
"Sayang.....!" Panggilan lembut itu disertai dengan kecupan hangat di perutnya membangun Lerina dari tidurnya. Perlahan ia membuka matanya dan langsung tercium harum tubuh Edward yang sudah
sangat dikenalnya. Ada rasa bahagia saat menyadari bahwa lelaki yang paling dirindukannya saat ini ada bersamanya.
"Ed, apa yang kamu lakukan?" Tanya Lerina sambil menahan tangan suaminya yang sudah masuk dibalik gaun tidurnya.
"Aku hanya ingin menyentuh kulit diperutmu secara langsung. Rasanya seperti membelai anak kita secara langsung."
"Aku geli, Ed." Lerina menahan tangan suaminya lalu ia bangun perlahan dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Alasannya saja ingin menyapa si baby, pasti ujung-ujungnya...." Lerina sengaja menggantungkan kalimatnya membuat Edward menjadi gemas dan langsung memeluk istrinya itu.
Rasanya kamar ini menjadi lain karena pagi hari sudah diisi tawa dari pasangan suami istri ini. Mereka seperti pasangan yang sedang bulan madu saja.
"Kamu mau ke kantor?" Tanya Edward sambil menyisir rambut Lerina yang berantakan dengan tangannya sendiri.
"Iya. Aku harus mempersiapkan segalanya dengan baik karena setelah melahirkan aku belum bisa langsung masuk kantor."
Edward mengangguk. Ia kembali kemudian menghadiahkan satu kecupan manis di perut Lerina.
"Sayang, apakah kamu akan melahirkan secara alami atau melalui operasi?" Tanya Edward.
"Aku ingin melahirkan secara normal, Ed. Makanya aku rajin mengikuti senam ibu hamil."
"Katanya melahirkan normal itu sangat sakit, sayang. Aku tak tega membayangkannya."
"Itu sudah kodratku sebagai perempuan, Ed. Aku akan melaluinya dengan senang hati. Aku yakin rasa sakit itu tak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan kelahiran anak ini nanti. Kita akan bisa memeluknya dan memandang wajahnya secara langsung." Kata Lerina membuat Edward tersenyum. Di pegangnya kedua pipi istrinya itu dengan pandangan mata yang bersinar karena cinta yang begitu bergelora di dalam hatinya.
"Aku mencintaimu, Le." Kata Edward lalu mencium bibir Lerina.
"Aku juga mencintaimu, tuan pianis." Kata Lerina saat ciuman itu berhenti. "Sekarang, aku mau mandi dulu ya."
"Aku juga mau mandi." Kata Edward sambil ikutan turun dari tempat tidur.
Lerina menatap Edward dengan tatapan mata yang sedikit melotot. "Ed, aku bisa mandi sendiri."
"Siapa bilang aku mau memandikanmu. Aku kan hanya ingin mandi juga. Aku akan ikut denganmu ke kantor."
"Awas kalau macam-macam ya..." ujar Lerina lalu segera masuk ke kamar mandi diikuti oleh Edward.
Tak sampai 3 menit terdengar teriakan Lerina dari dalam kamar mandi.
"Ed, tanganmu!"
"Aku hanya ingin menggosok sabun ini ke tubuhmu, sayang..." terdengar suara Edward.
"Tapi bukan di tempat itu...Ed...Ed..." Tak terdengar lagi suara Lerina.
Akhirnya, mereka berangkat ke kantor tanpa sarapan karena memang Lerina sudah sangat terlambat untuk rapat pagi ini.
"Ed, mulai besok kita mandi sendiri-sendiri ya..." Kata Lerina saat keduanya dalam perjalanan ke kantor.
"Aku hanya ingin memandikan Kim Min Jun." Kata Edward yang sedang mengendarai mobil.
"Kim Min Jun kan belum lahir. Alasan kamu saja." Ketus Lerina.
Edward hanya tertawa. "Aku suka kalau kamu cemberut seperti itu sayang. Kelihatan cantik dan menggemaskan."
