LERINA

LERINA
Tak Seperti Yang Pertama


__ADS_3

Saat Edward membuka matanya, ia tak menemukan lagi Lerina ada di sampingnya.


"Sayang....!" panggilnya sambil turun dari tempat tidur mendengar ada suara air di kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka. Wajah Lerina sangat pucat dan berkeringat.


"Sayang, kita ke dokter saja ya?" Kata Edward sambil mendekat dan menyeka keringat di dahi istrinya.


"Aku baik-baik saja, Ed. Nggak usah berlebihan. Hanya sedikit mual dan muntah." Kata Lerina lalu kembali naik ke atas tempat tidur.


"Tapi sakitmu ini sudah beberapa hari, Le. Aku takut nanti bertambah parah." Edward ikut naik ke atas tempat tidur. Ia memeluk Lerina yang tidur membelakanginya.


"Aku baik-baik saja."


"Tapi sayang..."


"Jangan cerewet, Ed. Kepalaku sakit. Lebih baik kamu ke kamar Bragi dan lihat apakah dia sudah bangun. Buatkan susu saja karena aku tak bisa menyusuinya jika kepalaku sakit begini."


Edward terkejut. Tak biasanya Lerina bicara ketus padanya. Namun ia mengikuti perintah istrinya juga. Ia turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, mengganti pakaiannya lalu segera menemui putranya.


Bragi ternyata sudah bangun dan sedang belajar berjalan di temani oleh Nani.


"Hallo, jagoan daddy!" Panggil Edward membuat putranya itu langsung kegirangan dan mengarahkan langkahnya menuju ke arah papanya.


"Tuan, apakah nyonya sudah bangun? Bragi sepertinya sudah ingin minum ASI." Tanya Nani setelah Bragi sudah dipegang oleh papanya.


"Buatkan saja susunya. Nyonya sedang tidak enak badan."


Nani mengangguk lalu segera ke dapur untuk menyiapkan susu bagi Bragi.


"Bragi, minum susu dulu ya? Ibu sepertinya kelelahan karena menyiapkan pesta ulang tahunmu kemarin."


"A pa....pa....pa..." Sahut Bragi sambil menarik tangan papanya dan memintanya untuk berjalan lagi.


Setelah Nani membawa susunya, Edward membiarkan Bragi minum susu ditemani oleh Nani dan ia segera ke dapur.


"Nana, buat sarapan apa?" Tanya Edward.


"Sup ikan sama sayur cap cai."


"Ada nggak makanan yang bisa mengobati mual dan muntah? Nyonya sejak semalam mual dan muntah tak berhenti. Dia bahkan sering marah-marah."


Nana tersenyum sambil memandang Edward. "Apakah nyonya hamil?"


"Hamil?"


"Iya. Mual dan muntah kan salah satu tanda orang sedang hamil."


"Tapi waktu dia hamil pertama, akunya yang mual dan muntah-muntah."


"Setiap kehamilan kan prosesnya berbeda, tuan. Saya juga perhatikan akhir-akhir ini nyonya lebih sensitif. Jadi aku pikir kalau nyonya beneran hamil."


Wajah Edward langsung tersenyum bahagia. Ia segera mengambil kunci mobilnya dan pergi membeli test kehamilan di apotik terdekat.


Saat ia kembali, tanpa menunggu lagi ia langsung ke kamar dan menemui istrinya.

__ADS_1


"Sayang..." Panggilnya sambil memeluk Lerina yang berbaring membelakanginya


"Ada apa, Ed. Kamu menganggu aku terus. Aku baru saja naik ke tempat tidur karena harus muntah lagi." Keluh Lerina tanpa membuka matanya.


"Maaf, tapi aku begitu ingin tahu hasilnya. Tadi saat aku bilang ke Nana kalau kamu mual dan muntah, Nana mengatakan kalau kamu mungkin hamil."


"Cih..., memangnya Nana pernah hamil sampai kamu mempercayai perkataannya? Nggak kan? Pergilah, Ed. Kau membuatku kesal." Ketus Lerina sambil terus memejamkan matanya.


"Sayang, perasaanku mengatakan kalau kau mungkin hamil. Soalnya tamu bulananmu belum datang juga."


"Ed, aku yang mengalaminya bukan kamu lalu mengapa kamu...." Kalimat Lerina terhenti. Matanya tiba-tiba terbuka. "Astaga Ed, kau benar. Aku terakhir menstruasi saat Anaknya Yura berusia 1 tahun. Dan itu sudah 2 bulan yang lalu."


"Nih, coba di test. Aku sudah beli testpack nya."


Lerina bangun. Kepalanya memang masih sedikit pusing. Namun rasa penasarannya mengalahkan segalanya. Ia menerima kantong plastik putih yang disodorkan Edward dan segera ke kamar mandi. Edward mengikutinya namun Lerina langsung menuntup pintunya membuat langkah Edward terhenti di muka kamar mandi.


"Sayang, kenapa aku nggak bisa ikut masuk?"


"Tunggu saja di luar!" Seru Lerina kencang membuat Edward mengalah dan menunggu saja.


Tak sampai 5 menit Lerina segera keluar.


"Bagaimana? Hamil nggak?"


"Nggak. Kamu tuh dibilangin jangan percaya Nana masih saja memaksa." Lerina melangkah melewati Edward lalu naik lagi ke atas tempat tidur sambil melepaskan testpack itu di atas nakas.


