
Mereka memasuki rumah makan yang memang diperuntukan bagi seluruh kariawan di perusahaan ini yang jumlahnya sekitar 500 orang. Sebab di sini adalah kantor pusat.
"Kak Taeyung, apakah para pegawai yang makan siang di sini langsung membayar?" tanya Lerina berusaha mencairkan suasana yang menjadi kaku sejak didalam lift.
"Kalian cukup menunjukan kartu pegawai itu. Nanti akan dipotong saat gajian. Namun jumlah yang dipotong hanya setengah saja karena setengahnya di bayar oleh perusahaan" kata Taeyung menjelaskan.
"Nona Yura....!" sapa Hung Ben yang ternyata sudah menungguh di sana.
"Hallo Pak Hung!" sapa Yura sopan.
"Aku sengaja menungguhmu untuk makan siang bersama sebab hari ini adalah hari pertamamu kan?" ujar Hung Ben sambil menebarkan senyum manisnya.
Beberapa pegawai wanita yang ada di sana nampak cemberut melihat salah satu pria idola mereka di perusahaan ini sedang menyapa si anak baru.
"Terima kasih Hung Ben, namun Yura akan bersamaku" Grandy tanpa di duga langsung melingkarkan tangannya dibahu Yura.
"Tapi tuan Grandy..." Hung Ben protes
"Duduklah di meja yang sudah disiapkan oleh pegawai khusus. Hari ini aku yang akan mentraktir kalian" ujar Taeyung, memotong percakapan Grandy dan Hung Ben, sambil melangkah lebih dulu.
Tempat makan ini memang di bagi 3 ruang makan, yang pertama adalah untuk pegawai biasa, selanjutnya yang memegang jabatan sebagai kepala bagian, dan ruang yang ketiga adalah khusus para petinggi perusahaan. Antara ruangan yang satu dan ruangan yang lain hanya dibatasi oleh tembok kaca.
Lerina menatap Yura "Wah...asyiknya. Makan siang di hari pertama kerja ditraktir wakil direktur" ujar Lerina sengaja ingin melihat reaksi Nula yang nampaknya kurang suka waktu makan siangnya bersama Taeyung terganggu.
Hung Ben yang sedang makan sesekali mencuri pandang ke arah Yura. Grandy juga melakukan hal yang sama.
"Yura, kamu pulang dengan siapa sore ini?" tanya Grandy.
"Aku pulang dengan bosku" ujar Yura sambil menatap Lerina.
"Aku bukan bosmu. Bos kita adalah kak Taeyung jika Edward tak ada." kata Lerina sambil melirik Taeyung.
Taeyung hanya mengangguk.
"Jam 3 ada rapat dengan infestor kita dari Jepang. Jadi kalian berdua juga ikut" kata Taeyung.
Nula menatap kurang suka.
"Oh ya Nula, kalau begitu tolong rangkumkan laporan keuangannya ya...soalnya aku harus pergi rapat dengan kak Taeyung" ucap Lerina dengan sengaja karena ia memang tak ingin Nula ikut.
"Tapi aku harus mencatat hasil percakapan...."
"Aku akan merekamnya untukmu!" kata Lerina
"Bagaimana kalau Yura saja?" Nula berusaha untuk ikut.
"Kak Taeyung, Yura adalah asistenku.Aku membutuhkan dia di sana. Lagi pula ini adalah rapat pertama kami." Lerina menatap Taeyung dengan wajah permohonan.
__ADS_1
"Kerjakan saja Nula. Lagi pula ini sudah hampir akhir bulan jadi rangkuman laporan keuangannya sangat dibutuhkan" kata Taeyung tenang lalu segera melanjutkan makannya.
Lerina tersenyum senang melihat wajah Nula sedikit cemberut.
Setelah makan siang selesai, mereka pun kembali ke ruangan. Grandy dan Hung Ben nampak berusaha menarik perhatian Yura dengan mengajaknya berbincang.
"Kamu sengajakan agar aku tinggal sendiri di sini dan berdua saja dengan Yura?" pekik Nula saat mereka sudah berada di dalam ruangan Taeyung.
"Kamu bicara apa?" Taeyung nampak kurang suka.
"Kenapa tak mengijinkan aku untuk ikut rapat dengan infestor Jepang itu?"
"Nula, jangan mencapur adukan antara hubungan kita dengan pekerjaan. Laporan keuangan itu memang dibutuhkan oleh Departemennya Lerina. Aku tidak mau kamu jadi cemburu buta"
Nula menghentakan kakinya kesal "Tapi di sana ada Yura. Mantan istrimu"
"Memangnya aku mencintai yura? Lagi pula, kami pergi tak berdua ada Lerina yang akan menemani kami"
Nula mendekat dan memeluk Taeyung dengan erat "Aku takut kamu dekat lagi dengan wanita kampungan itu."
"Sudahlah. Kamu tahu siapa yang aku cintai. Kita sudah bersama selama 5 tahun. Memangnya kamu masih ragu lagi dengan aku?"
