
Mendengar pertanyaan Edward yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya membuat Lerina diam seribu bahasa. Apalagi tatapan mata Edward seperti menusuk uluh hatinya. Cintakah dia pada lelaki ini?
"Mengapa Le, apakah sulit bagimu untuk menjawab pertanyaan itu?" tanya Edward masih dengan tatapan matanya yang tajam.
"Ed...bolehkah kita membahas ini nanti karena...."
"Apakah karena tadi Calvin sudah datang menemuimu dan kalian saling berpelukan sambil menangis?" tanya Ed dengan suara yang sarat dengan nada cemburu.
"Apa?" Lerina terkejut. Ia tak menyangkah kalau Edward ternyata melihat dia dan Calvin tadi pagi.
Edward tersenyum sinis. Tangannya bahkan terlihat begitu kuat memegang pinggiran tempat tidur rumah sakit itu.
"Aku berdiri di dekat pintu masuk bersama Jien saat Calvin datang menemuimu!"kata Edward. Nada suaranya masih tetap sama namun kali ini volumenya sudah berkurang.
"Jien....?" Lerina menjadi semakin tak enak hati.
Lerina tertunduk. Ia tak berani menatap mata Edward. Ini bukan yang pertama Edward menunjukan rasa cemburunya. Lerina sebenarnya sedikit takut jika Edward cemburu karena cowok itu akan sangat berbeda.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau mencintaiku atau tidak?" tanya Edward terlihat kurang sabar karena tangannya semakin kuat mencengkeram besi pembatas tempat tidur itu.
"Ed, kau tahu bagaimana pernikahan ini kita awali. Kita terikat perjanjian. Memang dengan berjalannya waktu, aku merasa nyaman, senang saat bersamamu. Kebersamaan kita mengobati luka hatiku karena Calvin. Tapi jika kau bertanya apakah aku mencintaimu atau tidak, aku...aku tak tahu bagaimana perasaanku padamu saat ini, Ed." kata Lerina dengan perasaan yang bergemuru.
Edward memejamkan matanya, menekan rasa sakit didadanya. Ia pikir saat Lerina menyerahkan diri padanya secara utuh, saat Lerina membiarkan Ed menjadi lelaki pertama yang menyentuhnya, cinta itu sudah lahir di sana.
"Ed.....!" Lerina memajukan tubuhnya dan menyentuh tangan Edward dengan lembut "Aku pernah mengatakan padamu kalau aku tak mau terlalu cepat mengartikan perasaanku ini. Itu juga yang sebenarnya aku ingin kau lakukan. Kita sama-sama pernah patah hati karena cinta." Lerina menghentikan kalimatnya, karena perutnya terasa perih. Namun Edward sepertinya tidak memperhatikan itu karena ia sedang memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Ed....aku ingin jujur padamu. Tatapanmu, sentuhanmu, perhatian dan kasih sayangmu padaku selalu membuat hatiku berdebar. Namun saat aku tahu alasan Calvin menikahi Jien, aku goyah. Itulah mengapa saat ini aku bergumul dengan perasaanku padamu."
Edward menatap Lerina "Jadi, dia ingin kembali padamu?" tanyanya sambil menarik tangannya yang di pegang oleh Lerina.
"Tidak. Percakapan kami kemarin hanyalah penjelasan Calvin tentang maksud pernikahannya dengan Jien. Dia tidak memintaku untuk meninggalkanmu karena menurutnya aku sudah mencintaimu" kata Lerina pelan sambil tertunduk dengan deraian air matanya.
"Kalau Calvin saja bisa merasa bahwa kamu sudah mencintai aku, lalu bagaimana denganmu, Le?" tanya Edward sedikit frustasi.
Lerina mengangkat wajahnya. Menatap Edward dengan wajah yang bingung "Aku tak tahu, Ed. Aku takut mengatakan cinta padamu kalau pada akhirnya, hatiku belum seutuhnya untukmu"
"Atau, apakah kau ingin kembali pada Calvin?"
"Tidak, Ed. Aku tak mungkin kembali lagi pada Calvin. Aku tak mungkin menyakiti Jien. Dia sudah cukup menderita karena pernikahannya dengan Calvin" kata Lerina tegas.
Edward menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar. Ia memang kecewa namun dia senang atas kejujuran Lerina padanya.
Di sentuhnya wajah gadis itu dengan lembut. Lalu menghapus air mata Lerina dengan ibu jarinya. "Terima kasih sudah jujur padaku!" katanya lembut lalu mencium kepala Lerina dan memeluk perempuan itu dengan sangat erat.
"Ed, perutku....!"
Edward melepaskan pelukannya lalu membantu Lerina untuk berbaring kembali.
"Tidurlah...!"
Lerina menatap Edward "Kau akan kemana?"
__ADS_1
Edward menarik sebuah kursi dan mendekatkannya di tepi ranjang. "Aku akan di sini. Memangnya kemana lagi aku harus pergi?"
Lerina tersenyum lalu memejamkan matanya. Tak lama kemudian, dia merasa kalau Edward membelai kepalanya, membuatnya semakin dalam masuk ke alam mimpi.
***********
Jien menatap 2 buah koper yang sudah terisi penuh. Siap untuk di bawa oleh Calvin.
Sebenarnya dokter belum mengijinkan Calvin untuk pulang, namun pria itu sudah mengeraskan hatinya untuk pulang ke Indonesia.
Calvin keluar dari kamar mandi. Jien langsung mendekatinya dan membantunya mengenakan kemeja, lalu melingkarkan kembali penyangga tangannya.
"Pesawatnya akan berangkat 2 jam lagi. Kau masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap"
"Maafkan aku, Jien!" kata Calvin dengan hati yang sangat berat. Sungguh, ia tak tega melihat perempuan itu begitu baik padanya walaupun ia sudah sangat menyakitinya.
