
Wajah Lerina langsung terasa merah mendengar perkataan Edward dengan nada sensual yang sedikit merayu. Di saat mata mereka bertemu, Lerina memang dapat melihat ada kabut gairah yang terpancar di sana.
"Ed, kita kan sudah bercerai?" kata Lerina sambil menelan salivanya.
Edward tersenyum "Kita memang sudah bercerai. Lalu mengapa kamu mengajak aku menginap di sini? Meminta aku untuk masuk kamar ini? Siapa yang lebih dulu memeluk aku?" tanya Edward membuat Lerina tak mampu bicara.
Edward melepaskan pelukannya. Ia duduk sambil berselojor kaki dan melipat tangannya di depan dada. "Tidurlah. Aku sudah tidak bergairah lagi. Sebaiknya aku tidur di kamar tamu yang ada di bawah."
"Ed...!" Lerina menahan tangan Edward saat pria itu sudah menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang.
"Ada apa?" tanya Edward.
"Aku mau." ujar Lerina sambil tertunduk dengan wajah yang kembali terasa panas.
"Mau apa?" tanya Edward pura-pura tak mengerti pada hal hatinya berdebar karena senang.
"A-ku mau...me....ngo...bati kesepianmu. Se...lama 5 bu...lan i...tu." agak terbata-bata Lerina mengucapkan kalimatnya membuat Edward tak mampu menahan senyumnya. Ia mendekat kembali ke arah Lerina.
"Kau yakin?"
"Iya. Tapi pelan-pelan ya? Sudah ada anakmu di sini." kata Lerina sambil tersenyum dan memegang perutnya.
"Tentu saja aku akan hati-hati, sayang...!" ujar Edward lalu membungkuk dan memposisikan dirinya di atas Lerina.
"Sayang, Lerina Avigailku, malam ini juga aku menjadikan engkau kembali sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anakku. Apakah kau mau menerimaku lagi?" tanya Edward sambil menatap mata Lerina tanpa berkedip.
Air mata Lerina jatuh tanpa bisa ditahan. "Aku mau, Ed." ucapnya dengan suara yang hampir tak kedengaran karena dadanya yang sesak karena rasa bahagia yang tak tertahankan lagi.
"Besok, aku akan menelepon pengacaraku untuk mengurus pernikahan kita kembali. Tapi malam pengantin yang kedua ini jangan ditunda ya? Aku sudah tak tahan" kata Edward dengan tatapan menggoda. Ia menyingkirkan anak rambut Lerina yang menutupi wajahnya.
Lerina hanya mengangguk dengan wajah yang merona. Edward tersenyum lalu ia perlahan menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir Lerina. Menyesapnya perlahan lalu menggoda dengan lidahnya sehingga Lerina membuka mulutnya untuk memperdalam ciuman itu.
Agak lama Edward dan Lerina saling berbagi rasa melalui ciuman. Menandakan betapa rindunya mereka akan kemesraan ini.
Sampai akhirnya, satu,-satu kain yang menutup tubuh mereka terlepas.
Edward membelai perut Lerina dengan penuh rasa sayang. Ia bahkan menciumi perut itu berulang-ulang kali. Seakan menyapa bayi yang ada didalamnya.
Setelah Edward merasa kalau Lerina sudah sangat siap, barulah ia menyatukan dirinya dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin bayi dalam kandungan itu merasa kesakitan.
Lerina memejamkan matanya. Merasakan kenikmatan yang sudah 5 bulan tak lagi ia nikmati. Namun kali ini, Lerina menikmatinya dengan seluruh rasa cinta yang ia miliki. Sehingga bukan hanya raganya yang terpuaskan namun juga batinnya merasakan kebahagiaan yang sama.
Perempuan itu mengeluarkan desahan yang tak pernah Edward dengar saat mereka menyatu dulu. Lerina tanpa malu-malu menunjukan kepuasannya dalam dekapan dan cinta yang Edward berikan padanya.
"Sayang, aku sangat bahagia." kata Edward saat mereka telah mencapai puncak bersama. Masih dengan napas yang belum stabil, Edward menjatuhkan kepalanya diceruk leher Lerina.
Lerina hanya memeluk Edward sebagai tanda bahwa ia juga bahagia dalam penyatuan mereka saat ini.
