LERINA

LERINA
Kunjungan ke Dokter Kandungan


__ADS_3

"Selamat pagi, sayang." Sapa Edward saat dilihatnya Lerina yang baru saja bangun dengan rambut yang berantakan.


Lerina tersenyum. "Selamat pagi juga, sayang." Lerina bangun dan merapikan rambutnya dengan jeri-jarinya.


Edward yang baru selesai mandi mendekati istrinya yang masih duduk di atas tempat tidur. Satu kecupan manis dihadiahkan Edward di dahi istrinya.


"Mandilah dan kita akan sarapan bersama. Aku sudah memesan layanan sarapan di kamar." Kata Edward dengan lembut sambil membelai pipi Lerina dan sekali lagi kecupan manis mendarat di pipi istrinya itu.


"Baiklah. Aku mandi dulu. Badanku rasanya lengket semua." Kata Lerina lalu perlahan menggeser tubuhnya ke pinggir tempat tidur. Lalu ia segera turun dan menuju ke kamar mandi.


20 menit kemudian, Lerina sudah keluar kamar mandi sambil menggunakan jubah mandi berwarna coklat. Kepalanya terbungkus handuk berwarna putih. Ia kemudian membuka lemari baju dan mengambil sebuah gaun berwarna pink dan langsung mengenakannya.


"Aku suka sekali melihatmu selesai mandi. Kau terlihat sangat cantik sekalipun tidak memakai make up." Kata Edward lalu memeluk istrinya dari belakang. Tangannya menarik handuk yang membungkus rambut Lerina. "Apalagi dengan rambut yang basah dan sedikit berantakan ini, rasanya aku harus menahan diriku untuk tidak menarikmu ke tempat tidur lagi." Kata Edward membuat Lerina mencubit tangan Edward yang melingkar di perutnya.


"Ed, jangan macam-macam ya, aku sudah lapar." Kata Lerina sambil melepaskan diri pelukan suaminya itu.


Edward tertawa melihat tingkah istrinya yang sedikit berlari menghindarinya.


"Hati-hati sayang, kamu sedang hamil." Seru Edward lalu menyusul istrinya yang sudah berada di ruangan sebelah. Lerina sudah duduk di depan meja makan.


"Aku sangat lapar." Kata Lerina dan mulai mengambil beberapa jenis makanan yang tersedia di sana.


"Sayang, jam berapa kita akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu?" Tanya Edward.


"Jam 5 sore. Aku mendapatkan nomor urut satu. Jadi sebelum jam 5, kita harus sudah berada di rumah sakit. Juga untuk menghindari banyak orang." Kata Lerina sedikit mencibir. "Kamu kan artis."


Edward hanya terkekeh. "Ya, resiko memang punya suami tampan dan terkenal seperti ini. Namun tenang saja. Aku akan sedikit menyamar." Kata Edward.


Lerina hanya tertawa. "Ed, setelah ini, kita ke rumah dulu ya. Kartu periksaku ada di sana."


"Katakan saja kau menyimpannya di mana. Biar Keyri yang mengambilnya. Setelah sarapan, kau istirahat saja. Aku pasti sudah membuatmu lelah semalam."


"Baguslah kalau kau sadar."


Edward gantian yang tertawa. "Harap maklum. Kita kan pengantin baru."


Lerina hanya bisa tersenyum melihat suaminya itu. Ia bahagia karena Edward mencintainya.


*********


Sebelum jam 5 sore, keduanya sudah memasuki rumah sakit tempat dokter Dewi melaksanakan prakteknya.


Edward yang hadir mengenakan celana jeans dan kaos oblong, topi serta kacamatan nampak posesif memegang pundak Lerina.


Beberapa ibu-ibu dan perawat yang ada di sana saling berbisik karena ketampanan Edward yang menurut mereka sangat mirip dengan salah satu artis dari Korea. Bahkan doktet Dewi pun terkejut saat melihat Lerina masuk dengan seorang pria tampan.


"Apakah ini suamimu yang bernama Kim Taehung?" Tanya dokter Dewi.


"Iya, dok." Jawab Lerina sedikit tersipu.


"Wajahnya mirip Edward Kim, si pemain piano asal Korea itu. Tunggu dulu..." Dokter Dewi menatap Edward dan Lerina secara bergantian. "Di konser Veronika dan Esward Kim kan dia mengatakan kalau gadis yang dicintai Edward adalah Lerina Avigail?" Dokter Dewi membaca nama yang ada di kartu kontrol Lerina.


"A....pakah ini Edward Kim?" Pekiknya hampir berteriak.


