LERINA

LERINA
Membatalkan Rencana


__ADS_3

Lerina turun dari mobilnya sambil membawa bekal makan siang yang sudah disiapkan olehnya. Hari ini dia akan memberikan kejutan pada Calvin sekaligus mengajak cowok itu untuk mengambil cincin pernikahan mereka.


Pegawai yang ada di lobby sudah mengenal Lerina. Ia tersenyum sambil berkata," Pak Calvin ada di ruangannya."


"Terima kasih!" ujar Lerina lalu segera masuk ke dalam lift, menuju lantai 5, tempat ruangan wakil direktur berada. Papa Calvin masih menjadi presiden direktur di perusahaan ini.


Di lantai 5 ini hanya ada 2 ruangan dan ruang tamu yang cukup besar.


Lerina melihat kalau pintu ruangan Calvin sedikit terbuka. Ia hampir saja masuk, saat ia mendengar suara seorang perempuan yang menggunakan bahasa Korea.


" Aku sedang mengandung anakmu. Usia kandunganku sudah hampir 6 bulan"


Lerina terkejut. Itukan suara Jien?


"Kau hamil anakku?" terdengar suara Calvin yang sangat terkejut


"Ya"


Lerina mendorong pintu itu perlahan membuat Calvin dan Jien sama-sama menoleh ke arah pintu.


Pandangan Lerina langsung tertuju pada perut Jien yang sudah membesar. Mulutnya bagaikan dikunci dan kehilangan kata-kata.


"Na, ayo duduk!" Calvin berdiri dan mendekati Lerina, ia memegang lengan gadis itu dan mengajaknya untuk duduk.


Lerina mengikuti langkah Calvin. Mereka duduk berdampingan tepat di depan Jien.


"Lerina, aku datang bukan untuk membatalkan pernikahanmu dengan Calvin. Aku hanya ingin membantu Calvin dalam pengobatannya." kata Jien dengan penuh ketulusan.


"Sejak kapan kau tahu tentang kehamilanmu?" tanya Lerina dengan penuh rasa kasihan.


"Sehari sebelum Calvin pulang ke Jakarta." jawab Jien sambil tertunduk.


"Mengapa kau tak mengatakan padaku?"tanya Calvin dengan wajah yang sedih.


"Karena aku tak ingin membuatmu mengasihani aku. Aku tahu kalau kamu mencintai Lerina. Aku rela kau bersama Lerina. Hanya saja, saat tahu kalau anak ini bisa membuatmu sembuh, aku datang ke tempat ini untuk menawarkan bantuan. Aku ingin kau sembuh, Vin. Aku ingin kau mengenal anak ini." Jien tak dapat menahan air matanya.


Hati Lerina tersentuh. Pengorbanan Jien begitu besar untuk Calvin.


"Maaf Jien. Aku tak bisa menerima tawaranmu. Aku tak ingin kehadiran anak ini kesannya kumanfaatkan sementara aku telah meninggalkanmu. Aku bukan papa yang baik untuknya. Aku lelaki brengsek yang telah menyakitimu. Aku bahkan tak pernah menginginkan kehadiran anak ini" Calvin menggelengkan kepalanya sambil mengepal tangannya. Ada perasaan malu yang timbul dalam hatinya karena pernah menyakiti Jien.


"Kau tidak memanfaatkan anak ini. Aku pikir ini jalan yang sudah diatur oleh Tuhan agar kau boleh sembuh. Aku sendiri tak menyadari bahwa perjalanan ke Swiss justru membuahkan anak ini" Kata Jien sambil membelai perutnya.


Tangis Calvin pecah. "Aku malu padamu, Jien. Aku sungguh tak pantas menerima kebaikanmu." ucap Calvin semakin dilingkupi rasa bersalah.


"Jien benar, Vin. Anak ini adalah cara Tuhan untuk memberikan harapan bagi kesembuhanmu. Lagi pula kau tidak akan menyakitinya dengan menerima transplantasi itu" ujar Lerina sambil menatap Calvin.


Calvin menggeleng lagi "Tidak! Aku tak pantas, Jien"

__ADS_1


Jien menunduk sedih "Apakah kau tak ingin sembuh dan hidup bersama dengan Lerina dengan bahagia?"


