LERINA

LERINA
Janji Suci Kembali


__ADS_3

Saat pintu ruangan itu terbuka, mata Lerina langsung terbelalak. Sebuah ruangan yang dihiasi dengan bunga-bunga berwarna putih dan hijau. Kain sutra yang membentang dari sudut yang satu ke sudut yang lain pun berwarna yang sama.


Ada gerbang-gerbang yang dibuat sampai ke atas panggung. Semuanya juga dihiasi dengan pernak pernik berwarna putih hijau.


Pelaminan yang ditata sangat megah. Seolah Lerina sedang berada di negeri dongeng. Saat keduanya memasuki gerbang pertama, nampak salju turun membuat Lerina terkejut. Dari mana salju ini bisa ada? Lerina jadi ingat saat ia dan Edward berciuman pada saat salju pertama di Korea.


"Ed, ini sangat indah." Kata Lerina tanpa bisa menahan air matanya..


"Jangan menangis sayang. Ini hari bahagia kita." Kata Edward sambil mencium dahi Lerina membuat semua yang ada di sana bertepuk tangan melihat pasangan itu yang nampak sangat bahagia.


Mereka akhirnya tiba di pelaminan.


"Baiklah saudara-saudara, kita ada di sini karena Edward dan Lerina ingin membuat kembali janji suci mereka baik di hadapan Tuhan maupun semua yang hadir di sini sebagai saksi. Di silahkan!" kata Pendeta kepada Edward dan Lerina.


Lerina sedikit terkejut. Bingung dengan apa yang harus diucapkannya.


Edward dan Lerina saling berhadapan. Tangan keduanya saling mengenggam.


"Lerina Avigail Kim, kita dulu pernah berjanji namun bukan janji yang sebenarnya. Janji itu diucapkan sebelum aku mencintaimu. Janji itu membuat kita berdua sempat berpisah. Kini, aku ingin mengucapkan janji yang baru. Janji yang dilandasi oleh rasa cinta yang mendalam. Aku ingin menjadi suamiku. Aku ingin membahagiakanmu seumur hidupku. Aku akan setia padamu sampai maut memisahkan kita. Aku akan menjadi papa yang baik bagi anak-anak kita. Aku ingin menua bersamamu karena tanpamu, aku bukan siapa-siapa."


Air mata Lerina mengalir saat Edward mengahiri janji sucinya. Apalagi Edward mengucapkan kalimat itu dalam bahasa Indonesia.


"Sekarang giliran Lerina." Kata pendeta.


Lerina tersenyum walaupun tangisnya masih terdengar. "Aku....Aku...." Kalimat Lerina terhenti.


"Ayolah, sayang. Kamu pasti bisa." Kata Edward sambil menghapus air mata Lerina.


"Edward Kim alias Kim Taehung. Aku mau menjadi istrimu. Aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu. Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku ketika aku merasa patah dan hancur. Aku berjanji akan mencintaimu sampai maut memisahkan kita. Aku berjanji akan setia padamu seumur hidupku. Tanpamu, aku tak bisa bahagia. Aku mencintaimu!" Kata Lerina lalu mencium kedua tangan Edward yang ada dalam genggamannya.


"Atas kasih Tuhan, ikatan cinta ini biarlah akan abadi. Karena apa yang sudah dipersatukan Tuhan, jangan dipisahkan oleh manusia." Kata pendeta sambil memberkati kedua pengantin itu.


Semua yang hadir di sana langsung tertepuk tangan ketika Edward dan Lerina saling berciuman setelah menerima pemberkatan.


Saat Edward dan Lerina masih berciuman, musik tiba-tiba saja mengalun dan munculah Arnold Manola yang langsung disambut heboh oleh seluruh yang hadir di acara malam ini. Siapa yang menyangkah, si ganteng yang saat ini digilai hampir semua penikmat musik, saat ini hadir diantara mereka. Ia menyanyikan lagunya yang sangat fenomenal berjudul Forever. Lagu ini merupakan kolaborasi antara Edward Kim, Liliana Smith yang adalah seorang pemain biola, dan Arnold sendiri yang menyanyikan lagu itu.


Para kariawan langsung maju untuk melihat Arnold lebih dekat sekaligus mereka sedikit kesal karena tidak diijinkan untuk mengambil karena tak diijinkan membawa ponsel.

__ADS_1


Sementara Lerina masih tak percaya kalau penyanyi idolanya ada di sini. "Ed, bagaimana bisa Arnold ada di sini?"


"Aku kan pernah bilang padamu kalau Arnold pasti akan bertemu denganmu. Kebetulan Arnold ada di Bali jadi sekalian saja aku mengajaknya."


Lerina nampak sangat bahagia."Kita berdansa?"


Edward mengangguk. Keduanya pun langsung berdansa dengan sangat romantis membuat orang-orang semakin iri melihat kemesraan mereka.


Selesai berdansa dilanjutkan dengan acara pemotongan kue pemgantin. Edward dan Lerina memotong kue pengantin yang ada, setelah itu saling bersuapan dengan kue. Edward tiada henti-hentinya mengungkapkan rasa cintanya pada Lerina.


Acara dilanjutkan dengan foto bersama dan makan malam bersama. sungguh merupakan suasana perayaan pernikahan yang mewah, megah namun dalam suasana kekeluargaan dan persahabatan.


"Terima kasih, Arnold. Lagu forevermu itu sangat aku sukai." Kata Lerina saat mereka sedang makan di meja yang sama.


"Sama-sama. Sebenarnya aku hanya membalas semua kebaikan yang pernah dilakukan oleh Edward padaku. Sewaktu aku menikah dulu, Edward memainkan pianonya saat pengantin berjalan menuju ke altar." Kata Arnold sambil menatap Edward penuh rasa bahagia.


