LERINA

LERINA
Dilema


__ADS_3

"Ed...., Apa yang kamu lakukan?" teriak Lerina panik melihat ada darah yang mengalir dari tangan Edward.


Dengan tangan yang bergetar, Lerina memegang tangan Edward, dan melepaskan pecahan gelas yang ada di sana.


Tepat di saat itu, Nana kembali dari pasar.


"Ya ampun tuan..., apa yang terjadi? " Nana pun menjadi panik. Ia melepaskan tas belanjaannya begitu saja dan mengambil kotak obat.


Lerina sebenarnya sangat tidak suka melihat darah yang banyak. Ia sering merasa mual bahkan ingin muntah. Namun kali ini, rasa itu seakan hilang. Ketakutan Lerina melihat tangan Edward yang terluka mengalahkan segalanya. Tangan Edward adalah aset yang paling berharga baginya karena jika tangannya terluka, Edward pasti tidak bisa bermain piano.


"Ed, kita harus ke rumah sakit. Lukamu ini cukup dalam" kata Lerina ketika darah ditangan Edward tak juga berhenti.


"Di lantai satu ada dokter. Dia membuka layanan untuk panggilan ke ruangan apartemen. Sebentar aku panggilkan!" kata Nana dan ia segera meraih gagang telepon dan menelepon dokter sambil mengatakan apa yang Edward alami.


Tak sampai 10 menit, dokter itu datang. Ternyata ia adalah dokter yang berasal dari luar negeri. Wajahnya yang agak mirip dengan Edward menunjukan bahwa ia memang bukan orang Korea.


Ia memperkenalkan namanya sebagai dokter Charles.


"Lukanya cukup dalam tapi tidak mengenai sesuatu yang vital. Aku akan menjahitnya." kata dokter Charles lalu ia mulai mengeluarkan peralatannya untuk menjahit luka Ed. Sebelumnya ia menyuntikan obat untuk membuat tangan Ed mati rasa sehingga tak merasakan sakit saat dijahit.


Edward sama sekali tak bicara. Ia hanya duduk diam sambil menatap semua yang dilakukan oleh dokter itu padanya.


"Sudah selesai, saya harap anda menjaganya agar tidak kena air selama satu minggu. Nanti 3 hari lagi saya akan datang untuk memeriksa jahitannya." kata dokter Charles lalu membereskan semua peralatan yang dibawanya.


"Terima kasih dokter!" kata Edward.


"Sama-sama tuan Kim. Saya harap anda menjaga tangan anda supaya tidak terluka lagi. Saya adalah salah satu penggemar anda."ujar dokter Charles lalu segera pamit untuk pergi. Nana menerima resep obat yang harus Edward minum dan membayar tagihan jasa dokter Charles.


"Saya ke apotik dulu ya untuk menebus obat" kata Nana setelah membersihkan bekas pecahan gelas dan darah yang ada di lantai.


"Ed, aku ambilkan baju untukmu" kata Lerina saat menyadari bahwa pria itu hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan. Celana Edward bahkan sudah terkena noda darah.


Lerina segera menuju ke lantai dua untuk mengambil pakaian Edward tanpa menungguh jawaban pria itu.


Saat Lerina kembali, Ed sudah tidak ada di ruang tamu. Lerina pun segera menuju ke kamar tamu dan melihat kalau Ed sedang menerima telepon.


Lerina membiarkan Edward menyelesaikan panggilan teleponnya sambil ia membereskan tempat tidur Edward.


"Ini bajumu, Ed." kata Lerina ketika dilihatnya Edward telah meletakan hp nya.


"Keluarlah. Aku mau ganti pakaian !" kata Edward sedikit terdengar sinis.


"Tapi tanganmu...!"

__ADS_1


"Aku masih punya tangan yang satu untuk membuka pakaianku"


"Tapi Ed...!"


"Keluarlah Lerina. Jangan membuatku kesal!" teriak Edward dengan tatapan yang begitu dingin.


Lerina terpana. Sebegitu marahkah Ed padanya?


"Ed, aku pulang ke Jakarta hanya untuk..."


"Menjengkelkan !" Edward memotong ucapan Lerina lalu meraih bajunya yang masih ada ditangan Lerina lalu segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Air mata Lerina jatuh tanpa bisa ditahannya. Sikap Edward sudah sangat keterlaluan menurutnya. Dengan kesal ia pun segera meninggalkan kamar dengan membanting pintu itu sangat keras.


