
Suasana di ruang rapat Kim Corporation terkesan tegang pagi ini. Para pemilik saham sedang memberikan pilihannya untuk menentukan Presiden direktur yang baru.
Setelah selesai pemungutan suara, maka tetap jumlah saham pendukung Edward yang banyak walaupun orang yang mendukung Taeyung jauh lebih banyak dari yang mendukung Edward.
Pengacara Tan sebagai penangungjawab rapat hari ini segera berdiri untuk mengsahkan hasil keputusan rapat.
"Baiklah. Berdasarkan jumlah saham yang ada maka presiden direktur kita yang baru adalah Ed..."
"Tunggu!" Edward mengangkat tangannya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Pengacara Tan yang berdiri di mimbar.
"Boleh aku bicara?" tanya Edward.
"Tentu saja tuan..!" Pengacara Tan mundur dan mempersilahkan Edward bicara.
"Terima kasih untuk dukungan dan kesetiaannya buat Kim Corporation. Aku, Edward Kim merasa tak pantas untuk menjadi presiden direktur menggantikan aboji Kim Ryun Ong. Karena sesungguhnya Hyung ku yang lebih pantas untuk menjadi presiden direktur. Dia yang lebih tahu perusahaan ini akan dibawa kemana. Aku hanya bisa menjadi penopangnya dari belakang. Hyungku adalah kandidat terbaik untuk menjadi presiden direktur" kata Edward dengan mata yang berkaca-kaca.
Taeyung memandang Edward dengan tatapan yang seakan tak percaya. Sudah sangat lama, Ed tidak menyebutnya dengan sebutan Hyung. Karena dulu Taeyung tidak suka Edward memandangnya sebagai kakak laki-laki. Kehadiran Edward sudah dianggapnya sebagai saingan terbesar untuk menjadi penguasa di perusahaan ini. Sejujurnya Taeyung tidak terlalu menyukai Edward apalagi ketika Cicilia mewariskan seluruh sahamnya untuk Edward.
Dan kini, ketika Taeyung sudah bersedia untuk menjadi pihak yang kalah, Edward justru memberikan jabatan presiden direktur itu untuknya.
Bahkan, Edward memanggilnya hyung yang menyatakan dan mengakui kalau Taeyung memang saudaranya.
"Mari kita sambut presiden direktur kita yang baru Kim Taeyung....!" seru Edward disambut tepuk tangan yang lain.
*********
"Mengapa?" tanya Taeyung saat mereka tinggal berempat di ruangan rapat itu.
"Jangan tanya mengapa. Karena kau memang pantas untuk menjadi presiden direktur. Ini bukan tentang siapa yang memiliki jumlah saham terbanyak. Tetapi siapa yang telah mendedikasikan hidupnya untuk perusahaan ini. Aku hanya pintar main piano. Walaupun aku juga tahu bagaimana menjalankan bisnis ini. Namun kau adalah pakarnya. Tugasku adalah menopangmu dari belakang, hyung. Aku yakin juga kalau aboji akan setuju dengan keputusanku ini"
Taeyung menatap Edward. Keangkuhan, kesombongan dan kemarahannya kini hilang sudah. Ia langsung memeluk Edward dengan perasaan yang campur aduk.
"Namdongsaeng....!" ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung Edward tanpa bisa menahan air matanya.
"Hyung.....kau tahu, aku sudah sangat lama merindukan kau memanggilku Namdongsaeng. Karena memang setelah Anastasya meninggalkan kita, hanya aku adikmu satu-satunya."
Air mata Yura dan Lerina tak dapat dibendung juga melihat dua bersaudara yang dulu saling bermusuhan kita bisa berpelukan dengan penuh kasih sayang.
"Senang rasanya, kita berempat bisa makan siang bersama" kata Lerina saat semuanya selesai dan mereka pun makan siang bersama di cafe khusus kariawan.