"Kau dulu pernah menikah?" Tanya Lerina tanpa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia sudah lama ngefans sama pria bule ini. Namun tak ada satu artikelpun yang pernah menyebutkan kalau Arnold pernah menikah.


"Ya." Jawab Arnold. Ia menarik napas panjang beberapa kali.


"Di mana dia kini? Kau tidak membawanya?"


Lerina akan bertanya lagi namun Edward buru-buru menyelah perkataan istrinya. "Sayang, kita menemui para tamu, yuk!" Ajak Edward.


Lerina mengangguk walaupun ia sedikit penasaran dengan Arnold.


Semua tamu yang hadir adalah kariawan di perusahaan Lerina. Ada yang bersama keluarga, ada juga yang datang sendiri. Mereka semua mengucapkan selamat kepada Lerina dan Edward.


Jam 9.30 malam, acaranya berakhir. Edward tak ingin Lerina merasa lelah. Arnold sudah lebih dulu pulang karena ia harus kembali ke Bali untuk konser di sana pada keesokan harinya.


Lerina dan Edward pun sudah kembali ke kamar mereka. Seorang pelayan membantu Lerina untuk membuka gaun dan rambutnya. Setelah itu Lerina sendiri ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Saat Lerina selesai, ia segera mengganti pakaiannya dengan sebuah gaun tidur dan naik ke atas tempat tidur. Ia duduk sambil mengselojorkan kakinya dan menonton TV.


Edward yang masuk ke kamar mandi setelah Lerina selesai, tak lama kemudian terlihat keluar dari kamar mandi. Seperti biasa, lelaki itu hanya betelanjang dada dan hanya menggunakan boxernya.


"Ada apa sayang melihatku seperti itu?" Tanya Edward.

__ADS_1


"Memangnya kamu nggak kedinginan, Ed? Suhu AC nya dingin." Ujar Lerina.


"Kan aku sudah bilang kalau Jakarta terlalu panas untukku." Kata Edward lalu naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping istrinya.


"Kita ke Seoul saja ya?" Bujuknya lalu meraih tangan Lerina.


"Ed, perusahaanku bagaimana?" Tanya Lerina dengan wajah sedih.


"Sayang, ijin tinggalku hanya berlaku sampai minggu depan. Dan setelah itu aku harus balik ke Seoul karena pekerjaanku juga banyak di sana. Aku tak mau meninggalkan kau di sini!" Kata Edward dengan tegas.


"Sejujurnya, aku ingin anakku ini lahir di Indonesia, Ed. Please...., aku tak mau berdebat masalah ini lagi karena membuatku sedih. Kita berdua berada di posisi yang sama beratnya. Aku juga tak mungkin bolak-balik Jakarta Seoul karena kondisiku yang sedang hamil." Kata Lerina lalu ia sedikit menyerong duduknya sehingga bisa menatap Edward secara baik.


"Ed, bagaimana kalau untuk sementara aku tetap di sini? Aku akan mempersiapkan seseorang untuk bisa memimpin perusahaan ini. Setelah aku melahirkan dan orang itu sudah siap, aku janji akan ikut kamu bersama anak ini ke Seoul. Bagaimana?" Tanya Lerina sambil menatap Edward dengan wajah penuh permohonan.


Edward menatap Lerina. Tatapan mata istrinya itu begitu meluluhkan hatinya. Edward tak sanggup melihatnya terluka.


"Sebenarnya ini sangat berat untukku. Tapi...., baiklah. Aku akan mengalah. Aku saja yang datang untuk menjenguk kalian. Walaupun sebenarnya aku tak mau berpisah lagi dengan kalian." Edward membungkuk dan mencium perut Lerina dengan lembut. "Hai sayang, anak papa di dalam perut mama. Sehat-sehat terus ya? Papa sudah nggak sabar untuk bertemu denganmu. Tapi malam ini bolehkah papa mengintip sedikit?" Tanya Edward.


Dahi Lerina berkerut sementara matanya sedikit mengecil. Ia menatap Edward tak mengerti. "Mengintip? USG nya nanti besok, sayang." Kata Lerina.


"Mengintip kali ini tak perlu memakai alatnya dokter." Kata Edward sambil menatap istrinya dengan tatapan menggoda. Namun Lerina sepertinya belum paham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Ed, aku tidak mengerti."


"Buka saja bajumu. Pasti sedikit lagi kamu akan mengerti kalau sudah merasakan enaknya."


Wajah Lerina langsung memerah. Ia memukul dada Edward secara perlahan dengan gemasnya. "Maksudmu mengintip tidak pakai mata kan?"


Edward langsung tertawa. Ia memeluk Lerina dengan hati yang bahagia. Untuk sesaat ia ingin melupakan masalah dirinya yang akan pergi sendiri ke Seoul. Edward ingin merasakan dulu indahnya malam pengantin pertama mereka setelah mengucapkan janji pernikahan dengan perasaan cinta.


"Ya, sayang. Aku mengintip tidak memakai mata tapi memakai alatku sendiri." Bisik Edward menggoda lalu segera mendorong Lerina perlahan agar berbaring secara benar.


"Aku akan sangat hati-hati. Ini saat pertama kita setelah mengucapkan janji sebagai suami-istri dalam rasa cinta yang benar." Bisiknya lagi lalu segera mematikan lampu kamar dan menikmati malam pertama mereka untuk kedua kalinya.


TERIMA KASIH SUDAH BACA YA...


MAAF AGAK LAMA UP KARENA KESIBUKANKU

__ADS_1


DENGAN PEKERJAANKU YANG SUDAH AKTIF LAGI.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA...


__ADS_2