LERINA

LERINA
Kebenaran yang membahagiakan


__ADS_3

Dokter Dewi mengambil gel dan menggosoknya perlahan dipermukaan perut Lerina. Ia lalu menggerakan transducer diatas permukaan kulit perut Lerina secara perlahan dan mulai melakukan pemeriksaan USG.


"Anda memang hamil, nyonya. Usia kandungannya sudah sekitar 8 minggu." kata dokter Dewi dengan senyum manis diwajah cantiknya.


Lerina terkejut melihat ada satu titik kecil didalam kantong rahimnya. Matanya berkaca-kaca. Ia sungguh tak percaya kalau saat ini sedang hamil.


"Apakah dia sehat?"tanya Lerina.


"Ya. Kau bisa mendengarkan detak jantung anakmu!"


deg....deg...deg....


Mendengar suara detak jantung itu membuat Lerina bertambah gugup namun juga ada rasa senang diwaktu yang bersamaan. Ada sesuatu yang sedang tumbuh dan berkembang didalam perutnya. Sesuatu yang tak pernah Lerina pikirkan sebelumnya.


"Detak jantungnya normal." kata dokter Dewi lalu mencetak foto USG sebanyak 2 lembar. Ia mengambil tissue dan membersihkan sisa gel yang ada di perut Lerina.


"Saya akan memberikan resep berupa vitamin dan obat penguat kandungan. Karena ini kehamilan pertama, saya harap nyonya menjaganya dengan baik." pesan dokter Dewi lalu memberikan kertas resep dan foto USG pertamanya.


"Suami anda pasti senang melihatnya" lanjut dokter Dewi.


"Tentu saja. Aku akan mengirim hasil USG ini lewat pesan wa karena sekarang suami saya berada di luar negeri" kata Lerina menutupi kegalauan hatinya. Ia memang mendaftar ke sini dengan menyebutkan nama Edward sebagai suaminya. Walaupun yang ia masukan adalah nama Korea Ed yaitu Kim Taehung. Ia tak mungkin datang dengan status janda untuk memeriksakan kandungannya. Mungkin kalau di luar negeri hal semacam ini tak masalah. Namun jika di Indonesia, wanita hamil tanpa status pernikahan yang jelas sering dipandang sebelah mata.


Setelah mengambil obat dan vitamin di apotik, Lerina pun meninggalkan rumah sakit dengan mobilnya. Ia menuju ke rumahnya.


Lerina langsung masuk ke kamarnya untuk menyegarkan tubuhnya sebentar. Lalu setelah mengenakan piyamanya, ia duduk di sofa sambil melihat kembali foto USG anaknya.


Apakah aku harus memberitahukannya pada Ed? Perlukah Ed mengetahui tentang kehamilanku? Tapi, aku sudah menyakitinya dengan kata-kata kasarku. Mungkin Ed tak mau lagi berurusan denganku.


Lerina ingat, kemarin ia baru saja melihat berita bahwa Edward Kim dikabarkan sedang dekat dengan artis Veronika Adams. Penyanyi asal Inggris itu sedang berkolaborasi dengan Edward. Selain hubungan kerja, Edward dan Veronika tertangkap kamera sedang makan di sebuah restoran mewah dan sedang berjalan bersama di sebuah mall. Sesuatu yang tak pernah Edward lakukan dengan artis lain yang berkolaborasi dengannya.


Aku yang memintanya pergi, aku yang memintanya menjauh. Aku cukup tahu diri untuk tidak mengatakan padanya mengenai hal ini.


Lerina mengusap perutnya dengan perasaan sayang yang tiba-tiba saja hadir di hatinya.


"Mama akan menjagamu dengan baik, sayang. Mama akan menyayangimu dengan seluruh cinta yang mama miliki. Kita akan bahagia sekalipun kita hanya berdua saja"


*********


Pemandangan yang sangat luar biasa nampak jelas di mata Edward. Taeyung sedang membuat susu sementara Yura sedang membujuk Kim Chun Hei yang menangis. Anak perempuan yang dilahirkan oleh Nula. Walaupun 2 hari setelah itu Nula meninggal dunia karena pendarahan yang dialaminya.