"Jadi gagal nih mendapatkan Meloddy?" Edward kelihatan kecewa. Ia duduk di tepi ranjang sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia begitu ingin Lerina bisa hamil lagi. Dia ingin menjaga kehamilan itu sejak pertama sehingga dapat mengikuti perkembangannya secara total. Tidak seperti dikehamilan pertama dimana Edward baru tahu saat kandungan Lerina sudah berusia 5 bulan dan setelah itu dia harus pergi karena pekerjaannya.


Dalam keadaan sedih, matanya memandang testpack yang diletakan Lerina di atas nakas.


Dua garis???


"Sayang, hasilnya dua garis. Bukankah dua garis itu artinya positif?" Tanya Edward sambil menggoyangkan pundak Lerina.


"Memangnya hasilnya positf?" Lerina membuka matanya sambil menahan tawanya. Ia sudah berhasil mengerjai suaminya.


"Kamu mempermainkan aku ya? Meloddy sudah tumbuh di sini kan?" Tanya Edward sambil membelai perut Lerina.


"Ya. Tapi bukan Meloddy, Ed. Kita kan belum tahu jenis kelaminnya."


Edward menunduk lalu mencium perut istrinya dengan penuh sayang. "Hallo cantiknya daddy, cepat tumbuhnya ya? Daddy tak sabar menunggumu di luar sini."


"Ed....."


"Maafkan aku ya sayang. Terlalu ingin dapat anak perempuan soalnya. Namun jika Tuhan ijinkan di perutmu tumbuh jagoan lagi, aku akan sabar menunggu sampai Meloddy benar-benar datang."


Lerina tersenyum. Ia membelai kepala Edward yang masih menempel di perutnya. "Ed, aku tiba-tiba ingin makan Kue cucur."


"Astaga sayang, itu jenis kue apaan?"


"Itu kue tradisonal dari Indonesia. Benar-benar ingin makan itu, Ed." Lerina mulai merajuk.


"Terus aku harus dapatkan di mana?"


Lerina membalikan badannya sehingga membelakangi suaminya. "Ya kamu usaha kek, jangan nyerah begitu saja. Kan aku hamil juga karena perbuatanmu" Ketus Lerina.

__ADS_1


Edward terkejut. "Baiklah sayang, aku akan mencarinya." Edward keluar kamar dengan kepalanya yang tiba-tiba saja pusing. Ah Meloddy, kenapa kamu mengubah mommy mu yang cantik dan lembut itu menjadi judes dan suka memaksa?


*********


Hamil anak kedua membuat Lerina benar-benar berubah. Di samping Lerina yang harus mual dan muntah terus sepanjang pagi, ia juga suka minta sesuatu yang tidak ada di Korea. Dan jika Edward mengatakan susah untuk mendapatkannya, Lerina akan berkata,


"Kalau begitu, aku pulang ke Jakarta dulu ya? Kalau di Jakarta semua yang ku mau pasti ada."


Edward langsung membujuk Lerina jika dia sudah mengeluarkan ancamannya. " Baiklah sayang aku akan usaha. Kamu tenang saja. Apa yang kamu minta akan ku penuhi."


Terkadang Edward ingin rasanya memberontak saat makanan yang sudah susah payah dicarinya, hanya dimakan sedikit oleh Lerina.


"Sayang, mengapa makannya hanya sedikit? Aku kan sudah susah payah mencarinya."


Lerina akan memandang Edward dengan wajah cemberut saat mendengar keluhan Edward itu.


"Aku sudah kenyang, Ed. Mengapa kamu harus memaksa? Sudah bosan ya? Ya sudah, besok aku dan Min Jun pulang ke Jakarta."


Edward menahan dongkol di hatinya. Selalu saja pulang ke Jakarta menjadi ancaman yang akan membuat Edward akhirnya mengalah.


"Sabar tuan. Semua itu bukan keinginannya nyonya. Tapi maunya si baby." Hibur Nana.


"Aku bahkan telepon bi Suni di Jakarta, bertanya apakah waktu hamil Min Jun, Lerina bersikap jutek dan banyak menuntut? Bi Suni mengatakan bahwa Lerina justru jarang sekali mual dan muntah. Dia justru banyak makan. Dan selalu terlihat gembira."


Nana tersenyum. "Setiap anak itu unik, tuan. Makanya nikmati saja prosesnya. Kali ini si bayi nanyak maunya karena ia tahu kalau bapaknya ada untuk memenuhinya."


Edward mengangguk. Ya, apapun untuk Lerina, Bragi dan calon anak kekasih mereka.


********


Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan Lerina yang sudah berusia hampir 5 bulan.


Edward senang karena mual dan muntah yang menyebabkan Lerina lemas sudah berhenyi. Kini ia sudah bisa malan apa saja. Namun sikap sensitif dan posesifnya makin bertambah.


"Ed, ganti bajumu." Kata Lerina saat melihat suaminya yang keluar dari walk in closet.


"Sayang, ada apa dengan bajuku?" Edward jadi bingung karena ia mengenakan celana jeans dan kemeja kotak-kota berwarna biru juga.


"Ganti dengan kaos yang biasa saja. Tidak usah pakai minyak wangi!"


"Kenapa sayang?"


"Aku nggak mau asisten dokter itu selalu melirikmu sambil tersenyum."


"Sayang, wajarlah kalau dia tersenyum. Mungkin dia salah satu fansku."


"Ganti saja bajunya. Kalau kamu tak mau ganti, lebih baik kamu di rumah saja."


Edward menahan dongkol di hatinya. Ia pura-pura tersenyum lalu masuk lagi ke walk in closet. Sabar, Ed. Demi Meloddy. Hibur hatinya.


Terima kasih sudah baca


maaf terlambat up nya


Babyku baru saja keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote ya


Maaf kalau banyak typo


__ADS_2