"Justru itu yang membuatku malu. Aku akan sembuh namun tak bisa bersamamu. Bukankah itu suatu tindakan yang tidak terpuji?" Calvin berdiri. Melangkah agak menjauh sambil memijat pangkal hidungnya. Kepalanya tiba-tiba saja sakit.


Mengetahui kehamilan Jien sungguh sangat mengejutkan baginya. Namun Calvin tak dapat memungkiri bahwa ia jauh didalam hatinya, ada suatu rasa haru saat mengetahui bahwa ketika kematian akan menjemputnya, ia justru sudah punya penerus di dalam dunia ini.


"Vin, aku pikir kalau rencana pernikahan kita dibatalkan saja!" kata Lerina tiba-tiba membuat Calvin dan Jien sama-sama terkejut.


"Tidak, Le. Bukan itu tujuanku ke sini. Dokter hanya mengatakan bahwa persiapan transplantasi butuh waktu sekitar 1-2 bulan. Jadi aku pikir ini waktu yang tepat untuk memberitahukan tentang rencananya sehingga setelah pernikahan kalian, kita bisa pergi bersama ke Amerika."Kata Jien berusaha meluruskan akan tujuannya untuk datang ke Jakarta.


Lerina mendekati Jien dan memeluk perempuan itu sambil menangis "Jien, kau benar-benar perempuan berhati malaikat. Aku tak mungkin bisa menikah dengan Calvin dan menyakiti dirimu dan juga anakmu"


Setelah melepaskan pelukannya, Lerina mendekati Calvin yang berdiri dengan wajah bingung.


"Vin, pergilah ke Amerika. Jalanilah pengobatan di sana. Dan nikmatilah peranmu sebagai seorang ayah. Aku mendoakan agar kalian nanti akan bahagia." kata Lerina sungguh-sungguh.


Jien jadi tak enak hati,"Le..., Calvin..., aku tidak ingin memisahkan kalian berdua."


"Anakmu butuh ayahnya, Jien. Aku percaya bahwa anak ini ada untuk membuat kalian bersatu lagi." kata Lerina lalu ia mengambil tasnya yang ada di atas meja.


"Kalian lanjutkan lagi pembicaraannya. Jika lapar, aku membawa bekal makan siang di sana. Aku pergi dulu." Lerina langsung meninggalkan ruangan Calvin dengan perasaan lega. Ia memang agak kecewa karena pernikahannya dengan Calvin batal. Namun ia juga bahagia mendengar bahwa Jien hamil dan kehamilannya itu akan membuat proses kesembuhan Calvin semakin cepat.


Calvin menatap Jien. Betapa dia ingin menyentuh perut Jien. Tapi apakah dia pantas? Bukankah ia telah meninggalkan Jien karena cintanya yang begitu besar pada Lerina?


Perasaan malu bercampur rasa penyesalan yang dalam membuat Calvin tak mampu menahan emosinya. Ia melangkah ke arah tempat duduk Jien, kemudian duduk di samping Jien. Pundaknya berguncang karena tangisnya yang kembali tak bisa ditahannya.


"Kau sungguh berhati malaikat, Jien. Aku sungguh malu padamu!" kata Calvin diantara isak tangisnya.


Jien yang masih memegang tangan Calvin, membawa tangan pria yang masih sangat dicintainya itu ke atas perutnya. Tepat disaat itu bayi yang ada dikandungan Jien bergerak. Membuat Calvin terkejut sekaligus ada perasaan aneh yang mengalir hatinya. Rasa sayang yang tumbuh pada mahluk yang belum pernah dilihatnya.


"Dia bergerak?" tanya Calvin.


"Iya. Dia ingin kau mengikutinya ke Amerika"


Air mata Calvin kembali mengalir. Tuhan, mengapa Kau berikan perempuan sebaik ini dalam hidupku? Aku sungguh tak pantas menerimanya.


*********


Malam semakin larut. Lerina masih berdiri di taman belakang rumahnya. Menikmati malam yang sepi di kota Jakarta.


Sejak kemarin, Calvin belum juga menghubunginya. Lerina juga tak mau menghubunginya. Ia membiarkan Calvin punya banyak waktu berbicara dengan Jien.