__ADS_1
"Gombal!" Lerina pura-pura marah namun tak lama kemudian ia tesenyum. Hatinya jadi berbunga-bunga karena tingkah laku Edward.
********
Saat rapat selesai dan Lerina kembali ke ruangannya, nampak Edward sudah menyiapkan makanan untuk Lerina.
"Hai sayang. Ayo makan!" Ajaknya sambil menarik sebuah kursi untuk diduduki oleh Lerina.
"Kamu yang memesan semua ini?" Tanya Lerina.
"Ya. Salah satu kariawan menolongku. Ayolah, kamu kan tak sempat sarapan tadi."
Lerina duduk di kursi yang telah disiapkan oleh Edward. Setelah itu Edward pun duduk di depan istrinya.
"Sayang, setelah ini kita pergi belanja baju bayi dan keperluan lainnya ya?" Ujar Edward.
"Iya. Kita memang harus segera menyiapkannya. Ada satu toko yang sudah direkomendasikan oleh bi Suni. Toko itu di salah satu mall. Anak bi Suni kerja di sana."
"Baiklah. Aku sungguh bersemangat. Tak sabar untuk ke toko." Kata Edward. Lerina hanya tersenyum melihat suaminya yang kelihatan sangat bahagia.
Selesai makan, Lerina ke toilet sebentar untuk buang air kecil dan merapihkan dandanannya. Saat ia keluar, Edward sedang tersenyum melihat layar ponselnya.
"Ada apa, Ed?" tanya Lerina.
"Hyung baru saja mengirim foto ponakanku yang baru. Yura sudah melahirkan dengan selamat."
Lerina menatap foto yang dikirimkan Taeyung di ponsel Edward.
"Ed, anak ini sangat ganteng dan juga montok. Aku jadi gemas melihatnya."
Edward membelai perut Lerina dengan lembut. "Anak kita juga pasti akan sama gantengnya dengan anak Hyung. Bahkan akan lebih ganteng."
"Jelaslah. Anak Hyung dan Yura hanya memiliki satu darah yaitu darah Korea. Kalau anak kita akan memiliki 3 campuran darah. Darah Inggris, Korea dan Indonesia."
"Cih, sok kegantengan."
"Memangnya kamu nggak mengakui kalau suamimu ini ganteng?"
"Ganteng, Ed. Justru karena kamu ganteng aku sering tak percaya diri jalan denganmu."
Edward melingkarkan tangannya dibahu Lerina. "Kamu cantik, sayang. Mengapa merasa tak percaya diri jalan denganku?"
"Semua perempuan pasti melirikmu dengan tatapan mata kagum dan terpesona."
Edward mencium kepala Lerina. "Biarlah mereka kagum dan terpesona padaku. Namun pandangan mataku hanya tertuju padamu."
Lerina tersenyum mendengar perkataan suaminya.
"Ayo kita pergi!" Ajak Edward.
Lerina mengangguk. Tangannya langsung bergelut manja dilengan suaminya. Keduanya melangkah bersama menuju ke luar ruangan.
Para kariawan yang melihat kemesraan pasangan itu saling berbisik-bisik dengan wajah gembira.
"Ibu Lerina sangat beruntung ya, dapat suami ganteng, perhatian dan terkenal lagi."
"Bukan hanya itu saja. Edward Kim adalah pria yang romantis. Sudah baca postingannya kemarin di instagram? OMG, aku sampai merinding melihatnya."
__ADS_1
Demikianlah beberapa bisik-bisik mengenai pasangan yang sedang berbahagia itu.
**********
Lita, anaknya bi Suni, langsung menyambut Edward dan Lerina saat mereka memasuki pintu toko khusus pakaian dan peralatan bayi.
"Selamat datang tuan, selamat datang nona." Katanya dengan senyum simpul.
Usia Lita 5 tahun lebih tua dari Lerina. Keduanya saling mengenal karena Lita pernah tinggal di rumah Lerina bersama orang tuanya. Saat Lita lulus SMA, ia kembali ke kampung. Tak lama kemudian ia menikah dan memiliki anak, lalu kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di sini.
kariawan toko yang lain hampir berteriak histeris saat menyadari bahwa pasangan fenomenal yang berita pernikahannya sudah heboh karena postingan Edward kemarin, justru muncul di toko mereka.
