
Taeyung membuka matanya lalu menatap istrinya yang sedang mengenakan pakaian olahraga.
"Sayang, kau mau ke mana?" tanya Taeyung.
"Aku mau lari pagi sebentar. Rasanya badanku kaku semua karena jarang olahraga" kata Yura sambil melihat suaminya dari pantulan kaca meja rias. Ia mengikat rambutnya lalu mengenakan topi.
Taeyung melihat jam di dinding yang menunjukan pukul 6 pagi. "Bangunkan aku kalau kamu sudah kembali ya, aku akan mengantarkan Ed ke bandara"
Yura mengangguk. Ia mencium suaminya dan segera meninggalkan kamar.
Bi Yun sedang sibuk di dapur. Sedangkan Jesica belum terlihat batang hidungnya. Semenjak Lerina pergi, Yura selalu menjauhi Jesica.Ia tak ingin bersikap kasar pada perempuan itu karena apa yang dilakukanya menyebabkan Lerina pergi.
Para pelayan yang lain pun sudah mulai bekerja sesuai dengan porsinya masing-masing. Yura pun melangkah meninggalkan mansion dan berjalan menuju gerbang utama. Ia langsung merasakan sejuknya udara pagi di Seoul.
Yura langsung berlari sambil menikmati pemandangan yang ada. Mansion keluarga Kim letaknya ada diperbukitan, sedikit berjauhan dengan mansion keluarga yang lain.
Sebuah mobil sport berwarna hitam tiba-tiba saja menghalangi langkah Yura. Dan 3 orang lelaki langsung turun dan melumpuhkan Yura lalu memasukannya ke dalam mobil.
************
Jarum jam sudah menunjukan pukul 8 pagi. Taeyung sudah selesai mandi namun Yura belum juga kembali. Taeyung mencoba menelepon namun Yura ternyata tak membawa hp nya. Taeyung pun memutuskan untuk turun ke bawa.
"Bi Yun, apakah Yura sudah kembali?" tanya Taeyung.
"Belum, tuan. Biasanya nyonya lari pagi tak sampai satu jam. Ini sudah 2 jam lebih" kata bi Yun dengan wajah bingung.
Hp Taeyung yang ada di saku celananya berbunyi. Taeyung melihat satu nomor yang tidak dikenalnya. Ia memutuskan untuk mengabaikannya. Namun hp nya berbunyi terus. Taeyung pun mengangkatnya dengan sedikit kesal.
"Hallo.....!" sapanya dengan suara datar.
"Hallo Tae, apakah istrimu sudah pulang dari lari paginya?"
"Wong...apa yang kamu lakukan pada istriku?" teriak Taeyung dengan perasaan yang sudah tidak enak.
Ryun Wong tertawa "Ha....ha.....ha....kau jangan macam-macam dengan aku ya? Aku bisa menyeret istrimu ini ke ranjangku atau bahkan mengiris wajah mulusnya ini dengan belatiku."
Dada Taeyung terasa sesak mendengar suara teriakan istrinya.
"Apa maumu?" teriak Taeyung diantara rasa paniknya.
"Siapkan uang dan sebuah helikopter. Aku harus keluar dari kota ini karena polisi sudah membongkar semua tempat persembunyianku. Jika aku sudah berhasil keluar, maka istrimu akan kembali padamu dengan aman. Nanti aku kirimkan detail uang yang aku perlukan dan dimana kita bisa bertemu. Jika aku tahu kalau kalian melibatkan polisi maka nyawa Yura akan melayang"
Sambungan telepon terputus.
Taeyung berteriak kesal. Mereka sudah melupakan tentang keberadaan Ryun Wong pada hal almarhum papanya sudah mengingatkan untuk selalu waspada.
Ia pun segera menghubungi Edward. Ia tahu hanya Edward yang bisa mendampinginya sekarang ini.
***********
Calvin melihat Lerina yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia tahu apa yang digelisahkan oleh perempuan itu.
Hari ini, Edward akan datang ke Jakarta. Melalui pengacara yang ada, Edward meminta bertemu malam ini di rumah orang orang tua Fairy.
"Na....!" panggil Calvin sambil mendekat.
Lerina tersenyum ke arah Calvin lalu kembali menatap ke depan. Melihat jalanan yang nampak tak terlalu ramai di hari sabtu pagi.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Calvin sambil ikut berdiri di samping Fairy. Tanganpun memegang besi pembatas balkon.
