LERINA

LERINA
Sentuhan...


__ADS_3

Ada gerakan salah tingkah yang nampak dari sikap Taeyung yang pura-pura sibuk dengan hp nya.


Yura pun yang bangun dengan wajah bingung nampak merasa aneh saat menyentuh bibirnya yang basah. Apalagi saat ia melihat Taeyung yang duduk tepat dibawa kakinya. Bukankah lelaki itu tadinya duduk diujung sofa? Apakah mungkin Taeyung yang menyebabkan bibirnya menjadi basah?


Bola mata Yura membesar membayangkan itu. Ia menatap Taeyung dengan tatapan menyelidik. Sayangnya pria itu seakan tenggelam dengan hp nya.


"Aku dan Le akan tidur di rumah sakit. Kalian pulanglah" kata Edward..


Taeyung yang selalu bersikap dingin di hadapan Edward hanya mengangguk.


"Yura, marilah kita pulang!" ajak Taeyung.


Yura merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan lalu segera mengikuti langkah Taeyung.


Lerina menatap kepergian mereka sambil menahan tawa.


"Kayaknya ada sesuatu yang aneh. Taeyung sepertinya salah tingkah dan Yura seperti orang yang bingung. Apa terjadi sesuatu antara mereka?" tanya Lerina bingung.


"Lebih baik kalau terjadi sesuatu karena kau mengharapkan mereka bersama kan?"


Lerina mengangguk "Aku memang sangat mengharapkan mereka bersama lagi. Kak Taeyung membutuhkan wanita seperti Yura"


"Kalau aku, membutuhkan wanita seperti apa menurutmu?"


Lerina terkejut dengan pertanyaan Edward. Ia memandang Edward yang sedang duduk di sofa.


"Taeyung tak begitu akrab denganmu namun kamu sudah bisa menyimpulkan bahwa Yura adalah wanita yang dibutuhkan olehnya. Nah, kita tiap hari bersama, seharusnya juga kamu sudah bisa melihat wanita seperti apa yang cocok untukku" kata Ed sambil menatap Lerina tanpa berkedip.


Lerina melemparkan pandangannya ke arah lain. Tatapan mata biru itu membuat dadanya berdesir.


"Menurutku, kau membutuhkan wanita yang mengerti pekerjaanmu, mengerti kepribadianmu dan mengerti keinginanmu yang ingin selalu dimanja" kata Lerina asal saja. Karena ia tak tahu harus menjawab apa.


"Apakah ada wanita yang seperti itu? " tanya Edward.


Lerina mengangguk "Pasti akan ada, Ed. Wanita itu akan melihatmu bukan karena kamu artis dan salah satu pewaris kerajaan Kim. Bukan juga karena wajah tampanmu. Tetapi yang mencintaimu karena ia bahagia saat bersamamu"


Edward akan bicara namun dokter Lee Ron tiba-tiba masuk bersama 2 orang perawat.


"Selamat malam!" sapanya sambil membungkuk hormat ke arah Ed dan Lerina.


"Selamat malam, dok!" sapa Ed dan Lerina bareng.


Dokter langsung memeriksa keadaan Ryun Ong..


"Sejauh ini keadaan tuan Kim masih stabil. Kalau sampai besok kondisinya membaik, kita akan melakukan operasi secepatnya" kata dokter setelah selesai memeriksa.

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih, dok"


Lerina mendekati ranjang tempat Ryun Ong dibaringkan. Di pegangnya tangan pria tua itu dan dipijatnya dengan lembut.


"Papa, semangat ya...., aku yakin papa pasti bisa melewati semua ini"


Edward menatap Lerina. Hatinya tersentuh melihat perhatian Lerina pada papanya.


**********


Yura baru saja selesai membersihkan diri. Ia bermaksud hendak membuat teh hangat karena udara yang semakin dingin saja. Walaupun mansion keluarga Kim memiliki pemanas ruangan yang cukup namun menjaga tubuh tetap hangat dari dalam akan membuat daya tahan tubuh semakin baik.


Langkah kaki Yura menuntunnya untuk pergi ke dapur. Jam 10 malam seperti ini, semua pelayan sudah berada di ruang belakang, yang agak terpisah dari mansion utama.


Saat ia sedang memanaskan air, ia mendengar ada suara orang batuk. Yura mencari sumber suara itu dan menemukan Taeyung sedang ada di ruang kerja.


"Taeyung, kenapa kamu belum tidur?"


Taeyung tersenyum ke arah Yura. Selama mereka menikah 4 tahun, ini kali pertama ia tersenyum saat Yura datang menegurnya untuk menanyakan keadaannya.


"Ada pekerjaan. Presentasi laporan untuk besok."


