
Mereka yang sedang menikmati kopi di salah satu restaurant yang ada di tempat bermain ski itu menatap Edward dan Lerina yang sedang melangkah sambil bergandengan tangan. Baju ski mereka dan perlengkapan lainnya sudah diambil oleh para pelayan.
Tak ada lagi wajah Edward yang marah dan wajah Lerina yang penuh ketakutan.
"Pasangan yang aneh...!" guman Yura.
"Aku merasa kalau Edward sangat posesif terhadap Lerina. Calvin kan hanya menolong Lerina" ujar Jesica menyambung ucapan Yura.
"Cinta dapat membuat orang menjadi berubah" kata Taeyung datar tapi membuat semua yang ada di sana terkejut. Selama ini Taeyung tidak pernah menyambung perkataan orang apalagi percakapan tentang hubungan orang.
Lerina dan Edward sudah masuk ke dalam restaurant dan bergabung dengan mereka.
"Calvin, aku minta maaf untuk hal yang tadi ya. Aku hanya tak ingin ada orang lain yang memeluk istriku ini. Terima kasih sudah menolongnya" kata Edward sambil mengulurkan tangannya pada Calvin.
"Its ok, Ed" jawab Calvin dingin namun ia menjabat tangan Edward juga.
"Setelah ini kita naik kereta gantung ya. kita ke puncak Titlis....Lerina, kau pasti belum pernah ke sana kan?" ujar Jien.
Lerina mengangguk "Kita pergi ya, Ed!"
"Apapun untukmu, sayang" kata Edward sambil melingkarkan tangannya dibahu Lerina.
Selesai minum kopi, mereka pun menuju ke tempat kereta gantung untuk menuju ke puncak pegunungan Titlis yang terkenal dengan salju abadinya.
Saat sedang antri untuk naik, tiba-tiba seseorang menyentuh tangan Yura.
"Yura..!"
Yura menoleh dengan kaget " Grandy?" ia langsung tersenyum senang dan memeluk Grandy dengan hangat.
Melihat hal itu, Taeyung tiba-tiba saja menarik tangan Yura hingga pelukan itu terlepas dengan paksa.
"Taeyung!" Yura menatap protes ke arah Taeyung dan hendak melepaskan tangannya tapi Taeyung justru menarik tubuh Yura dan memeluk pinggang Yura secara posesif.
"Hallo Grandy...!" sapa Taeyung dengan senyum manisnya.
"Hai..juga!" Grandy membalas sapaan itu masih dengan wajah bingung karena ia tahu bahwa hubungan Taeyung dan Yura sedang dalam proses perceraian.
Yura hendak melepaskan tangan Taeyung yang melingkar dipinggangnya namun Taeyung tak bergeming.
"Sedang liburan di sini juga?" tanya Taeyung sambil menarik tangan Yura yang satu agar melingkar juga dipinggangnya.
"Iya. Aku bersama dengan kedua orang tuaku!" kata Grandy sambil mengarahkan telunjuknya pada sepasang suami istri yang sedang antri juga.
"Semoga liburannya menyenangkan ya. Yuk sayang..!" Taeyung langsung menarik Yura untuk masuk ke dalam kereta.
"Ada apa denganmu?" tanya Yura sedikit kesal ketika mereka sudah duduk di dalam kereta.
Edward dan Taeyung pun masuk di kereta yang sama dengan mereka.
"Sudah diam saja!" kata Taeyung kembali dengan wajah garangnya.
Lerina menahan senyum saat melihat tingkah Taeyung dan Yura.
Saat kereta mulai berjalan, Edward langsung memeluk Lerina dengan lembut.
"Kamu takut?" tanya Edward.
"Nggak, Ed. Hanya perutku rasanya sedikit berputar-putar. Mungkin karena ini pengalaman pertamaku" kata Lerina.
Melihat Edward yang memeluk Lerina secara posesif, Taeyung pun melingkarkan tangannya di bahu Yura dan membuat Yura terkejut. Ia berusaha melepaskan tangannya namun pria itu justru semakin erat mencengkram bahu Yura.