"Aku sudah memaafkanmu. Mungkin, jika aku berada di posisimu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Kita punya cara masing-masing untuk menunjukan rasa cinta kita pada seseorang. Aku sebenarnya kecewa karena kau tidak menceritakan semuanya pada Lerina" kata Jien sambil tersenyum. Ia lalu membuka cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
"Calvin, ini ku kembalikan padamu. Aku tak bisa menyimpannya karena akan terasa sulit melupakanmu!" kata Jien.
Calvin menerima cincin itu dengan perasaan yang semakin diliputi rasa bersalah. Ia memasukannya di kantong celananya.
"Jien....andai aku bisa mengubah perasaanku kepadamu....tapi aku tidak bisa....karena aku hanya mencintai Lerina." Calvin tanpa sadar menangis. Ia tahu betapa jahat dan kejamnya perbuatannya pada Jien.
"Tidak apa-apa, Calvin. Cinta tidak bisa dipaksakan. Aku justru sedih karena kau tak bisa bersama Lerina."
Calvin menghapus air matanya dengan kasar. "Mungkin sebaiknya aku pergi sekarang."
Jien mengangguk "Maaf, aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Ada sopir papa yang akan mengantarmu"
"Tolong diambil kopernya didalam!"
Sopir itu mengangguk dan segera mengambil koper Calvin yang di kamar.
"Saya tungguh di bawa tuan..!" ujar sopir itu dan segera keluar.
Calvin menatap Jien "Aku pergi ya..!"
Jien mengangguk.
Calvin melangkah menuju ke pintu masuk apartemen. Langkahnya tiba-tiba terhenti karena Jien memeluknya dari belakang. Tangis perempuan itu pecah. Calvin dapat merasakan kalau kemeja yang dipakainya basah.
Untuk beberapa saat, keduanya tetap ada dalam posisi itu. Calvin membiarkan Jien menangis dan memeluk tubuhnya erat.
"Maaf...aku membuat bajumu basah!" kata Jien lalu perlahan melepaskan pelukannya. Saat Calvin akan berbalik, Jien menahan tubuhnya.
"Jangan berbalik. Pergilah..!"
"Jien...!" Calvin memaksa diri untuk melihat Jien namun perempuan itu justru mendorong tubuh Calvin dari belakang.
"Jangan lupa jaga kesehatan ya?" kata Jien begitu pintu apartemen terbuka. Kemudian ia menutup pintu secara cepat sebelum Calvin berbalik.
__ADS_1
Jien bersandar di pintu masuk. Tangisnya kembali pecah. Hatinya begitu sakit. Bukan karena Calvin memilih pergi dan meninggalkannya. Tapi Jien tahu, Calvin sakit dan sakitnya itu cukup parah. Semua itu Jien tahu ketika dokter memeriksa Calvin saat ia tertembak. Darah Calvin agak lambat membeku karena pria itu ternyata mengidap penyakit kangker darah stadium 3.
Itulah sebabnya Calvin begitu ingin Lerina mendapatkan kembali perusahaannya. Agar ketika Calvin pergi meninggalkan Lerina karena sakitnya itu, Lerina tidak akan menderita kemiskinan.
Calvin secara diam-diam melakukan pengobatan untuk membuat tubuhnya menjadi kuat selama ini.
Sayangnya, saat melihat Lerina sudah bahagia bersama Edward, Calvin memilih untuk tidak menceritakan tentang sakitnya itu. Karena Calvin tahu bahwa Lerina pasti akan meninggalkan Edward dan memilih untuk bersamanya.
Jien memandang foto pernikahan mereka yang masih tergantung di ruang tamu apartemennya.
Tangannya perlahan menyentuh perutnya. "Terima kasih Calvin, kau tidak meninggalkan aku sendiri. Aku janji akan merawatnya dan menceritakan semua yang baik tentang dirimu."
Jien baru tahu kalau ia hamil tadi pagi. Dan ia pun memilih untuk tak mengatakan pada Calvin karena tak ingin menghalangi Calvin kembali ke Jakarta.
**********
Lerina menatap layar hp nya. Sebuah pesan dari Calvin baru saja masuk.
Aku sudah kembali ke Jakarta
Jangan lupa untuk mengurus perusahaan papamu
dengan baik. Jangan percaya pada paman dan bibimu karena mereka jahat padamu.
Terima kasih karena sudah memaafkanku.
Maaf juga karena tak bisa mendampingimu
walaupun hanya sebagai teman.
Hati Lerina merasa sakit membaca sms itu. Ia merasa ada sesuatu yang Calvin sembunyikan. Calvin seperti hendak pergi ke tempat yang jauh san tak akan kembali.
"Le...kau sudah siap?" tanya Edward membuyarkan lamunan gadis itu.
Lerina menoleh "Sudah. Kau dari mana?"
"Dari ruangan papa."
"Bagaimana keadaannya?"
"Papa masih belum sadar! Nana dan Jesica sedang menemani papa. Ayo kita pergi!" ajak Edward.
"Baiklah!" Lerina memasukan hp nya ke dalam tasnya. Ia mengikuti langkah Edward keluar dari ruangannya. Dokter sudah mengijinkannya untuk pulang hari ini.
"Le...ayo..!" Edward mengulurkan tangannya, meminta Lerina untuk mempercepat langkahnya.
Lerina menerima uluran tangan Edward lalu mengsejajarkan langkahnya dengan pria itu.
**Bagaimana kisah Lerina selanjutnya?
Akankah Lerina tahu tentang sakitnya Calvin?
__ADS_1
Dukung kisah ini dengan cara like, koment dan vote
Mau bahas cerita2 yg lain? gabung di grup chat yuk**...