LERINA

LERINA
Perang Batin


__ADS_3

Kaki Lerina yang sedang berdiri, perlahan mulai goyah saat mendengar semua penjelasan Ryun Ong. Ada rasa sakit yang menyeruak dari dalam hatinya membayangkan kalau Edward akhirnya akan kembali pada Jesica setelah mengetahui kebenaran tentang pernikahan papanya dengan Jesica.


Perlahan gadis itu melepaskan gagang pintu yang dipegangnya. Ia mundur dengan kepala yang mulai berdenyut. Ia duduk di bangku yang ada di depan pintu masuk, seiring dengan dokter yang memasuki ruangan itu. Ketika melihat bahwa Edward dan Jesica akan keluar dari sana, Lerina pun memutuskan untuk bersembunyi. Ia melihat sebuah lemari minuman dingin otomatis yang letaknya agak berlawanan arah dengan jalan keluar lorong rumah sakit itu. Lerina yakin kalau Edward dan Jesica tidak akan berjalan ke arah sana sehingga ia memutuskan untuk bersembunyi di sana.


Namun Jesica dan Edward justru berhenti tak jauh dari situ, membuat Lerina mendengar semua percakapan yang dilakukan Ed dan Jesica.


Ternyata, cinta mereka dulu begitu kuat. Mengapa takdir membuat semuanya menjadi kacau? Mengapa harus ada si mafia Ryun Wong? Apakah semua ini juga ibarat kisahnya bersama Calvin?


Semua pertanyaan itu membuat Lerina tak bisa menahan tangisnya dan membuatnya sangat sedih.


Yura merasa haus dan ingin membeli minuman dingin. Dia tahu ada mesin minuman otomatis di dekat lorong kamar tidur ayah mertuanya itu. Saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


" Lerina, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yura saat ia keluar dari ruang perawatan Ryun Ong dan menemukan gadis itu sedang berjongkok di sebelah mesin minuman. Sangat dekat dengan tempat Edward dan Jesica berdiri.


Lerina sebenarnya merasa malu untuk keluar dari tempat persembunyiannya karena matanya yang agak sembab. Namun ia menguatkan dirinya, berdiri perlahan, menghapus air matanya dan berusaha menarik bibirnya agar membentuk sebuah senyum.


"A...ku datang untuk berpamitan pada papa" katanya dengan suara yang bergetar. Sangat jelas ia menahan tangisnya.


"Berpamitan? Apa maksudmu?" tanya Yura tak mengerti.


"Aku mau kembali ke Jakarta!" kata Lerina pelan.


Yura sangat terkejut. Ia tak menyangkah kalau Lerina akan mengatakan itu. Ia memang sudah tahu latar belakang pernikahan Edward dan Lerina. Namun ia yakin kalau Lerina dan Edward sebenarnya sudah saling mencintai.


Dari rahang Edward yang mengeras menahan marah, Yura yakin kalau pasangan suami istri itu sedang marahan. Dan Yura tak suka melihat Jesica yang nampak tersenyum senang.


"Papa sedang tidur. Sebaiknya kau tunda dulu keinginanmu untuk pulang ke Jakarta. Eh...Jesica, tolong temani aku ke Lab untuk mengambil hasil tes darah papa." ajak Yura dan langsung menarik tangan Jesica tanpa memperdulikan tatapan protes Jesica.


Edward menatap Lerina. Ingin rasanya ia memeluk Lerina saat melihat perempuan itu menangis. Namun rasa sakit yang ada di hatinya membuatnya menahan diri untuk melakukan itu.


"Ed, bagaimana keadaan papa?" tanya Lerina.


"Papa sudah sadar walaupun kondisinya masih belum stabil. Sekarang papa lagi tidur. Kami diminta untuk tidak menganggunya beberapa jam ke depan. Aku mau pulang....!" kata Edward lalu membalikan badannya dan langsung melangkah.


Lerina merasakan hatinya sakit dengan sikap Edward yang sangat dingin padanya.


"Ed.....!" panggil Lerina.


Langkah Edward terhenti. Namun ia tak mau membalikan badannya. "Ada apa?"


"Jangan marah padaku, Ed. Aku nggak mau kamu melakukan aku seperti ini. Sakit, Ed...!" ujar Lerina tanpa menahan air matanya. Ia sudah cukup kesal melihat sikap Edward di kamar saat ia hendak membantunya untuk ganti pakaian, dan sekarang ia bertambah kesal melihat Jesica dan Edward yang berpelukan.