"Tae...ada apa sih?" bisik Yura merasa risih dengan perlakuan Taeyung padanya.
"Sudah...diam..!"Taeyung tetap memasang tampang garang. Namun setelah dilihatnya Yura sudah tak menolak lagi, ia mengigit bibirnya menahan senyum sambil pura-pura menghadap ke tempat lain.
Lerina dan Edward saling berpandangan sambil tersenyum. Edward mencium kepala Lerina sambil mengeratkan pelukannya. Tanpa di duga, Taeyung pun melakukan yang sama pada Yura.
Suasana di kereta gantung jadi hangat karena tingkah Taeyung yang membuat Yura beberapa kali harus melonjak karena kaget.
Saat tiba di puncak Titlis, mereka langsung berpencar mencari posisi yang pas untuk melihat pemandangan dari atas gunung.
__ADS_1
Calvin menekan rasa sakit yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Dia ingat percakapannya dengan Lerina saat mereka sedang membicarakan rencana pernikahan.
"Sayang, kalau nanti kita menikah, aku nggak mau pesta yang besar dan mewah" kata Lerina yang saat itu sedang bersandar di dada Calvin. Keduanya sedang duduk di atas rumput, di salah satu taman.
"Mengapa? Aku ini yang tertua. Pastilah keluargaku ingin membuat pesta pernikahan yang sangat besar"
Lerina melepaskan tangan Calvin yang melingkar dipinggangnya. Kemudian ia berbalik dan menatap Calvin.
"Bagiku pesta yang besar dan mewah hanya buang-buang uang. Mungkin karena sekarang keluargaku sudah miskin sehingga aku lebih menghargai nilai sebuah rupiah."
Calvin membelai wajah Lerina dengan lembut."Aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Apa yang membuatmu bahagia, itu juga yang akan membuatku bahagia."
Lerina tersenyum "Aku punya keinginan yang sudah lama aku impikan. Namun aku ingin melakukannya denganmu"
"Apa itu?"
"Saat kita sudah menikah, aku ingin bulan madu di Swiss. Aku ingin ke puncak Titlis dan melihat salju abadi di sana. Ada yang bilang, kalau sepasang kekasih yang pergi di sana serta mengucap janji setia, maka cinta mereka akan abadi seperti gunung itu yang dipenuhi oleh salju abadi"
Calvin memeluk Lerina dengan erat. "Aku janji padamu, kita akan ke Swiss bersama. Aku ingin mengucap janji suci bersama karena cinta kita memang abadi."
Calvin kembali menarik napasnya dan menghembuskannya secara kasar.
Mereka memang sudah ada di puncak Titlis saat ini. Tapi Lerina sudah ada dalam pelukan Edward.
"Sayang....!" panggil Jien membuyarkan lamunan Calvin.
"Ada apa?" tanya Calvin.
"Foto bareng yuk!" ajak Jien sambil mengarahkan kamera hp nya ke arah mereka.
Calvin pun berusaha tersenyum walau hatinya semakin sakit melihat kemesraan Edward dan Lerina di sana.
***********
Malam ini salju kembali turun dengan deras. Selesai makan malam, semua langsung masuk ke kamar masing-masing.
Di kamar Yura dan Taeyung nampak Yura yang sedang duduk sambil berselojor kaki di atas tempat tidur dan memegang hp nya. Ia membalas chating seseorang. Ia nampak senyum-senyum sendiri.
"Sedang apa?" tanya Taeyung tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"Chating" jawab Yura tanpa mengalihkan pandangannya dari layar hp.
"Chating dengan siapa?"
"Teman"
Taeyung mengerutkan dahinya
Teman? Sejak kapan Yura punya teman? Bukankah selama ini hanya Lerina temannya?
"Siapa?" tanya Taeyung sedikit kesal karena Yura sama sekali tak menatapnya.
"Grandy!"
Deg!
Darah yang mengalir ditubuh Taeyung tiba-tiba menjadi panas. Ia langsung berdiri, melemparkan buku yang ada ditangannya lalu segera naik ke atas tempat tidur.