"Aku pikir ini adalah makan siang terbaik sepanjang hidupku!" imbuh Edward.
"Andai aboji masih hidup dan melihat semua ini. Dia pasti akan sangat bahagia" sesal Taeyung.
"Sayang...jangan bersedih. Aboji sudah tenang di atas sana melihat kalian berdua baik-baik saja" kata Yura diikuti anggukan Lerina dan Edward.
__ADS_1
"Apakah kalian akan pergi esok ke Jakarta?" tanya Taeyung mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya. Aku dan Le akan berangkat besok sore. Kami mungkin akan lama di sana, hyung" ujar Edward.
"Selesaikan apa yang harus kalian selesaikan. Namun ingatlah, aku dan Yura selalu menanti kalian di sini. Kita masih punya tugas bersama untuk membangun perusahaan dan menangkap Ryun Wong si mafia itu"
"Tentu saja. Kita akan kembali lagi kan?" tanya Edward sambil menatap Lerina. Perempuan berambut hitam itu mengangguk dengan wajah yang tersipu.
"Aku dan Yura akan ke desanya untuk ziarah ke makam orang tuanya. Kalau sudah terlalu malam, mungkin kami akan menginap di sana" kata Taeyung.
Semuanya tersenyum bahagia. Jalan di depan mereka terasa sangat mudah untuk dilalui karena kini mereka berempat akan melangkah bersama.
Dan saat Lerina sudah yakin dengan keputusannya untuk terus bersama Edward, ia menemukan pemandangan yang sangat menyakitkan hatinya. Bukan hanya sakit, tapi pergulatan Edward dan Jesica di atas ranjang membuat Lerina merasa jantungnya bagaikan ditarik keluar dari tempatnya dan dibuang dalam keadaan hancur.
Prang.....!
Dalam kemarahannya, Lerina menarik pintu kamar itu dengan sangat kuat dan mengeluarkan suara dentuman yang keras. Ia langsung berlari menuju ke lantai dua, tak peduli dengan beberapa guci dan vas bunga yang jatuh dan pecah karena langkahnya sudah sempoyongan.
Lerina membuka pintu kamar, mengambil hp nya dan menelepon bagian administrasi perusahaan yang biasa menyiapkan keberangkatan pegawai.
"Hallo, tolong cek kalau ada penerbangan ke Indonesia malam ini. Ya...atas nama saya sendiri. Terima kasih" Lerina meletakan hp nya kembali. Membuka walk incloset dan mengambil bajunya secara asal untuk mengganti piayama yang dikenakannya.
"Ah.....!" teriak Lerina karena hatinya sangat sesak dan membuatnya sedikit kerepotan untuk mengganti pakaiannya.
Lerina meraih tasnya. Memeriksa kembali pasportnya dan dompetnya. Ia segera keluar dari kamar. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ditahannya.
"Le....kamu mau kemana?" tanya Edward sambil berusaha memegang tangan Lerina namun gadis itu menepiskannya.
Lerina terus menuruni tangga tanpa memperdulikan Edward yang memanggil namanya.
"Le...!" Edward berhasil memegang tangan Lerina dan menghentikan langkah gadis itu.
"Lepaskan aku, Ed. Kamu menyakitiku!" teriak Lerina sambil berusaha menarik tangannya.
"Ada apa ini?" tanya Taeyung dan Yura yang baru saja datang. Mereka memang memutuskan untuk pulang malam ini karena ingin menghabiskan sarapan pagi bersama Le dan Ed.
Langkah Jesica yang akan mendekat terhenti melihat kedatangan Taeyung dan Yura.
Edward memegang kepalanya yang sakit membuat Lerina menarik tangannya secara cepat dari genggaman Edward.
"Ada apa ini?" tanya Taeyung kembali. Ia memandang beberapa vas bunga yang pecah.
"Le...aku bisa jelaskan!" kata Edward sambil berusaha menyentuh Lerina namun gadis itu mundur beberapa langkah.