***********
"Kau haus?" tanya Edward setelah beberapa saat keduanya saling diam sambil berpelukan. Tangan Edward melingkar dipunggung Lerina sambil memainkan jarinya secara acak di sana.
"Iya."
"Aku ambilkan air ya? Aku juga haus." Edward melepaskan pelukannya dan langsung turun dari tempat tidur. Ia memungut celananya dan mengenakannya kembali lalu turun ke lantai 1. Setelah minum 2 gelas air, Edward segera ke atas, membawa satu buah gelas dan satu botol air mineral.
Sesampai di kamar, dilihatnya Lerina sudah mengenakan kembali bajunya dan baru saja keluar dari kamar mandi.
"Minunlah!" Kata Edward sambil menyodorkan gelas berisi air ke depan Lerina.
"Terima kasih, Ed." kata Lerina lalu meminum sampai habis air didalam gelas itu.
__ADS_1
"Mau tambah lagi?" tanya Edward.
"Cukup." Lerina menggeleng. Ia kemudian naik lagi ke atas tempat tidur dan duduk berselojor kaki sambil bersandar di kepala ranjang.
Edward meletakan gelas itu di atas nakas lalu ia membuka celananya dan ikut naik ke atas ranjang.
Lerina terkejut melihat Edward naik ke atas ranjang dengan tubuh yang polos.
"Ed, kenapa tidak mengenakan baju?" tanya Lerina.
"Aku kepanasan!" jawab Edward lalu duduk di samping Lerina dan menyandarkan kepalanya dibahu Lerina.
"Ed, nanti kamu masuk angin" imbuh Lerina. Ia sebenarnya agak risih melihat penampilan Edward yang tanpa tahu malu duduk disampingnya dengan polos.
"Aku nggak mungkin masuk angin. Jakarta saja yang terlalu panas. Aku terbiasa dengan Korea yang dingin."kata Edward sambil terus memejamkan matanya.
Lerina pun membiarkan Edward yang bersandar pada bahunya. Ia pun memejamkan matanya, mencoba menikmati kebersamaan mereka.
Hampir saja Lerina jatuh dalam indahnya mimpi saat ia merasakan kalau tangan Edward sudah menyentuh tempat-tempat faforitnya.
"Ed....!" Panggil Lerina sambil menyingkirkan tangan Edward.
"Aku dingin!" bisik Edward tanpa menghentikan tangannya.
"Pakailah bajumu dan kenakan selimut"
"Aku ingin mendapatkan kehangatan darimu."
"Maksudmu?" Lerina sudah mulai waspada.
"Ayo kita bercinta lagi sayang!" bisik Edward dengan napas yang mulai tak beraturan.
"Tadikan sudah, Ed."
**********
"Selamat pagi, bi!" sapa Lerina pada bi Suni yang sementara membersihkan ruang tamu.
"Selamat pagi, nona. Apakah nona akan sarapan?"
Lerina mengangguk. Ia segera duduk di meja makan sambil menunggu bi Suni menyiapkan makanannya.
"Susah tidur ya, non? Nggak biasanya nona bangun jam segini. Apa nggak masuk kantor?" tanya bi Suni sambil menyajikan makanan di hadapan Lerina.
"Masuk, bi. Hanya saja kali ini aku terlambat. Jam 10 nanti ada rapat. Oh ya bi, tolong buatkan sarapan roti bakar dan segelas jus orange ya? Aku akan mengantarkan ke kamar"
"Nona mau sarapan lagi di kamar?"
Lerina agak tersipu. Namun ia pun bicara," Di kamar ada Edward, bi."
"Oh...Gusti...!" bi Suni menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wajahnya nampak terkejut tapi juga bahagia. " Bibi senang mendengarnya. Ini kabar yang bahagia. Nona dan tuan Edward sudah bersatu lagi?"
"Iya, bi!"
"Semoga bahagia terus ya, non. Jangan pisah-pisah lagi. Bibi senang sekali mendengarnya" kata perempuan tua itu dengan mata berkaca-kaca.