"Sakit?" tanya Edward lalu membalikan badannya. "Kamu bilang sakit karena aku mengacuhkanmu? Lalu, perbuatanmu yang meminum pil kontrasepsi itu tanpa mengatakannya padaku, kamu yang membalas pesan Calvin tanpa meminta ijin padaku, dan keputusanmu untuk kembali ke Jakarta, kamu pikir tidak menyakitiku?" tanya Edward dengan kesal.

__ADS_1


Ia mendekati Lerina, menarik tangan gadis itu dan meletakannya di dadanya, tepat dijantungnya. "Ini lebih sakit, Le. Kau tahu betapa besar rasa cemburu yang kumiliki saat melihatmu bersama Calvin, membayangkan saja kau masih memikirkannya di dalam hatimu sudah membuat darahku mendidih."


Tatapan mata mereka bertemu. Lerina dapat melihat luka yang begitu dalam terpancar dari mata indah Edward.


"Ed.....!" Lerina menarik tangannya yang masih dipegang oleh Edward "Aku mau pulang ke Jakarta bukan karena ingin bertemu Calvin. Tapi aku ingin melihat perusahaan papaku. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan di sana."


"Tetap saja di sana ada Calvin, Le. Siapa yang bisa memastikan kalau kau dan dia tak akan bertemu"


"Kami memang harus bertemu, Ed. Karena ada beberapa dokumen yang masih dipegang oleh Calvin"


Edward tersenyum sinis "Benarkan, dia sengaja menahan beberapa dokumen itu karena memang dia masih ingin bersamamu."


"Kau keterlaluan...Ed. Itu sama saja kau tak percaya padaku!"


"Bagaimana aku bisa percaya padamu sedangkan kau saja masih bingung dengan perasaanmu padaku"


"Tapi aku bukan gadis murahan yang semudah itu akan jatuh pada pelukan laki-laki lain. Aku sepenuhnya sadar, Ed. Aku ini masih istrimu!" kata Lerina dengan emosi yang tak dapat lagi ditahannya. Ia segera pergi meninggalkan Edward. Ada rasa kecewa dalam hatinya.


*************


Saat pintu kamar terbuka, Edward menemukan ruangan yang gelap. Dengan bantuan sinar lampu balkon yang masuk dari pintu kaca, Ed dapat melihat kalau tempat tidur dalam kosong, sofa pun nampak kosong. Edward berjalan ke arah kamar mandi. Ia membukanya, Lerina tak ada di sana.


Apakah Lerina tidur di kamar tamu?


Kemana Lerina? Bukankah ini sudah hampir tengah malam? Atau...apakah Lerina pergi? Apakah Lerina kembali ke Jakarta?


Jantung Edward bagaikan ditarik keluar dari tempatnya saat memikirkan itu.


Ia menuju ke kamar Nana. Mengetuk pintu kamar Nana dengan tak sabar. Karena tak ada jawaban, Edward langsung membukanya. Saat lampu itu dinyalahkan, kamar Nana terlihat kosong dan Edward baru ingat kalau Nana tadi minta ijin pulang le rumahnya dan akan kembali besok pagi.


Edward menutup kembali pintu kamar Nana. Ia meraih hp nya dari saku celananya dan menelepon Lerina namun hp gadis itu tak aktif.


Dada Edward terasa sesak.


Apakah Lerina benar meninggalkannya? Apakah Lerina pergi tanpa berpamitan padanya? apakah gadis itu tersinggung karena Edward bersikap kasar padanya di rumah sakit?


Semua pertanyaan itu membuat Edward merasa gundah. Rasa takut akan kehilangan gadis itu membuat Edward frustasi.


Tidak...! Lerina tak mungkin meninggalkannya. Sekalipun Lerina belum sepenuhnya mencintai dirinya namun Edward yakin kalau Lerina tak mungkin meninggalkannya tanpa pamit.


Edward naik kembali ke lantai 2. Ia membuka pintu kamar, menyalahkan lampu dan segera masuk ke dalam walk in closet. Ia melihat apakah ada koper yang hilang. Ternyata tidak. Semua pakaian Lerina pun masih tertata rapih.


Lalu kemana istrinya itu?

__ADS_1


Edward duduk dengan frustasi. Tangannya memijat dahinya dengan hati yang semakin galau. Ia pulang larut karena papanya kembali mendapat serangan jantung. Setelah keadaan papanya agak stabil, Edward pun memutuskan untuk pulang, menyisahkan Jesica dan bi Yun yang berjaga di sana karena Taeyung dan Yura juga harus pulang untuk mengurus perusahaan esok hari.


