LERINA

LERINA
Aku selalu mencintaimu


__ADS_3

Sekedar saran saja...saat membaca episode ini, dengarlah lagu Whitney Houston yang berjudul I WILL ALWAYS LOVE YOU😂😂😂 supaya lebih meresapi


**********


Calvin menatap Lerina yang sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Wajah Lerina masih pucat walaupun mereka sudah hampir seminggu ada di rumah sakit ini.


"Calvin?" Lerina terkejut melihat Calvin yang masih lemah datang menemuinya.


Calvin mendekat lalu duduk ditepi ranjang."Dengarkanlah ceritaku Lerina" kata Calvin sambil menatap gadis itu secara dekat.


"Apa yang harus ku dengar? Aku merasa tidak ada yang harus dijelaskan diantara kita" kata Lerina sedikit ketus sambil membuang muka.


"Aku tahu kalau kau tidak akan pernah memaafkanku. Aku tahu kalau kesempatanku untuk hidup bersamamu sudah hampir tak ada. Namun aku perlu menceritakan padamu mengapa aku harus menikahi Jien"


Lerina menatap Calvin. Wajah pria yang pernah dicintainya selama 4 tahun itu terlihat sangat menyedihkan. Wajah tampan yang dulu selalu memancarkan cahaya yang memberikan Lerina harapan untuk bertahan, kini terlihat begitu kusut dan lelah.


"Bicaralah!" Lerina akhirnya memberi ijin.


"Setelah aku memeriksa semua dokumen yang ditinggalkan papamu, aku akhirnya tahu kalau pamanmu, yang menjual perusahaan papamu pada rekan kerja papamu sendiri, Kim sun jong yang tak lain adalah papa nya Jien. Kau ingat, waktu pertama aku minta ijin ke Korea, sebenarnya aku sementara menyelidiki tentang perusahaan papamu itu. Aku mencoba mencari berbagai cara untuk mendekati perusahaan itu namun tak ada jalan kecuali menjadi orang kepercayaan perusahaan itu. secara kebetulan aku bertemu Jien dan dia jatuh cinta padaku" Calvin berhenti sejenak karena melihat Lerina memperbaiki posisi duduknya dan sedikit meringis karena luka diperutnya yang kembali terasa perih.


"Apakah kau ingin tiduran saja?" tanya Calvin penuh perhatian.


Lerina menggeleng "Silahkan dilanjutkan"


Cakvin menarik napas panjang dan melanjutkan ceritanya lagi.


"Aku tahu, dengan memanfaatkan rasa cinta Jien, aku menjadi laki-laki paling jahat di dunia. Namun keinginan untuk mewujudkan janjimu pada almarhum papamu, membuat aku menghalalkan segala cara. Orang tuaku mengira bahwa aku menikahi Jien karena mencintainya. Aku meminta mereka untuk tidak mengatakan apa-apa padamu, namun ternyata mereka membayar putri untuk mengajakmu datang ke Korea, membuatmu hampir bunuh diri sampai akhirnya Edward menolongmu, dan menawarkanmu untuk membantu mencari Putri dengan perjanjian pernikahan yang saling menguntungkan. Dia akan mendapat saham warisan mamanya dan kau mendapatkan kembali rumahmu"


Lerina terkejut "Kau tahu?"


"Jesica menceritakannya padaku waktu kita ada di Swiss."


"Dia juga sudah tahu?"


Calvin mengangguk. "Dia menyelidiki tentangmu sampai ke Jakarta."


"Aku akhirnya bisa menemukan dokumen jual beli perusahaan itu. Tanda tangan papamu sudah dipalsukan . Aku mengugatnya di pengadilan dan 1 hari sebelum kejadian di ruang rapat itu, pengadilan sudah memutuskan bahwa perusahaan itu kembali ke tangan papamu. Kau sebagai ahli warisnya mendapatkan hak penuh atas perusahaan itu."