"Papa cepatlah ! Chun Hei sudah lapar" seru Yura.


"Iya sebentar. Susunya masih panas." kata Taeyung sambil menggoyang-goyangkan botol susu putrinya agar cepat dingin untuk di minumnya.


Setelah Taeyung meneteskan susu itu ke punggung tangannya dan merasakan kalau panas susu itu tidak akan membuat mulut putrinya terbakar, Ia segera memberikan botol susunya ke tangan istrinya dan langsung disambut oleh Chun Hei dengan begitu rakusnya.


"Pelan-pelan sayang, nanti kamu tersedak!" ujar Taeyung sambil membelai pipi putrinya dengan lembut. Setelah itu, ia mencium pipi Yura dan segera menemui Edward yang sudah menunggunya di depan tangga sambil menatap mereka dengan bahagia.

__ADS_1


"Ayo kita ke ruang kerjaku!" ajak Taeyung sambil melangkah lebih dulu. Edward segera mengikuti langkah kakaknya menuju ke ruang kerja yang letaknya ada di samping tangga.


Keduanya pun duduk saling berhadapan dan dipisahkan oleh meja kerja Taeyung.


"Kau akan kembali lagi ke London?" tanya Taeyung saat Edward baru saja duduk di depannya.


"Ya. Setelah rapat pemegang saham besok, aku akan kembali ke London. Ada banyak pekerjaan yang harus aku buat di sana"


"Ed, aku sedih jika kamu akan tinggal lama di London. Apakah kamu sangat patah hati sehingga harus melarikan diri lagi ke sana?" tanya Taeyung sambil menatap adiknya dengan sedih.


Edward tersenyum sinis. Hatinya memang sangat terluka saat Lerina memutuskan hubungan mereka. Namun Edward saat ini berusaha untuk kuat. Ia tak mau terpuruk seperti dulu saat Jesica meninggalkannya. Makanya ia menyibukkan dirinya dengan banyak pekerjaan.


"Aku baik-baik saja, hyung. Hanya saja pekerjaanku sangat banyak di London. Aku akan kembali ke Seoul kalau semuanya sudah selesai."


"Baguslah. Apakah kau juga sudah tahu kalau Jien dan Calvin ke Amerika?"


"Ya. Jien meneleponku"


"Lalu kenapa kau tidak ke Jakarta dan menjemput Lerina kembali ke sini?"


Edward diam sejenak. Ia mencoba mencerna pertanyaan kakaknya. "Aku memutuskan untuk tidak mengganggu kehidupan Lerina lagi. Aku sangat terluka dengan semua pengakuannya padaku kalau dia tidak sungguh-sungguh mencintaiku karena hatinya masih untuk Calvin."


"Kau menyerah dengan cinta sejatimu?" tanya Taeyung sedikit heran dengan semua perubahan yang terjadi pada Edward.


"Aku hanya ingin mengikuti semua keinginan Lerina"


"Hyung, berhentilah menginterupsiku seperti seorang polisi yang sedang menanyai penjahat"


Kekehan Taeyung berubah menjadi tawa kecil yang sedikit membuat Edward jengkel.


"Ed, usiamu akan genap 29 tahun. Apakah kau tak ingin memiliki pasangan yang tetap? Dan memiliki anak sepertiku?"


Edward menggeleng "Untuk sementara aku ingin seperti ini."


"Mana dokumen yang harus ku tandatangani?" tanya Edward mengingat kembali tujuannya untuk datang ke mansion ini.


"Ini..!" Taeyung menyodorkan sebuah map yang berisi file penting yang harus Edward tanda tangani.


"Jesica dan keluarganya sudah pindah ke Gosan. Dia membuka rumah makan bersama orang tuanya. Yang kudengar rumah makan mereka walaupun baru 1 bulan di buka sangat laris" kata Taeyung disela-sela Edward membaca dokumennya.