Orang tua Calvin sudah tahu mengenai kehamilan Jien. Mama Arista sebenarnya ingin Lerina tetap menikah dengan Calvin. Namun Lerina sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Calvin karena Jien sudah bisa memberikan apa yang Calvin butuhkan. Lerina malahan ingin Calvin kembali bersama Jien.


"Nona..., di ruang tamu ada den Calvin dan nona Jien" kata Bi Suni membuat Lerina terkejut. Ia menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 10 malam.


Lerina melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Dia menyambut Calvin dan Jien dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Duduklah!" ajak Lerina melihat Calvin dan Jien masih berdiri.


Calvin dan Jien duduk berdampingan. Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya Calvin yang memutuskan untuk bicara.


"Na, aku memnyetujui untuk melakukan transplantasi sel darah punca dari tali pusat anakku yang di kandung oleh Lerina." kata Calvin


"Aku sangat senang mendengarnya. Kapan kalian akan pergi?" tanya Lerina.


"Dokter menyarankan agar lebih cepat lebih baik. Jadi kami putuskan untuk pergi 2 hari lagi. Dan kami ingin kau ikut dengan kami!" kata Jien.


"Tidak. Aku tidak ingin pergi. Sebaiknya kalian pergi berdua untuk menikmati masa-masa penantian anak kalian." kata Lerina dengan hati yang sangat yakin.


"Calvin mencintaimu, Le!" kata Jien.


"Dan kamu juga mencintai Calvin."Imbuh Lerina lalu menatap Calvin. "Vin, aku yakin kehadiran anak ini akan membuat hubunganmu dengan Jien akan menjadi baik. Ini kesempatan bagimu untuk memperbaiki apa yang pernah kau lukai."


Calvin menatap Lerina dengan hati yang gundah. Jujur, hatinya masih untuk Lerina. Namun ia juga tahu kalau kehamilan Jien sungguh membuatnya bahagia. Bukan karena anak yang dikandung Jien bisa menyembuhkannya. Namun karena ia akan diberikan keturunan.


Calvin tak tahu apakah ia sanggup melupakan Lerina. Tapi ia juga tak ingin menyakiti Jien.


"Na, apakah tidak sebaiknya kau dan Ed bicara lagi?" tanya Calvin. Ia tahu Lerina masih mencintai mantan suaminya itu.


"Aku akan melepaskanmu dengan hati yang rela. Asalkan kalian jangan katakan apa-apa pada Ed. Aku hanya ingin sendiri saat ini. Bolehkan?"Lerina menatap Jien dan Calvin secara bergantian.


Jien menatap Lerina sambil mengangkat bahunya "Terserah padamu, Le. Hanya saja saat ini Ed juga ada di Inggris. Dia melarikan diri ke sana saat patah hati"


Lerina tak menanggapi ucapan Jien. Ia tahu kalau dia pun sudah menyakiti Edward. Tak mungkin diantara mereka akan ada peluang untuk bersama lagi.


*******


Setelah menyerahkan kunci mobilnya pada penjaga pintu, Lerina segera masuk ke dalam kantornya. Ia berusaha menjalani hari-harinya dengan baik walaupun sebenarnya ia sepi karena sudah seminggu Calvin pergi ke Amerika.


Hampir setiap hari Calvin meneleponnya untuk mengingatkan Lerina agar menjaga kesehatannya.


"Selamat pagi, nona!" sapa Vita yang bertugas sebagai penerima tamu hari ini.


"Selamat pagi, Vita!" Lerina membalas salam Vita dengan senyum manis seperti biasanya. Tiba-tiba Lerina merasa pusing. Ia berpegang pada meja resepsionis.


"Ada apa, nona?" Vita langsung mendekati Lerina dan memegang tangan bosnya itu.


"Aku hanya merasa pusing saja, Vita"


Vita memeluk lengan Lerina dan membantunya untuk duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari sana.


Lerina tertegun. Ia bingung dengan apa yang terjadi dengan tubuhnya saat ini. Ia sering merasa pusing dan mual. Ia suka makan makanan yang dulu tidak disukainya seperti es cream dan Cap Cae.


Aku sudah hampir 2 bulan ada di Jakarta. Dan aku belum pernah mendapatkan tamu bulananku. Apakah a-ku ha-mil???

__ADS_1


__ADS_2