"Sudah malam. Waktunya tidur!" tanpa diduga, ia langsung menarik hp yang dipegang Yura dan meletakannya di meja yang ada disamping tempatnya berbaring.
"Taeyung....kembalikan! Aku masih bicara dengan Grandy. Aku bahkan belum pamit padanya" Yura melewati tubuh Taeyung hendak mengambil lagi hp nya namun Taeyung justru menarik tubuh Yura sehingga perempuan itu kini berada di bawahnya.
"Ka..kamu mau apa?" Yura langsung memasang tanda awas di wajahnya. Jantungnya sudah mulai bergetar tak karuan menatap wajah tatapan menggoda Taeyung.
"Aku nggak suka kamu dekat dengan Grandy" kata Taeyung dengan nada tegas.
"Dia temanku dan..."
Taeyung langsung membungkam mulut Yura dengan tangannya.
"Kau milikku. Hanya milikku!"
__ADS_1
Yura menarik tangan Taeyung dari mulutnya "Aku bukan milikmu. Karena kau adalah milik Nula!"
"Saat kita pulang, aku akan membereskan hubunganku dengannya. Dan kau harus menegaskan pada Grandy kalau aku adalah suamimu" kata Taeyung dan langsung memungut bibir istrinya dengan penuh hasrat. Tak memberikan Yura kesempatan untuk berpikir ataupun mengatakan sesuatu. Taeyung ingin merasakan lagi kehangatan antara mereka berdua melalui penyatuan yang membuatnya merasa sangat bahagia.
***********
Di kamar tidur Edward dan Lerina, suasana lain justru sedang tercipta. Keduanya sedang bermain catur. Nampak wajah Edward sudah dipenuhi 4 coretan lipstick dan pipi Lerina masih nampak bersih.
"Aku curiga, kamu itu main curang...!" tuduh Edward
"Aku nggak main curang, Ed. Kamu kan dari tadi menatap papan catur ini tanpa berkedip. Jadi akui saja, kamu memang nggak hebat dalam permainan catur"
Edward mengkerucutkan bibirnya.
"Skak...!" teriak Lerina sekali lagi.
"Aduh...mengapa kalah lagi?"
Lerina mengambil lipstick dan hendak menggariskan lagi di wajah Edward, namun cowok nampak semakin cemberut.
"Mengapa cemberut?" tanya Lerina.
Edward diam.
Lerina meletakan lagi lipsticknya. Ia lalu mengambil tissue basah dan mulai membersihkan wajah Edward.
"Sudah, Ed. Wajahmu sudah mulus kembali"
Edward masih diam tanpa ekspresi.
"Ed...!" Lerina mencubit pipi Edward.
Edward masih diam.
"Ed....!" kali ini Lerina mencium pipi Edward.
Edward mulai tersenyum.
"Kamu mempermainkan aku ya...!" Lerina langsung mengelitik Edward dengan sedikit jengkel.
"Aow.....ampun....! Ampun tuan putri...!" Edward yang memang tidak dengan rasa geli langsung menahan tangan Lerina tanpa bisa menahan tawanya.
"Rasakan...!" Lerina melepaskan tangannya dan langsung bersandar di kepala ranjang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Edward mendekat.
Cup..
Satu ciuman langsung mendarat di pipi Lerina.
Lerina diam.
Cup
Ciuman kedua mendarat di dahi Lerina.
Lerina masih diam juga.
"Kalau kamu masih diam juga, jangan salahkan aku jika aku akan menciummu tampah berhenti sampai pagi. Dan aku bukan hanya akan mencium pipimu, tapi aku juga akan mencium bibirmu terus ke sini...dan di sini....juga di sini..!" tangan Edward mulai menunjuk tempat-tempat faforitnya ditubuh Lerina.
"Edward....ampun....!" Lerina langsung memeluk Edward erat.
Dan apakah Edward langsung luluh? No, tangan Edward justru sudah ada ditempat-tempat yang ditunjuknya tadi.
Liburan yang menyenangkan..
MAKASI SUDAH BACA PART INI...
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMENTARI DAN VOTE YA..
BINTANG 5 NYA JUGA DONG...
__ADS_1