
Pagi ini Lerina begitu bersemangat sekaligus tegang. Karena ia akan membongkar kebusukan penyimpangan keuangan yang sudah terjadi selama hampir 5 tahun di perusahaan ini.
Pesan yang dikirimkan Calvin semalampun membuatnya sedikit susah tidur dan Edward memperhatikan itu.
"Sayang, kamu semalam susah tidur ya? Ada lingkaran hitam dibawa matamu" kata Edward sambil menggesekan jari jempolnya tepat dibawa mata Lerina. Keduanya berdiri berhadapan didalam kamar.
"Aku hanya sedikit tegang saja untuk rapat hari ini" kata Lerina.
"Jangan tegang. Kita pasti dapat memukul mereka secara telak. Aku bahkan tak sabar melihat bagaimana reaksi daddy saat tahu kebenarannya"
"Kak Taeyung juga akan sock saat tahu orang yang sangat ia percayai ternyata sudah menusuknya dari belakang."
Edward memeluk Lerina dengan gaya posesifnya. "Aku bahagia menemukanmu dalam hidupku. Kalau semua ini sudah selesai, kita akan ke Jakarta untuk melihat rumahmu yang sudah selesai di renovasi."
"Benarkah? Wah...sangat menyenangkan sekali" Lerina melepaskan pelukannya dan menatap Edward dengan penuh rasa terima kasih.
"Kiss me..!" Edward mengangkat jari telunjuknya dan berhenti tepat di depan bibirnya.
"Ed...aku sudah selesai berdandan. " Lerina berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Edward namun Edward semakin kuat menahannya.
"Lipstick mu itukan yang anti lengket jadi tidak akan belepotan"
Wajah Lerina memerah "Hanya cium ya...jangan yang aneh-aneh" kata Lerina sambil mengangkat jari telunjuknya.
Edward mengangguk.
Lerina mendekat lalu sedikit berjinjit dan ia mencium Edward secara perlahan. Awalnya Lerina ingin melepaskan ciuman itu namun tangan Edward telah menekan bagian belakang kepalanya agar ciuman itu menjadi semakin dalam.
Tangan Lerina yang awalnya hanya diam tak bergerak kini sudah melingkar indah dileher Edward. Tubuh keduanya begitu rapat, menyalurkan rasa panas yang ingin segera dituntaskan.
Tok....tok....tok....
"Siapa yang menganggu?" Edward menggerutu karena Lerina sudah mengahiri ciuman itu dan melangkah menuju ke pintu kamar.
"Nana?" Ujar Lerina dengan kaget. Selama ini Nana tak pernah menganggu mereka saat berada di kamar.
"Maaf menganggu nyonya...tapi di bawa ada nyonya Yura"
"Yura?" Lerina terkejut. ia langsung keluar kamar dan menemukan Yura sedang duduk di meja makan.
"Hei...tumben pagi-pagi ke sini! Apakah kalian bertengkar lagi?"
Yura menggeleng "Aku meminta Taeyung untuk mengantarku ke sini karena aku penasaran dengan yang kau katakan tadi malam masalah keterlibatan Nula dalam kasus keuangan"
Lerina tersenyum " Kau bacalah dokumen ini dan aku akan sarapan dulu"
Yura langsung membuka laptop Lerina yang memang sudah diletakan di meja makan.
Lerina pun menikmati sarapannya. Matanya sesekali melihat ke arah tangga karena Edward belum muncul juga. Lerina tahu pasti suaminya itu sedang kesal karena niatnya tidak kesampaian.
"Dasar licik! Mereka bahkan sudah mendapatkan uang yang banyak selama 5 tahun ini. Nula bagaikan rubah. Untung saja Tae sudah tak mencintainya lagi." guman Yura sedikit emosi.
__ADS_1
"Dan kehamilannya?"
"Tae akan mengurus anak itu namun ia tak akan menikahinya"
"Baguslah!"
Edward turun dan sudah berpakaian rapih.
"Ed, mau sarapan apa?" tanya Lerina.
"Aku mau minum jus lemon" kata Edward sambil menunjuk jus yang memang sudah tersedia di atas meja.
"Hai...Ed..!" sapa Yura.
"Hallo juga kakak ipar." sapa Edward kembali.
"Ed kamu benaran mau minum jus lemon? Kamu kan nggak suka minum dingin di pagi hari" ujar Lerina heran.
"Kepala ku agak panas pagi ini. Perlu didinginkan"
Lerina menahan senyum mendengar perkataan Edward.
"Apa kamu sakit, Ed?" tanya Yura
"Ya. Karena itu setelah membongkar kebusukan Nula dan Lee Jun Kwon, aku akan segera mengajak istriku ini pulang karena hanya dia yang dapat meredakan rasa panasku ini"
Lerina melotot ke arah Edward. Yura yang mendengarnya langsung menatap Edward dengan senyum menggoda.
Ketiganya tertawa bersama. Nana yang melihatnya jadi tersenyum. Ia bahagia melihat keluarga Kim nampak akur semenjak ada Lerina.
********
Mereka tiba di kantor saat ruang rapat hampir penuh oleh para pemilik saham.
Jien dan Calvin juga hadir di sana menggantikan orang tua Jien yang sedang melaksanakan perjalanan keliling Eropa.
Lerina langsung membuang muka saat Calvin menatapnya dengan penuh kerinduan. Pesan yang Calvin kirimkan semalam memang masih menjadi tanda tanya besar baginya. Namun untuk hari ini, dia akan fokus pada kasus penggelapan keuangan dulu.
Taeyung yang duduk bersebelahan dengan Nula langsung berdiri melihat Yura masuk. Namun dengan senyum manisnya, Yura seakan menyampaikan bahwa ia baik-baik saja. Ia memilih tempat duduk disamping Lerina.
Keyri pun sudah siap dengan laptop ditangannya. Ia juga nampak sangat bersemangat.
Saar Kim Ryun Ong masuk didampingi Jesica, semuanya langsung berdiri dan membungkuk hormat. Rapat pemegang saham pun dimulai.
Setelah masing-masing devisi menyampaikan laporannya maka pegawai yang lain akan keluar dan menyisahkan para pemegang saham utama untuk berdiskusi. Namun Lerina tiba-tiba berdiri.
"Maaf...! Aku harap belum ada yang meninggalkan tempat." kata Lerina sambil berdiri. Ia lalu membungkuk ke arah Ryun Ong "Direktur mohon ijin untuk bicara!"
"Silakan menantuku!" Ryun Ong mengangkat tangan kanannya sambil mengangguk.
"Tim kami menemukan bahwa ada penyimpangan laporan keuangan yang terjadi selama ini" kata Lerina. Ia menatap Nula dan Lee Jun Kwon dengan senyum manisnya namun kedua orang itu kelihatan biasa saja.
__ADS_1
"Apa maksudmu Lerina? Aku adalah penanggungjawab keuangan. Aku sangat teliti dalam hal ini!" kata Taeyung.
"Kau memang teliti dan sangat percaya pada asistenmu yaitu Nona Nula. Begitu percayanya sehingga kau tak memeriksa bahwa yang dilaporkan oleh semua devisi setiap bulan tak sama dengan yang diketik oleh Nula. Aku, Yura dan Keyri menemukan catatan asli penerimaan keuangan dari arsipnya Lee Jun Kwon yang langsung berubah ketika berada di catatannya Nula. Silahkan Keyri!" kata Lerina. Keyri langsung menampilkan catatan pemasukan keuangan dari masing-masing devisi dan bagaimana catatan itu berubah setelah berpindah ke laptop milik Nula.
Wajah Lee Jun Kwon langsung pucat. Ia langsung mengirim pesan pada seseorang.
Taeyung menatap Nula yang duduk di sampingnya dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Apa maksud semua ini, Nula?" tanya Taeyung dengan tangan yang sudah terkepal kuat.
"Sabar kak Taeyung. Aku akan melanjutkan dulu" kata Lerina.
"Uang yang digelapkan itu masuk ke rekening atas nama perusahaan ini namun rekening itu adalah hasil ciptaan Lee Jun Kwon. Sehingga dengan mudah ia dapat mengakses seluruh keuangan yang ada di sana. Uang itu kemudian kemudian dibagi 10 % untuk Lee Jun Kwon, 10% untuk Nula, dan 80% ke rekening bank Swiss atas nama Kim Ryun Wong!" kata Lerina sambil tersenyum puas.
"Aku memang sudah tahu kalau Nula dan Lee Jun Kwon melakukan kecurangan di perusahaan ini" kata Ryun Ong dengan suara tenang.
"Lalu mengapa papa tak mengatakan padaku?" tanya Taeyung kesal.
"Aku ingin kau jeli untuk melihatnya karena kau adalah calon pemimpin perusahaan ini. Namun otak cerdikmu itu telah dibutakan oleh kemolekan tubuh Nula. Kau bahkan memuja perempuan itu untuk waktu yang lama.!" kata Ryun Ong dengan suara yang tegas tak terbantahkan. Ia kemudian berdiri lalu menatap Lerina dan Yura dengan senyum kebanggan.
"Siapa yang sangkah kedua menantuku ini justru adalah orang yang menemukan kecurangan ini bahkan yang menunjukan siapa dalang dibalik semua ini. Aku sama sekali tak menduga kalau adik tiriku itu telah masuk begitu dalam untuk merusak keluargaku"
Plok....Plok....Plok...
Kim Ryun Wong masuk sambil bertepuk tangan. Dibelakangnya ada sekitar 20 orang lelaki berbadan besar yang kesemuanya membawa senjata.
"Yang bukan keluarga Kim keluar..!" teriak Ryun Wong sambil menembakan senjata yang ada ditangannya ke atas. Plafon itu langsung bolong.
Semua pegawai langsung berlari berhamburan keluar, tak terkecuali Lee Jun Kwon.
"Nula sayang...kau tetap di tempatmu!" ujar Ryun Wong manis melihat Nula akan berdiri.
para pengawal Ryun Wong langsung menutup pintu ketika yang tertinggal didalam hanyalah keluarga Kim.
"Tak kusangkah rubah manis ini sangat pintar menyelidiki" Ryun Wong tiba berdiri didekat Lerina dan menarik rambut Lerina sehingga perempuan itu berteriak kesakitan.
"Jangan sentuh dia...!"
Semua terkejut mendengar teriakan double itu. Mata mereka tertuju pada Edward dan juga Calvin yang sama-sama sedang berdiri sambil mengepalkan tangan, rahang yang kelihatan tegas karena menahan marah dan tatapan membunuh yang diarahkan pada Kim Ryun Wong.
Pria bertato itu tertawa dan semakin kuat menarik rambut Lerina.
Anak buah Ryun Wong langsung mengarahkan senjatanya ke arah Calvin dan Edward.
"Ah....sakit!" teriak Lerina sambil menahan rambutnya.
"Hei...rubah cantik, lihatlah suamimu dan mantan tunanganmu sama-sama ingin membunuhku. Kau memang perempuan penggoda sehingga mereka terjerat pada pesonamu. Aku juga ingin merasakan indahnya tubuhmu ini!" Ryun Wong menyerahkan senjata yang ada ditangannya pada salah satu anak buah. Tangannya yang memegang rambut Lerina sudah bergeser ke leher perempuan itu, mencekiknya perlahan sementara tangannya yang satu sudah berada di dada Lerina.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACANYA
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT, VOTE DAN KASIH BINTANG 5 YA HE...HE...
__ADS_1