Yura meninggalkan ruangan itu. Ia kembali ke dapur dan membuatkan 2 gelas teh jahe untuk mereka lalu kembali ke ruang kerja.


Taeyung menatap Yura . Di sentuhnya tangan Yura yang berdiri disampingnya "Makasih. Ini sudah hampir selesai" kata Taeyung. Ia menyesap sedikit teh nya itu lalu kembali menatap layar laptopnya sementara tangannya yang satu masih tetap memegang tangan Yura.


"Ya sudah. Aku kembali ke kamar saja." Yura menarik tangannya dari genggaman Taeyung. Ia keluar sambil membawa gelasnya. Ia tak ingin menganggu Taeyung yang sedang bekerja sekaligus ia berusaha menenangkan hatinya yang bergetar karena sentuhan Taeyung.


Tidak, aku tak boleh lemah. Ini hanya sentuhan ditangan yang tak ada artinya. Aku sudah cukup menderita karena semua perbuatannya padaku.


Yura menghabiskan teh jahenya lalu segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menarik selimut yang tebal untuk menghangatkan tubuhnya.


Ia hampir saja tenggelam di akam mimpi, saat ia mendengar pintu kamarnya dibuka. Yura segera mengambil remote lampu dan menyalahkannya.


"Taeyung?" ia sangat terkejut melihat siapa yang masuk.


"Aku tak bisa tidur. Pikiranku kacau karena memikirkan kesehatan papa. Ijinkan aku di sini, malam ini saja..." kata Taeyung dengan wajah penuh permohonan.


Yura tak bisa menolak meihat wajah tampan itu yang penuh permohonan.


"Tidurlah, Tae. " kata Yura lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Taeyung dan mematikan kembali lampu kamar.


Taeyung naik naik ke atas tempat tidur, dan bergabung dengan Yura dibawah selimut yang sama.


Yura terkejut saat tangan kokoh Taeyung tiba-tiba melingkar dipinggangnya dan wajah pria itu terasa menempel di punggungnya. Yura berusaha menahan dirinya. Sentuhan tangan Taeyung dipinggangnya bagaikan sengatan listrik yang membuat jantungnya berdetak sangat kencang.

__ADS_1


"Terima kasih, Yura karena tidak menolakku malam ini" bisik Taeyung sebelum memejamkan matanya.


**********


"Kau sudah mengantuk?" tanya Edward pada Lerina yang nampak menguap sambil menonton siaran TV dari HP nya.


Lerina mengangguk. Ia pun meletakan hp nya di atas meja.


"Di rumah sakit ini ada pavilium yang dapat disewakan untuk keluarga pasien yang menginap. Jika kamu kurang nyaman tidur di sofa ini, aku dapat memesankan satu kamar untukmu"


"Di sini saja, Ed. Kitakan bertugas untuk menjaga papa malam ini"


Edward tersenyum. Ia menatap sofa yang didudukinya. Sofa ini memang sangat nyaman dan cukup lebar untuk ditiduri. Dua orang pun bisa tidur bersebelahan.


"Tidurlah, ini sudah jam 1 subuh"


Lerina mengangguk. Ia ke kamar mandi sebentar untuk buang air kecil. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat Ed sudah berbaring di atas sofa.


"Tidurlah di sini Le...!" kata Edward menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Lerina terkejut saat Ed memintanya untuk tidur di sampingnya.


"Tapi Ed..."


"Papa bisa bangun kapan saja. Yang lain pun bisa datang kapan saja. Tidak lucu jika mereka melihat aku tidur di sini dan kau tidur diseberang sana."


Agak ragu Lerina melangkah mendekati Edward. Namun akhirnya ia pun membaringkan tubuhnya disamping Edward. Edward merentangkan tangannya dan meminta Lerina tidur dilengannya.


"Tanganmu nanti sakit, Ed" tolak Lerina.


"Aku tak mau ada perbantahan malam ini. Cepatlah!" kata Ed sedikit memerintah.


Saat kepala Lerina sudah berada di lengan Ed, lelaki itu mendekatkan kepalanya lalu mencium kepala Lerina dengan lembut.


"Terima kasih sudah menemaniku" bisiknya lembut sambil tangannya yang satu melingkar di pinggang Lerina dan memeluknya erat.


Jantung Lerina berdetak cepat. Sentuhan tangan Ed yang ada dipinggangnya menghangatkan tubuhnya dan juga hatinya. Ia pun memejamkan matanya. Untuk sesaat ia ingin melupakan semua masalah yang sedang dihadapinya.


Lerina ingin menikmati pelukan Ed walaupun ia tahu semua kehangatan itu takan pernah menjadi miliknya seutuhnya.


* makasi sudah baca ya...


* jangan lupa mampir di grup chat aku


*Like, koment dan Vote ya

__ADS_1


__ADS_2