Wajah Lerina berubah menjadi senang"Jadi perusahaan itu menjadi milik keluargaku kembali? Ya Tuhan pasti papa dan mama sudah tenang di atas sana." namun beberapa saat kemudian wajahnya berubah sedih.


"Mengapa kau tak menceritakan padaku sebelum menikah dengan Jien? Aku berhak tahu semua yang terjadi, Vin. Kita kan bisa mencari jalan lain. Mengapa kau tak libatkan aku dan memilih mengorbankan dirimu, mengorbankan ikatan cinta kita dan menyeret Jien yang tak bersalah untuk ada dalam masalah ini? Aku memang sangat menginginkan perusahaan papa kembali ke tanganku. Namun aku takan pernah membiarkanmu melakukan semua ini" kata Lerina menahan sesak didadanya saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Air matanya sudah mengalir tanpa bisa ditahannya.


"Justru karena aku tahu kau tidak akan pernah menyetujuinya makanya aku melakukannya sendiri. Kau tahu, aku berusaha menahan rasa frustasiku yang sangat dalam saat menikah dengan Jien, aku harus pura-pura tersenyum pada hal seluruh perasaanku, pikiran dan hidupku semuanya hanya milikmu." Calvin berkata lirih. Ia bahkan tak bisa menahan luapan perasaannya. "Apalagi saat pertama kali melihatmu bersama Edward di hari ulang tahunnya. Hatiku sakit, cemburu dan entah apa lagi rasanya. Aku semakin frustasi karena kamu tak mau memberikan kesempatan bagiku untuk menjelaskan segalanya."


Calvin menghapus air matanya dengan kasar. Ia sedikit meringis karena bahunya yang sakit. Namun ia tak memperdulikannya.


"Besok, aku akan kembali ke Jakarta. Aku tak bisa lagi berada di sini karena hatiku masih begitu kuat untuk menarikmu agar kembali bersamaku. Aku mencintaimu, Lerina. Perasaan ini tak mungkin akan hilang begitu saja. Dari pada terus di sini dan tak bisa memilikimu, lebih baik aku pergi" Calvin berdiri. Ia menatap Lerina dengan tatapan yang masih sama. Tatapan penuh cinta yang memang masih dimilikinya untuk Lerina.

__ADS_1


Lerina membalas tatapan Calvin dengan mata yang basah. Perasaannya seperti diaduk-aduk. 4 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengurai kisah cinta diantara mereka. Tapi kini ia terikat pernikahan dengan Edward. Bahkan pria itu sudah mengatakan kalau dia jatuh cinta pada Lerina.


"Calvin...apa yang sudah kau lakukan? Coba seandainya saat itu kau mau terus terang padaku. Mungkin sekarang kita berdua sedang bahagia. Mungkin kita berdua tak perlu mengenal keluarga Kim." seru Lerina dengan hati yang pedih. Ia menyesali kebodohan Calvin yang memilih menikah dengan Jien hanya karena ingin mengembalikan perusahaan milik papanya.


Calvin tak bisa menahan perasaannya lagi. Sebelah tangannya yang bebas, langsung meraih tubuh Lerina, ia memeluknya erat sambil menumpahkan rasa sedih di hatinya. Lerina membalas pelukan Calvin. Semua rasa benci yang pernah ia miliki hilang sudah. Keduanya menangis bersama sambil saling memeluk tanpa menyadari kalau di depan pintu yang memang terbuka sedikit itu, ada Edward dan Jien yang sedang berdiri menyaksikan mereka. kedua bersaudara itu memang tak mengerti dengan bahasa yang digunakan oleh Lerina dan Calvin. Namun saat melihat mereka menangis, Jien dan Ed mengerti kalau Calvin sudah jujur mengenai pernikahannya dengan Jien.


Tangan Edward yang memegang gagang pintu agak bergetar. Hatinya begitu terbakar dengan rasa cemburu. Ia tak rela melihat Lerina ada dipelukan Calvin. Ia sebenarnya ingin masuk dan menarik Calvin dari pelukan Lerina, tapi Jien melarangnya. Jien bahkan menarik tangan Edward untuk meninggalkan tempat itu.