"Tidak. Sedang menikmati matahari pagi saja"
"Jangan bohong. Aku lihat mata pandamu. Kau kurang tidur beberapa hari ini kan?"
__ADS_1
Lerina hanya diam. Tak menyangkal ataupun menyetujui apa yang dikatakan oleh Calvin. Pikirannya memang saat ini sedang dipenuhi dengan berbagai gejolak yang ia sendiri tak mengerti apa itu. Jujur, jantungnya berdebar-debar tiap kali membayangkan kalau ia akan melihat Edward lagi setelah 10 hari ia meninggalkan Seoul. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya saat mendengar penjelasan Edward.
"Saat kau mendengar penjelasan Edward dan kau ingin balik lagi ke Korea, pergilah. Jangan merasa terbeban dengan sakitku ini." kata Calvin pelan setelah mereka diam beberapa saat.
"Aku baru saja mulai membangun kembali perusahaan papaku. Aku tak mungkin akan meninggalkannya lagi. Dan aku sudah berjanji padamu, kalau aku akan menemanimu"
Calvin menatap Lerina yang masih berdiri dan menatap jalanan yang ada.
"Kau keras kepala sekarang, Na"
Lerina hanya terkekeh "Aku akan buatkan sarapan untukmu!" Ia membalikan tubuhnya, hendak meninggalkan balkon namun tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Calvin dengan cepat langsung menangkap tubuh Lerina.
"Pasti tekanan darahmu turun. Semalam juga kau tak makan. Kau sama sekali tak beristirahat saat siang sedangkan malam kau pun tak bisa tidur nyenyak" Calvin langsung memapah tubuh Lerina menuju ke tempat tidur. Wajah Lerina terlihat pucat dan berkeringat dingin. Calvin tahu kalau Lerina sering mengalami hal ini ketika orang tuanya meninggal. Lerina akan sulit tidur jika ia punya banyak beban pikiran.
"Tidurlah. Biar aku yang siapkan sarapan!" kata Calvin setelah menyelimuti tubuh Lerina.
Lerina hanya mengangguk. Ia memang merasa kepalanya agak sakit. Semalam saja ia tidur jam 1 pagi namun jam 4 pagi dia sudah bangun dan tak bisa memejamkan matanya lagi.
Calvin pun segera segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
1 jam kemudian, sarapan sudah selesai dibuat dan Calvin membawanya ke kamar. Hanya sarapan sederhana saja. Segelas susu, semangkuk bubur dan telur rebus.
"Na...ayo sarapan dulu!" ajak Calvin sambil menggoyangkan tangan Lerina.
Lerina membuka matanya lalu perlahan duduk. Namun ia kembali menyandarkan punggungnya di kepela ranjang saat merasakan kalau ia masih sedikit pusing.
"Masih pusing?" tanya Calvin.
Lerina mengangguk "Sedikit"
"Mau sarapan sekarang atau...?"
"Aku lapar, Vin"
Lerina mengangguk.
Calvin pun mengambil sendok dan mulai menyuapi Lerina.
"Makasi ya...!" ujar Lerina dengan mata berkaca-kaca saat suapan pertama itu masuk ke mulutnya.
"Makanlah yang banyak supaya kau punya tenaga untuk bertemu dengan Edward malam ini"
"Kau selalu tahu memberikan yang terbaik padaku. Andai saja waktu itu kau tak menikah dengan Jien. Andai aku tak bertemu Edward, pasti sekarang kita sudah bahagia"
Calvin menghapus air mata Lerina dengan lembut "Jangan menangisi masa lalu. Lihatlah masa depan dengan hati yang penuh harapan. Aku yakin semua ini ada hikmatnya. Edward diberikan untukmu supaya saat aku pergi, kamu nggak akan terluka"
Lerina hanya menggeleng. Ia menyentuh tangan Calvin dengan lembut "Jangan bicara tentang kematian. Aku yakin kamu pasti akan sembuh. Aku akan ada di sisimu sampai kamu sembuh"
"Kamu semakin keras kepala saja. Ayo makan lagi..!" Calvin langsung menyuapi Lerina lagi. Ia merasa sangat sulit untuk mengubah pendirian Lerina. Namun Calvin yakin, jika Lerina bertemu dengan Edward maka semuanya pasti akan berubah.
**********
Taeyung meletakan uang yang diminta oleh Ryun Wong ke dalam sebuah koper berukuran sedang.
"Hyung, dimana kau akan bertemu dengan si penipu itu?" tanya Edward.
