LERINA

LERINA
Perpisahan Yang Berat


__ADS_3

"Sayang, apakah tidak sebaiknya kita pergi ke toko untuk belanja keperluan si baby boy?" Tanya Edward ketika mereka berdua baru selesai sarapan dan menikmati kebersamaan di hari sabtu dengan duduk di taman belakang.


Lerina yang sedang membaca sebuah novel menatap suaminya itu. "Jangan dulu. Tunggulah sampai usia kandunganku memasuki 7 bulan."


"Mengapa?" Tanya Edward sambil mengerutkan dahinya.


"Kalau di Korea menyiapkan perlengkapan bayi bisa kapan saja. Tapi kalau di sini, harus tunggu kandungannya berusia 7 bulan dulu. Soalnya kalau sebelum 7 bulan lalu sudah disiapkan nanti ada sesuatu yang terjadi pada bayi itu. Itu sih kata orang-orang tua."


"Kalau tunggu kandunganmu berusia 7 bulan, bisa saja aku tak ada di sini. Jadi, kita ke Seoul saja." Bujuk Edward sambil membelai perut Lerina.


"Kim Min Jun...., kamu juga ingin ikut daddy ke Korea kan?" Tanya Edward sambil mencium perut Lerina.


"Kim Min Jun?" Tanya Lerina tak mengerti.


"Ya. Itu nama anak kita nanti. Artinya pria yang cepat, pandai, bertalenta dan tampan." Kata Edward dengan bangganya.


"Aku suka. Tapi apakah dia tidak mempunyai nama lain seperti kamu, Ed? Anak ini juga kan berdarah Indonesia."


"Kamu punya nama lain?"


Lerina mengangguk. "Namaku sendiri berarti musik yang diinginkan. Makanya aku ingin menamai anak ini Bragi Kim. Bragi artinya dewa musik dan puisi. Bagaimana menurutmu?"


Edward mengangguk setuju. "Aku suka. Anakku ini akan bernama Korea Kim Min Jun dan nama Indonesianya Bragi Kim."


Lerina memeluk Edward. "Aku senang, Ed. Aku tak sabar menanti kelahirannya."


"Hyung juga akan memiliki seorang putra. Mereka akan punya dua anak. Aku juga ingin memiliki anak yang banyak. Supaya rumah kita menjadi ramai dengan anak-anak." Edward duduk di samping istrinya lalu membaringkan kepalanya di bahu Lerina.


"Memangnya kamu ingin punya anak berapa, Ed?" Tanya Lerina.


"5 atau 6."


"Apa?" Lerina terkejut. Ia dengan gemas mencubit pinggang suaminya. "Aku akan melahirkan dua anak dan kau akan melahirkan 4 anak."


Edward tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Lerina. "Sayang, kenapa aku harus ikut mengandung? Tugas mengandung dan melahirkan itu ada dipihak perempuan. Kalau dipihak laki-laki cari duit untuk keluarga."


"Nanti kalau anak kita banyak, tubuhku akan melar jadi gendut dan tidak beraturan lagi. kamu akan melirik gadis lain. Aku nggak mau, Ed." Kata Lerina sambil menggelengkan kepalanya.


Edward mengangkat kepalanya dari bahu Lerina. Menatap wajah cantik istrinya itu sambil tersenyum. "Sayang, banyak wanita yang melahirkan anak yang banyak namun badannya tetap bagus. Dan kalaupun kelak kamu jadi gendut, itu tak masalah buatku. Aku tak mungkin berpaling pada wanita lain. Mendapatkanmu saja membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Masa setelah mendapatkan, aku dengan gampang akan melepaskanmu. Itu tidak mungkin terjadi, sayang." Edward meraih kedua tangan Lerina, menggenggamnya erat. "Sudah ku katakan bahwa kau adalah hidupku. Aku tak bisa bernapas dengan baik jika kau tak ada di sampingku."


