. Ia memegang kedua tangan Lerina "Seperti kataku, aku ingin kau bahagia saat bersamaku. Dan kau juga ingin aku bahagia saat bersamamu, jadi bagaimana mungkin aku akan sedih?"


Lerina terharu. Matanya sampai berkaca-kaca. "Semangat Ed"


Edward mengangguk. Wajah cantik di depannya membuat Edward tak tahan untuk menyentuhnya. Di sentuhnya wajah Lerina dengan ibu jarinya. Lalu jari itu terhenti di sudut bibir Lerina.


"Bolehkah aku menciummu?"


Wajah Lerina kembali menjadi merah. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat. "Baiklah" katanya sambil memejamkan matanya.


Tangan kanan Edward ada dipunggung Lerina sedangkan tangan kirinya ada dileher gadis itu. Ia perlahan menunduk, menyentuh bibir tipis itu dengan bibirnya, awalnya hanya gesekan kecil namun setelah itu ia menyesapnya secara lembut, mencari celah sampai Lerina membuka mulutnya sedikit dan akhirnya ciuman itu menjadi semakin dalam, saling memberi rasa dan semakin menuntut lebih.


"Tuan.....nona.....makanannya sudah siap!" terdengar ketukan di pintu kamar dan membuat ciuman itu terhenti. Sangat jelas terlihat guratan rasa kesal di wajah Edward ketika Lerina secara cepat mengahiri ciuman itu secara terburu-buru dan menarik diri dari pelukan Edward.


"Kau memesan makanan?" tanya Edward berusaha menekan suaranya serendah mungkin agar tak terdengar bahwa ia sedang marah karena aktifitas mereka terganggu.


"Iya. Tadi aku meminta Nana menyiapkan makan malam karena aku memang belum makan" Lerina segera berdiri dan membuka pintu kamar. Nana sudah berdiri di sana dengan nampan makanan.


"Terima kasih, Nana." kata Lerina sambil mengambil nampan itu dari tangan Nana. Lerina meletakan nampak berisi makanan itu di atas meja.


"Ed, ayo kita makan!" ajak Lerina.


"Aku sudah kenyang. Kau makanlah. Aku mau mandi!" Ed berdiri.


"Ed, cuaca sedang dingin dan kau mau mandi? Ini sudah jam sepuluh malam " Lerina jadi heran.


"Aku sudah biasa" Edward masuk ke kamar mandi. Ia ingin berendam untuk menekan hasratnya yang begitu dalam.


Aku bisa gila jika terus seperti ini. Tubuh Lerina bagaikan magnet yang membuatku tak tahan untuk tidak menyentuhnya. Bagaimana jika aku dianggap mesum olehnya? Tapi aku kan suaminya.


Edward merasa pusing. Ia langsung masuk ke dalam buthtub untuk berendam dan mengalihkan hasratnya itu.


Saat pintu kamar mandi terbuka, kamar sudah nampak remang. Lerina pun sudah tertidur dengan nyeyak. Saat Ed menatap jam dinding, ia agak terkejut saat menyadari bahwa ia sudah sangat lama berada di kamar mandi.


MAKASI SUDAH BACA

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA...


__ADS_2