Lerina menatap Taeyung dan Yura "Kak Taeyung, aku akan kembali ke Jakarta. Namun hanya sendiri. Karena aku baru menyadari bahwa hanya Calvin, pria yang sungguh-sungguh mencintaiku"
__ADS_1
"Le...aku mohon!" Edward mendekati istrinya namun sekali lagi Lerina mundur.
"Lerina, aku bisa jelaskan!" kata Jesica sambil mendekat.
"Berhenti!" teriak Lerina sambil mengarahkan telunjuknya pada Jesica. Perempuan itu pun berhenti.
"Le, jelaskan ada apa? Bukankah tadi kalian berdua begitu bahagia karena akan ke Jakarta secara bersama?" tanya Yura sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Lerina akan menjawab namun hp nya berbunyi. Ia mengambilnya dari dalam tas gendongnya "Hallo...ya...makasi. Aku akan berangkat sekarang!"
"Sayang...dengarkan aku dulu. Semuanya tak seperti yang kau lihat" Edward memelas. Ia begitu ingin Lerina mendengar penjelasannya.
"Ed, aku pernah bilang padamu kan kalau seorang penghianat tidak akan pernah mendapat kesempatan kedua dalam hidupku. Jadi, jangan pernah berharap kalau aku akan kembali lagi bersamamu. Karena apa yang ku lihat sudah mewakili semua penjelasan yang akan kau sampaikan" kata Lerina dengan tegas. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Lalu membuka cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya dan juga cincin almarhuma mama Edward yang selama inu selalu menghiasi jarinya.
"Aku ingin kau mengurus perceraian kita secepat mungkin supaya aku juga bisa menikah dengan Calvin secepatnya" Lerina meletakan kedua cincin itu di atas meja.
Edward memeluk Lerina dengan sangat erat "Tidak, Le. Aku mohon...dengarkan aku dulu. Aku akan hancur jika kau pergi" tangis Edward.
Lerina tanpa diduga mendorong Edward dengan sangat kuat sampai pria itu terjatuh di atas lantai. Edward nampak begitu lemah dan agak pusing.
"Aku pergi....!" pamit Lerina.
"Le....tungguh...!" Edward berusaha berdiri namun dia sangat lemah.
"Le...ada apa?" tanya Taeyung mencegat langkah Lerina.
"Aku melihat Edward dan Jesica sementara berciuman di dalam kamar aboji dengan keadaan yang hampir telanjang.Jadi, aku memutuskan untuk pergi!" kata Lerina lalu segera melangkah meninggalkan ruang tamu. Masih terdengar teriakan Edward namun sama sekali tak diperdulikan Lerina.
Taeyung menatap adiknya dengan rasa tak percaya. Ia pun menatap Jesica yang tertunduk dengan wajah takut.
"Ed...kau telah kehilangan Lerina. Dan aku tak akan menolongmu!" kata Taeyung lalu menarik tangan Yura untuk menuju ke kamar mereka.
Sopir yang mengantar Yura dan Taeyung baru saja akan pergi saat Lerina memanggilnya.
"Paman tolong antarkan aku ke bandara!"
**********
Calvin masih merasa pusing akibat efek kemoterapi yang dijalaninya. Ia pun membaringkan tubuhnya di atas sofa. Hari baru saja pagi dan Calvin masih malas untuk membuat sarapannya.
Bel pintu apartemennya berbunyi terus. Bahkan terdengar orang yang menekan bel pintu itu terkesan kurang sabar.
Calvin berdiri lalu membuka pintu apartemennya dengan sedikit kesal.
"Calvin....., aku sangat merindukanmu!" ucapan itu terdengar dengan sebuah pelukan yang hangat dan membuat Calvin hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya.
__ADS_1
MAKASI SUDAH BACA PART INI
JANGAN LUPA LIKE KOMENT DAN VOTE YA