Mata Lerina kembali menjadi berkaca-kaca. Dengan segera ia memeluk Edward. "Aku mencintaimu, Ed."


"Aku lebih mencintaimu." Bisik Edward lalu mencium pipi Lerina dengan penuh kasih. Lalu ciuman itu berpindah ke bibirnya. Keduanya tenggelam dalam romansa kemesraan yang perlahan berubah menjadi gairah yang menuntut untuk dituntaskan.


"Ed, nanti dilihat bibi Suni." Lerina melepaskan tangan suaminya yang sudah memasuki gaun yang dikenakannya.


"Mereka lagi ke pasar." Kata Edward sambil terus melancarkan serangannya.

__ADS_1


"Kita ke kamar saja ya?"


Edward tersenyum. "As you wish, baby." Lalu ia segera berdiri, kemudian membungkukan tubuhnya dan mengangkat Lerina dalam gendongannya.


"Ed, aku bisa jalan sendiri." protes Lerina.


"Aku suka menggendongmu. Kita kan masih pengantin baru." Kata Edward menggoda membuat Lerina tertawa dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher suaminya.


*********


"Kamu menikah di Bali dan tidak memberitahukannya kepadaku?" Tanya Edward sedikit terkejut dan ada rasa marah saat mendengar pengakuan Keyri. Bagaimana mungkin asisten yang sudah bertahun-tahun bersamanya, yang sudah menjadi saudara baginya, menikah tanpa ada dia di sisinya? Keyri memang sudah yatim piatu. Ia juga anak tunggal. Makanya semenjak ia bekerja menjadi asisten Edward, ia benar-benar mencurahkan seluruh waktu dan kehidupannya untuk Edward.


Keyri tahu Edward akan marah padanya. Namun ia harus bergerak cepat sebelum Susan berubah pikiran dan tak jadi menikahinya.


"Semuanya terjadi begitu cepat. Aku tak mau Susan menolakku lagi. Makanya malam itu, setelah ia menerima lamarannya, esoknya kami langsung menikah." Kata Keyri dengan mata yang berbinar dipenuhi cinta yang membara.


Susan yang berdiri di dekat Keyri hanya menunduk dengan wajah sedikit merona.


Edward mendekat dan langsung memeluk Keyri secara jantan. Menepuk pundak asistennya itu. Dengan rasa haru ia pun berucap," Aku berdoa agar kau bahagia dan cepat memiliki anak. Jangan pernah berpisah sampai maut memisahkan."


"Terima kasih, bos." Keyri ikut terharu mendengar perkataan Edward.


"Sekarang, kalian mau bulan madu kemana?" Lerina yang sejak tadi diam akhirnya bicara.


"Kami akan ke Seoul dulu untuk mendaftarkan pernikahan ini dicatatan sipil." Keyri menggenggam tangan Susan. "Setelah itu, aku mau minta ijin selama 2 minggu untuk ke Swiss "


"Benarkah?" Tanya Keyri seolah ingin meyakinkan dirinya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Ya. Gunakan waktu selama satu bulan itu untuk membuat anak secara cepat. Soalnya kau sudah tua." Ledek Edward membuat Keyri dan Susan sama-sama tertawa.


"Kalau begitu, kita makan siang bersama di sini ya? Kebetulan bibi Suni sudah selesai masak." Ajak Lerina lalu segera ke dapur untuk menyiapkan meja makan siang.


Setelah makan siang.....


"Pesawatnya akan berangkat jam berapa, bos?" Tanya Keyri saat mereka sudah berada di ruang tamu. Lerina dan Susan sedang menyiapkan buah di dapur.


"Jam 10 malam ini. Pilotnya tadi sudah menelepon." Ujar Edward. Wajahnya terlihat sedih.


"Nona Lerina tidak ikut?" Tanya Keyri.