"Lita, usahakan kami berbelanja di sini dengan aman, ya? Aku tak ingin istriku merasa terganggu dengan orang yang banyak apalagi sampai melukai dirinya. Atau untuk sementara tutup saja toko ini. Aku akan membayar kerugian yang diakibatkan oleh ditutupnya toko ini. " Kata Edward melihat beberapa orang mulai mendekati mereka. Lita adalah penanggungjawab di toko ini. Ia langsung memerintah pada salah satu kariawan untuk menutup pintu masuk.
Para bodyguard yang mengikuti Edward dan Lerina secara diam-diam sebagaimana yang diinstruksikan Edward segera berjaga di depan pintu.
"Ed, apakah ini tak terlalu berlebihan? Mengapa tokonya ditutup?" Bisik Lerina.
"Para fansku kadang tak terkontrol. Aku tak mau sampai kamu terluka, sayang." Edward membelai perut Lerina dan menciumnya. "Kim Min Jun, ayo kita belanja keperluanmu."
Lita tersenyum melihat kemesraan Edward pada istrinya.
"Lita, ayo tunjukan pada kami dimana baju-baju bayinya." Kata Edward tak sabar.
"Silahkan tuan, nona." Kata Lita sambil mengarahkan kakinya di bagian timur toko itu.
Edward yang memilih. Dari baju, kaos kaki, kaos tangan, topi dan pengalas tidur bayi pun harus berwarna biru.
"Sayang, bajunya jangan kebanyakan. Anak bayi kan cepat besarnya. Nanti kalau dia sudah berusia 3 bulan, kita harus belanja lagi baju-bajunya." Lerina akhirnya bicara melihat Edward mengambil baju-baju bayi itu dalam jumlah yang banyak.
"Baiklah. Aku yang memilih model dan warnanya, kamu yang akan menentukan jumlahnya." Imbuh Edward sambil menghadiahkan satu ciuman manis di pipi istrinya.
Lita memalingkan wajahnya. Ia sungguh tak sanggup melihat kemesraan Edward pada istrinya. Kalau tak membelai perut Lerina pasti akan mencium pipi, kepala dan tangan Lerina yang ada dalam genggamannya.
"Sayang, box bayinya warna putih saja ya? Lemari pakaian bayinya juga warna putih." Ujar Edward sambil melihat contoh-contoh yang ada di toko itu.
Lerina hanya mengangguk. Tiba-tiba ia merasa agak lelah.
"Ed, aku duduk dulu ya. Capek." Kata Lerina lalu duduk di salah satu bangku yang memang disediakan di dalam toko.
Edward langsung panik. "Sayang, kamu baik-baik saja? Adakah sesuatu yang kau inginkan?" Tanya Edward lalu berlutut dihadapan Lerina, memegang pipi, tangan dan perut istrinya.
"Aku baik-baik saja, Ed. Hanya ingin istirahat sebentar karena kakiku sedikit sakit.
Edward langsung memegang kaki Lerina, mengeluarkan sepatu yang dipakai oleh istrinya lalu. mulai memijat kaki Lerina.
"Masih sakit? Atau kita lanjutkan besok saja belanjanya?" Tanya Edward sambil terus memijat betis dan pergelangan kaki Lerina.
"Hari ini saja selesaikan, Ed. Terima kasih pijatannya enak." Kata Lerina.
Kariawan toko yang memang terus memperhatikan Edward dan Lerina menjadi baper melihat perhatian Edward pada Lerina.
"Ya Tuhan, apakah masih ada sosok lelaki seperti Edward Kim? Sudah tampan, terkenal, romantis lagi."
Lerina menahan senyumnya mendengar bisik-bisik itu. Ia bangga berdampingan dengan Edward. Namun juga dengan tatapan matanya, Lerina hendak mengatakan pada mereka,
"Dia milikku!"
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE