
Lerina dan Nula yang baru kembali dari ruang arsip segera berpisah saat keluar dari lift.
"Terima kasih Nula karena sudah menemani aku" kata Lerina
Nula membungkuk hormat dan langsung kembali ke mejanya. Ia sebenarnya sangat bingung dengan Lerina yang memintanya untuk ke ruang arsip bersama namun tak ada satupun yang diambilnya.
Saat ia duduk kembali di depan mejanya, pandangannya lurus menatap Yura yang masih asyik bekerja dengan layar komputer yang ada di depannya.
Nula merasa ada yang tidak beres. Ia segera masuk ke dalam dan melihat Taeyung sedang membereskan beberapa file dan memasukannya ke dalam tas kerjanya.
"Kamu akan pulang?" tanya Nula.
"Ya. Aku akan gantian dengan Jesica untuk menjaga papa."
"Apakah tadi Yura ke sini?"
Taeyung menatap Nula " Tidak" jawabnya.
Nula tiba-tiba memeluk Taeyung "Sayang, malam ini menginap di apartemenku ya. Aku kangen"
"Aku tak bisa. Aku mungkin akan ada di rumah sakit sampai malam"
Nula nampak cemberut "Taeyung, apakah kau tahu, kita sudah sebulan ini tak bercinta"
"Sabar sayang. Tunggulah sampai papa sembuh. Aku pergi dulu ya..." Taeyung mencium dahi Nula dan langsung meninggalkan ruangannya.
Saat ia melihat Yura yang masih asyik dengan komputernya, ia tersenyum. Saat berada dalam lift, dia pun menelepon Yura.
"Ada apa Tae?" tanya Yura.
"Cepatlah turun ke bawa. Aku menungguhmu di tempat parkir. Kita akan ke rumah sakit untuk menjaga papa."
Yura baru akan bicara namun Taayung sudah menutup teleponnya.
Yura mendengus kesal. Ia segera masuk ke ruangan Lerina. Di lihatnya gadis itu juga sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Mau pergi?"
"Ya. Ed menungguku di hotel."
"Taeyung juga menungguhku di bawa. Katanya akan ke rumah sakit."
"Ya sudah. Ayo kita ke bawa!" ajak Lerina.
Keduanya pun segera meninggalkan ruangan wakil direktur 2.
Nula menatap kepergian mereka dengan tanda tanya. Apakah mereka janjian dengan Taeyung? batin Nula dengan perasaan cemburu yang dalam.
Di halaman parkir perusahaan...
Lerina langsung naik ke mobil yang dikendarai oleh Pak Cheng sedangkan Yura segera menuju ke mobil mobil Taeyung yang sudah menungguhnya.
Yura masuk ke dalam mobil tanpa bicara.
Taeyung pun menjalankan mobilnya tanpa bicara. Sampai akhirnya keduanya sudah berada di rumah sakit.
Jesica dan Nana langsung pulang saat Taeyung dan Yura sudah masuk ke kamar.
Yura melepaskan tas yang dibawahnya, lalu mencuci tangannya. Setelah itu ia menarik sebuah kursi dan mendekatkannya di ranjang Ryun Ong.
"Apa kabar aboji? Cepat sembuh ya...." kata Yura sambil memijat kaki Ryun Ong dengan penuh kasih.
Hati Taeyung begitu tersentuh melihat pemandangan itu. Ia tahu bahwa Yura sangat baik dan menyayangi papanya. Mungkin karena Yura sudah kehilangan papanya 3 tahun yang lalu. Yura mendapatkan kasih sayang yang banyak dari Ryun Ong.
Aku baru menyadari bahwa Yura sangat cantik. Hidungnya mancung, bibirnya merah dan sedikit tebal menggoda. Ia juga punya bentuk tubuh yang bagus. Dulu, saat aku menyentuhnya, aku bahkan tidak tahu bagaimana bentuk tubuhnya. Setiap kali aku bersamanya yang kubayangkan justru adalah Nula. Dan kini, saat kami akan berpisah, mengapa aku justru merasa begitu membutuhkannya?
__ADS_1
Yura yang sedang memijat kaki papa mertuanya, sedikit risih karena ia tahu bahwa Taeyung sedang memandangnya.
"Tae, berhentilah memandangku" kata Yura tanpa memandang Taeyung.
"Terima kasih Yura. Terima kasih karena sudah memperhatikan papaku"
"Papamu pantas mendapatkannya karena dia sudah sangat baik padaku" kata Yura tanpa mengubah arah pandangnya.
"Apakah kalau aku sakit, kau akan mengurusku juga?"
Tangan Yura yang sementara memijat Kaki Ryun Ong terhenti. Perempuan itu menoleh ke arah Taeyung yang juga sedang menatapnya.
"Taeyung, aku akan pergi dari hidupmu. Jadi aku tak akan pernah mengusik kehidupanmu lagi. Berhentilah mengatakan sesuatu seolah kita adalah pasangan yang saling mencintai"
"Mengapa tadi kau membuatkanku teh jahe? Kenapa pula kau memijat kakiku agar tetap hangat? Bukankah itu sebagai bentuk kepedulianmu? Aku tahu kau masih mencintaiku"
Yura berdiri. Ia mengambil tasnya "Aku ke kantin dulu. Aku sangat lapar"
Sesampai di luar ruangan, Yura memegang dadanya yang berdetak cepat. Ia benci pada dirinya sendiri yang masih menyimpan cinta untu Taeyung. Padahal laki-laki itu sudah menyiksanya secara fisik, menghinanya dengan kata-kata kasar.
Aku harus mempercepat proses perceraian kami. Apapun yang terjadi, aku tak boleh kembali lagi bersama Taeyung.
*********
Sementara itu di hotel, Edward nampak sibuk memasukan kancing kemejanya. Ia nampak kesulitan sehingga Lerina langsung turun tangan dan membantunya. Ia juga memasang dasi Edward dengan begitu cekatannya.
Edward terus memperhatikan pergerakan Lerina. Gadis itu sudah cantik dengan gaun berwarna pink. Rambut panjangnya dibiarkan begitu saja. Ada polesan make up ringan di wajahnya. Bibir mungilnya ikut bergerak setiap kali tangannya juga bergerak.
"Sudah selesai, Ed." kata Lerina sambil melepaskan tangannya dari dasi Edward. Sebelum ia menjauh, Edward secara cepat mendaratkan bibirnya di pipi mulus itu.
"Terima kasih" kata Ed sambil mengedipkan matanya.
"Kamu ini..!" Lerina dengan cepat mencubit pinggang Ed, membuat pria itu meringis sekaligus tertawa kecil.
Semua yang Lerina pakai mulai dari gaun, sepatu dan dompetnya, disiapkan oleh Edward.
"kau suka dengan gaunnya?" tanya Ed saat keduanya sudah berada di dalam lift.
"Ya. Sangat cantik"
"Seperti juga dirimu"
Lerina berusaha menanggapi kata-kata Edward dengan senyum manisnya. Ia tahu jika ia mengikuti debar jantungnya saat ini, maka ia akan memeluk Ed.
Saat mereka tiba di ruang penyelenggaraan busana, sudah banyak tamu yang hadir.
"Hai Lerina. Aku senang kau ada di sini!" Jien menyambutnya dengan wajah gembira sambil memeluk Lerina dengan erat.
Calvin yang berdiri di samping Jien hanya tersenyum.
"Sayang, kau duduklah di tempat yang sudah disediakan untukmu. Nikmatilah samua lagu yang akan kumainkan karena semuanya kumainkan untukmu" Kata Edward mesra sambil memegang kedua pipi istrinya.
"Aku tahu sayang"
Edward menunduk dan ******* bibir Lerina dengan penuh kelembutan.
"I love you" bisik Ed
"Love you too " kata Lerina sambil membersihkan sudut bibir Edward yang terkena lipsticknya.
Edward menatap Jien.
"Bagaimana? Sudah siap untuk tampil?"
"10 menit lagi, Ed." jawab Jien. Ia menatap Calvin.
__ADS_1
"Honey, temani Lerina duduk di depan, ya?"
Lerina terkejut atas permintaan Jien. Dia berpikir kalau Calvin akan menemani Jien dibelakang panggung.
Calvin mengangguk "Silahkan Lerina Kim!" ujar Calvin sambil melangkah lebih dulu.
Lerina mengikuti langkah Calvin. Keduanya duduk bersebelahan.
"Kau cantik sekali!" puji Calvin.
"Terima kasih. Aku tak butuh pujianmu karena aku sudah puas dengan pujian Edward padaku" kata Lerina sambil pura-pura memperhatikan para petugas yang sedang menyiapkan panggung.
"Aku sangat merindukanmu, Na. Ingin rasanya aku memelukmu sekarang ini" kata Calvin.
"Kamu brengsek Calvin. Kita sama-sama sudah punya pasangan. Jangan saling menganggu lagi." kata Lerina sedikit ketus. Ia mulai tak nyaman dengan kata-kata Calvin.
"Sabarlah sedikit, Na. Aku akan tunjukan padamu apa yang harus aku korbankan untuk memberikan apa yang paling kau dambakan selama ini" kata Calvin dengan penuh keyakinan.
"Aku akan meninggakan Jien dan kamu pasti akan meninggalkan Edward jika tahu yang sebenarnya"
Kata-kata Calvin membuat Lerina penasaran. Namun ia menahan mulutnya untuk berbicara. Ia tersenyum ke arah Edward yang sudah bersiap di depan piano. Para undangan yang hadir pun langsung bertepuk tangan saat mc sudah berdiri di atas panggung.
Acara berjalan dengan sangat baik. Permainan Edward sangat menghipnotis para undangan yang ada. Acara pun dilanjutkan dengan pengumpulan dana untuk para korban Tzunami.
Lerina lega karena Calvin tak lagi menganggunya.
"Kau hebat sayang...!" puji Lerina saat menemui Edward di belakang panggung.
"Semua akan terasa hebat jika kita melakukannya dengan cinta" Edward memberikan satu ciuman ditangan Lerina yang digenggamnya.
Calvin memalingkan wajahnya sambil menekan rasa cemburu yang menyeruak di dadanya.
Sementara Jien menatap mereka dengan sedikit rasa iri karena Calvin jarang bersikap mesra padanya di depan umum.
"Ayo kita makan, Ed, Lerina." kata Jien. Ia menggandeng tangan Calvin.
"Ayo sayang...!"
Jamuan makan malam diikuti oleh Lerina dan Ed secara cepat karena mereka harus ke rumah sakit.
"Ed, kita ganti baju dulu ya sebelum ke rumah sakit" kata Lerina. Ed mengangguk.
**********
Di dalam ruangan perawatan Ryun Ong nampak Yura sudah tertidur di sofa. Di sudut sofa yang lain, Taeyung sedang duduk. Melipat tangannya di depan dada sambil terus memandang Yura.
Taeyung mendekat. Di belainya wajah cantik Yura yang nampak tenang dalam tidurnya.
Ya Tuhan, mengapa aku begitu ingin menciumnya?
Taeyung menunduk. Mendekatkan wajah mereka. Lalu perlahan ia menyentuh bibir Yura dengan bibirnya, menggerakan bibirnya perlahan di atas bibir Yura.
Entah mengapa Taeyung merasakan dadanya berdegup kencang. Ada hasrat dalam dirinya yang membangkitkan api gairah yang lama tak disalurkan.
Yura yang dalam keadaan tertidur, seolah memberi ruang bagi Taeyung untuk melancarkan ciumannnya. Bibirnya yang terbuka, membuat Taeyung leluasa memperdalam ciumannya.
Hasrat Taeyung sudah mencapai batas pertahanan saat pintu ruangan terbuka. Taeyung buru-buru menjauh dan duduk di samping Yura dan menyebabkan Yura terbangun dari tidurnya.
Edward dan Lerina yang masuk saling berpandangan melihat Yura yang nampak bingung sambil memegang bibirnya dan Taeyung yang duduk sambil pura-pura memegang hp nya.
SEMOGA SUKA YA...
JANGAN LUPA JEMPOL DAN KOMENTARNYA
VOTE NYA JUGA YA....HE....HE...
__ADS_1