Edward yang ada di kamar mandi pun dapat mendengarkannya. Cowok itu hanya mendengus kesal sekaligus sedikit meringis karena luka ditangannya terasa sakit.


Edward langsung tersulut emosi saat tahu kalau Lerina akan pulang ke Jakarta. Ia tahu Lerina pasti ingin bertemu dengan Calvin. Edward tak rela jika Lerina harus bersama Calvin lagi. Apalagi masalah pil kontrasepsi itu yang sangat menyakiti hati Edward , membuat api kemarahan semakin memuncak di hati Edward.


Selesai ganti pakaian, Edward keluar dari kamar. Ia melihat ruang tamu sudah sepi. Tas Lerina juga sudah tidak ada. Sepertinya gadis itu sudah pergi ke kantor.


Tak lama kemudian Nana datang. Ia segera memberikan beberapa obat yang harus segera diminum oleh Edward.


"Nana, aku mau ke rumah sakit dulu ya. Mereka menelepon kalau daddy sudah sadar dan ingin bertemu denganku" pamit Edward lalu segera keluar meninggalkan Nana sendiri.


*********


"Ed...papa dan Jesica sebenarnya tidak pernah menikah. Papa bahkan tidak pernah tidur dengannya sekalipun selama 2 tahun ini kami selalu tidur si kamar yang sama."


"Apa maksudmu, dad?" tanya Edward sambil menatap papanya dan Jesica secara bergantian.


"Aboji, bukankah dokter melarangmu untuk tidak banyak bicara?" ujar Taeyung.


"Aku harus mengatakannya sebelum aku, mati" kata Ryun Ong sambil memegang dadanya.


"Tae, berbahagialah bersama Yura. Dia wanita yang tepat untukmu." Ryun Ong menatap Yura "Terima kasih karena sudah sabar dengan Taeyung"


Yura hanya tersenyum sambil mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ed, Jesica disuruh oleh pamanmu untuk menggodamu lalu kemudian membunuhmu. Dari kamera cctv yang ada di apartemenmu, aku tahu bahwa Ryun Wong beberapa kali menemui Jesica dan memberikan racun untuk bisa membunuhmu secara perlahan tapi setiap kali Jesica hendak melakukannya, dia selalu mengagalkannya karena ia sudah jatuh cinta denganmu. Kamu tentu saja masih ingat pernah Jesica memintamu untuk meminum susu tapi tiba-tiba susu itu diambil dan dibuangnya. Jesica tak ingin membunuhmu dan akhirnya, salah satu adik Jesica diperkosa oleh Ryun Wong sebagai peringatan agar Jesica tidak gagal lagi dalam melaksanakan tugasnya. Karena itu papa menemui Jesica, menawarinya kerja sama yang menguntungkan. Papa akan melindungi keluarganya asalkan Jesica mau meninggalkanmu. Sebab jika Jesica masih bersamamu, Ryun Wong akan terus mengancam Jesica dan kau bisa terbunuh." Ryun Ong kembali memegang dadanya. Namun ketika ia diminta untuk berhenti, pria tua itu menggeleng.


"Papa tahu apa yang papa lakukan padamu sangat jahat. Namun papa tak ingin kamu terbunuh, Ed. Jalan satu-satunya adalah Jesica harus pergi dari hidupmu dan agar kau melepaskannya maka hal terburuk yang harus papa lakukan adalah berpura-pura menikahinya. Papa ingin melindungimu dan juga melindungi Jesica yang sudah menolongmu dari tangan Ryun Wong. Papa memberikan perlindungan pada keluarga Jesica dengan cara mengirim mereka semua ke luar negeri dan menempatkan Jesica terus bersama papa agar bisa melindunginya dan juga melindungimu." Ryun Ong berhenti sejenak seolah ingin menetralkan napasnya yang sedikit melemah.


"Dad, berhentilah bicara. Daddy istirahat saja...!" kata Edward sambil memegang tangan papanya itu.

__ADS_1


Ryun Ong menggeleng "Sebenarnya menjelang ulang tahunmu, papa ingin mengatakan padamu semuanya. Namun kau sudah membawa Lerina ke rumah. Papa melihat kalau kau sangat mencintai gadis itu. Kau bahagia bersamanya sampai akhirnya papa memutuskan membiarkan kau bersamanya. Namun, setelah apa yang terjadi di ruang rapat, papa tahu kalau Lerina bersamamu karena sebuah kontrak pernikahan yang menguntungkan. Jadi papa serahkan semua padamu, Ed. Kau sudah tahu kebenarannya" Ryun Ong menarik napas panjang. "Selama Ryun Wong belum bisa ditemukan maka kalian semua ada dalam bahaya. Jadi berhati-hatilah"


Edward diam. Mendengar penjelasan papanya membuat pikiran Edward semakin buntuh. Masalahnya bersama Lerina belum juga selesai dan kini ia menemukan kebenaran tentang Jesica.