Lerina pun tersenyum dan menikmati sarapannya dengan bahagia. Selesai makan, ia segera membawa sarapan Edward ke kamar. Di lihatnya kalau Edward masih terlelap. Lerina pun segera mengganti pakaiannya dan berdandan seadanya. Saat ia sudah selesai, Edward pun nampak menggerakan badannya.
"Sayang, kau mau kemana?" tanya Edward sambil menatap istrinya dalam keadaan tidur menghadap ke arah Lerina.
"Aku mau ke kantor, Ed. Ada rapat jam 10" Lerina mendekat dan duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
"Kenapa masuk kerja? Mendingan di sini dengan aku. Kita kan belum selesai melepas rindu?" ujar Edward lalu meletakan kepalanya dipaha Lerina.
"Aku ada rapat jam 10, Ed. Kalau nggak ada rapat, aku pasti juga nggak akan pergi. Badanku sakit semua"
"Aku sudah membuatmu capek, ya?" tanya Edward lalu memiringkan badannya dan mencium perut Lerina.
Lerina hanya tertawa kecil. Ia membungkuk dan menghadiahkan satu ciuman di kepala Edward. "Sayang, aku pergi dulu ya? Sudah hampir terlambat."
Edward pun mengangkat kepalanya. Ia mengangguk lalu mencium bibir Lerina dengan lembut.
"Jangan terlalu lelah. Selalu jaga kesehatan"
Lerina mengangguk. Ia pun segera berdiri dan meraih tasnya di atas meja.
"Ed, sarapanmu."
"Terima kasih, sayang." ujar Edward sebelum Lerina menghilang dibalik pintu. Edward pun bangun, mengenakan lagi pakaiannya lalu duduk di depan meja sambil menikmati sarapannya.
Selesai sarapan, ia menelepon Veronika.
"Hai...Ed, aku pikir kamu belum bangun!" terdengar suara Veronika dari seberang.
"Aku baru saja bangun"
"Bersenang-senang ya semalam?"
Edward hanya terkekeh. "Jam berapa pesawatnya berangkat?"
"Jam 1 siang. Dan kau, apakah akan pulang?"
"Tidak. Aku mau menikah lagi dengan mantan istriku. Aku hanya mau mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Kau bahkan telah mengirimkan tiket konser untuk mempersatukan kami berdua"
"Aku ingin kau bahagia, Ed."
"Sekali lagi terima kasih. Bye...!" Edward tersenyum. Ia tahu kalau Veronika punya hati untuknya. Namun Edward juga tahu kalau Veronika bukanlah seorang gadis yang suka memaksakan kehendaknya. Edward yakin kalau Veronika akan mendapatkan pria yang terbaik untuknya.
Tak lama kemudian pintu kamar diketuk. Edward membukanya. Ternyata Keyri yang datang membawa koper Edward.
"Bos, ini kopernya. Ijin tinggal bos hanya sampai 2 hari lagi. Hari ini rombongan Veronika akan ke Bali. Bos tidak ingin ikut?" tanya Keyri.
"Tidak. Aku mau mengurus berkas pernikahan kembali dengan Lerina. Kau teleponlah pengacara kita untuk mengurus segala sesuatu sehingga ijin tinggalku bisa diperpanjang selama 1 minggu." kata Edward sambil mempersilahkan Keyri masuk.
Keyri menatap keadaan ranjang yang nampak masih berantakan. Ia tersenyum membayangkan apa yang terjadi di kamar ini semalam.
"Hei Keyri, ada apa senyum-senyum. Makanya cepat telepon Susan dan ajak dia menikah. Nanti aku juga akan menelepon Arnold dan memintanya untuk mendorong Susan untuk menerimamu"
"Benarkah bos?" Keyri nampak antusias.
"Ya. Sekarang aku sudah bahagia. Jadi saatnya kau bahagia."
Keyri nampak tersenyum bahagia. Ia sudah tak sabar ingin pergi lagi ke London dan bertemu dengan Susan.
"Aku mau mandi dulu. Setelah itu kau antar aku suatu tempat" kata Edward setelah mengeluarkan bajunya dari koper.
"Kemana bos?"
Edward tersenyum misterius "Aku akan membuat kejutan yang menyenangkan untuk Lerina."
Nah, kejutan apakah itu?
Kita tunggu saja di episode berikut
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan vote ya...