"Ya. Dia tidak bisa meninggalkan perusahaan. Sementara pekerjaanku sangat banyak di Seoul. Aku berharap semuanya akan selesai sebelum anakku lahir." Edward menarik napas panjang. Sangat berat rasanya harus meninggalkan Lerina di Jakarta disaat mereka sedang menikmati manisnya kebersamaan sebagai pasangan yang saling mencintai.


Susan dan Lerina datang membawakan buah apel dan semangka yang sudah dipotong-potong. Edward tersenyum melihat istrinya itu. Ia tak ingin Lerina merasa terbeban dengan perpisahan ini.


Mereka pun menikmati buah sambil mendengar kisah pernikahan Keyri dan Susan.


***********

__ADS_1


Edward sudah selesai mengenakan pakaiannya. Ia memeriksa pasport, dompet dan hp nya yang ada di dalam tasnya.


Lerina yang baru keluar dari kamar mandi menatap suaminya sambil tersenyum. "Sudah siap?" Tanyanya sambil mendekat.


"Iya. Sebelum jam 10 kami sudah harus ada di bandara."


Lerina berdiri di hadapan Edward. Tangannya memperbaiki letak jaket yang digunakan suaminya.


"Jangan merindukan aku ya?" Ujarnya membuat Edward terkejut.


"Mengapa tak boleh merindukanmu?"


"Sebab jika kamu terlalu rindu padaku, nanti kurang konsentrasi bekerja. Aku juga di sini akan gelisah memikirkan kamu terus. Jadi rindunya biasa-biasa saja."


Edward menangkup ke dua sisi pipi Lerina dengan tangannya.


"Bagaimana mungkin aku tak akan merindukanmu dengan begitu dalam. Sekarang saja aku sudah merasa merindukanmu." Kata Edward dengan suara yang bergetar. Ia menunduk dan menyentuh hidung Lerina dengan hidungnya. Menikmati keintiman dalam posisi seperti ini sangat Edward sukai.


"Jangan terlalu capek bekerja, ya? Jaga kesehatan dengan baik. Aku akan meneleponmu setiap hari."


Lerina mengangguk.


Edward mencium hidung Lerina, lalu dahinya, turun ke pipinya lalu berakhir dibibirnya.


Keduanya tenggelam dalam ciuman itu. Agak lama. Lalu terpaksa harus melepaskan karena hampir saja kehabisan oksigen di dada.


"Ayo kita ke bawah. Keyri dan Susan sudah menunggu." Ajak Edward sambil menautkan jarinya dengan jari Lerina, keduanya melangka meninggalkan kamar.


Pak Moddy sudah siap mengantarkan Edward, Keyri dan Susan ke bandara. Ketiganya akan pergi dengan pesawat pribadi milik keluarga Kim.


"Nona Lerina, kami pergi dulu ya?" Pamit Susan dan Keyri.


Lerina hanya mengangguk lalu memeluk keduanya secara bergantian. Setelah itu Susan dan Keyri langsung masuk ke dalam mobil.


"Sayang, aku pergi dulu ya?" Edward memeluk Lerina sekali lagi. Ia mencium pucuk kepala istrinya secara berulang-ulang, lalu ciuman itu berpindah ke perutnya.


"Kim Min Jun jangan nakal di dalam perut ibu ya. Daddy harus pergi bekerja. Nanti kita akan bertemu lagi." Kata Edward sambil membelai perut Lerina.


Lerina tak dapat menahan air matanya. Hatinya sangat sedih namun ini sudah menjadi keputusannya.


"Hati-hati di sana ya, Ed." Katanya saat Edward memeluknya sekali lagi.


Edward hanya mengangguk. Ia pun merasa sedih harus meninggalkan istrinya.


"Aku pergi ya...!" Edward melangkah meninggalkan Lerina. Ia masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi. Lerina yang melihat mobil itu perlahan bergerak meninggalkan halaman rumahnya, kembali tak bisa menahan air matanya. Ia merasa kesepian tanpa ada Edward di sampingnya.


MAKASI SUDAH BACA PART INI

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA...


__ADS_2