"Iya, dokter." Jawab Edward sambil membuka kacamatanya.


"Oh....my God! Aku ini salah satu penggemarmu Edward Kim? Bolehkah aku meminta tanda tanganmu? Aku punya semua albummu." Kata dokter Dewi sangat antusias.

__ADS_1


"Boleh, dok. Tapi aku mau tahu bagaimana perkembangan anakku dulu. Selama ini, aku kan hanya melihat dari foto hasil USG nya saja." Kata Edward membuat dokter Dewi sedikit malu.


"Eh...ya. Maafkan aku. Mari nyonya Lerina, silahkan naik ke atas tempat tidur." Kata dokter Dewi lalu mulai mengenakan sarung tangannya dan mulai melaksanakan tugasnya.


Edward langsung memposisikan dirinya di samping tempat tidur sambil menatap ke layar monitor.


"Perkembangan bayinya bagus. Sesuai dengan umurnya. Detak jantungnya juga kuat. Semuanya berjalan dengan normal." kata dokter Dewi.


"Jenis kelaminnya apakah sudah bisa dilihat?" Tanya Edward penasaran.


"Bisa. Sebentar ya..., nah ini dia. Selamat tuan dan nyonya Kim, anak kalian berjenis kelamin laki-laki."


(Nah...ayo, siapa yang bilang kalau diperut Lerina ada Melody kecil? 😊😊😊).


"Laki-laki, dok?" Tanya Edward ingin memastikan lagi.


"Iya. Jenis kelaminnya laki-laki." Dokter Dewi mengulanginya lagi.


"Ah, sangat menyenangkan. Ini seperti yang aku impikan. Jenis kelaminnya laki-laki. Aku suka. Terima kasih, Tuhan." Kata Edward dengan mata yang berkaca-kaca. Lerina pun nampak senang karena ia bisa hamil anak laki-laki seperti yang Edward inginkan.


Dokter membersihkan sisa gel yang ada diperut Lerina. Ia kemudian menuliskan resep vitamin yang harus Lerina minum.


"Terima kasih, dok. Sekali lagi terima kasih." Kata Edward sambil menggengam tangan dokter Dewi.


"Sama-sama tuan, Kim. Sekarang bolehkah aku minta tanda tanganmu sekalian foto berdua denganmu?" Tanya dokter Dewi.


"Boleh, dok." Kata Edward. Ia segera mengambil CD yang dokter Dewi ulurkan dan menandatanganinya. Ia juga berfoto beberapa kali dengan dokter cantik itu.


"Kita akan berjumpa lagi bulan depan." Kata dokter Dewi.


Lerina mengangguk. Namun Edward nampal sedikit murung membayangkan bulan depan mungkin ia tak bisa hadir.


"Mereka memperhatikanmu, Ed." Bisik Lerina.


"Biar saja. Supaya kamu tahu betapa beruntungnya kamu menikah denganku." Kata Edward sedikit menyombongkan diri membuat Lerina hanya tertawa melihat tingkah suaminya.


Keyri sudah menunggu di depan lobby. Ia pun mengantar pasangan itu kembali ke rumah Lerina.


"Keyri, aku akan memiliki anak laki-laki. Kau dengar itu? Aku akan punya penerus Kim. Ah, seandainya daddy dan mommy masih ada, mereka pasti akan sangat senang mendengar berita ini." Kata Edward. Raut wajahnya berubah sedih.


"Mereka pasti melihatmu, bos. Dan mereka senang karena bos akhirnya berbahagia." Kata Keyri dari balik kemudi.


Edward membelai perut Lerina. "Pasti wajahnya akan satampan papanya."


"Hei, jangan lupakan. Ini juga adalah anakku. Dia akan 50% mirip papanya dan 50% mirip ibunya." Kata Lerina sambil menatap tajam ke arah suaminya.


Keyri hanya bisa tertawa.


"Keyri, cepatlah susul Susan di Bali. Aku memberikan kau kesempatan selama 3 hari untuk menemuinya." Kata Edward.


"Benarkah?" Tanya Keyri seakan tak percaya.


"Ya. Aku akan di Jakarta menemani istriku. Aku doakan semoga kau berhasil."


"Tenanglah bos. Aku akan berusaha untuk menaklukan Susan." Kata Keyri penuh harap.


"Siapa Susan, sayang?" Tanya Lerina penasaran.

__ADS_1


"Susan adalah asistennya Arnold Manola. Keyri sudah lama menaruh hati padanya." Kata Edward.