Bunyi benda yang jatuh dari arah balkon membuat Edward berdiri dan segera membawa dirinya ke sana. Ia membuka pintu kaca penghubung kamar dan balkon.


Ingin rasanya Edward berteriak karena gembira saat melihat perempuan yang membuatnya frustasi beberapa jam belakangan ini sedang terbaring di atas sofa balkon. Ia tidur sambil melipat kedua kakinya ke belakang dan memeluk dirinya sendiri.


Di atas meja, Edward melihat sebotol anggur dan sebuah gelas yang isinya sudah kosong. Botol anggur itu pun isinya sudah tinggal separuh.


Di bawa meja, ada hp Lerina yang tergeletak begitu saja. Mungkin benda itu yang terjatuh dari genggaman Lerina karena dia sudah tertidur.


Edward berjongkok di depan Lerina. Menyibak beberapa helai rambutnya yang menutupi wajah cantiknya.


"Gadis bodoh! Mengapa kau sampai tertidur di sini? Apakah kau mau mati kedinginan?" guman Edward. Lalu secara perlahan ia mengangkat tubuh Lerina, sambil menahan sakit ditangannya yang terluka. Ia meletakan Lerina di atas ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Lerina.


"Ed....kaukah itu?" tanya Lerina. Ia masih memejamkan matanya hanya tangannya yang terangkat seperti hendak menyentuh Edward.


"Ya. Ini aku...tidurlah..!" kata Edward, meraih tangan Lerina dan memasukannya ke dalam selimut. Ia duduk ditepi ranjang sambil terus memperhatikan Lerina


"Kau jahat Ed....! Aku membencimu...! " guman Lerina sambil tangannya kembali ditariknya keluar dari selimut. Ia memegang kemeja Edward. Menariknya perlahan, sambil terus meracau.


"Aku benci melihatmu bersama Jesica....aku benci melihatmu memeluknya....aku terluka Ed...."


Edward tersenyum mendengar perkataan Lerina. Walaupun itu diucapkannya dalam keadaan mabuk, namun bukankah orang mabuk selalu berkata jujur?


"Kau mencintaiku sayang....!" bisik Edward sambil mengecup dahi Lerina. Kemarahan, rasa kesal dan frustasi yang dirasakannya beberapa hari ini bagaikan menguap pergi mendengar kata-kata Lerina.


"Aku tidak mencintaimu, Ed. Aku membencimu!" kata Lerina terdengar kesal. Ia menarik kemeja Edward semakin kuat sehingga tubuh Edward sudah sangat dekat dengan Lerina, deru napas gadis itu pun sudah terasa di kulit wajah Edward.


Tangan Lerina perlahan melepaskan kemeja Edward yang dipegangnya. Ia memiringkan tubuhnya, memunggungi Edward lalu melipat kedua tangannya untuk dijadikan sandaran kepalanya.


"Jangan pergi Ed...! Jangan temui Jesica. Aku akan membunuhmu jika kau lakukan itu!" masih terdengar suara Lerina yang penuh ancaman sebelum akhirnya gadis itu benar-benar tenggelam dalam mimpinya.


"Salanghae....!" bisik Edward lalu membaringkan tubuhnya di samping Lerina. Ia mencoba memejamkan matanya. Mencari ketenangan di samping perempuan yang banyak membawa perubahan dalam hidupnya.


Saat ini, Edward memang sudah tahu bagaimana status hubungan papanya dengan Jesica. Jujur, itu menghadirkan penyesalan yang amat dalam di hati Edward karena Jesica membiarkan kisah cinta mereka terhalang karena ancaman Ryun Wong. Andai saja Jesica mau jujur, pasti semuanya akan berjalan baik-baik saja. Pasti sekarang ia akan terus bersama dengan Jesica bahkan memiliki anak-anak yang sangat Edward inginkan dalam kehidupan mereka.


Kini, Lerina sudah bersamanya. Edward tahu perasaannya pada Jesica sudah terkikis dengan kehadiran gadis ini. Edward sangat bahagia ketika pertama kali Lerina menyerahkan diri padanya. Edward berjanji akan membuang semua kontrak awal yang terjadi diantara mereka dan membuat pernikahan ini berada di poros yang seharusnya.


Namun, pil anti hamil itu dan keinginan Lerina untuk pulang ke Jakarta membuat hati Edward terguncang. Edward ingin membenci Lerina seperti yang pernah dilakukan ia lakukan pada Jesica. Namun ia tak bisa. Karena Edward tahu, cintanya pada Lerina terlalu besar.


MAKASIH SUDAH BACA PART INI


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA...

__ADS_1


__ADS_2