Gadis itu memang mendekatinya dengan tujuan yang tidak baik. Namun Jesica jatuh cinta padanya. Edward dapat merasakan bahwa cinta itu adalah sebuah kebenaran. Edward tahu tatapan mata Jesica saat melihatnya adalah tatapan mata penuh cinta. Edward tak menyangkah kalau Jesica sementara berada dibawa tekanan Ryun Wong. Dan papanya hadir menjadi penolong diantara mereka berdua. Edward tahu bahwa apa yang dilakukan oleh papanya adalah sebagai bukti kalau lelaki itu mengasihinya dan tak ingin ia terluka.


Seorang dokter datang dan memeriksa keberdaaan Ryun Ong. Ia meminta semuanya keluar sehingga pasien bisa istirahat.


Jesica mengikuti langkah Edward saat keduanya melangkah menyusuri lorong di depan ruang perawatan Ryun Ong. Karena ruangan ini adalah khusus keluarga Kim maka tak ada orang lain yang akan lalu lalang di tempat ini kecuali dokter, perawat dan keluarga Kim.


"Ed...!" panggil Jesica.


Langkah Edward terhenti. Ia berbalik dan menatap Jesica.


"Ada apa?"


"Kau sudah mendengarkan apa yang dijelaskan oleh papamu kan?"


"Ya. Dan itu yang membuatku sakit. Mengapa kau tak mengatakan semuanya padaku saat itu? Mengapa kau biarkan aku membencimu? Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu dan bisa melakukan apa saja untukmu. Aku bahkan sanggup memberikan nyawaku padamu. Apakah kau pikir aku tak dapat melindungimu dan keluargamu dari pamanku?" tanya Edward dengan hati yang bergolak oleh rasa penyesalan yang dalam.


"Aku takut kau tidak akan memaafkan aku jika tahu tujuan awalku mendekatimu" ujar Jesica dengan mata yang basah. Perempuan itu pun sama terguncangnya dengan Edward. Perasaan cinta yang selama ini harus dipendamnya apalagi ketika melihat Edward dan Lerina bermesraan.


Edward memegang bahu Jesica dengan tangannya yang tidak terluka lalu ia menguncangnya dengan kuat "Jika kau jujur saat itu padaku, aku pasti akan memaafkanmu. Karena cinta yang sama-sama kita rasakan begitu besar. Mengapa kau justru tidak percaya atas ketulusanku padamu?"


"Ed....maafkan aku....!" Jesica langsung memeluk Edward dengan perasaan yang hancur. Ia menyesali kebodohannya selama ini. Andai saja ia mau jujur. Andai saja dia mau percaya bahwa Edward sanggup menolongnya, maka ia pasti masih ada di pelukan pria tampan ini.


Keduanya larut dalam pelukan hangat yang meluluhkan segala dendam dan kemarahan yang selama ini terpendam.


"Lerina, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yura saat ia keluar dari ruang perawatan Ryun Ong dan menemukan gadis itu sedang berjongkok di sebelah mesin minuman. Sangat dekat dengan tempat Edward dan Jesica berdiri.


Edward melepaskan pelukannya. Ia menatap Lerina yang keluar dari tempat persembunyiannya dengan wajah yang bersemu merah. Perempuan itu terlihat sedikit malu tapi ada juga air mata yang mengalir di pipi mulusnya yang terlanjur dilihat oleh Edward.


Dengan gerakan cepat Lerina menghapus air matanya. Berusaha mengeluarkan sebuah senyum dan menatap mereka bertiga secara bergantian.


"A...ku datang untuk berpamitan pada papa" katanya dengan suara yang bergetar. Sangat jelas ia menahan tangisnya.


"Berpamitan? Apa maksudmu?" tanya Yura tak mengerti.


"Aku mau kembali ke Jakarta!" kata Lerina pelan.


Yura terpana tak percaya. Sedangkan Edward mengepalkan kedua tangannya. Tak peduli kalau tangannya yang satu masih sakit. Dan Jesica tersenyum penuh kemenangan.


MAKASI SUDAH BACA PART INI

__ADS_1


APAKAH LERINA AKAN PULANG KE JAKARTA?.


jangan lupa ya...like, komen dan vote ya...


__ADS_2