LERINA

LERINA
Buah Dari Kesabaran Edward


__ADS_3

Hi pembacaku yang setia....


Intip Yuk ceritaku yang lain :


I HATE YOU BULE


MY BEST PHOTO


SONG IN MY LIFE


3 HATI 1 CINTA...


Apakah ada yang belum membacanya???


************


Setelah Edward mengganti bajunya seperti yang diperintahkan Lerina, keduanya segera pergi ke rumah sakit tempat Lerina akan akan memeriksakan kehamilannya. Ini sudah kali ke tiga Edward mengantar Lerina. Ia selalu sangat bersemangat saat pemeriksaan kehamilan istrinya itu. Melihat sang janin yang bertumbuh lebih besar membuat hati Edward selalu bergetar.


Saat keduanya memasuki lobby rumah sakit dan menuju ke loket pendaftaran, para perawat dan petugas rumah sakit lainnya langsung tersenyum senang melihat sang pemain piano yang fenomenal itu ada di sana.


Mendapatkan tatapan manis dari mereka, Edward hanya bisa membalas seadanya. Ia tahu kalau sampai berlebihan, Lerina akan marah. Apalagi tangan Lerina yang melingkar di lengannya terasa sangat kencang.


"Selamat pagi. Kami ada janji dengan dokter Ariana Park." Kata Lerina.


"Dengan nyonya siapa ya?" tanya petugas perempuan itu sambil matanya berbinar indah saat melihat Edward Kim ada di belakang nyonya itu.


"Lerina Avigail Kim." Kata Lerina sambil menekan kata 'Kim' untuk menunjukan statusnya sebagai istri dari Edward Kim.


Petugas perempuan itu langsung memeriksa komputernya.


"Silahkan tuan dan nyonya Kim. Dokter sudah menunggu di ruangannya."


Lerina menggandeng suaminya dan segera melangkah.


"Sudah tahu datang dengan istrinya masih saja suka senyum-senyum pada suami orang." Ketus Lerina membuat Edward menahan senyum. Ingin rasanya ia mencium bibir tipis istrinya itu yang sangat menggemaskan. Mungkin bagi lelaki lain dicemburui istri sesuatu hal yang tidak menyenangkan. Namun bagi Edward, dicemburui istri adalah sesuatu yang sangat disukainya. Itu berarti Lerina sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Sayang, pasang wajah datar saja ya pada asisten dokter itu." Ujar Lerina saat sudah mendekati ruangan dokter.


"Siap istriku!" Kata Edward sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


Dokter Ariana adalah dokter berusia 40-an dan adalah keturunan Korea-Amerika.


"Selamat datang tuan dan nyonya Kim!" Sapa dokter Ariana saat keduanya sudah masuk ke dalam.


Lerina dan Edward segera duduk berdampingan sambil menunggu dokter menyiapkan semuanya. Tak sampai 5 menit, asisten dokter itu mempersilahkan Lerina untuk naik ke atas tempat tidur. Setelah dress yang Lerina pakai diangkat ke atas, perutnya langsung diberikan gel.


Dokter Ariana pun langsung melakukan tugasnya.


"Si baby bertumbuh dengan baik. Detak jantungnya juga bagus. Mau tahu jenis kelaminnya?" Tanya dokter Ariana.


"Pastilah, dok." Sahut Edward cepat.


"This is baby girl."


"Yes! My Meloddy!" pekik Edward tanpa bisa menahan rasa harunya. Mata pria tampan itu bahkan berkaca-kaca.


Lerina menatap suaminya dengan perasaan haru juga. Ia ingat saat pertama mengetahui jenis kelamin Min Jun, Edward pun sangat gembira karena memang keinginannya adalah anak laki-laki. Dan kini, saat tahu kalau anak perempuan yang diinginkannya sedang tumbuh di perut Lerina, tentulah kebahagiaannya semakin bertambah. Ia sudah mengharapkan kehadiran Meloddy semenjak Min Jun berusia 7 bulan.


"Ah, sayang..., daddy sudah yakin kalau kaulah yang sedang tumbuh di perut ibumu. Kau pasti sangat cantik. Daddy sungguh bersyukur karena Tuhan selalu menjawab semua permohonan daddy mu ini." Kata Edward lalu mencium perut Lerina secara berulang-ulang.


"Ed, sudah, perutku geli tertusuk kumis mu yang mulai panjang itu." Kata Lerina sambil menepuk punggung suaminya. Lerina memang memakai dress hamil dari kain sutra yang tipis dan ringan.


Edward mengangkat tubuhnya agar sejajar dengan istrinya. Lalu menatap mata cantik itu. "Setiap kali kau bilang kata geli, aku jadi ingat saat kita bercinta. Aku jadi pingin sayang..."


Wajah Lerina memerah. "Jangan bicara mesum, Ed. Ini di dalam mobil. Ayo kita pergi dan cari makanan. Aku jadi lapar nih."


"Sayang, sudah hampir 2 minggu nih..." Edward menatap istrinya dengan begitu mendamba.