Nula mencium pipi Taeyung dengan wajah gembira. Walaupun ia sebenarnya masih ragu melihat tatapan mata Taeyung pada Yura.
satu jam kemudian, mereka sudah berada di salah satu kamar hotel, dengan fasilitas VVIP dalam pertemuan dengan tuan Hakata
"Terima kasih atas kerja sama yang boleh terwujud ini. Saya senang sekali bekerja sama dengan Kim corporation." kata Hakata. Pria berusia sekitar 30 an itu menatap Lerina.
Lerina mengangguk.
"Lalu siapa wanita cantik yang satu ini?" Hakata sambil menatap Yura.
"Saya....."
"Ini istriku" Taeyung memotong ucapan Yura. Yura menatap Taeyung kurang suka.
"Oh....sayang sekali. Dua wanita cantik ini ternyata sudah ada yang memiliki" Tuan Hakata jelas menunjukan rasa kecewanya.
Taeyung tersenyum "Kalau Tuan Hakata mau, nanti saya carikan gadis lain yang siap menemani tuan 1x24 jam selama tuan ada di Seoul ini"
"Wah, aku suka itu. Akan kutunggu dengan senang hati" Sambut Hataka bersemangat.
Taeyung, Lerina dan Yura segera berpamitan.
"Aku naik taxi saja"kata Yura saat mereka sudah berada di halaman parkir.
"Ini sudah malam. Lagi pula jarak hotel ini dengan mansion kan lumayan jauh." Ucap Lerina sambil menatap Taeyung.
__ADS_1
"Aku akan mengantar Lerina di apartemen, setelah itu kita pulang bersama" kata Taeyung dingin dan segera masuk ke dalam mobil.
Lerina lebih dulu masuk ke jok belakang. Yura pun menyusulnya.
"Duduklah di depan. Nanti Kak Taeyung dianggap sopir" bisik Lerina sambil mendorong Yura untuk keluar lagi.
Yura sebenarnya tidak mau, namun karena Taeyung pun belum menjalankan mobilnya, ia terpaksa pindah lagi ke jok depan.
Saat dalam perjalanan, mereka bertiga saling diam. Taeyung hanya menyetel lagu dari cd nya.
"Makasih kak Taeyung, selamat malam Yura. Sampai jumpa besok di kantor" pamit Lerina sebelum turun.
"Taeyung hanya mengangguk dan kembali menjalankan mobilnya.
Yura memperbaiki letak rok nya yang sedikit tersingkap dan membuat paha putihnya kelihatan. Taeyung yang memperhatikan apa yang Yura lakukan mendengus kesal.
"Tadi saat bersama dengan tuan Hakata, kamu sama sekali tak pernah memperbaiki letak rokmu. Mengapa dengan aku justru kamu ingin menutupinya?"
"Memangnya apa pedulimu?" tanya Yura dengan nada ketus "Kamu kan bilang aku kampungan dan tak menarik, jadi tak usah berkomentar apa-apa tentangku"
Taeyung menghentikan mobilnya secara mendadak. Ia menatap Yura dengan tatapan mata tajam, lalu tangannya meraih dagu Yura dan memegangnya dengan kuat.
"Kamu masih istriku, jadi kamu masih milikku" kata Taeyung dan tanpa diduga ia langsung mencium bibir Yura dengan sangat lembut. Yura memberontak. Ia memukul dada Taeyung dan berusaha melepaskan diri. Namun laki-laki itu seakan tak peduli dengan pukulan Yura. Ia tetap menciumnya dengan manis lalu melepaskannya setelah keduanya hampir kehilangan ogsigen.
"Kau masih milikku" ucap Taeyung lalu kembali menjalankan mobilnya.
"Kamu iblis, Taeyung! Aku membencimu!" teriak Yura histeris sambil menangis dan menyeka bibirnya dengan kasar. Taeyung tetap diam dan menyetir dengan wajah datarnya.
***********
Back to Lerina...
Lerina menatap mobil Taeyung yang meninggalkan lobi apartemen.
Ya Tuhan, mengapa aku ingin mereka kembali bersama ya? Apakah masih ada kesempatan bagi mereka untuk bersatu?
Lerina tersenyum penuh harap. Ia kemudian merapatkan jaketnya dan bermaksud untuk masuk saat sebuah tangan tiba-tiba menariknya dan mendekapnya erat.
"Sayang, aku merindukanmu"
Lerina memejamkan matanya mencium aroma parfum yang sudah sangat dikenalnya ini. Dekapan yang selalu memberikan kehangatan.
Sampai otaknya berputar secara cepat dan langsung melepaskan pelukan itu.
"Calvin, apa yang kau lakukan?" teriak Lerina sambil menatap tajam pria tampan yang ada di depannya.
MAKASI SUDAH BACA YA...
__ADS_1
SEMOGA SUKA...
LIKE, KOMENTARI YA KALAU SUKA....