"Ed, kalau memang Lerina masih mencintai Calvin, biarkan gadis itu pergi" kata Jien saat keduanya sudah berada di luar rumah sakit.


Edward menggeleng "Tidak....! Aku tidak akan melepaskan Le begitu saja. Dia mencintaiku. Aku yakin itu"


"Apakah kau tak melihat bagaimana mereka berdua saling berpelukan sambil menangis?"


Edward menatap Jien "Apakah kamu akan melepaskan Calvin? Kamu juga mencintainya kan?"


"Justru karena aku mencintainya, maka aku harus membiarkannya pergi. Aku tak ingin menahannya disisiku sementara hatinya bukan untukku. Lebih baik terluka dan membiarkannya pergi dari pada menahannya dan membuatku menderita selamanya" kata Jien pelan namun dengan hati yang sangat berat.


Edward diam. Pikirannya saat ini sedang buntu.


***********


Calvin melepaskan pelukannya. "Maafkan aku, Na. Maafkan caraku yang salah ini. Maafkan aku yang telah menghadirkan luka di hatimu. Kalaupun kau memang tak mencintaiku lagi, aku hanya berdoa agar Tuhan menghadirkan cinta yang banyak untukmu. Tapi satu yang harus kau tahu, bahwa aku akan selalu mencintaimu" Calvin mengecup dahi Lerina lalu meninggalkan perempuan itu yang masih diam dengan pikirannya sendiri.


Tangisnya kembali pecah saat tubuh Calvin menghilang dibalik pintu. Lerina bahkan tak peduli kalau suara tangisnya itu terdengar di seluruh bagian rumah sakit ini.


If I should stay


I would only be in your way


Aku hanya mau bertahan di sisimu


So I'll go but I know


Maka, aku kan pergi namun kutahu


I'll think of you every step of the way


Di tiap langkahku ku 'kan selalu memikirkanmu


I will always love you


Aku akan selalu mencintaimu


I will always love you


Aku akan selalu mencintaimu

__ADS_1


Bittersweet Memories


Pahit manisnya kenangan


That is all I'm taking with me


Semua kubawa bersamaku


So goodbye please don't cry


Maka selamat tinggal, janganlah menangis


We both know I'm not what you


Kita berdua tahu aku bukanlah yang kau


You need


Kau butuhkan


**********


Suster baru saja selesai mengganti perban yang menutupi luka bekas operasi Lerina.


"Saya permisi!" ujar suster sambil membungkukan badannya.


"Terima kasih!" ujar Lerina. Ia lalu berusaha memejamkan matanya. Tubuh dan hatinya terasa sangat lelah. Namun ia membuka matanya kembali saat mendengar pintu yang dibuka.


Edward masuk dengan wajah yang kelihatan muram. Saat pandangan mereka bertemu, Edward berusaha mengurai senyum dibibirnya sekalipun ada rasa kesal melihat mata Lerina yang bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Maaf. Aku baru datang karena ada pekerjaan." kata Edward sambil mendekati Lerina.


"Kenapa matamu bengkak? Apakah kau menangis?" tanya Edward berbohong. Pada hal ia tahu kenapa gadis itu menangis.


"Aku hanya merindukan orang tuaku!" kata Lerina sambil membuang muka. Ia tak ingin Ed tahu kebohongannya.


"Bagaimana lukamu?" tanya Edward sambil menyentuh bagian perut Lerina.


"Sudah banyak perubahan."


Edward menarik napas panjang. "Lerina tatap aku!"


Lerina menatap Edward."Ada apa, Ed?"


"Apakah kau mencintaiku?" tanya Edward sambil menatap Lerina dengan tajam.


MAKASI SUDAH BACA EPISODE INI

__ADS_1


SORRY KALAU AKU SEDIKIT LEBAY DENGAN LAGU CINTA INI.


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA


__ADS_2