"Ayo Ed, jalankan mobilnya. Aku kelaparan nih...!" Kata Lerina tak sabar.


Edward mengatur posisi duduknya agar siap kembali mengendarai mobil. Ia memakai sabuk pengaman dengan wajah sedikit kecewa. Kehamilan kedua Lerina memang sangat berbeda. Ia selalu meminta yang terkadang sangat sulit untuk Edward dapatkan. Di awal-awal kehamilan saja, Edward tidak bisa mencium Lerina secara berlebihan di bibir. Karena Lerina akan mual dan muntah. Selama 2 bulan di awal kehamilan Lerina dan Edward bahkan tak pernah bercinta karena tubuh Lerina yang lemah akibat terlalu banyak muntah.

__ADS_1


"Malam ini kita akan bercinta."


Edward yang sedang mengendarai mobil menatap sekilas istrinya dengan jantung yang berdetak cepat. "Sayang, kamu bicara apa tadi?"


"Nggak."


"Perasaan kamu tadi bilang kalau malam ini kita akan bercinta."


"Itu perasaan kamu saja." Lerina menggigit bibir bawahnya agar suara tawanya tak keluar.


"Maksudnya telingaku mendengarnya dengan jelas."


"Telingamu mungkin yang harus diperiksa."


Edward langsung diam. Menahan rasa kesal dalam hati. Istrinya ini selalu membuatnya kesal. Namun tetap saja Edward mencintainya.


"Malam ini kita akan bercinta." Lerina tiba-tiba berbisik lalu mencium pipi Edward.


Wajah kesal Edward langsung berubah menjadi senang. Ia menatap istrinya. "Awas kau ya. Malam ini tidak akan lolos." katanya sedikit mengancam membuat Lerina tertawa terpingkal-pingkal.


*********


"Sayang, apakah aku boleh ke London?" Tanya Edward saat keduanya baru selesai mandi bersama.


"Buat apa ke London?"


"Ben sudah kembali ke London. Sayangnya, dia kehilangan ingatan masa lalunya. Ia tak mengenal Maura sebagai istrinya dan justru membawa seorang perempuan yang sedang hamil bersamanya."


Lerina menoleh dengan kaget. "Kenapa bisa begitu? Kasihan, aku dapat bayangkan bagaimana perasaan Maura. Pasti sangat menyakitkan jika pasangan kita sendiri tidak mengenali kita." Lerina duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut panjangnya. Edward mengambil sisir dari tangan Lerina lalu menyisir rambut istrinya itu.


"Ed, jika suatu hari kau mengalami amnesia, apakah kau akan melupakanku?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Aku tak akan pernah melupakanmu, sayang. Karena kau, Min Jun, Meloddy akan ada dalam setiap detak jantungku, dalam setiap hembusan napas ku." Kata Edward lalu ia berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Lerina yang sedang duduk.


"Aku pernah mengalami masa yang kelam sebelum berjumpa denganmu. Pernah kehilangan, di campakan, merasa dihianati. Waktu aku melarikan diri ke London, dan mencurahkan isi hatiku pada mommy nya Ben, beliau berkata kalau aku harus sabar menghadapi semua ini. Karena buah dari kesabaran sangat indah. Aku akhirnya bertemu denganmu. Ternyata setelah bersamamu pun aku harus diuji lagi dengan kesabaran untuk bisa memenangkan hatimu. Kini saat kita bersama, setelah Min Jun lahir dan sebentar lagi Meloddy akan lahir, aku sementara menikmati kebahagiaanku ini. Dan aku percaya, bahwa ini semua sebagai buah dari kesabaranku. Dalam menjalani hidup, dan mengiklaskan apa yang harus kulepaskan." Edward mencium perut Lerina, lalu membelainya dengan penuh sayang. Saat ia mengangkat kepalanya. Dan tatapan penuh cinta itu bertemu, Edward merasakan debaran jantungnya masih sama. Seperti pertama kali saat ia menyadari bahwa ia mencintai Lerina.

__ADS_1


"Ed, aku mencintaimu." Kata Lerina lalu memeluk suaminya dengan hati yang berbunga-bunga. Lerina memang tak mengenal banyak pria dalam hidupnya. Sewaktu SMA, ia hanya punya teman dekat laki-laki namun tak pernah resmi jadi pacarnya. Saat ia kuliah, hanya ada Calvin, yang sempat membuat luka di hatinya namun yang memberikan Lerina pelajaran bahwa tak selamanya cinta itu harus memiliki. Lalu kemudian Edward menawarkan pernikahan padanya. Sebuah kesepakatan yang berubah menjadi cinta. Bersama Edward, Lerina merasakan bahwa cinta itu butuh kesabaran, kepercayaan dan juga perjuangan. Lerina bahagia karena Edward berjuang untuk mendapatkan cintanya. Dan kini hidupnya terasa lengkap dengan kehadiran Min Jun dan Meloddy yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Apalagi yang dia cari?


So, thanks karena sudah setia mengikutinya sampai di sini.......see you....


__ADS_2