"Semoga berhasil ya, Key." Kata Lerina memberi semangat.


"Terima kasih, nona." Keyri menjadi semakin senang. Ia sangat berharap bisa menemui Susan dan mendapatkan cintanya.


*************


Selama 3 hari Arnold melaksanakan aktivitasnya di Bali ini. Ada konser mini dan juga syuting video clip untuk lagu terbarunya. Arnold masih punya 1 hari sebelum kembali ke London.


Malam ini, setelah makan malam, Arnold memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar hotel. Ia ingin menikmati malam, sekaligus mengenang tempat dimana ia pernah bertemu istrinya. Arnold memejamkan matanya. Waktu sudah berlalu begitu lama namun Arnold sama sekali belum bisa melupakan Fairy. Perempuan Indonesia yang sudah membuatnya jatuh cinta namun yang juga membuatnya hancur berkeping-keping.


Saat langkah kaki Arnold tiba di pantai, ia melihat Susan sedang bersama seseorang. Arnold mencoba memperhatikan siapa lelaki itu.


Itukan Keyri asistennya Edward? Apa yang mereka berdua percakapkan?


Karena penasaran, Arnold mendekatkan langkahnya dan mendengar percakapan itu.


"Aku serius dengan kamu, Susan. Sudah lima tahun ini aku menunggumu. Jawabanmu selalu sama, kau tak bisa bahagia saat melihatmu bosmu bersedih. Lalu kalau Arnold selamanya tak bisa mencibtai gadis lain, apakah kau akan mengabaikan kebahagiaan kita?" Tanya keyri sedikit kesal.


Susan duduk di salah satu kursi pantai yang ada di sana.


"Aku mencintaimu juga, Key. Tapi, aku sedih melihat Tuan Arnold selalu terpuruk dalam bayang-bayang masa lalunya. Aku dan Noah berjanji, kalau tuan Arnold sudah menemukan kebahagiaannya maka berdua akan mengejar kebahagiaan kami."


"Sampai kapan? Usiaku sudah 32 tahun. Aku ingin membangun kebahagiaan bersamamu. Membentuk keluarga dan memiliki anak-anak." Keyri berlutut di depan Susan sambil menggengam tangan gadis itu.


"Meniklah denganku. Aku tak akan melarangmu untuk tetap terus bekerja dengan tuan Arnold. Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya."


Susan menarik tangannya dari genggaman Keyri. "Maaf, aku tak bisa."


Keyri berteriak karena rasa marah yang menjalar dalam hatinya. Dengan kesal ia melangkah meninggalkan Susan.


Tangis Susan langsung pecah. Ia memang sudah lama menyukai Keyri. Sejak pertama Arnold bekerja sama dengan Edward Kim, Susan sudah jatuh cinta pada lelaki bermata sipit itu.


"Mengapa kau membiarkan kebahagiaanmu berlalu begitu saja?" Tanya Arnold lalu duduk di depan Susan.


"Bos, kau mendengar percakapan kami?"


Arnold mengangguk. "Jangan pernah membuang semua kebahagiaan yang ditawarkan kepadamu. Jangan melakukan kesalahan seperti yang pernah aku lakukan dulu."


"Tapi, bos, apakah selamanya kau akan seperti ini? Tidak inginkah kau membuka hati untuk gadis lain? Bukankah nona Amelia masih mengharapkan cintamu?"


"Susan, jangan pikirkan tentang aku. Pergilah! Raih kebahagiaanmu sendiri. Jangan sampai kau menyesalinya. Karena jika cinta benar-benar pergi, menangis pun tak akan membuatnya kembali padamu."


Susan menghapus air matanya. "Jadi aku boleh bersama Keyri?"


"Tentu saja. Justru kalau kau tak bersamanya, aku akan memecatmu sebagai asistenku."


Susan tersenyum. Ia memeluk Arnold dengan perasaan yang sangat bahagia. "Terima kasih, bos. Aku mengejar cintaku dulu." Susan langsung berlari mengejar Keyri yang sudah jauh berjalan meninggalkan dirinya.


"Keyri....!" Teriak Susan.


Langkah Keyri terhenti. Ia menatap Susan yang berlari ke arahnya. Gadis itu langsung menubruk tubuh Keyri dan memeluknya dengan sangat erat.


"Aku mau menikah denganmu!" Bisik Susan dan membuat Keyri hampir saja pingsan mendengarnya.


NAH...GIMANA KISAH INI AKAN BERAKHIR?

__ADS_1


SILAKAN LIKE, KOMEN DAN VOTE YA...


__ADS_2