"Dia akan menghubungi aku lagi. Aku takut kalau Yura sampai celaka. Aku tak kuat jika harus kehilangan istriku" kata Taeyung. Ia terlihat sangat frustasi.
"Tenanglah, hyung. Anak buah kita sementara melacak keberadaan Wong. Keyri bahkan sementara mencari titik GPS dari nomor yang dia pakai untuk meneleponmu tadi"
Saat Edward selesai bicara, Keyri tiba-tiba masuk.
"Tuan, nomor pertama yang dia pakai untuk menelepon tadi berasal dari luar kota. Tempatnya di daerah pegunungan. Kira-kira jauhnya 2 jam dari ini" kata Keyri.
__ADS_1
"Aku tahu daerah pegunungan itu. Aku pernah ke sana bersama Nula. Letaknya di sebuah area taman permainan yang sudah lama ditutup" kata Jesica yang memang sejak awal ada di sana.
Taeyung menatap Jesica dengan mata yang berbinar penuh harap "Benarkah? Kau tidak bohong kan? Kau tahu tempat itu?"
"Aku tahu. Tapi untuk ke sana, kalian harus hati-hati karena rumah-rumah penduduk yang ada di sana semuanya adalah anak buah wong." ujar Jesica dengan sungguh-sungguh.
"Jika Wong menelepon, minta dia menunjukan padamu keberadaan Yura melalui videocall. Nanti Keyri akan melacak tempat itu. Aku yakin kalau saat ini Wong sangat terdesak karena polisi memang sedang mencarinya." Edward mencoba memberi solusi.
"Baiklah." ujar Taeyung sambil menganggukan kepalanya.
Hp Taeyung berbunyi. "Hallo"
"Kau sudah siapkan uangnya?"
"Ya. Sesuai yang kau minta. Juga sebuah helikopter."
"Baguslah. Kau memang ponakanku yang pintar. 1 jam lagi aku akan menghubungimu"
"Tunggu, aku ingin melihat apakah istriku baik-baik saja" kata Taeyung.
"Apakah kau tidak percaya padaku"
"Aku ingin pastikan kalau istriku baik-baik saja. Sebab aku memang tak percaya padamu."
Ryun Wong mengubah panggilannya menjadi videocall. Dada Taeyung bagaikan tertusuk sembilu melihat Yura yang diikat pada sebuah kursi dengan mulut yang dilakban.
"Yura, lihatlah suami tersayangmu....!" Ryun Wong mengarahkan kamera hp nya di depan Yura.
Yura terlihat menangis sambil mengelengkan kepalanya.
"Kau sudah lihatkan, Tae? Istri kampunganmu ini baik-baik saja. Jadi persiapakan saja uangnya."
"Sedikit saja kau menyentuh istriku, aku tidak akan pernah mengampunimu, brengsek!" ancam Taeyung dengan wajah yang memerah menahan emosi.
Ryun Wong hanya tertawa lalu mematikan sambungan teleponnya.
Keyri melihat hasil rekaman videocall tadi. Lalu ia menunjukan pada Jesica.
"Itu di dalam sebuah gudang. Di sana ada gudang tua yang letaknya dibagian belakang taman bermain itu." ujar Jesica setelah ia melihat video itu dengan seksama.
"Kita akan mencari letak tempat ini dan melihat apakah ada jalan belakang yang bisa kita masuki tanpa mereka ketahui" kata Keyri lalu membuka laptopnya.
Hari sudah mulai malam dan Taeyung nampak semakin gelisah.
"Bos, apakah kau tak menghubungi nona Lerina untuk memberitahukan bahwa kau tidak bisa datang hari ini?" tanya Keyri.
Edward terkejut. Astaga, kenapa ia bisa lupa ya? Edward pun segera menelepon pengacaranya Lerina untuk memberitahukan apa yang terjadi.
**********
Ryun Wong menatap arlojinya yang sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Bunuh perempuan itu jika aku sudah berada di dalam helikopter. Kalian pun segera memisahkan diri dari sini. Nanti aku hubungi kalian lagi jika semuanya sudah aman" bisik Ryun Wong pada salah satu anak buahnya.
"Tuan, sebelum kami membunuhnya, bolehkan kami menyentuhnya. Ia kelihatan sangat mengairahkan."
"Lakukanlah apa yang kalian mau padanya." kata Ryun Wong lalu melangkah keluar. Bibirnya tersenyum manis.
Hyung...aku yakin kau akan menderita di atas sana saat melihat menantu kesayanganmu itu akan menyusulmu ke alam baka ha....ha...
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA
__ADS_1