"Baguslah!"ujar Edward sambil terus membaca dokumen itu. Setelah selesai, ia menandatanganinya dan menyerahkan kembali pada Taeyung.


"Aku mau pulang dulu ya? Sampai ketemu besok di kantor." pamit Edward.


Taeyung mengangguk. Ia memeluk adiknya saat mengantar Edward sampai di depan pintu. Setelah mobil Edward berlalu, Taeyung segera masuk ke kamar. Dilihatnya Yura sudah tertidur di samping putrinya yang juga sudah lelap setelah menghabiskan susunya.


Taeyung tersenyum. Ia bahagia, Yura menyayangi Chun Hei seperti anaknya sendiri. Pada hal Yura sendiri sedang hamil 5 bulan.

__ADS_1


Kemarin mereka baru saja memeriksakan kandungan Yura. Dan dokter mengatakan kalau anak yang ada dalam kandungan Yura berjenis kelamin laki-laki.


Tentu saja Taeyung sangat senang karena akan memiliki anak perempuan dan laki-laki diwaktu yang berdekatan.


Tangan Taeyung menyentuh perut Yura yang mulai membesar. Lalu ia mencium perut istrinya yang sedang tidur terlentang itu.


"Ed sudah pergi?" tanya Yura membuat Taeyung yang masih mencium perutnya, mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah istrinya.


"Apakah aku membangunkanmu?"tanya Taeyung.


"Aku memang harus bangun untuk membersihkan diriku." kata Yura lalu bangun dengan dibantu oleh Taeyung.


"Sayang, apakah Ed akan menemui Lerina lagi?" tanya Yura sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


"Dia mengatakan kalau untuk saat ini akan membiarkan Le sendiri. Ed sangat terluka dengan apa yang dikatakan Le padanya"


Wajah Yura terlihat sedih "Aku ingin mereka bersama lagi"


"Aku pun demikian. Namun kita tak boleh mencampuri urusan mereka. Karena Ed tak suka ada orang yang mengusik kehidupannya."


Yura mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi. Ia sebenarnya sangat rindu dengan Lerina. Namun Lerina sudah mengganti nomor ponselnya. Yura tahu kalau Lerina tak ingin lagi berhubungan dengan keluarga Kim.


*********


Mobil Edward yang dikendarai Keyri memasuki tempat parkir apartemen.


"Keyri, kau boleh pulang. Kita akan ketemu besok di kantor jam 9."


Keyri mengangguk. Sebelum Edward masuk ke pintu samping apartemen, Keyri memanggilnya.


"Bos, anak buah kita di Jakarta melaporkan kalau nona Lerina mengunjungi sebuah rumah sakit selama 2 kali di bulan ini. Sepertinya nona Lerina sedang melakukan sebuah pemeriksaan"


Edward terdiam sesaat. Apakah Lerina sakit? Ataukah Lerina hanya melakukan pemeriksaan rutin saja?


"Apakah tidak ada info kalau dia sedang melakukan apa di rumah sakit itu?" tanya Edward.


"Rumah sakit itu memiliki sistem keamanan yang ketat sehingga sangat sulit untuk mencuri informasi dari pasien yang berobat di sana"


"Ya sudah. Katakan kepada orang kita yang mengikuti Lerina di sana untuk berhenti mengikuti Lerina mulai hari ini. Aku tak ingin menganggu kehidupannya lagi." Edward segera melangkah. Namun sebelum ia membuka pintu, ia menoleh kembali ke arah Keyri yang masih setia berdiri di tempatnya.


"Hubungi asisten Veronika. Aku ingin makan malam dengan Veronika saat kita sudah kembali ke London" kata Edward tegas lalu segera membuka pintu samping kartu tanda pemilik apartemen yang sudah dipegangnya.


Keyri menatap bosnya dengan hati yang sedih. Sepertinya bos sudah ingin move on dari nona Lerina.


MAKASI SUDAH BACA PART INI


JANGAN LUPA KOMEN, LIKE, VOTE DAN KASIH BINTANG 5 DONG...😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2